perempuan

Karen Wanita Ingin Dimengerti (?)

Saya peringatkan sebelumnya, dalam tulisan ini kalian akan menemukan randomisasi tingkat tinggi karena otak dan hati saya benar-benar dalam kondisi random. Bahkan saat menulis ini, saya sebenarnya pengen kabur atau pengen naik ke gunung mana, diam sendiri, dan semua tugas-tugas saya selesai (?). Plak! Itu malas, Himsa! Ya, intinya, tidak usah berekspektasi apa-apa pada tulisan ini, karena saya hanya ingin menulis saja. Tidak akan ada proses perumusan masalah, tujuan, kajian teori, pembahasan, apalagi penutup. Tidak ada. Lu kira skripsi, Hims? Tulisan ini hanya tulisan yang kutulis untuk satu tujuan: terapi diri. Bukankah sudah kubilang berkali-kali? Bagiku, menulis adalah pekerjaan yang amat menyenangkan, ia adalah teman sekaligus terapi paling mujarab untuk hati. Tapi saya bersyukur, kalau di antara kalian bisa menemukan hikmah dari tulisan super random ini.

Sampai pada paragraf ini, saya masih tidak tahu mau menulis apa. Eh tahu ding, saya tiba-tiba terpikir aja judul lagunya Ada Band yang cukup tren beberapa tahun silam. Atau saya sedang ingin dimengerti? Singkat cerita, beberapa minggu terakhir ini, ceritanya Allah sedang menguji saya dengan banyak hal. Maaf, curhat sedikit. Kadang kita merasa demikian bukan? Kita merasa menjadi manusia dengan ujian paling berat, terpuruk sendirian, rasanya apa yang kita lakukan salah, harus bisa menempatkan diri dari perbedaan arah berbagai pihak, bla bla bla nggak usah saya tambahin nanti tambah merasa terpuruk. Padahal, kalau kita percaya dan yakin sama Allah, merasa terpuruk hanya tentang rasa, kita sebenarnya tidak pernah sendirian. Inget kan sama lagunya Letto, “..ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya. Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra yang kan membelaimu..” Ya, minimal, kita ditemani embun dan angin. Tapi eh tapi… Continue reading “Karen Wanita Ingin Dimengerti (?)”