Cerita dan Celoteh

Karena Tuhan Belum Restu

Ada tiga huruf, alfabet empat, lima, dan sebelas, yang biasa kamu gunakan untuk menyapa. Sudah lama tidak terdengar. Biar saja tak terdengar. Ada 20 bungkus cokelat krispi kesukaanku di dalam kresek merahmu. Sudah lama tanganku tak menerima. Biar saja tak terterima. Ada beberapa baris syair tak bernada tapi bernyanyi merdu di pikiranku. Sudah lama tak berbisik. Biar saja tak terbisik. Ada sendu dalam rindu yang mencandu. Sudah lama tak berpadu. Biar saja menjadi tumpukan residu.

Diam-diam, kita mungkin saling bertukar cerita dalam perantara yang tak ada, atau saling meniadakan dalam ada, atau saling menggantung dalam pendulum waktu yang entah kapan terhenti di titik aku dan kamu. Mungkin kamu juga mengatakan, “Biar saja bla bla bla”, lalu tenggelam lagi dalam deru aktivitas. Melupakan soal itu. Atau mungkin kamu sedang bersiap? Bersiap apa? Entahlah, aku bahkan hanya menerka dengan ‘mungkin bla bla bla’ sejak huruf pertama masuk ke paragraf ini. Biar saja tak terterka, sampai kamu memberi jawaban. Continue reading “Karena Tuhan Belum Restu”