Prosa dan Puisi

Kepada Bulan

Kepada bulan yang pernah menertawai air mata, kusampaikan maaf karena aku beranjak. Bukan karena tak setia, tapi karena matahari sudah bersinar. Apakah aku harus menunggu malam lagi seperti kemarin-kemarin? Menolak lagi hadirnya pagi. Meski kamu tak pernah datang juga.

Kepada bulan yang juga pernah ikut menangis, kusampaikan rindu yang masih mengendap. Mengerjap. Bersembunyi di balik sinar mentari. Pagi telah datang. Tapi tak bolehkah aku merindui malam? Seperti kemarin. Seperti ribuan malam sebelum ini. Saat aku terduduk menatap bulan. Meskipun kamu tak pernah ada.

Pagi telah datang. Aku telah beranjak. Dan bulan baru saja mengabariku, kamu akhirnya datang. Dan aku, baru saja beranjak meninggalkan malam.

Continue reading “Kepada Bulan”

Cuplikan Buku, Prosa dan Puisi

Menemukanmu

image

Menemukanmu adalah seperti menemukan angka di saat aku berenang di dalam lautan abjad. Menemukanmu adalah seperti bermain di pantai. Aku mencari kerang dan mutiara di sepanjang pasir putih, namun kamu adalah sebentuk mawar biru yang tiba-tiba tumbuh di sana. Menemukanmu adalah sebuah perjalanan berhenti menerka, karena takdir Tuhan terlalu indah untuk diterka. Sekalipun untuk aku yang terlalu banyak menerka.

Continue reading “Menemukanmu”

Cuplikan Buku, Prosa dan Puisi

Dear, Kamu

image

Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bola mata yang hanya dengan menatapku lekat seperti mampu menghapus semua sakit. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bahu bidang yang hanya kusandari seperti mampu membuatku memiliki dunia. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk pesan yang walaupun singkat tanpa rima seperti mampu membuat hati ini terus kuat. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sesosok senyum sederhana tapi mampu membuatku mengingat penciptanya. Sayangnya, aku bahkan tak tahu siapa kamu.
Continue reading “Dear, Kamu”

Prosa dan Puisi

Pertemuan

Siapa bilang pertemuan itu membunuh rindu? Ia hanya melipatgandakannya lalu diam-diam menikammu dari belakang. Kamu terhunus dalam bahagia. Lalu kamu menahan tangismu setelah ia kembali pergi. Kamu ingin hari itu berjalan lebih dari 24 jam. Tapi kamu pura-pura tersenyum. Punggungnya menyapamu untuk terakhir kali sebelum tubuhnya tak menyisakan bayangan. Kamu seperti bermimpi. Tapi itu nyata.

Ah, mereka bilang pertemuan itu pangkal rindu. Tapi bagimu ia tunas untuk lahirnya rindu-rindu yang terus bereplika. Kamu sempat lupa bahwa pertemuan bukan berarti harapanmu boleh tumbuh. Ah, kamu protes. Apakah bahagia tak juga diizinkan? Kamu hanya bahagia karena mimpimu menjadi kenyataan dalam sekejap. Kamu hanya teringat tahun-tahun sebelum hari itu, pertemuan macam itu harus kamu bayar dengan sebuah kekecawaan ketika kamu terbangun. Hanya mimpi.

Kamu tak peduli lagi apa kata mereka tentang pertemuan. Kamu hanya tahu, pertemuan itu membahagiakanmu walaupun di saat bersamaan menikammu. Walaupun harus dibayar dengan rasa sesak melihatnya kembali pergi, pertemuan tetaplah hadiah bagimu. Walaupun harus membunuh harapan yang diam-diam menumbuh, pertemuan tetap saja jawabanmu atas berbagai harapan. Walaupun harus memeras lagi air matamu oleh lipatan rindu, pertemuan tetap saja pengukir senyum yang terlalu lama kamu nanti.  Continue reading “Pertemuan”

Uncategorized

Kamu (2)

Ajari aku untuk tidak bahagia saat hurufmu menyapa

Atau beritahu aku rahasia agar tak menangis saat teringat

bahwa ada dia dalam tiap langkahmu

Ajari aku agar semangatku tak melipatganda saat tahu kamu masih mengingat mimpiku

Atau beritahu aku rahasia agar tak menangis saat teringat

kamu juga yang pernah memukul semua semangatku

Ajari aku untuk tidak tersenyum saat teringat setiap jengkal kenangan

Atau beritahu aku rahasia agar tak menangis saat teringat

bahwa harapan itu tak boleh ada

Ajari aku untuk jadi tahu diri

Atau beritahu aku rahasia agar bertahan berpura-pura

Sungguh aku tak berhenti berdoa untuk sebuah kerelaan

Sungguh aku tak pernah lelah berharap pada Sang Pemilik Hati saja

Sungguh aku bahkan telah memangkas habis semua harapan padamu

Sungguh aku telah berupaya untuk tahu diri

Tapi aduh bagaimanalah Continue reading “Kamu (2)”

Cerita Fiksi

Cermin

“Aku kesusahan menulis.”
“Ha? Kenapa? Kau kehilangan inspirasi?”
Kamu menggeleng. Aku tahu persis kepergianku tak berpengaruh banyak bagimu. Sudah pernah kubilang, kamu itu biru bahkan ketika tanpaku. Tapi kenapa kamu tetiba kesulitan menulis? Hei, bukankah menulis itu duniamu?
“Kamu kenapa? Maafkan aku karena memilih pergi.”
Kamu diam saja.
“Kamu sungguh tidak kehilangan inspirasi kan?”
“Kamu berlebihan..” akhirnya kamu bicara.
“Maksudnya?”
“Aku sudah bilang dengan tulus dan jujur. Ini semua bukan karena kepergianmu. Aku sudah bilang kan? Aku bahagia dengan itu. Juga bukan soal inspirasi yang hilang. Dunia ini milik Tuhan. Inspirasi itu milik-Nya bukan milikmu, jadi tak ada hubungannya sekali pun kamu memilih pergi. Begini jauh lebih baik.”
“Baiklah. Lalu kenapa kamu sulit menulis?”
Kamu tertawa lagi, “aku berhenti menulis karena terlalu banyak melamun.”
Kali ini aku memilih diam, menunggu kalimat selanjutnya darimu.
Continue reading “Cermin”

Cerita dan Celoteh

Dan Hujan Pun Reda

Aku bahagia, seperti terlahir kembali. Setelah lama berjalan menerabas hujan, detik itu akhirnya tiba. Detik saat hujan mereda. Lalu sinar mentari pelan-pelan merona kembali, menawarkan cahaya kemerahan yang menyegarkan kulitku. Hujan itu benar-benar reda. Aku tak perlu lagi menahan perih pada rintik hujan apalagi ruang-ruang di selanya.
Aku berjalan lagi menyusuri abjad-abjad, merangkainya. Hujan yang mereda membuatku menyadari bahwa bukan kedatanganmu sambil menerabas hujan yang benar-benar kunanti. Aku merindu kebebasan. Menghirup udara segar tanpa basah hujan. Aku merindu cahaya. Berjalan pelan membentuk siluet indah. Aku merindu menjadi seperti ini. Terima kasih, Tuhan. Kau redakan hujan ini pelan-pelan.
Barangkali benar, semakin besar hujan, semakin segar udara yang tertinggal setelahnya.
Ah, bukankah hujan hanya bagian dari siklus kehidupan? Ia hanya sekelumit proses yang meninggalkan jejak hikmah. Jadi, tetap biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Aku akan tetap berjalan dengan payungku sendiri, yang akan kukembangkan kapanpun aku mau. Aku tak akan mencari peneduh. Barangkali aku hanya perlu terus berjalan. Akan tiba waktu saat perjalanan ini menjadi sempurna dengan teduh yang diberikan-Nya. Entah kapan. Entah dengan siapa. Entah di mana. Aku hanya perlu terus berjalan menuju-Nya. Bukan begitu?

Bahagia amat sangat.
Cibitung, di rumah seorang sahabat lama
13 Juli 2013
23.06 WHH

Cerita Fiksi

Kamu, Hujan, dan Pohon Besar di Perempatan

IMG-20120924-WA0000Tahukah kamu cerita tentang jendelaku yang sempat menutup dan aku yang tak berani menatap hujan? Ya, bagiku bukan hujan di bulan Juni yang penuh magis. September. Hujan di bulan September adalah teman paling syahdu namun amat menyakitkan untuk ditatap. Hujan terus merintik kala itu. Tak peduli aku menutup telinga, bersembunyi di balik gorden biru, bahkan kututup rapat jendelaku. Hujan terus merintik. November bahkan berkonspirasi dengan langit untuk terus menumpahkan uap-uap awan itu di belahan bumi ini. Hujan, seberapa menyakitkan pun, ia tetap milikmu. Baunya terendus menenteramkan bahkan ketika aku menjauh sekali pun.

Tahukah kamu bagaimana ceritaku dan hujan selanjutnya?

Seperti yang kukatakan, aku menunggumu menerabas ruang-ruang di sela hujan, berlari, membuka jendelaku, memanggilku, memberi teduh seperti yang pernah kauberi sebelum ruang-ruang itu ada.

Sayang sekali, senyap. Kamu tak pernah ada, bahkan sekadar mengintipku. Atau barangkali aku yang tak tahu? Entahlah. Tapi ruang-ruang itu semakin asyik bercengkerama dalam bagian rintikmu, menyisakan perih di sela bau hujan yang kaukirim.

“Kau tahu kenapa dia tidak menerabas hujan seperti pintamu?” kata temanku suatu ketika, “karena ia bertanggung jawab. Ia tidak ingin kehadirannya menyakitimu seperti itu lagi. Percayalah, ia akan datang lagi ketika semuanya membaik. Memberi rumah paling teduh untukmu menikmati hujan sore hari bersamanya.”

Aku diam saja mendengarnya. Rasanya antah berantah. Aku takut jika tak seperti itu.

Apa yang kulakukan selanjutnya? Aku justru membuka jendelaku perlahan, berjalan perlahan, lalu menari di sela hujan. Menerabas hujan itu ke mana pun aku suka. Membuat semua seolah baik-baik saja. Kembali tersenyum ceria. Kulewati taman-taman indah. Kulukis harapan di taman-taman itu.

Payung-payung berdatangan ingin menjadi peneduh. Hei, ada yang berwarna biru. Sengaja sekali. Sang empunya payung tahu betul cara menaklukanku. Ia tiada henti mengikuti langkahku, mengkhawatirkan kondisiku yang terus berjalan menerabas hujan. Sayang sekali, alih-alih aku malah menjauh.

Ah ya, ada bagian yang kaulewatkan. Bukan tentang payung, tapi rumah. Ya, ada yang memberikan rumahnya untuk menjadi tempatku berteduh. Luas sekali. Indah. Sayang sekali ia tidak biru. Lagi-lagi, aku justru menjauh.

Apa yang kumau? Entahlah. Continue reading “Kamu, Hujan, dan Pohon Besar di Perempatan”

Uncategorized

Hapus

image

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar memencet tombol itu lebih lama lalu mengeklik tombol delete. Tapi akhirnya kamu mengekliknya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.
Continue reading “Hapus”

Uncategorized

Senja Memerah

image

Tadi, senja kembali memerah. Seperti membuka cerita yang dibawa angin. Seperti hendak berkelakar pada teratai di pertengahan danau. Seperti hendak bercerita tentang merahnya luka. Namun juga membariskan lagi harapan-harapan sembunyi.
Tadi, senja memerah lagi. Ia berpesan padaku tentang rindu bulan yang lama tak kujamah. Ah, juga tentang kita yang kupaksa meniada. Ia berkedip memuji aku yang mengaku bisa mengurai kenangan menjadi kekuatan. Ia berbisik tentang di mana rindu selama ini saling sembunyi. Ia bercerita tentang langit yang masih menunggu untuk mempersembahkan malamnya hanya pada bulan. Bukankah begitu janji langit dulu? Senja mengingatkanku bahwa malam yang dinanti bulan itu ada. Senja mengingatkanku pada rasa cemburu bulan yang meluap-luap pada bintang, juga tentang cara langit menenteramkannya. Senja memintaku untuk sekadar menatap bulan malam ini.
Tapi aku takut. Aku takut. Bahkan aku pun tak berani menjelaskan pada senja tentang rasa takut itu. Kecuali kamu datang, membawa malam yang dijanjikan langit.
Continue reading “Senja Memerah”