Cerita dan Celoteh

Jeda

Hari ini, jadwalnya saya post tulisan baru di blog. Tapi karena beberapa hari terakhir menulis terus tanpa asupan gizi tinta, akhirnya teko imajinasi saya kosong. Ya, bagiku, menulis adalah semacam menuangkan isi teko. Teko, adalah ibarat otak dan hati kita yang diisi berbagai jenis ilmu, mulai dari bacaan, kepekaan pada lingkungan, bepergian, hikmah film, kejadian, cerita sahabat, dan lain-lain. Dan menulis, adalah menuangkan semua itu ke dalam gelas-gelas untuk dibagi kepada orang banyak, agar isi teko itu tidak meluber.

Sampai detik saya mengetik ini, saya punya dua cerpen yang sudah jadi malam ini. Tapi entahlah, rasanya ada yang kurang sehingga bagi saya cerpen itu belum layak baca. Ada yang kurang. Dan saya tahu, sudah lima hari ini saya belum baca buku lagi. Begitulah, menulis tanpa membaca adalah seperti mau sms tapi tidak punya pulsa. Ada yang mau disampaikan tapi tidak sampai.

Bukankah mereka yang punya cita-cita menjadi penulis tapi tak membaca satu buku pun dalam satu minggu lebih baik melupakan cita-cita mereka untuk menjadi penulis?

Atas nama tekad saya untuk konsisten update satu cerita dua hari sekali, saya menulis cerita pengakuan ini. Semoga adanya tekad kuat tersebut tidak membuat saya menulis tanpa rasa. Bagaimanapun, menulis, adalah juga tentang suatu proses menyampaikan rasa.

Maka karena itulah, saya memutuskan untuk jeda. Ada banyak buku yang meminta untuk dibunyikan halaman-halamannya.

Sampai bertemu lagi. Pre-order buku pertama “EPHEMERA” masih terus disiapkan. Terima kasih yang sudah email atau message ya! 🙂 Continue reading “Jeda”