Uncategorized

Apakabarrobokop?

Selalu, robokop menjadi metafora paling indah [selain langit]. Ah, sesungguhnya bukan pula indah. Tapi menyebalkan. Robokop selalu menyebalkan. Ia diam. Hanya bergerak. Kadang-kadang bisa tersenyum. Tapi tetap saja, aku tak mengerti arti senyumnya. Robokop itu, bagaimana pun tetap menyebalkan. Tapi, ia terlalu baik hati.

Robokop itu, mengapa masih saja seperti itu? Yang lebih menyebalkan lagi, ia bahkan bisa membuatku menjadi robokop pula saat berada di dekatnya. Lalu sampai kapan robokop akan mempunyai perasaan? Atau jangan-jangan, energi listrik yang mengalir di tubuhnya [juga di tubuhku] adalah semua berisi perasaan? Yang menjadikannya diam menyebalkan seperti itu. Continue reading “Apakabarrobokop?”