Cerita dan Celoteh, Cerita Fiksi

(masih)

Burung kecil di pintu rumahku baru saja memberi tahu bahwa kamu datang. Dua kali kamu mengetuk pintu. Pukul 13.09. Tak ada jawaban. Satu menit kemudian, kamu mencoba mengetuknya lagi. Masih tak ada jawaban. Tentu saja tak ada, pintu rumah yang kamu ketuk itu ditinggal penghuninya.
Sekarang pukul 13.24. Burung kecil di depan rumah berkicau ketika aku sampai, mengatakan bahwa kamu datang. Aku hanya bisa terpatung dalam senyap. Kakiku mendadak kaku. Sudah lama sekali burung kecil itu tidak pernah memberi kabar tentang kamu. Siang ini, tanpa kuduga, dia mengatakan kamu datang. Bukan suratmu. Tapi kamu.
Ada apa? Aku hanya bertanya pelan dalam ruang sunyi kalbuku. Ingin bertanya pada burung yang memberitahuku, tapi urung. Kuhelakan nafas, ber-hmmmm panjang, mengikhlaskan waktu yang belum mempertemukan kita. Tak apa, aku selalu percaya, ada skenario yang lebih indah dari sekadar pertemuan. Mungkin, memang belum waktunya kita bicara.
Tok tok tok. Ada suara yang mengetuk pintuku lagi, kupikir itu kamu. Bukan.

090812
13.–

~bahwa tidak semua yang kita harapkan terjadi sesuai keinginan kita. Kadang ada yang meleset, tetapi skenario yang ada pasti lebih indah dari sekadar keinginan kita.