Cerita dan Celoteh, Cerita Fiksi

BUMBU CEMBURU!

Bogor, Desember 2015

Razif terkejut ketika sampai rumah. Ruang tamu sederhana yang baru ditatanya bersama istrinya seminggu lalu berubah total. Sekilas memang tampak lebih rapi. Ia tersenyum sedikit, sempat terlintas “ada apa?” di pikirannya. Tapi ia tepis. Bukannya ini lebih manis?
“Dek?” ia memanggil istrinya, lupa pula belum sempat mengucap Assalamualaikum. (Sst, FYI, di bagian ini Ayin belum lahir, masih di perut 2 bulan).

Tak ada jawaban. Ia berjalan menuju kamarnya. Bukannya mendapati istrinya, ia malah tambah terkejut. Kamar itu juga tampak lebih manis. Kali ini ia tak dapat menepis lagi pertanyaan “ada apa?” di pikirannya. Bukankah pasangan muda ini baru menempati rumah ini seminggu yang lalu setelah enam bulan mereka tinggal bersama orang tua Razif? Bukannya baru kemarin mereka bahagia menata perabotan mereka yang belum banyak?

“Dek?” panggilnya lagi, kali ini dengan volum yang lebih keras.

“Iyaaaa.” terdengar suara dari dapur. Ia lega istrinya ada di rumah.

“Kamu masak apa sampai keringetan begitu?” tanyanya lembut pada istrinya.

Farikha hanya nyengir, sambil memindahkan ikan bakar ke cobek yang sudah terisi sambal.

“Kok kamu sudah pulang sih, Bang?”

“Ih nggak suka nih suaminya pulang cepet?”

Farikha nyengir lagi, memamerkan giginya yang tak pernah absen kelihatan kalau dirinya difoto.

“Seneng lah. Ini nanti kita makan malam spesial. Mama pernah ngajarin bikin ikan bakar penyet dua bulan lalu. Ini praktek deh. Hehe.”
Razif tersenyum lagi, ada suatu perasaan entah yang menyentuh sudut hatinya. Membuatnya melupakan urusan ruang tamu dan kamar yang tiba-tiba menjadi berbeda.

“Abang ada kabar gembira makanya pulang cepet. Jadi,..”

“Stop, pending dulu ya, Bang. Mau mandi dulu. Nanti cerita semuanya.”

image

Continue reading “BUMBU CEMBURU!”

Cerita Fiksi

Presipitasi #4

“Selesai.” kataku sambil menutup bolpoin, lalu menyerahkan beberapa lembar kertas laporanmu.

Kamu meraih kertas-kertas itu tapi tidak memasukkannya ke dalam tas. Kamu meletakkan begitu saja kertas-kertas itu di sampingmu. Aku sudah tak peduli, aku ingin segera menjauh darimu saat itu.

“Kamu mau ke mana?” cegahmu saat aku berdiri.

“Mau rapat redaksi, anak-anak sepertinya sudah menunggu.” jawabku mencoba sesantai mungkin.

“Bukankah masih lima belas menit lagi? Duduklah sebentar, aku belum selesai cerita.” katamu sambil membenarkan kacamata.

“Hfff..” kutarik nafasku pelan, lalu duduk, menurutimu. “Kamu sebenarnya mau cerita apa sih? Bukannya kamu tadi bilang sayang sama Bintan? Terus apa masalahnya? Aku tahu Bintan lebih dari sekadar sayang sama kamu. Jadi, tak usahlah khawatir kamu akan kehilang..”
Continue reading “Presipitasi #4”