Cerita dan Celoteh

(benci)

picture from: eykahamasuba.blogspot.com
picture from: eykahamasuba.blogspot.com

“Aku benci!”, ia melemparkan lagi sebuah batu ke danau di depannya. Mengagetkan beberapa ekor katak yang tengah tidur lelap di pinggiran danau.

“Apa yang kamu benci?”

“Episode cerita kita di sepertiga akhir tahun ini. Dia. Setengah kamu.”

“Setengah?”

“Setengahnya lagi begitu kucintai.”

“Maaf.”

Perempuan itu hanya tersenyum, sambil menyeka satu bulir air mata yang akhirnya jatuh, padahal dari tadi ia tahan. Laki-laki di belakangnya, yang dari tadi ia kira imaji, yang dari tadi suaranya menjawab teriakannya, berdiri tepat di belakangnya. Itu kamu. Masih dengan tas ranselmu. Masih dengan selembar surat yang kamu genggam. Masih berdiri kaku. Kakimu tak berani melangkah satu jengkal lagi untuk menyejajari perempuan itu. Kamu diam, kemudian mendengarkan ceritanya selanjutnya.

“Untuk apa kamu menangis, Al? Kamu menangis kayak kamu nggak punya Allah aja.” Perempuan itu berbicara pada dirinya sendiri. Dan kamu masih diam di tempatmu berada. Continue reading “(benci)”