Cerita Fiksi

Lembayung Bali

image

Tidak ada yang meragukan keceriaanmu. Bahkan aku yakin tak ada yang mampu menemukan fotomu tanpa gigimu berjajar rapi. Ciri khas senyummu. Rambutmu yang pendek gaya “dora” atau yang kadang-kadang dikuncir dua adalah ciri khas kepolosanmu. Aku sering membenak dalam hati apa yang kaukuncir dari rambut yang sangat pendek itu? Belum lagi buku-buku tebalmu, mengapa kaubawa setiap hari di sekolah? Aku kadang mengasihani tubuh kurusmu yang harus memikul beban buku-buku itu. Tapi itulah kamu. Bukan culun. Kamu hanya sedikit ‘berbeda’ dari yang lain.
Entahlah. Aku baru menyadari bahwa aku masih bisa mendeskripsikanmu dengan jelas setelah empat tahun waktu seakan menelan cerita. Ah, bukan menelan. Rasanya masih tersedak di tenggorokan. Apa kabarmu? Apakah kamu juga tersedak? Continue reading “Lembayung Bali”

Cerita dan Celoteh

Hari Penebusan Rindu -edisi SC8-

..Mungkin akan lebih baik jika kita sebut ‘perpisahan yang menyakitkan’ itu, dengan perpindahan.. –Arief Effendhi, Sceighterz No. 1

Selalu ada cara untuk menebus rindu. 2008, sejak aku mengenal kalian, hingga kini sudah 2012, kalian tetap semangatku. Ya, ternyata sudah empat tahun perjalanan kita membentuk sebuah keluarga yang kita beri nama SC8. Empat tahun dalam kebersamaan dan keterpisahan, dengan perbandingan 1:3. Bukankah kebersamaan mutlak kita hanya satu tahun? Lalu tahun-tahun berikutnya dengan keterpisahan? Tapi resmi simpul yang kita rajut tak pernah lepas atas nama keterpisahan itu.

Satu tahun yang nyatanya membekas, bukan hanya soal pertemanan, tapi spirit, impian, motivasi, perbaikan diri, dan.. bagiku pribadi juga sebuah bagian dari cerita hidup. Satu tahun, di awal kita remaja dengan berbagai romansanya, lalu kita juga mendewasa di sana. Tak hanya lepas bercanda bersama layaknya remaja enam belas tahun, tapi juga berjibaku mencari solusi atas berbagai problem yang kita hadapi saat itu. Lalu, kita juga saling merajut prestasi. Saling berbagi. Ah, lebih banyak pula menggila bersama. Kadang saling bersungut atas tingkah yang tak enak di hati. Semua itu, perlahan menjadi puzzle-puzzle yang kita beri nama kenangan.

Kamis, 23 Agustus 2012, mungkin adalah hari untuk kita merapikan puzzle-puzzle kenangan, meskipun tidak lengkap—lagi. Tapi, tak apa. Bukankah dalam satu tahun kebersamaan mutlak kita juga bisa dihitung kapan kita lengkap ber-24? Bahkan, dalam memori laptopku, hanya ada 2 foto kita yang lengkap berisi 24 orang. Dalam hari yang kusebut penebusan rindu itu, di rumah Ely, 18 di antara kita hadir. Fikru, Ridlo, Grandis, Mei, Bunga, dan Septian berhalangan hadir. Ada yang kurang, tapi puzzle-puzzle ini harus tetap dirapikan. Continue reading “Hari Penebusan Rindu -edisi SC8-“