Cerita Fiksi

23:32

23:32
23:32

“Tapi aku sudah memutuskan untuk berhenti.”
“Lalu dengan berhenti kamu akan punya mimpi baru?”
“Tidak, aku hanya ingin lebih realistis, Ray. Kita sudah bukan remaja enam belas tahun lagi, bukan saatnya untuk bermimpi.”
“Baiklah. Malam ini, pukul 23.32, kamu mungkin akan mengerti.”
Ray berdiri. Matahari masih sangat muda, bahkan belum bulat utuh. Sepagi itu, kamu sudah datang, lalu pergi empat menit kemudian. Kursi kayu yang masih basah berembun ini kini hanya tinggal aku yang menduduki. Harusnya kita berbicara lebih lama lagi. Duduk manis sembari berceloteh tentang kenangan. Atau tentang dua tahun tujuh bulan yang kita lalui dalam keterpisahan.

***

Aku terlelap lebih dahulu, belum sempat menunggu pukul 23.32 seperti yang kamu katakan, Ray. Ah, tidak, lebih tepatnya aku sengaja tidur cepat. Aku tahu, 23.32 tidak lebih dari sekadar jam. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku tahu betul tabiatmu itu, Ray. Walaupun umurmu sekarang sudah 22, nyatanya kamu masih tidak juga berubah. Laki-laki pemimpi yang terlalu idealis. Sekarang pukul 23.47, aku terbangun. Entah kenapa, walaupun tidak percaya, ternyata aku penasaran juga.
Aku tahu jam dinding biru yang diam di sebelah barat kamarku sekarang menertawakanku. Rasanya aku ingin berbicara padanya, apa yang terjadi 15 menit lalu? Tapi aku tidak mau jadi pemimpi bodoh lagi. Maka, kuputuskan untuk menarik lagi selimut bermotif daun yang tebalnya sampai 1,5 cm ini. Tidur. Tapi..
“Sudah berapa buku?”
“Empat.”
“Sudah kamu kirim ke penerbit?”
“Sudah dibakar Ayah.”
“Soft-file-nya?”
“Untuk apa? Lebih baik aku fokus pada tugas akhirku yang tak kunjung selesai saja, Ray.”
“Kamu ini kenapa Nadia? Kamu sudah ingin berhenti menulis?”
“Aku akan jadi dokter, bukan penulis novel.”
“Kamu bisa jadi dua-duanya.”
Sisa-sisa pembicaraan denganmu tadi pagi menggema. Ray, kenapa kamu memarahiku? Kumohon biarkan saja aku seperti ini. Aku tidak akan pernah bisa jadi dua-duanya kalau aku memilihmu.

***

Pagi ini, aku ingin menemuimu, Ray. Bukan untuk membicarakan kenangan kita. Bukan juga untuk mengurai rindu atas keterpisahan yang kita alami. Bukan pula ingin bertanya ini itu tentang tiga novel best seller-mu yang terbit mendahului novelku. Entahlah, sejak lima menit lalu, aku hanya duduk di kursi plastik berwarna biru yang bertengger manis di beranda rumahmu. Beruntung, kamu sempat mendengar suara sepatuku. Continue reading “23:32”

Uncategorized

Mengenang Minang

peserta ACCOUNTS 2013
peserta ACCOUNTS 2013

Dalam setiap pertemuan, selalu ada cerita terkenang. Barangkali mengendap di ranah minang. Barangkali membisu dalam denting jam gadang. Namun, selalu ada masa saat kita semua harus pulang.

Akan ada rindu mengerjap, menanti obrolan bersama seduhan teh talua, menggumpal dalam sajian nasi kapau. Lalu di telinga kita, saling mengiang kosakata pemecah gelak tawa. Ingatkah kau? Baralek. Tabolok. Mantiak. Dan masih banyak kata lagi yang kujadikan oleh-oleh. Cerita singkat bermakna padat.  Terlalu cepat sampai kita ingin membuat laju waktu tersendat.

Tak apa. Ada lengkung senyum setiap mengingat tawamu, Kawan. Walaupun gelar juara tak mampu kita raih, bertemu denganmu saja sudah menjejakkah hikmah. Bahwa kemenangan tak selalu berarti menjadi yang terunggul. Barangkali berhasilnya hati menerima semua hasil akhir dengan perasaan tenteram adalah kemenangan sesungguhnya. Tak apa. Ada ide-ide kita yang pernah saling bertukar. Juga menjadi oleh-oleh yang melengkungkan bibir dan kerut dahiku. Continue reading “Mengenang Minang”

Uncategorized

Hapus

image

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar memencet tombol itu lebih lama lalu mengeklik tombol delete. Tapi akhirnya kamu mengekliknya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.
Continue reading “Hapus”

Uncategorized

Hampa

Kamu tahu rasanya kosong? Seperti kotak itu, tergeletak di sudut ruang yang pernah kuberi nama rindu. Tanpa nama, tanpa cerita, tanpa rasa, tidak juga sakit. Ia hanya kosong.
Kamu tahu rasanya kosong? Berjalan begitu saja. Berlari pelan-pelan. Berhenti ketika harus berhenti. Terduduk di ruangan yang pernah kuberi nama rindu. Sepi. Kosong juga rindu itu.
Kamu tahu rasanya kosong? Tiba-tiba tintaku macet. Pojok biruku memutih. Penaku mendiam. Menulis, yang selalu kubilang menyenangkan, tetiba menjadi hal tersulit.
Ada bahagia yang ingin kubagi, tapi tidak. Memang benar kata penulis favoritku itu, bahwa hal paling menyedihkan di dunia ini bukanlah saat kita sedih dan tidak ada tempat berbagi, namun saat kita bahagia dan tidak ada teman untuk berbagi kebahagiaan itu.
Kosong. Kopong. Dan suara-suara menggema. Menjadikan hati tak tahu rasa. Putih, tanpa cerita, tanpa kamu.
Sebab itu semua menjadi hampa. Kosong.

Pojok Biru 2
Tadipagibanguntidur
Waktu Bagian Lupa Jam Berapa
*ngigaumungkin*

Cerita Fiksi

Nymphaea Alba

nymphaea_albaKamu kehilangan kata. Cerita hanya mampu membeku. Sementara 149.599.000 kilometer dari titikmu berpijak, cahaya itu menyilaukan mata. Harusnya panasnya mencairkan cerita. Tapi tidak. Kamu menatapnya sambil mengatupkan tangan kananmu ke sebagian wajahmu. Mata kirimu mulai memicing. Nafasmu setengah terhambat. Ada yang kamu tahan. Ada yang kamu simpan. Jelas kamu tidak rela ada fluida lagi mengalir dari mata beningnya. Itulah mengapa kamu berlari menjauhinya. Menerima telak semua keputusannya. Lalu berhenti di sini. Di pinggir danau dengan Nymphaea alba  yang bunganya menunggu mekar. Kamu tahu persis itu impian kamu dan dia.

“Kamu sayang sama aku atau impian kamu?” pertanyaan itu mengiang begitu saja.

“Hei, itu pertanyaan konyol!” jawabmu.

Dia tersenyum. “Pernahkah kamu bertanya mengapa kita bertahan dengan semua kondisi ini? Dengan cerita luka yang magis, dengan kepercayaanku yang menipis, tapi dengan rindu yang masih saja berlapis?”

“Karena kita masih punya tujuan yang sama,” tegas kamu menjawabnya.

“Apa? Jangan-jangan kita hanya terlalu sayang jika impian kita tidak tercapai, maka kita memilih untuk bertahan, senano-nano apapun rasanya perjalanan ini.”

“Aku mau membangun danau dengan beragam Nymphaea yang indah. Dan kamu akan menjadi yang paling anggun di sana. Menjadi Nymphaea alba.”

Dia tertawa kecil, lalu berdiri, membelakangimu. “Itu impian kamu.”

“Lalu impian kamu?” kamu mulai gemetar. Jantungmu menunggu sebuah jawaban agar ia tidak berdegup lebih kencang dari ini. Continue reading “Nymphaea Alba”

Uncategorized

Bulan, katakan padanya..

Aku janji dalam ceritaku malam ini tak akan ada air mata. Maka bersiaplah untuk tersenyum. Aku mau minta tolong padamu.
Bulan, kalau malam ini dia menatapmu, tolong katakan padanya, aku baik-baik saja, tersenyum ceria menikmati hikmah demi hikmah yang dijejakkan Allah di hidupku.
Kalau malam ini ia tengah tertawa lepas, bisikkan padanya, aku bahagia mengetahuinya.
Kalau malam ini dia mengeluh, katakan maafku padanya, aku tak akan ada untuk sekadar mendengar keluhnya, tapi Allah selalu ada untuk meluaskan hatinya.
Kalau malam ini ia tengah gundah oleh masalah-masalah duniawi, tegaskan padanya, pertolongan Allah itu amat dekat.
Kalau ia diam, cukup tatap ia. Tampakkan cahayamu, temani ia, sebagaimana cahaya menemaninya dalam namanya. Biarkan dia berpikir banyak sebagaimana sekarang aku tiba-tiba berpikir.
Kalau ia tak mengingatku atau tertawa oleh senyum selain senyumku, jangan marah, Bulan. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Katakan saja padanya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Continue reading “Bulan, katakan padanya..”

Cerita dan Celoteh

(benci)

picture from: eykahamasuba.blogspot.com
picture from: eykahamasuba.blogspot.com

“Aku benci!”, ia melemparkan lagi sebuah batu ke danau di depannya. Mengagetkan beberapa ekor katak yang tengah tidur lelap di pinggiran danau.

“Apa yang kamu benci?”

“Episode cerita kita di sepertiga akhir tahun ini. Dia. Setengah kamu.”

“Setengah?”

“Setengahnya lagi begitu kucintai.”

“Maaf.”

Perempuan itu hanya tersenyum, sambil menyeka satu bulir air mata yang akhirnya jatuh, padahal dari tadi ia tahan. Laki-laki di belakangnya, yang dari tadi ia kira imaji, yang dari tadi suaranya menjawab teriakannya, berdiri tepat di belakangnya. Itu kamu. Masih dengan tas ranselmu. Masih dengan selembar surat yang kamu genggam. Masih berdiri kaku. Kakimu tak berani melangkah satu jengkal lagi untuk menyejajari perempuan itu. Kamu diam, kemudian mendengarkan ceritanya selanjutnya.

“Untuk apa kamu menangis, Al? Kamu menangis kayak kamu nggak punya Allah aja.” Perempuan itu berbicara pada dirinya sendiri. Dan kamu masih diam di tempatmu berada. Continue reading “(benci)”