Cerita Fiksi

Presipitasi #2

lanjutan dari cerpen 1 berjudul RAGU 🙂 Semoga tidak kecewa dengan lanjutannya. Hehe.

_______________________________________________________________

“Tunggu.” kamu memanggilnya setelah daritadi diam mendengar ‘peringatan’nya. Dia sudah berjalan empat langkah dari tempatnya duduk meminum teh hangat bersamamu. Ke mana saja kamu dalam empat langkahnya itu?

“Kenapa? Kamu menyesal tidak buru-buru melamarnya?”

Ah, kamu kembali diam sebentar. “Bukan tentang itu. Kamu salah sangka, aku sudah berhenti menjadi Presiden Mahasiswa dua bulan lalu. Sekarang, aku cuma mahasiswa biasa yang sedang menyelesaikan tugas akhirnya.” kamu masih saja tak tertebak. Tapi dia pasti kembali membaca isyarat semu verbal-nonverbal yang kautunjukkan itu.

“Tapi kamu tidak berhenti menyayangi Farikha kan?”

“Berhentilah membicarakan tentang sayang. Terima kasih sudah menemuiku hari ini.” katamu datar.

“Tunggu, kamu sungguh tidak penasaran bagaimana aku bisa tahu tentang kisah yang kamu rahasiakan itu?” dia bertanya lagi.

“Awalnya iya. Tapi bagaimana lagi, kamu tidak menjawab. Jadi, biar nanti aku cari tahu saja sendiri.” Sayangnya, dia tidak tahu tentang sifatmu yang satu itu. Continue reading “Presipitasi #2”