Uncategorized

xenoglosia

Aku menangis. Engkau cepat mendiamkan. Apapun caramu. Aku sibuk, engkau diamkan aku, menyiapkan yang lain untukku. Aku bingung, engkau mengelus, terkadang sesekali mengucap beberapa kata yang sangat lazim kudengar, tapi itu selalu menenteramkan. Aku tertawa, engkau lebih tertawa lagi, terkadang malah menangis, haru. Aku bahagia, engkau bersyukur. Aku sakit, engkau orang yang paling khawatir.

Tidak ada pelajaran tentang bagaimana seharusnya menyayangiku, tapi engkau lebih dari sekadar paham. Tentu saja tak semuanya engkau mengerti. Continue reading “xenoglosia”