Uncategorized

Kakak #2

Kak, sedang apa engkau ditempatmu?
Masihkah mematut layar tabletmu
Membuka ruang whatsapp
Membalas huruf-huruf ocehanku
Mengetik panjang-panjang
Demi kata “give me words” yang kulontarkan

Kak, sudahkah engkau tertidur?
Ada deretan huruf yang tak tampak di layarmu
Ada sebongkah rasa yang mengkristal dalam senyumku
Ada dolphinmu yang berkicau di dinding biruku
Ada gigimu yang berjajar rapi menertawaiku
Ada frase “Terima Kasih” yang mengurai
Atas “words” yang selalu kauberi
Atas kesediaanmu kupanggil “Kakak”
Atas caramu mengingatkanku
Atas Septembermu yang membawaku ke kota impian
Atas sahabat-sahabatmu yang merangkulku
Atas pelajaran organisasi yang kauteladankan
Atas sop dan tumis tahu yang kauhidangkan
Atas perjalanan Bandung-Depok-Jakarta-Cibinong yang penuh makna
Atas voice note “Happy Birthday Himsa” dan nasihat manisnya yang masih sering terputar
Atas khutbah Jumat
Atas apapun. Terlalu banyak.
Kak,
Kau bukan sahabat
Kau bukan keluarga
Kau kombinasi dari semua itu.

Kak,
Jangan lupa hadang jalan raya saat hari bahagiaku nanti ya.
Kak, sudahlah.
Awalnya aku ingin menulis puisi tapi rasanya tulisan ini tak ada puitis-puitisnya. Jadi biarlah.
Aki hanya sedang tersenyum atas nasihatmu (lagi) malam (atau pagi?) ini. :’)

Pojok Biru 2,
16 Juni 2013
00.12

Untuk seorang Kakak yang amat mencintai adik-adiknya, walaupun secara biologis, ia anak tunggal. Untuk seorang Kakak yang selalu mengingatkan. Semoga yang terbaik untukmu 🙂

Uncategorized

Kakak

Kak, gerimis senja tadi sore masih mengurai namamu
Denting jam menuju pukul sebelas masih mengarah padamu
Bisik nasihat Ibu berkali-kali membahasmu

Kak, ada huruf-huruf bersembunyi di rumah kedua
Ada gambar-gambar bercerita pada mereka
Ada simponi alam bertanya-tanya

Kak, kakak, kakak.. Apa kabar?
Masihkah kamu terbersit rindu
pada kepolosan adik kecilmu
pada tawa tanpa pretensi
pada tangis yang katamu cengeng
pada keluh yang katamu manja
pada kata-kata yang katamu ‘geje’
pada suara seraknya
juga pada kicau rindunya

Kak,
Adik kecilmu rindu pada choki-choki yang kauselipkan di kotak pensil
pada diammu yang menenangkan tangisnya
pada gambar-gambar yang kaukirim
pada telingamu yang mendengar keluhnya
pada matamu yang meneduhkan jiwanya
pada lidahmu yang mengurai cerita
pada hatimu yang tertaut pada-Nya

Kak,
Pernahkah kau bertanya pula?
Tentang adikmu yang belajar mendewasa
Tentang adikmu yang belajar menulis nonfiksi
Tentang adikmu yang terus mengurai benang impian.

Kak,
Kudengar kau makin mengudara
Langit mana lagi yang kaujejali?

Kak,
Masihkah kau ingin pulang?
Adikmu masih menunggu.

Rumah
13 Juni 2013
23.41
Untuk Kakak yang amat dirindui adiknya.