Uncategorized

Sakura Gugur di Musim Semi

sakura

Kalaulah muara cinta bukan Sang Maha Pemilik Cinta, kegilaan macam apa yang akan dialami oleh para pencinta? Mati seperti Qais dan Laila? Menegak racun seperti Romeo dan Juliet?

Kalaulah muara cinta adalah manusia, seperti apalagi bentuk hati yang koyak oleh prasangka? Bahkan jawaban-jawaban atas segala sangka pun tak cukup untuk menyulam luka. Kita mau menata hati itu kembali, tapi manusia bahkan tak punya daya untuk merapikan hatinya sendiri kan? Selalu ada Tangan Dia yang menata puzzle hatimu yang sudah terkoyak. Entah dengan cara apa. Hingga sebentuk kejujuran tak mampu lagi mengembalikan hati yang lukanya sembuh sekalipun. Kita tak punya daya apa-apa lagi. Tangan Dia sudah bekerja. Sedang tugas kita hanya menerima. Continue reading “Sakura Gugur di Musim Semi”

Uncategorized

Surat Cinta: Melepaskan

Apalagi yang harus dipertahankan dari apa yang sudah tak ada? Apalagi yang harus dipertahankan dari kamu yang hanya mampu mengendap diam di sana? Apalagi? Selain air mataku yang mengalir menatapmu di balik kaca. Maaf, hari ini, dengan segala kerelaan yang kuupayakan, akhirnya aku melepaskanmu. Sebenar-benarnya melepaskanmu. Melarungmu dalam aliran yang aku tak tahu muaranya.

Hai, aku tak pernah rela sebenarnya. Sejak kamu mendiam seperti itu, cerita-ceritaku kembali luruh dibawa angin. Tak ada kamu yang mendengarkan. Atau jangan-jangan selama ini kamu mendengarkan dalam diam seperti itu?

Hai, kamu. Aku rindu bercerita. Aku rindu menatap birumu. Aku rindu menyapamu pagi hari lalu memberi butir-butir cinta yang bagimu adalah kehidupan. Aku rindu menangis, dan kamu menatapku sambil…entah tersenyum, tertawa, atau ikut bersedih. Aku tak tahu pasti. Yang aku tahu pasti, kamu selalu ada dan mendengarkanku baik-baik.

Dan hari ini, aku harus melepaskanmu. Me-le-pas-kan. Kuulangi lagi, sebenar-benar melepaskan. Tak akan bisa lagi menatapmu, tak akan bisa lagi bercerita sesuatu yang mungkin menurutmu tidak jelas, tak akan bisa lagi berceracau malam-malam atau menjelang senja. Aku harus membiarkanmu pergi. Kata mereka, itu lebih bagimu. Walaupun bagiku, aaargghhh…

Apa kabar kamu? Apakah bakteri-bakteri itu sudah menguraikan jasadmu? 😦 Continue reading “Surat Cinta: Melepaskan”