Cerita Fiksi

Halte (cerpen)

Aku sudah duduk di sini sejak empat jam yang lalu. Sudah puluhan bus yang lewat. Sudah ratusan langkah kaki yang lalu lalang. Mereka bertanya, “apa yang kutunggu?”
“Bus kuning,” jawabku.
“Sudah berlalu banyak sedari tadi. Tapi tak kau hiraukan. Apa yang masih kamu tunggu?” kata mereka.
Kamu. Hanya hatiku yang menjawab. Mulutku diam. Mereka lelah menungguku tak kunjung berbicara. Aku menunggu bus kuning berisi kamu, tersenyum juga menungguku di dalamnya. Tapi tak ada.

Empat menit kemudian, kamu datang. Bukan naik bus kuning. Roda sepedamu berputar. Seorang gadis duduk di boncengannya. Bus kuning datang lagi. Aku pergi dan kamu mengikutiku. Bus kuning berlalu. Sepedamu sudah terjatuh sejak kamu mengejarku. Gadis itu terdiam sendu menemani halte. Kami diam memeluk tanya.

Di halte, orang-orang menunggu. Aku juga.
Continue reading “Halte (cerpen)”

Cerita Fiksi

Langit (cerpen)

Ahimzz(819)

Toko buku ini masih sepi. Salah seorang petugasnya masih tampak menata buku di rak tengah, rak buku best sellers yang ditata sedemikian rupa untuk menarik perhatian pengunjung. Aku sengaja datang pagi-pagi, mencari diskon 25% yang ditawarkan toko ini untuk seratus pelanggan pertama. Aih, dasar manusia diskon! Tapi biarlah, untuk seorang penggila buku sepertiku, empat kali diskon 25% bisa menambah satu koleksi buku, itu penting. Hehe.

Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak langsung menuju ke rak pojok depan tempat novel-novel tertata rapi. Sengaja. Aku melangkah lebih jauh menuju rak belakang untuk mencari buku tentang filsafat komunikasi yang menjadi bahan dasar skripsiku. Skripsi? Ah, makhluk yang satu itu mau tidak mau mengurangi jatahku menulis dan membaca kisah-kisah fiksi. Sesampainya di area buku komunikasi, langsung saja kubuka buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” karangan Elvinaro yang kebetulan sudah dibuka sampulnya. Barangkali buku ini bisa menjawab pikiran kacauku tentang paradigma penelitian.

“Aisa.” Seseorang memanggilku. Aku menoleh mencari sang pemilik suara. Seketika kutemukan seorang lelaki melambaikan tangannya sambil tersenyum di balik rak buku di seberang tempatku berdiri.

Astaga. Sekejap kecamuk pikiranku tentang paradigma penelitian, data-data latar belakang, teori-teori filsafat komunikasi yang beberapa hari ini mengganggu pikiranku, enyah begitu saja. Aku tidak tahu molekul apa yang mampu menerbangkan mereka dari pikiranku. Seketika itu pula, mataku tertuju pada baju cokelat muda sesiku yang tampak dari sela-sela buku daaaan.. sepasang sesuatu yang mencirikhaskan dirinya. Itu dia. Kacamata itu. Kacamata itu mencirikhaskan seseorang yang… ah, tidak salah lagi. Itu dia.

“Eh, Bang Izar?” Aku menutup buku yang dari tadi kubaca. Hatiku memuji diriku yang bisa mengendalikan setrum yang tiba-tiba saja serasa mengaliri seluruh pembuluh darahku. Dia tersenyum lagi.

“Sudah pulang ke Indonesia, Bang?” kali ini aku mengutuk diriku. Pertanyaan bodoh. Jelas-jelas ia kini di depanku—tentu saja di Indonesia.

“Iya, kangen buku-buku berbahasa Indonesia.” Katanya sambil menyodorkan sebuah buku yang judulnya tak sempat terbaca olehku.

“Oh, thesisnya sudah selesai ya? Wah, keren..” pembicaraan ini mulai kaku, aku tidak tahu harus berbicara apa. Bertemu dengannya di pertemuan yang amat tak terduga seperti ini adalah kejutan yang tak pernah kusiapkan bagaimana cara mengatasinya.

“Belum kok, Abang ke Indonesia cuma seminggu karena kebetulan dapat tiket sponsor. Sebentar lagi selesai insyaAllah, Sa. Doanya.”

“Aamiin. Sukses selalu, Bang.”

“Rumah Langit apa kabar?”

“Masih biru seperti langit, Bang. Maksudku, adik-adiknya masih ceria dan semangat. Kalau ada waktu senggang, main saja, Bang.”

Dia tersenyum. Ingin sekali kutanyakan banyak hal, tapi semua terkunci bisu di tenggorokan. Kapan ia akan mengunjungi Rumah Langit? Masihkah ia ingat pada junior macam aku yang hobi sekali bikin heboh di komunitas itu? Masihkah ia rindu hari-hari tertawa ketika merangkai permainan untuk adik-adik? Ah, tapi tak ada satu pun pertanyaan-pertanyaan itu yang terlontar . Hanya itu pembicaraan kami di pagi yang sepi di toko buku. Aku pamit sesaat setelah ia tersenyum. Kuambil saja buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” yang dari tadi kubuka-buka dan kuserahkan ke kasir. Bang Izar masih menyusuri rak-rak buku itu. Aku menelan ludah sambil meninggalkannya. Kalau saja aku bisa berbicara padanya lebih lama… Kalau saja tenggorokanku tidak kering seketika.. Kalau saja tanganku tidak gemetar. Tapi entahlah perasaan apa ini namanya. Aku sudah lama sekali tak merasakannya sejak urusan patah hati menoreh luka di dasar hati. Aku seperti menyentuh langit. Melayang.

***

Nina tertawa mendengar ceritaku pagi ini, sepulang dari toko buku. Aku cepat mengetuk pintu kamarnya. Masih pukul 09.00, ia masih mengantuk. Aku yakin dia baru tidur pukul 07.00 mengingat kebiasaannya begadang semalaman. Ah, tapi demi mendengar ceritaku pagi ini, matanya terbuka lebar. Ia asyik menertawakanku. Aku cemberut.

It is a crazy little thing called love, Baby.” Katanya santai sambil menarik ciput jilbabku, membuat dahiku tertutup kain jilbab.

“Iya, terakhir aku melayang-layang di langit kayak gini ituuuu, lima tahun lalu, pas masih SMA. Kamu tahu persis ceritanya. Ah, kamu tahu aku hampir tak percaya pada hal kecil gila yang kamu sebut love. Bagaimana pun aku menjaga dan menghargai cinta, toh akhirnya cinta hanya berujung sakit kan? Sakit sekali, Nin. Melayang di langit, menunggu dijemput di singgasana bulan, lalu dijatuhkan begitu saja ketika senja menjelang.” Aku berbicara panjang sambil berfilosofi tidak jelas—kebiasaanku.

“Siapa yang bilang kalau cinta itu harus melayang-layang di langit? Itu salahmu sendiri, Aisa.” Continue reading “Langit (cerpen)”

Cerita Fiksi, perempuan

PHPMyStory

berharap

“Kamu serius memutuskan untuk datang, Zi?”

Perempuan berjilbab biru muda di depanku ini tersenyum tanpa beban. Seakan memang begitulah seharusnya ia bersikap. Ia mengaduk hot chocolate yang baru saja kuseduh. Menyeruputnya pelan-pelan.

“Kalau nggak dateng ngapain bawa baju bagus gini dan sampai bela-belain ke Bandung, Sa. Maaf ya numpang di rumahmu. Hehe.” Ia meletakkan cangkir putih yang isinya kini tinggal tiga per empat dari sebelumnya.

“Kamu serius?” aku masih tidak percaya.

“Sekilo bukan lagi serius.” jawabnya santai.

“Oke. Oke.” Aku masih bingung, “kamu mandi aja dulu deh. Aku khawatir perjalanan kereta Jogja-Bandung seharian tadi bikin kamu nggak waras. Ada air hangat di termos, pakai aja.”

Dia malah memelukku bahagia lalu beranjak mengambil handuk menuju kamar mandi. Aku masih tidak mengerti dengan sikapnya itu. Bukankah baru dua bulan lalu dia sama memelukku seperti tadi? Berbahagia atas sesuatu. Tapi bukankah harusnya hari ini berbeda. Bukankah harusnya hari ini dia kecewa? Tapi nyatanya dia sama bahagianya. Aku masih tak mengerti.

Sambil terus berada dalam rasa tak mengerti, aku menyiapkan makan malam sementara Xizi masih menyelesaikan mandinya. Ini bukan kali pertama ia menginap di rumahku. Setiap kali bertandang ke Bandung, Xizi selalu menginap di rumahku. Mengenang masa-masa kuliah katanya. Kami dulu memang bersahabat dekat. Aku asli Bandung dan Xizi asli Jogja. Kita baru saja menjadi sarjana delapan bulan lalu. Xizi memutuskan untuk kembali ke Jogja setelah ia diterima menjadi editor di salah satu perusahaan penerbitan di sana. Sementara aku meneruskan bisnisku berjualan baju-baju muslimah di Bandung.

“Masak apa kali ini, Sa? Kamu kayanya udah siap banget jadi istri ya. Ihii. Ups lupa, dua bulan lagi udah jadi istri orang ya?” ledek Xizi tiba-tiba sekeluar dari kamar mandi. Ia buru-buru mengenakan jilbab kaosnya yang juga berwarna biru.

“Makanan kesukaan kamu.” Aku tak menghiraukan ledekannya.

“Seblak?” dia terkejut senang.

“Seblak telur makaroni pedas banget.”

Dia memelukku lagi, “iyaaa cita-citaku buat buka cabang seblak di Jogja belum kesampaian nih. Hehe.”

“Iyaaa. Tapi jangan pedas dulu ya kali ini. Kasihan perut kamu baru balik dari perjalanan jauh. Ntar sakit nggak jadi dateng lagi besok.”

“Woo. Harus jadilah.”

“Yang ngundang kamu dia sendiri kan?” kataku sambil meletakkan semangkuk seblak telur makaroni di meja makan. Xizi menyambutnya antusias.

“Hari gini gitu, Sa. Di grup FB aja dia nyebar undangan kan?”

“Kamu bela-belain dateng dari Jogja padahal diundang secara personal aja nggak?” Continue reading “PHPMyStory”

Cerita Fiksi

Langit Jakarta (Memaafkan Kenangan)

sahabat dan cinta

“Dia sama sekali nggak nyapa, Jek.” kataku setelah dari tadi kamu tak berhenti membuat lelucon supaya aku tertawa. Terakhir kamu menertawai tubuhku yang menurutmu bertambah gendut. Padahal jelas-jelas berat badanku turun 4 kilogram.

Kamu diam sejenak, menyeruput teh hangat yang tadi kuhidangkan. Langit Jakarta tampak masih terang walaupun jam digital di handphone-ku menampakkan angka 00.24.

“Aku ke sini untuk melihatmu tertawa, bukan menangis. Aku tak mau membahasnya.” katamu kemudian.

“Dia sama sekali nggak nyapa. Padahal jelas-jelas dia melewatiku, Jek.” aku ngotot melanjutkan kalimatku. Mataku menahan air yang siap tumpah kapan saja. Entah pada siapa lagi perasaan antah berantah ini kukeluarkan agar tak menyesaki dadaku. Jadi kumohon, dengarkan.

“Sudahlah, dia mungkin memang tak melihatmu. Kamu tak mengabarinya kan?”

Aku mengangguk. Kamu masih saja membelanya. Barangkali kamu benar. Kemudian aku tertawa, mengikuti alurmu, mengikuti anekdot-anekdot yang kamu tawarkan untuk tujuanmu ke sini: melihatku tertawa. Kamu bercerita tentang serunya menikahi jalanan Jakarta dini hari. Tak peduli kamu tak tahu arah alamat yang kutunjukkan sebagai penanda keberadaanku di kota penuh kamuflase ini. Kamu bercerita tentang Pizza Hut yang tak jadi kauhadiahkan—sudah tutup. Kamu bercerita tentang kehebohan dunia barumu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kamu bercerita dan mendengarku bercerita—asal bukan cerita soal kesedihanku hari ini.

“Bukannya kamu tadi bilang masih mengerjakan tugas dan besok kuliah pagi?”

“Hahaha. Tugas besok bisa datang lagi, tapi kehadiran sahabat baikku di kota ini tidak setiap hari bukan?”

Aku tertawa. Kamu konyol seperti biasanya. Demi melihatku tertawa. Demi melihat aku (yang mengaku sahabat baikmu) ini ada di kota ini.

Langit Jakarta masih terang walaupun jam digital di handphone-ku telah menampakkan angka 00.47.

“Dia jalan melewatiku. Tanpa menyapaku. Daaan,” aku tahu kamu akan protes lagi karena aku membahasnya lagi. Tapi demi resahku, kamu biarkan aku melanjutkan kalimatku, “daaan.. bersama perempuan itu.”

“Perempuan lain?” kamu kaget. Aku tak pernah bercerita sebelum ini. Bukankah saat menemaniku menangis di ruang maya, kamu pun tak pernah mendengarku bercerita apapun tentang dia? Dan kamu selalu memahami, mendengarku menangis tanpa pernah bertanya banyak hal. Sekali waktu entah di tangisku yang ke berapa kamu berujar, “laki-laki itu beruntung  hingga bisa membuat seorang perempuan seteguh dirimu menangis begitu hebat.” Continue reading “Langit Jakarta (Memaafkan Kenangan)”

Cerita Fiksi

Perasaan Kugy

kugy

“Kak, kakak pernah mikirin perasaan Kugy nggak pas dia dilamar sama Remi?”

Kak Arin menghentikan gambarnya. Ia meletakkan pensilnya sambil menghela nafas panjang. Seper sekian detik kemudian, ia menoleh ke arahku yang tengah duduk di pinggir gazebo. Ya, di gazebo berukuran 3×3 meter persegi yang terletak di sudut utara rumah kami ini, hampir setiap hari Kak Arin menggambar. Katanya tugasnya banyak. Tapi entahlah, aku tak percaya sebanyak itu hingga ia harus menggambar setiap pulang kuliah.

“Al? Kamu masih waras kan? Mending kamu mikirin deh gimana caranya kakakmu ini bisa beli seperangkat drawing tablet-nya apple.”

“Salah deh ngomong gini sama Princess of DKV.”

“Haha. Ya kamu sih. Mikirin apa yang nggak nyata. Kebanyakan baca novel kan?”

“Eh kenapa? Membaca novel, genre apapun, termasuk cinta itu melatih kepekaan rasa kita lho. Bukan sekadar romantis menye-menye.”

“Kata siapa?”

“Kata blogger favorit ku yang juga aku rasain.”

Kak Arin menggulung kertas gambarnya lalu duduk mendekatiku. Aku suka momen menunggu senja seperti ini sambil mengganggunya mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Aku tahu persis ketika ia berdiri sambil menggulung kertasnya adalah saat ia—untuk  kesekian kali—mengalah: menunda tugasnya dan mendengar ocehan tidak jelas dariku. Benar, mahasiswi Desain Komunikasi Visual tingkat akhir ini pun mendekat padaku. Aku buru-buru melafalkan kalimat wajibnya sebelum ia mengucapkannya terlebih dahulu.

“13 menit buat Alea. Besok beliin Kakak kertas gambar di Gramed sebagai bayaran atas waktu Kakak sore ini.” aku menyerobot sebelum kalimat itu dikatakannya. Sial, kami malah mengatakannya hampir bersamaan. Dia tertawa.

“Aku nggak tahu diri ya gangguin Kakak pas ngerjain tugas. Haha. Abis nggak ada tugas juga gambar mulu kerjaan Kakak.”

Dia mencubit pipiku, “Menggambar juga melatih kepekaan rasa lho, Azalea Alvaro, adik kesayanganku, putri turun dari dunia novel. Eh kenapa tadi si Kugy?”

Dia selalu seperti itu. Lemah lembut walaupun seringkali galak dan terlihat cuek. Ah, iya, juga selalu berkorban. Maka demi waktu yang dia relakan untuk mendengar ocehan-ocehanku, aku memberanikan diri menanyai hal ini padanya. Tidak, sore ini 13 menit mungkin tak cukup.

“Iya, Kugy Kak. Apa sih yang kurang dari Remi? Dia hebat, ganteng, pekerja keras, sayang banget lagi sama Kugy. Tapi Kugy malah sedih pas dia dilamar sama Remi. Aku juga nggak tahu sih sebenarnya perasaan Kugy gimana. Yang jelas nggak karuan bingungnya. Menurut Kakak gimana?” Continue reading “Perasaan Kugy”

Cerita Fiksi

Cermin

“Aku kesusahan menulis.”
“Ha? Kenapa? Kau kehilangan inspirasi?”
Kamu menggeleng. Aku tahu persis kepergianku tak berpengaruh banyak bagimu. Sudah pernah kubilang, kamu itu biru bahkan ketika tanpaku. Tapi kenapa kamu tetiba kesulitan menulis? Hei, bukankah menulis itu duniamu?
“Kamu kenapa? Maafkan aku karena memilih pergi.”
Kamu diam saja.
“Kamu sungguh tidak kehilangan inspirasi kan?”
“Kamu berlebihan..” akhirnya kamu bicara.
“Maksudnya?”
“Aku sudah bilang dengan tulus dan jujur. Ini semua bukan karena kepergianmu. Aku sudah bilang kan? Aku bahagia dengan itu. Juga bukan soal inspirasi yang hilang. Dunia ini milik Tuhan. Inspirasi itu milik-Nya bukan milikmu, jadi tak ada hubungannya sekali pun kamu memilih pergi. Begini jauh lebih baik.”
“Baiklah. Lalu kenapa kamu sulit menulis?”
Kamu tertawa lagi, “aku berhenti menulis karena terlalu banyak melamun.”
Kali ini aku memilih diam, menunggu kalimat selanjutnya darimu.
Continue reading “Cermin”

Cerita Fiksi

Ruang Nostalgia (Part of Presipitasi)

rain nostalgy

“Jadi kamu tidak mengundangnya?” suara Mama yang terdengar di speaker handphone-ku membuatku terdiam beberapa detik.

“Ma, tadi launching bukunya lancar lho. Alhamdulillah banyak yang antusias dan beli bukuku.” Biasa. Tips paling ampuh untuk hal-hal yang tidak mampu kita jawab adalah mengalihkan pembicaraan pada topik lain.

“Bukan itu, Farikha. Mama tahu soal launching bukumu. Tadi adikmu sudah nunjukin foto-foto yang masuk di twittermu. Mama tanya tentang Razif. Tadi dia tidak datang? Di acara wisudamu dua hari lagi juga dia tidak datang?” Ah, rupanya jurus itu tak mempan untuk Mama.

“Belum bisa, Ma. Mungkin dia sibuk. Mama tahu kan siapa Razif di kampusnya?”

“Iya, tapi launching bukumu kan di kampusnya, harusnya dia bisa datang barang sebentar. Kamu tidak menghubunginya lagi ya?”

“Ma, ini temen-temen dari Bandung udah jemput, nanti pas udah sampai Farikha kabarin yah. Jangan lupa pakai gamis paling cantik buat wisudaanku dua hari lagi, ya. Sampai ketemu di Bandung.”

Klik. Mama menutup telepon begitu saja. Aku tahu Mama marah. Sejak Mama tahu tentang cerita kita setahun lalu, pembicaraan tentangmu mengiang dalam setiap obrolan telepon. Mama berharap banyak di saat aku dan kamu seperti ini: sekadar bersapa atau berkomunikasi pun tidak. Aku tidak mungkin tak memberitahumu soal peluncuran buku ini. Bukankah kamu orang yang empat tahun lalu mengingatkanku tentang mimpiku ini? Yang dengan semangat rajin bertanya, “Hai, sudah sampai bab berapa novelnya?” Entahlah. Nomormu tiba-tiba tidak aktif, last seen di whatsappmu seminggu yang lalu, dan apalagi twitter dan facebook, entah kapan kamu terakhir log in. Memberitahumu secara langsung? Bagaimana caranya? Sementara otak kita mungkin sudah lupa kapan dan bagaimana kita terakhir bertemu. Ya, kamu tiba-tiba saja menghilang dan aku tak berani sekadar bertanya pada teman-temanmu. Memang salahku. Gengsi. Ah, biarlah.

“Farikhaaaa!” seseorang yang amat kukenal suaranya, sahabat baikku selama hampir empat tahun susah senang di Bandung, menghentikan kecamuk pikiranku. Dia menghambur memelukku.

“L parah banget nggak datang tadi. Huaaa.” Aku merajuk sambil melepaskan pelukannya.

“Nggak apa, yang penting lancar kan tadi? Sorry, tadi gue harus mengurus banyak hal di Bandung. Yang penting bisa jemput kan? Gue bawa kabar baik, Say. Kabar 85%!”

“Ha? Kabar 85% teh naon?”

“Haha. Yuk masuk ke mobil dulu.” Continue reading “Ruang Nostalgia (Part of Presipitasi)”