Uncategorized

Bulan, Katakan Padanya #2

Ini kutulis lagi surat untukmu. Setelah sekian lama aku tak menatapmu. Setelah sekian lama perca-perca rindu yang tak berani sampai, tersimpan di sebelah wajahmu. Setelah sakit hati hampir membuatku tak percaya bahwa rindu-rindu itu benar masih ada. Setelah cerita demi ceritaku padamu dibaca berpasang-pasang mata. Setelah aku belajar membuat hilang cerita-cerita yang mengendap di purnamamu, namun selalu gagal. Setelah itu semua, kemarin malam aku menatapmu. Kubaca samar-samar ceritamu tentangnya, di balik mendung pula. Akan kuceritakan sesuatu padamu, Bulan. Aku janji. Tak akan ada air mata. Tapi kumohon, sampaikan untuknya. Untuk dia yang tengah diuji bermacam terpaan. Kumohon, benar-benar katakan padanya.
Bulan, jika benar dia tengah lelah akan berbagai ujian yang menerpanya, tunjukkan padanya QS. Al-Ankabut: 2-3 atau QS. Al-Baqarah: 214. Semoga ujian demi ujian itu menguatkan imannya.
Bulan, jika dia merasa resah, katakan padanya bahwa pertolongan Allah itu teramat dekat. Dia tak pernah sendiri, bukankah begitu yang diajarkan dalam penggalan At-Taubah: 40? Allah selalu bersamanya. Lepaskan air mata jika memang ingin mengalir, mengadulah pada-Nya. Biar lepas sedih yang dia punya.
Bulan? Apa dia masih begitu susah tersenyum? Ahai, katakan padanya, betapa selengkung senyumnya sebenarnya adalah pengurang setiap beban rasa.
Bulan, sampaikan maafku padanya. Aku tidak akan mengerti banyak, karena aku hanya manusia dengan sepaket keterbatasan, yang kadang hanya sok tau menerka segala kemungkinan. Tapi Allah mengerti semua detil perasaannya. Yang kau mengerti pasti bulan, kau tahu ada segurat sedihnya dalam wajahku, yang terlukis begitu saja. Maka kumohon katakan padanya, tersenyumlah. Tersenyumlah. Karena banyak doa memohon kebaikan mengalir untuknya. Walaupun aku mungkin tak melihat simpul senyum itu. Tak apa.
Continue reading “Bulan, Katakan Padanya #2”