Cerita Fiksi

They Call it, “Nyesek!”

puzzle heart

Ada yang bilang bahwa di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa dipaksakan: cinta dan celana. Sama-sama menyesakkan kalau dipaksa. Well, hey. Ada benarnya. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengaku pejuang cinta tapi terus menunggu, menunggu yang dicinta—tapi tidak balik mencinta—berubah pikiran tentang cintanya? Adakah itu berarti kesetiaan? Kesetiaan untuk siapa? Jika saja yang dicinta bahkan tak pernah memilihnya. Apakah itu seperti, terus menunggu pesawat mendarat di stasiun kereta?

Figi menghembuskan nafas memikirkan hal itu, ia ngeri membayangkan pesawat mendarat di rel kereta. Bukan tempatnya. Atau mungkin lebih baik perumpaannya adalah seperti lego yang tidak terpasang dengan pasangannya, atau puzzle yang tidak diletakkan pada tempatnya. Ah, bukan itu intinya, ia teringat temannya yang empat tahun berlalu ternyata masih menunggunya. Padahal sejak empat tahun pula Figi sudah menolaknya secara baik-baik.

“Bagaimana kamu tetap bisa berteman baik denganku? Kalau aku masih menunggumu bagaimana?” tanya lelaki itu pada Figi, suatu hari melalui pesan whatsapp. Continue reading “They Call it, “Nyesek!””

Cerita Fiksi

Ephemera

hujan

Aku duduk di balkon, tepat menghadap kawanan mobil yang merayapi Jalan Merdeka setiap malam minggu. Hampir tak ada sela. Angkot-angkot hijau tampak berhenti menunggu penumpang, sementara petugas keamanan menyuruh mereka jalan, menghindari kemacetan yang semakin parah. Aku sejenak menikmati suasana crowded senja di kota penuh kenangan ini. Senja yang mataharinya sudah tenggelam sejak beberapa jam lalu. Tersembunyikan oleh hujan deras. Sisa rintiknya bahkan masih membasahi sebagian kursi lain di depanku. Sambil menikmati segelas McFloat Kiwi,  aku masih asyik membuka sebuah buku yang baru saja kubeli dari toko buku di depan restoran cepat saji ini. Bandung, senja, buku, gerimis, entah kenapa selalu menjadi perpaduan yang sempurna buatku.

“Tes, kamu di mana sekarang? Anak-anak lagi pada ngumpul di Bandung. Ikut yuk.” Suara itu langsung saja terdengar begitu aku mengangkat telepon, tanpa assalamualaikum atau sekadar hallo.

“Dikooo, assalamualaikum dulu bisa kali.” Jawabku santai.

“Iye bu haji. Di mana kamu?”

“BIP. McD. Abis beli buku barusan.”

“Oke.” Pip. Telepon mati. Astaga, teman-temanku tidak pernah berubah ternyata. Masih saja ‘tidak jelas’, entah mereka membuat kejutan apalagi sekarang. Empat tahun berlalu sejak perpisahan SMA, sama sekali tak berubah. Kecuali mungkin, hmm..

“Buku apa ini? Suka sekali menutup muka pakai buku. Lagi sedih ya, Neng?”

Eh? Sungguh ini seperti dejavu. Kejadian beberapa tahun lalu, di sekolah, seperti terulang persis. Hanya saja dulu tak ada hujan, tak ada segelas McFloat. Lelaki tinggi itu mengambil buku yang kubaca dengan seenak hati. Seperti tak bersalah sama sekali. Jelas-jelas buku itu sedang kubaca. Kalau orang itu bukan dia, mungkin sudah kulaporkan dia pada Komnas HAM. Dia melanggar hak asasiku membaca. Oke, sepertinya otakku mulai tidak sinkron. Sayangnya orang itu adalah dia, laki-laki yang satu setengah tahun ini kuhindari.

Dia membuka kacamatanya, meletakkannya bersama buku yang dirampoknya di samping gelas. Lalu tersenyum sejenak menatapku perlahan. Aku mengalihkan pandangan pada hujan. Sengaja sekali memilih diam.

“Kamu pernah bilang, apapun yang terjadi, sahabat tetap sahabat, Tes.” Katanya pelan. Aku masih diam. Kali ini memilih menunduk.
Continue reading “Ephemera”