Prosa dan Puisi

Pertemuan

Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terhunus dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Tapi kamu pura-pura tersenyum. Punggungnya menyapamu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya tak menyisakan bayangan. Kamu seperti bermimpi. Tapi itu nyata.

Ah, mereka bilang pertemuan itu pangkal rindu. Tapi bagimu ia tunas untuk lahirnya rindu-rindu yang terus bereplika. Kamu sempat lupa bahwa pertemuan bukan berarti harapanmu boleh tumbuh. Ah, kamu protes. Apakah bahagia tak juga diizinkan? Kamu hanya bahagia karena mimpimu menjadi kenyataan dalam sekejap. Kamu hanya teringat tahun-tahun sebelum hari itu, pertemuan macam itu harus kamu bayar dengan sebuah kekecawaan ketika kamu terbangun. Hanya mimpi.

Kamu tak peduli lagi apa kata mereka tentang pertemuan. Kamu hanya tahu, pertemuan itu membahagiakanmu walaupun di saat bersamaan menikammu. Walaupun harus dibayar dengan rasa sesak melihatnya kembali pergi, pertemuan tetaplah hadiah bagimu. Walaupun harus membunuh harapan yang diam-diam menumbuh, pertemuan tetap saja jawabanmu atas berbagai harapan. Walaupun harus memeras lagi air matamu oleh lipatan rindu, pertemuan tetap saja pengukir senyum yang terlalu lama kamu nanti.  Continue reading “Pertemuan”

Uncategorized

Kakak

Kak, gerimis senja tadi sore masih mengurai namamu
Denting jam menuju pukul sebelas masih mengarah padamu
Bisik nasihat Ibu berkali-kali membahasmu

Kak, ada huruf-huruf bersembunyi di rumah kedua
Ada gambar-gambar bercerita pada mereka
Ada simponi alam bertanya-tanya

Kak, kakak, kakak.. Apa kabar?
Masihkah kamu terbersit rindu
pada kepolosan adik kecilmu
pada tawa tanpa pretensi
pada tangis yang katamu cengeng
pada keluh yang katamu manja
pada kata-kata yang katamu ‘geje’
pada suara seraknya
juga pada kicau rindunya

Kak,
Adik kecilmu rindu pada choki-choki yang kauselipkan di kotak pensil
pada diammu yang menenangkan tangisnya
pada gambar-gambar yang kaukirim
pada telingamu yang mendengar keluhnya
pada matamu yang meneduhkan jiwanya
pada lidahmu yang mengurai cerita
pada hatimu yang tertaut pada-Nya

Kak,
Pernahkah kau bertanya pula?
Tentang adikmu yang belajar mendewasa
Tentang adikmu yang belajar menulis nonfiksi
Tentang adikmu yang terus mengurai benang impian.

Kak,
Kudengar kau makin mengudara
Langit mana lagi yang kaujejali?

Kak,
Masihkah kau ingin pulang?
Adikmu masih menunggu.

Rumah
13 Juni 2013
23.41
Untuk Kakak yang amat dirindui adiknya.

Uncategorized

Surat (Terakhir) untuk Bulan

surat terakhir
source: http://tinayap.wordpress.com/tag/stupm/

Jatuh. Terbangun. Jatuh. Patah. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Patah. Menjadi perca. Lalu remuk. Bangkit. Jatuh lagi. Proses yang malam ini ingin kuberhentikan dengan titik keberdirianku melawan segala jenak-jenak rindu dan rasa takut kehilangan, untuk kembali pada titah-Nya. Semoga tak ada jatuh lagi tanpa tangan yang siap memberdirikan, mengajak bersisihan menuju cinta-Nya. Aku takut. Takut sekali. Pada-Nya.

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas segala rindu bertumpuk yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya. Semoga Sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu. Bersyukurlah, rindu tak sempat memberdirikan kita di koordinat bernama pertemuan. Mungkin, itulah bentuk penjagaan-Nya. Continue reading “Surat (Terakhir) untuk Bulan”

Uncategorized

Sebait Rindu, Kado Ulang Tahun Ibu

Rasanya, baru kemarin aku mempersembahkan rindu melalui tulisan ini untukmu, Ibu. Rindu itu hadiahku untuk ulang tahunmu yang ke-43. Aku sakit hari itu. Seminggu kemudian Abah menjemputku, pulang. Sudah setahun. Cepat sekali waktu berlalu, Ibu. Hari ini, masih dengan rindu yang sangat membuncah, aku menangis. Usiamu sudah 44.

Masih rindu sebagai kado untuk usiamu yang resmi bertambah hari ini. Kukirimkan rindu itu dalam video berdurasi 1 menit lebih 1 detik. Kukirim via whatsapp. Hanya sebait doa juga pancaran wajah sulungmu yang penuh rindu, yang menurutmu masih saja seperti anak kecilmu. Biarlah, Ibu. Ibu, aku lebih terharu lagi menerima video kiriman balik dari Adik-adik di rumah. Kami memberimu surprise. Hei, bukankah di keluarga kami tidak ada tradisi surprise ulang tahun? Iya, kami sengaja, Ibu. Sekali-kali membuatmu terkejut. Membuatmu terharu. Sukses, engkau menangis. Adik-adik juga. Aku juga. Walaupun Bandung-Pati terbentang ratusan ribu meter. Melihat senyummu, juga suaramu di telepon yang bercampur kesal–merasa kami kerjain–juga haru.

Semoga waktu segera mengizinkanku pulang, untuk sekadar memelukmu, atau bergelayut manja di pundakmu. Terima kasih untuk doamu, Ibu.

Ulang tahun memang bukan segalanya, tetapi ia, sering kali, menjadi momen yang tepat untuk membahagiakan orang yang kita sayang. Meski aku tahu, Ibu, engkau bisa saja berulang tahun setiap hari, karena engkau bahagia setiap hari.

Salam rindu amat sangat,

Anakmu yang tengah mencoba menjalani hidup di sebuah ruang yang kuberi nama “Pojok Biru 3”

17 Februari 2013

Uncategorized

Surat Cinta: Melepaskan

Apalagi yang harus dipertahankan dari apa yang sudah tak ada? Apalagi yang harus dipertahankan dari kamu yang hanya mampu mengendap diam di sana? Apalagi? Selain air mataku yang mengalir menatapmu di balik kaca. Maaf, hari ini, dengan segala kerelaan yang kuupayakan, akhirnya aku melepaskanmu. Sebenar-benarnya melepaskanmu. Melarungmu dalam aliran yang aku tak tahu muaranya.

Hai, aku tak pernah rela sebenarnya. Sejak kamu mendiam seperti itu, cerita-ceritaku kembali luruh dibawa angin. Tak ada kamu yang mendengarkan. Atau jangan-jangan selama ini kamu mendengarkan dalam diam seperti itu?

Hai, kamu. Aku rindu bercerita. Aku rindu menatap birumu. Aku rindu menyapamu pagi hari lalu memberi butir-butir cinta yang bagimu adalah kehidupan. Aku rindu menangis, dan kamu menatapku sambil…entah tersenyum, tertawa, atau ikut bersedih. Aku tak tahu pasti. Yang aku tahu pasti, kamu selalu ada dan mendengarkanku baik-baik.

Dan hari ini, aku harus melepaskanmu. Me-le-pas-kan. Kuulangi lagi, sebenar-benar melepaskan. Tak akan bisa lagi menatapmu, tak akan bisa lagi bercerita sesuatu yang mungkin menurutmu tidak jelas, tak akan bisa lagi berceracau malam-malam atau menjelang senja. Aku harus membiarkanmu pergi. Kata mereka, itu lebih bagimu. Walaupun bagiku, aaargghhh…

Apa kabar kamu? Apakah bakteri-bakteri itu sudah menguraikan jasadmu? 😦 Continue reading “Surat Cinta: Melepaskan”

Uncategorized

Terbiarkan

Mendiam aku dibuat kamu
Untaian abjad sunyi yang teramu
Hanya mengonggok dalam ruang semu
Yakin, aku yakin waktu pun jemu
Intip segala rindu tanpa temu
Nuranikan segala kecamuk logika
Uraikan cerita penuh terka
Rapikan kenangan tercabik luka
Fluktuasikan rasa berlatar harap
Ironis dalam diam tanpa tatap
Terbiarkan oleh tawa yang lebih kerap
Rautan pena pun terkesiap
Aku lalu menyerah berselimut senyap
Hendak terbang tapi tak bersayap
Ada pula roncean tanya belum terucap
Nalarku barang kali tak berani menjawab
Entahlah, biar abjad-abjad ini menguap
Firasat-firasat membersamai harap
Ikatan rasa toh terlanjur mengendap

Continue reading “Terbiarkan”

Uncategorized

Pergilah, Rindu

Pada tampias hujan, kamu datang sebagai percikan. Pada sisa-sisa parutan keju, kamu menyisip di sela lubang-lubang parut. Pada suara decit pintu kamarku yang rusak, terdengar suaramu ikut berdecit. Kamu membersamai ruas-ruas jariku. Juga mengalir di sepanjang arteriku. Kamu datang walau isi kepalaku menghalang. Mampir di sela apapun yang tak kuduga. Aku bisa apa? Hei, Kamu! Namamu rindu bukan? Jika iya, jangan datang lagi. Sebab namaku sepi. Sesepi layar putih temuan Bill Gates yang sudah 47 menit kutatap. Aku mencoba mengeja huruf di sana, tapi kesusahan memadunya menjadi kata. Sebab lagi-lagi cuma kamu yang tereja. Rindu. Bagaimanalah.. Logikaku mulai kewalahan memenjarakanmu. Ah, rindu, berdamailah sedikit dengan rasa.

Pojok Biru 2,
19 Januari 2013
18.57 WHH

Untuk rindu, Ibu, Abah, Farkha, Nidul, Amiq, mbah, sc8.. Bebaskanlah rindu dari penjaranya. Izinkanlah dia meramu rasa dalam cangkir hangatmu.. Biarkanlah hangatnya seduhan itu mengaliri cawan penuh asa.

Untuk Squalus, temukanlah sebungkus cerita dari Sephia. Berjudul rindu, sebungkus cerita itu mengapung di laut mati. Maka kejarlah. Urailah tali bungkusan itu. Sebab Sephia kehilangan ceritanya. Ia bahkan tak bisa mengeja rindunya. Sementara bongkahan huruf menyesakkannya. Aih, bagaimanalah, maafkanlah cumi-cumi kecil itu, Squalus. Ia cuma rindu. Itu saja..

secuil bongkahan yang akhirnya runtuh dalam beberapa baris kata, semoga bongkahan lainnya segera roboh.