Cerita Fiksi

Wisuda

quote_kenangan

Wita menatap wajah itu penuh bangga. Topi toga masih bertengger di kepala lelaki itu ketika tepuk tangan riuh menyorakinya. Memang, seremonial wisuda sarjana di kampus kebanggaan negeri itu sudah selesai. Tapi bagi Ghazi, lelaki yang dari tadi ditatap Wita dari jauh, seremonial baru saja dimulai.

“Hidup Mahasiswa!” suara itu menggema di antara kerumunan para mahasiswa yang baru saja menjadi alumni. Di belakang mereka, segerombolan mahasiswa mengenakan jas almameter dan membawa bendera, mengarak senior mereka, tanda pelepasan, dan tanda…

Ghazi berjalan menuju tenda di samping gedung wisuda. Belasan photoboot masih di sana, para wisudawan berfoto bersama orang tua atau kerabat. Ghazi berjalan mendekati sebuah keluarga yang baru saja berpose bangga bersama seorang putrinya yang berselempang “cumlaude”. Teriakan “Hidup Mahasiswa” yang tadi menggema kini mulai meredam. Seolah menunggu langkah kaki Ghazi sampai persis selangkah di depan keluarga itu, teriakan itu kembali menggema, berganti dengan suara “Hidup Cinta!”. Wita sekali lagi tersenyum, air matanya hampir menetes, namun ia tahan.

Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, seorang putri, dan seorang kakak laki-laki itu mulai tampak kebingungan didatangi massa yang sekilas mirip dengan sekumpulan mahasiswa yang akan demo di depan gedung DPR. Mata sang kakak laki-laki mulai menyelidik ke arah Ghazi. Sadar tatapan curiga itu, Ghazi tersenyum. Segerombolan ‘massa’ yang tadi mengikutinya pun hening. Walaupun puluhan pasang mata lain di halaman gedung itu mulai memperhatikannya.

“Bapak, Ibu, dan Mas. Perkenalkan saya Ghazi. Mohon maaf jika Bapak, Ibu, Mas, dan Mmmm,” Ghazi menghela nafas sebentar, “dan Narita tidak nyaman dengan situasi ini. Atau dengan ketiba-tibaan saya berada di sini.” Ghazi berusaha sesopan mungkin berhadapan dengan keluarga asli Jawa ini.

Sang Ibu tersenyum. Ia sejujurnya bukan menanyakan siapa nama lelaki yang dengan santun baru saja memperkenalkan diri itu. Semua yang hadir di acara wisuda hari ini tahu siapa dia. Presiden mahasiswa tahun lalu, yang hari ini berpidato dengan sangat membanggakan mewakili para wisudawan. Ibu mana yang tidak terkesima dengan kalimat penutup “Bagi saya, wisuda adalah sebuah purna. Ya, purnanya saya menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab pada diri saya sendiri. Sudah saatnya pembekalan saya di kampus ini saya aplikasikan ke dalam tanggung jawab hidup yang lebih besar, mmm, bertanggung jawab terhadap seorang gadis misalnya.” Ya, walaupun kalimat itu menjadi bahan tawa seluruh hadirin, tapi bagi Ibu, ada kalimat serius yang diucapkan lelaki itu, walaupun disusul cepat dengan kalimat lanjutan, “maaf, saya hanya ingin mencairkan suasana. Maksud saya, kita akan dihadapkan pada tanggung jawab masa depan yang lebih berat. Terserah jadi apapun kita nanti, momen ini adalah pengingat bahwa ilmu yang kita punya harus kita pertanggungjawabkan sekeluarnya kita dari gedung ini.”

“Ada apa ya?” sang Kakak, yang disebut Mas Akar itu menyelidik, ia jelas tampak tidak nyaman.

“Baik, Mas, akan saya jelaskan. Saya mengenal Narita sejak tiga tahun lalu ketika saya aktif di laboratorium. Dan sejak hari itu hingga hari ini, saya menyimpan niat baik saya. Sebuah niat yang hari ini ingin saya utarakan di depan Bapak dan Ibu.”

Sang Ibu tersenyum haru, Bapak tampak manggut-manggut, Mas Akar masih memasang wajah galak—protektif. Narita sendiri, yang biasanya dikenal Ghazi sebagai perempuan heboh dan ceria, entahlah, dia hanya menunduk sejak tadi.

“Narita seorang gadis yang baik, Pak. Segala keceriaannya, perhatiannya terhadap sesama, hal-hal tak terduga yang terjadi selama ada dia, kekonyolannya, kemengertiannya, keingintahuannya akan ilmu, kemandiriannya, dan juga semua kekurangannya yang tidak perlu saya sebutkan, adalah apa yang bisa saya terima. Dan apa yang bisa menjadikan hidup saya semakin bermakna.”

“Lalu?” Bapak bertanya dengan wajah senyumnya. Ghazi mulai lega, ini respon baik. Pasukan ‘massa’ di belakangnya pun masih terdiam, seakan berdoa bersama untuk ‘keselamatan’ sang komandan.

“Saya ingin bertanggung jawab atas semua ilmu yang saya dapatkan selama 23 tahun saya hidup. Dan untuk itu,” Ghazi menghela nafas lagi, kalimat yang sudah ia rangkai sejak sebulan lalu ini, entah kenapa begitu susah untuk dikatakan, “Hmm..”

Ghazi menatap Narita yang terus menunduk, “Saya ingin berterima kasih kepada Bapak karena sudah membesarkan seorang gadis sebaik dia. Sudah bertanggung jawab penuh dalam hidupnya. Jika Bapak berkenan, bolehkah saya meminta Narita dari tanggung jawab Bapak dan menjadikannya tanggung jawab saya?” Ghazi melepas topi toganya dan ia serahkan penuh hormat kepada Bapak. Wita masih hanya melihat dari jauh. Kali ini air matanya menetes. Kalimat yang persis sama.

Belum sempat ada jawaban apa-apa dari Bapak. Belum sempat ‘massa’ di belakang Ghazi berteriak “Hidup Cinta!” sambil membuka sebuah spanduk yang sudah disiapkan sejak sebulan lalu. Belum sempat tulisan “I’m gonna marry your princess and make her my queen” terbaca, Narita lari dari kerumunan. Entah ada apa. Entah. Rencana lamaran bernuansa demo—khas aktivis macam Ghazi—yang sudah sebulan direncanakan itu gagal jadi romantis. Ghazi ingin mengejar Narita, tapi Mas Akar sudah menahannya dan mengejarnya terlebih dahulu. Disusul Bapak dan Ibu. Seremonial itu berakhir tanpa komando. Continue reading “Wisuda”