Cerita Fiksi

Undeniable

hakikat-pernikahan

Aku bersumpah tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari ketika kamu mengucap janji di depan ayahku dan tentu saja di depan Tuhan. Sangat syahdu. Aku menangis ketika bersalaman denganmu. Kamu mengecup keningku lembut untuk pertama kalinya. Hari yang sepuluh tahun lalu pernah kubayangkan dalam mimpiku. Tapi juga hari yang sejak empat tahun lalu tak pernah lagi kuinginkan terjadi.

“Hal apa yang paling kamu hindari di dunia ini?” aku pernah mendapatkan pertanyaan itu dari seorang sahabatku.

“Menikah dengan satu-satunya mantanku,” jawabku mantap saat itu.

“Kenapa?”

“Kita masih bisa bahagia dengan orang lain kan?”

Tapi Tuhan berkata lain. Hari ini, seseorang yang baru saja mengecup keningku itu adalah kamu, sang mantanku satu-satunya. Kamu masih laki-laki yang kusimpan dalam khayalan futuristikku, satu-satunya yang kubiarkan mengobrak-abrik hatiku, termasuk menyakitinya. Parahnya, karena hanya kamulah obat atas sakit yang juga kamu sebabkan itu. Entah bagaimana cerita Tuhan mengatur hati, kita bertemu setelah saling melepaskan. Bertemu untuk berjanji di hadapan-Nya.

It’s undeniable.. that we should be together.

Continue reading “Undeniable”

Cerita Fiksi

A Gentleman

Aku duduk di kantin kampus. Entah sejak kapan, kantin ini sekarang dilengkapi dengan iringan musik instrumental. Aku menikmatinya, ketika tak berapa lama kamu datang.

“Seru ya, Kak, sekarang ada musiknya,” sapamu sambil terseyum seperti biasanya. Dan kamu masih memanggilku “kakak”.

“Iya, sejak kapan?”

“Sejak negara api menyerang, Kak.”

“Ah, kamu basi, Dek.” Dan aku masih menyapamu dengan “Dek”.

“Aku nggak berniat bikin basi, Kak. Tapi perubahan di kampus ini benar-benar mengubah banyak hal.”

“Apanya?”

“Kakak amati, deh. Oh, Kakak rasakan. Masih bau asap rokok?”

Aku melirik sekitar, menarik nafasku, tidak ada.

“BEM yang baru seru, Kak.”

BEM? Aku teringat cita-citamu yang ingin menjadi Ketua BEM sejak masuk kuliah.

“Oh, jadi sekarang kamu ketuanya?” aku bersemangat, “wah selamat ya,”

Dia menunduk sebentar, lalu tersenyum, “saya nggak jadi maju, Kak.”

“Bukannya itu impian kamu?”

“Dilan punya kemampuan lebih, Kak, dari saya. Dia punya massa yang banyak dan dia punya kemampuan menggerakkan orang lain.”

“Kamu?”

“Aku masuk ke departemen, Kak, membantu Dilan.”

Aku tidak mengerti cara pikirmu. Seingatku, kamu seorang visioner yang percaya bahwa mimpi harus dicatat, direncanakan, dan diperjuangkan. Bukankah, mmm, mimpimu semester ini adalah menjadi Ketua BEM? Bukankah, kemarin-kemarin sebelum ini, semua langkah untuk sampai sini sudah diperjuangkan? Mengapa kamu mundur di tengah jalan?

“Kamu mundur? Ah, nggak gentle kamu, Dek.”

Kamu membenarkan posisi dudukmu, “sejak aku kenal Dilan mendalam, aku tahu, Kak, kampus ini lebih butuh pemimpin seperti dia. Bisa jadi aku memang punya banyak strategi, tapi kemampuan menggerakkan massa dan diikuti massa, itu ada di diri Dilan. Efekku tidak sebesar dia, Kak.”

Aku masih kurang paham. Continue reading “A Gentleman”