Uncategorized

Hampa

Kamu tahu rasanya kosong? Seperti kotak itu, tergeletak di sudut ruang yang pernah kuberi nama rindu. Tanpa nama, tanpa cerita, tanpa rasa, tidak juga sakit. Ia hanya kosong.
Kamu tahu rasanya kosong? Berjalan begitu saja. Berlari pelan-pelan. Berhenti ketika harus berhenti. Terduduk di ruangan yang pernah kuberi nama rindu. Sepi. Kosong juga rindu itu.
Kamu tahu rasanya kosong? Tiba-tiba tintaku macet. Pojok biruku memutih. Penaku mendiam. Menulis, yang selalu kubilang menyenangkan, tetiba menjadi hal tersulit.
Ada bahagia yang ingin kubagi, tapi tidak. Memang benar kata penulis favoritku itu, bahwa hal paling menyedihkan di dunia ini bukanlah saat kita sedih dan tidak ada tempat berbagi, namun saat kita bahagia dan tidak ada teman untuk berbagi kebahagiaan itu.
Kosong. Kopong. Dan suara-suara menggema. Menjadikan hati tak tahu rasa. Putih, tanpa cerita, tanpa kamu.
Sebab itu semua menjadi hampa. Kosong.

Pojok Biru 2
Tadipagibanguntidur
Waktu Bagian Lupa Jam Berapa
*ngigaumungkin*

Cerita Fiksi

Nymphaea Alba

nymphaea_albaKamu kehilangan kata. Cerita hanya mampu membeku. Sementara 149.599.000 kilometer dari titikmu berpijak, cahaya itu menyilaukan mata. Harusnya panasnya mencairkan cerita. Tapi tidak. Kamu menatapnya sambil mengatupkan tangan kananmu ke sebagian wajahmu. Mata kirimu mulai memicing. Nafasmu setengah terhambat. Ada yang kamu tahan. Ada yang kamu simpan. Jelas kamu tidak rela ada fluida lagi mengalir dari mata beningnya. Itulah mengapa kamu berlari menjauhinya. Menerima telak semua keputusannya. Lalu berhenti di sini. Di pinggir danau dengan Nymphaea alba  yang bunganya menunggu mekar. Kamu tahu persis itu impian kamu dan dia.

“Kamu sayang sama aku atau impian kamu?” pertanyaan itu mengiang begitu saja.

“Hei, itu pertanyaan konyol!” jawabmu.

Dia tersenyum. “Pernahkah kamu bertanya mengapa kita bertahan dengan semua kondisi ini? Dengan cerita luka yang magis, dengan kepercayaanku yang menipis, tapi dengan rindu yang masih saja berlapis?”

“Karena kita masih punya tujuan yang sama,” tegas kamu menjawabnya.

“Apa? Jangan-jangan kita hanya terlalu sayang jika impian kita tidak tercapai, maka kita memilih untuk bertahan, senano-nano apapun rasanya perjalanan ini.”

“Aku mau membangun danau dengan beragam Nymphaea yang indah. Dan kamu akan menjadi yang paling anggun di sana. Menjadi Nymphaea alba.”

Dia tertawa kecil, lalu berdiri, membelakangimu. “Itu impian kamu.”

“Lalu impian kamu?” kamu mulai gemetar. Jantungmu menunggu sebuah jawaban agar ia tidak berdegup lebih kencang dari ini. Continue reading “Nymphaea Alba”

Uncategorized

Bulan, katakan padanya..

Aku janji dalam ceritaku malam ini tak akan ada air mata. Maka bersiaplah untuk tersenyum. Aku mau minta tolong padamu.
Bulan, kalau malam ini dia menatapmu, tolong katakan padanya, aku baik-baik saja, tersenyum ceria menikmati hikmah demi hikmah yang dijejakkan Allah di hidupku.
Kalau malam ini ia tengah tertawa lepas, bisikkan padanya, aku bahagia mengetahuinya.
Kalau malam ini dia mengeluh, katakan maafku padanya, aku tak akan ada untuk sekadar mendengar keluhnya, tapi Allah selalu ada untuk meluaskan hatinya.
Kalau malam ini ia tengah gundah oleh masalah-masalah duniawi, tegaskan padanya, pertolongan Allah itu amat dekat.
Kalau ia diam, cukup tatap ia. Tampakkan cahayamu, temani ia, sebagaimana cahaya menemaninya dalam namanya. Biarkan dia berpikir banyak sebagaimana sekarang aku tiba-tiba berpikir.
Kalau ia tak mengingatku atau tertawa oleh senyum selain senyumku, jangan marah, Bulan. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Katakan saja padanya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Continue reading “Bulan, katakan padanya..”

Cerita dan Celoteh

(benci)

picture from: eykahamasuba.blogspot.com
picture from: eykahamasuba.blogspot.com

“Aku benci!”, ia melemparkan lagi sebuah batu ke danau di depannya. Mengagetkan beberapa ekor katak yang tengah tidur lelap di pinggiran danau.

“Apa yang kamu benci?”

“Episode cerita kita di sepertiga akhir tahun ini. Dia. Setengah kamu.”

“Setengah?”

“Setengahnya lagi begitu kucintai.”

“Maaf.”

Perempuan itu hanya tersenyum, sambil menyeka satu bulir air mata yang akhirnya jatuh, padahal dari tadi ia tahan. Laki-laki di belakangnya, yang dari tadi ia kira imaji, yang dari tadi suaranya menjawab teriakannya, berdiri tepat di belakangnya. Itu kamu. Masih dengan tas ranselmu. Masih dengan selembar surat yang kamu genggam. Masih berdiri kaku. Kakimu tak berani melangkah satu jengkal lagi untuk menyejajari perempuan itu. Kamu diam, kemudian mendengarkan ceritanya selanjutnya.

“Untuk apa kamu menangis, Al? Kamu menangis kayak kamu nggak punya Allah aja.” Perempuan itu berbicara pada dirinya sendiri. Dan kamu masih diam di tempatmu berada. Continue reading “(benci)”

Cerita dan Celoteh

(Bukan) Ulang Tahun Online

adik-kakak“Mamaaaaa. Ada Dek Nadaaa.” Ayin tiba-tiba berhenti menumpuk buku-buku komik yang ia susun menjadi rumah-rumahan. Ia cepat berlari keluar toko. Lupa pula memakai sandalnya. Padahal baru kemarin mamanya memberikannya sepasang sandal berwarna biru. Kemarin ia kekeuh tidak mau mencopot sandal itu. Lihatlah, demi seseorang yang ia panggil “Dek Nada”, laki-laki kecil berusia empat tahun itu melupakan semua keasyikannya. Beberapa pembeli yang tengah memilih buku bahkan sampai menoleh kaget mendegar teriakan Ayin. Diani, salah seorang kasir yang dari tadi bersama Ayin juga kaget. Ia malah hampir mengejar Ayin, meninggalkan mesin penghitung, namun tercegah oleh lirikan seorang pembeli wanita paruh baya bergaya modis yang tengah membayar buku yang dibeli. Diani hanya melirik Ayin. Kaget. Takut Ayin lari ke jalan raya.

Apalagi Farikha. Ia kaget bukan main. Mendengar kata “Dek Nada” berarti akan ada pula seorang perempuan bernama Leni, sahabat lamanya. Temannya menggila, menangis, tertawa, bahkan bermimpi. Bersama Leni pula, toko buku “Tuman” dirintis dan sekarang sudah melampaui impiannya. Toko buku “Tuman” kini menjadi toko buku favorit di Bogor. Ia cepat mematikan kompornya dan membenarkan tali jilbabnya. Menarik roknya sedikit ke atas agar larinya tambah cepat. Diani tampak bingung menyaksikan mama dan anak berlarian.

“Buruan, Mbak. Jangan ngelamun.” Ibu-ibu itu akhirnya protes juga.

Diani kembali fokus. Ayin sudah sampai terlebih dahulu. Ia menggandeng gadis kecil berusia 3 tahun yang rambutnya dikuncir dua. Continue reading “(Bukan) Ulang Tahun Online”

Cerita Fiksi

Hati yang Dipinjam

“Aku tidak menggambar apapun.” katamu padaku saat wajahku tampak merajuk, sementara bibirmu berusaha melengkungkan senyum terbaikmu untukku.

Tidak mungkin kamu tidak menggoreskan apa-apa. Aku melihat jelas ada goresan dari spidol birumu. Ya, biru. Warna yang sudah setahun ini jarang sekali ada di gambarmu.

“Rosi, untuk kali ini, aku ingin menyimpan gambarku sendiri.” Akhirnya kamu menyadari bahwa aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi dengan menyembunyikan selembar kertas—yang katamu tidak ada gambarnya—di balik saku celanamu.

“Seharusnya kamu tidak perlu menyembunyikan apa-apa. Itu hanya sebuah gambar, hanya kamu yang mengerti artinya,” kataku lirih.

“Miss Rosi yang ceria, plis jangan menangis hanya karena sebuah gambar. Ini gambarnya,” kamu menyodorkann kertas itu dari saku celanamu, aku menolaknya. Kamu mungkin mengira aku merajuk bercanda. Tapi penolakanku membuatmu terkejut.

Kamu menunduk diam. Mungkin hari ini kamu harus menyadari sesuatu. Kursi kayu di depan ruang perkuliahan ini kuyakin sebal diduduki dua manusia yang tiba-tiba saling berdiam. Mungkin bukan hanya kamu, hari ini aku juga harus menyadari sesuatu.

“Warna biru,” kataku akhirnya.

“Iya, warna biru itu menenangkan.”

“Hanya itu?”

Kamu diam lagi.

Aku hari ini sudah membayangkan akan menjadi Rosi Lainnya. Bukan Rosi ceria yang kamu banggakan. Bukan Rosi yang bisa meledakkan tawamu dan tawa manusia lainnya. Bukan pula Rosi yang membuatmu bercerita. Sejak beberapa menit lalu ketika aku melihat gambar itu, aku entah kenapa sudah tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang lama kuikat rapat. Dan kamu paham betul akan hal ini. Continue reading “Hati yang Dipinjam”

Cerita dan Celoteh

Baling-Baling Cerita

Mengapa jadi begini? Kita hidup dalam langkah masing-masing. Bukankah aku sudah pernah bilang, aku ingin seiring. Tapi kita justru tergiring di bawah baling-baling cerita kita sendiri-sendiri. Tertatih berpegang kayu kering. Sementara saat kamu mencari tangan  untuk menobang tubuhmu yang melayu, bukan aku yang ada. Bukan aku. Aku berjalan, juga tertatih, dengan uluran tangan yang juga bukan darimu. Bukan kamu.

Tak apa. Ujungnya senyumku masih mengembang, selama harap masih terucap. Selama dalam doa ada rasa untuk bersua. Selama dalam riuh gerak kita, masih ada ingin untuk seiring. Walau bukanlah mudah melangkah terseret baling-baling. Aku tak akan takut, aku akan berjalan, ada jembatan teduh di pertengahan menuju ujung kita. Yang menghentikan putaran baling-baling. Ya, selama kamu juga masih berjalan walau terseret,  menuju jembatan itu.

Tak perlu orang lain percaya. Tak perlu orang lain tahu. Cukup aku dan doaku. Cukup kamu dan doamu. Hingga doa kamu dan doaku menemukan kita.

Selamat melangkah. Tak apa jika harus dalam langkah masing-masing. Tak apa. Selamat menjadi kuat.

“Biar angin terus memutar baling-baling, menyeret ke mana pun langkah aku dan kamu.”, katamu.

Kampus biru,

19 Oktober 2012

15.07 WLH

Cerita Fiksi

Episode yang Terlewat

sumber gambar: http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/hujan4.jpg

“Mamaaaaaa…” laki-laki kecil berusia 3 tahunan itu berlari kecil mengarah kepadaku. Aku membenarkan jilbab, lalu menyandarkan lutut di tanah, menunggu pelukannya. Ya, seperti kuduga, dia memelukku erat sekali.

“Lizhal tadi ketemu sama Om-om, dibikinin pesawat ini, Ma.” katanya kemudian setelah melepaskan pelukanku. Aku mengerutkan dahi. Menunggu kejutan apalagi yang dibawa oleh pangeran kecilku. Sebelas hari ini, sepulang sekolah, dia selalu bercerita tentang ibu gurunya, hampir cerita yang sama. Tapi, di beranda sekolah bermain ini, aku  selalu menunggu cerita-ceritanya dengan perasaan bahagia, tak peduli cerita yang sama itu terus berulang. Sama bahagianya seperti sebelas hari lalu ketika dia mengenakan seragam sekolah pertamanya.

“Mama, Ibu gulu nyuluh Lizhal nyanyi lagi, tapi Lizhal nggak mau, Lizhal kan sukanya nggambar.” Begitu biasanya ia bercerita. Tapi entah kenapa ceritanya hari ini berbeda. Tentang “om-om” katanya. Entah siapa yang dimaksud.

“Pesawat apaan , Rizhar sayang?”

“Jet mini, Ma.”

Tanganku tiba-tiba berhenti mengelus rambutnya.

“Ini, Ma.” Si kecil Rizhar mengeluarkan pesawat kertas dari sakunya.

Aku mengaburkan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Kuusap lagi rambutnya, kali ini lebih keras.

“Ah, Mama juga bis..”

Aku belum selesai berbicara ketika tiba-tiba Rizhar berteriak dan menunjuk seseorang yang berada di luar pagar sekolah. “Mamaaa, itu Omnyaaaaaaaaaa..” Tangan kecilnya kemudian menyeretku ke depan, membuatku tidak bisa menolak lagi. Rizhar benar-benar menggambar ceritanya hari ini. Sungguh, ini benar-benar kejutan.

Continue reading “Episode yang Terlewat”

Cerita dan Celoteh, Cerita Fiksi

(masih)

Burung kecil di pintu rumahku baru saja memberi tahu bahwa kamu datang. Dua kali kamu mengetuk pintu. Pukul 13.09. Tak ada jawaban. Satu menit kemudian, kamu mencoba mengetuknya lagi. Masih tak ada jawaban. Tentu saja tak ada, pintu rumah yang kamu ketuk itu ditinggal penghuninya.
Sekarang pukul 13.24. Burung kecil di depan rumah berkicau ketika aku sampai, mengatakan bahwa kamu datang. Aku hanya bisa terpatung dalam senyap. Kakiku mendadak kaku. Sudah lama sekali burung kecil itu tidak pernah memberi kabar tentang kamu. Siang ini, tanpa kuduga, dia mengatakan kamu datang. Bukan suratmu. Tapi kamu.
Ada apa? Aku hanya bertanya pelan dalam ruang sunyi kalbuku. Ingin bertanya pada burung yang memberitahuku, tapi urung. Kuhelakan nafas, ber-hmmmm panjang, mengikhlaskan waktu yang belum mempertemukan kita. Tak apa, aku selalu percaya, ada skenario yang lebih indah dari sekadar pertemuan. Mungkin, memang belum waktunya kita bicara.
Tok tok tok. Ada suara yang mengetuk pintuku lagi, kupikir itu kamu. Bukan.

090812
13.–

~bahwa tidak semua yang kita harapkan terjadi sesuai keinginan kita. Kadang ada yang meleset, tetapi skenario yang ada pasti lebih indah dari sekadar keinginan kita.

Cerita Fiksi

Presipitasi #5

Aku selalu tidak bahagia kalau masuk ke rumah sakit, selain harus melihat orang sakit, tentu saja juga karena baunya yang aneh, bau khas rumah sakit. Kami ber-24 sekelas datang ke rumah sakit hari itu. Harusnya jumlah siswa di kelas kan 25, tentu saja karena tidak ada kamu jadi tidak lengkap. Jangan tanya pula bagaimana orang sebanyak ini bisa masuk untuk menjenguk pasien, itu ide konyol kami yang mau masuk lewat pintu mana saja. Haha, lucu mengenang masa putih abu-abu kita. Bagi kita saat itu, yang penting bersama. Apapun caranya, termasuk mengelabui pegawai rumah sakit. Sayang sekali kamu tak ada dalam tawa kami siang itu, kamu tergeletak di ranjang putih kamar VIP 7.

“Assalamualaikum.” seorang teman, yang entah aku lupa siapa, mengulukkan salam. Aku memilih diam saja.

“Waalaikumsalam.” Seorang perempuan dua puluh tahunan menjawab salam itu. Kakakmu. Selain kakakmu, ada satu perempuan lagi duduk di salah satu kursi rumah sakit. Perempuan cantik, anggun, wajahnya dewasa. Perempuan yang kemarin kamu bilang sangat kamu sayangi. Bintan. Dia menyapa kita. Aku–lagi-lagi– memilih diam, tersenyum saja.

Ada yang tidak enak di hatiku. Mungkin karena kaget saja melihatmu yang biasanya gesit dengan berbagai aktivitasmu, diam lemas seperti itu. Ah, bukan, bukan hanya itu. Ada yang ngilu di dadaku. Continue reading “Presipitasi #5”