Cerita Fiksi

Langit Jakarta (Memaafkan Kenangan)

sahabat dan cinta

“Dia sama sekali nggak nyapa, Jek.” kataku setelah dari tadi kamu tak berhenti membuat lelucon supaya aku tertawa. Terakhir kamu menertawai tubuhku yang menurutmu bertambah gendut. Padahal jelas-jelas berat badanku turun 4 kilogram.

Kamu diam sejenak, menyeruput teh hangat yang tadi kuhidangkan. Langit Jakarta tampak masih terang walaupun jam digital di handphone-ku menampakkan angka 00.24.

“Aku ke sini untuk melihatmu tertawa, bukan menangis. Aku tak mau membahasnya.” katamu kemudian.

“Dia sama sekali nggak nyapa. Padahal jelas-jelas dia melewatiku, Jek.” aku ngotot melanjutkan kalimatku. Mataku menahan air yang siap tumpah kapan saja. Entah pada siapa lagi perasaan antah berantah ini kukeluarkan agar tak menyesaki dadaku. Jadi kumohon, dengarkan.

“Sudahlah, dia mungkin memang tak melihatmu. Kamu tak mengabarinya kan?”

Aku mengangguk. Kamu masih saja membelanya. Barangkali kamu benar. Kemudian aku tertawa, mengikuti alurmu, mengikuti anekdot-anekdot yang kamu tawarkan untuk tujuanmu ke sini: melihatku tertawa. Kamu bercerita tentang serunya menikahi jalanan Jakarta dini hari. Tak peduli kamu tak tahu arah alamat yang kutunjukkan sebagai penanda keberadaanku di kota penuh kamuflase ini. Kamu bercerita tentang Pizza Hut yang tak jadi kauhadiahkan—sudah tutup. Kamu bercerita tentang kehebohan dunia barumu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kamu bercerita dan mendengarku bercerita—asal bukan cerita soal kesedihanku hari ini.

“Bukannya kamu tadi bilang masih mengerjakan tugas dan besok kuliah pagi?”

“Hahaha. Tugas besok bisa datang lagi, tapi kehadiran sahabat baikku di kota ini tidak setiap hari bukan?”

Aku tertawa. Kamu konyol seperti biasanya. Demi melihatku tertawa. Demi melihat aku (yang mengaku sahabat baikmu) ini ada di kota ini.

Langit Jakarta masih terang walaupun jam digital di handphone-ku telah menampakkan angka 00.47.

“Dia jalan melewatiku. Tanpa menyapaku. Daaan,” aku tahu kamu akan protes lagi karena aku membahasnya lagi. Tapi demi resahku, kamu biarkan aku melanjutkan kalimatku, “daaan.. bersama perempuan itu.”

“Perempuan lain?” kamu kaget. Aku tak pernah bercerita sebelum ini. Bukankah saat menemaniku menangis di ruang maya, kamu pun tak pernah mendengarku bercerita apapun tentang dia? Dan kamu selalu memahami, mendengarku menangis tanpa pernah bertanya banyak hal. Sekali waktu entah di tangisku yang ke berapa kamu berujar, “laki-laki itu beruntung  hingga bisa membuat seorang perempuan seteguh dirimu menangis begitu hebat.” Continue reading “Langit Jakarta (Memaafkan Kenangan)”

Cerita Fiksi

Perasaan Kugy

kugy

“Kak, kakak pernah mikirin perasaan Kugy nggak pas dia dilamar sama Remi?”

Kak Arin menghentikan gambarnya. Ia meletakkan pensilnya sambil menghela nafas panjang. Seper sekian detik kemudian, ia menoleh ke arahku yang tengah duduk di pinggir gazebo. Ya, di gazebo berukuran 3×3 meter persegi yang terletak di sudut utara rumah kami ini, hampir setiap hari Kak Arin menggambar. Katanya tugasnya banyak. Tapi entahlah, aku tak percaya sebanyak itu hingga ia harus menggambar setiap pulang kuliah.

“Al? Kamu masih waras kan? Mending kamu mikirin deh gimana caranya kakakmu ini bisa beli seperangkat drawing tablet-nya apple.”

“Salah deh ngomong gini sama Princess of DKV.”

“Haha. Ya kamu sih. Mikirin apa yang nggak nyata. Kebanyakan baca novel kan?”

“Eh kenapa? Membaca novel, genre apapun, termasuk cinta itu melatih kepekaan rasa kita lho. Bukan sekadar romantis menye-menye.”

“Kata siapa?”

“Kata blogger favorit ku yang juga aku rasain.”

Kak Arin menggulung kertas gambarnya lalu duduk mendekatiku. Aku suka momen menunggu senja seperti ini sambil mengganggunya mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Aku tahu persis ketika ia berdiri sambil menggulung kertasnya adalah saat ia—untuk  kesekian kali—mengalah: menunda tugasnya dan mendengar ocehan tidak jelas dariku. Benar, mahasiswi Desain Komunikasi Visual tingkat akhir ini pun mendekat padaku. Aku buru-buru melafalkan kalimat wajibnya sebelum ia mengucapkannya terlebih dahulu.

“13 menit buat Alea. Besok beliin Kakak kertas gambar di Gramed sebagai bayaran atas waktu Kakak sore ini.” aku menyerobot sebelum kalimat itu dikatakannya. Sial, kami malah mengatakannya hampir bersamaan. Dia tertawa.

“Aku nggak tahu diri ya gangguin Kakak pas ngerjain tugas. Haha. Abis nggak ada tugas juga gambar mulu kerjaan Kakak.”

Dia mencubit pipiku, “Menggambar juga melatih kepekaan rasa lho, Azalea Alvaro, adik kesayanganku, putri turun dari dunia novel. Eh kenapa tadi si Kugy?”

Dia selalu seperti itu. Lemah lembut walaupun seringkali galak dan terlihat cuek. Ah, iya, juga selalu berkorban. Maka demi waktu yang dia relakan untuk mendengar ocehan-ocehanku, aku memberanikan diri menanyai hal ini padanya. Tidak, sore ini 13 menit mungkin tak cukup.

“Iya, Kugy Kak. Apa sih yang kurang dari Remi? Dia hebat, ganteng, pekerja keras, sayang banget lagi sama Kugy. Tapi Kugy malah sedih pas dia dilamar sama Remi. Aku juga nggak tahu sih sebenarnya perasaan Kugy gimana. Yang jelas nggak karuan bingungnya. Menurut Kakak gimana?” Continue reading “Perasaan Kugy”

Cerita Fiksi

Cermin

“Aku kesusahan menulis.”
“Ha? Kenapa? Kau kehilangan inspirasi?”
Kamu menggeleng. Aku tahu persis kepergianku tak berpengaruh banyak bagimu. Sudah pernah kubilang, kamu itu biru bahkan ketika tanpaku. Tapi kenapa kamu tetiba kesulitan menulis? Hei, bukankah menulis itu duniamu?
“Kamu kenapa? Maafkan aku karena memilih pergi.”
Kamu diam saja.
“Kamu sungguh tidak kehilangan inspirasi kan?”
“Kamu berlebihan..” akhirnya kamu bicara.
“Maksudnya?”
“Aku sudah bilang dengan tulus dan jujur. Ini semua bukan karena kepergianmu. Aku sudah bilang kan? Aku bahagia dengan itu. Juga bukan soal inspirasi yang hilang. Dunia ini milik Tuhan. Inspirasi itu milik-Nya bukan milikmu, jadi tak ada hubungannya sekali pun kamu memilih pergi. Begini jauh lebih baik.”
“Baiklah. Lalu kenapa kamu sulit menulis?”
Kamu tertawa lagi, “aku berhenti menulis karena terlalu banyak melamun.”
Kali ini aku memilih diam, menunggu kalimat selanjutnya darimu.
Continue reading “Cermin”

Cerita Fiksi

Ruang Nostalgia (Part of Presipitasi)

rain nostalgy

“Jadi kamu tidak mengundangnya?” suara Mama yang terdengar di speaker handphone-ku membuatku terdiam beberapa detik.

“Ma, tadi launching bukunya lancar lho. Alhamdulillah banyak yang antusias dan beli bukuku.” Biasa. Tips paling ampuh untuk hal-hal yang tidak mampu kita jawab adalah mengalihkan pembicaraan pada topik lain.

“Bukan itu, Farikha. Mama tahu soal launching bukumu. Tadi adikmu sudah nunjukin foto-foto yang masuk di twittermu. Mama tanya tentang Razif. Tadi dia tidak datang? Di acara wisudamu dua hari lagi juga dia tidak datang?” Ah, rupanya jurus itu tak mempan untuk Mama.

“Belum bisa, Ma. Mungkin dia sibuk. Mama tahu kan siapa Razif di kampusnya?”

“Iya, tapi launching bukumu kan di kampusnya, harusnya dia bisa datang barang sebentar. Kamu tidak menghubunginya lagi ya?”

“Ma, ini temen-temen dari Bandung udah jemput, nanti pas udah sampai Farikha kabarin yah. Jangan lupa pakai gamis paling cantik buat wisudaanku dua hari lagi, ya. Sampai ketemu di Bandung.”

Klik. Mama menutup telepon begitu saja. Aku tahu Mama marah. Sejak Mama tahu tentang cerita kita setahun lalu, pembicaraan tentangmu mengiang dalam setiap obrolan telepon. Mama berharap banyak di saat aku dan kamu seperti ini: sekadar bersapa atau berkomunikasi pun tidak. Aku tidak mungkin tak memberitahumu soal peluncuran buku ini. Bukankah kamu orang yang empat tahun lalu mengingatkanku tentang mimpiku ini? Yang dengan semangat rajin bertanya, “Hai, sudah sampai bab berapa novelnya?” Entahlah. Nomormu tiba-tiba tidak aktif, last seen di whatsappmu seminggu yang lalu, dan apalagi twitter dan facebook, entah kapan kamu terakhir log in. Memberitahumu secara langsung? Bagaimana caranya? Sementara otak kita mungkin sudah lupa kapan dan bagaimana kita terakhir bertemu. Ya, kamu tiba-tiba saja menghilang dan aku tak berani sekadar bertanya pada teman-temanmu. Memang salahku. Gengsi. Ah, biarlah.

“Farikhaaaa!” seseorang yang amat kukenal suaranya, sahabat baikku selama hampir empat tahun susah senang di Bandung, menghentikan kecamuk pikiranku. Dia menghambur memelukku.

“L parah banget nggak datang tadi. Huaaa.” Aku merajuk sambil melepaskan pelukannya.

“Nggak apa, yang penting lancar kan tadi? Sorry, tadi gue harus mengurus banyak hal di Bandung. Yang penting bisa jemput kan? Gue bawa kabar baik, Say. Kabar 85%!”

“Ha? Kabar 85% teh naon?”

“Haha. Yuk masuk ke mobil dulu.” Continue reading “Ruang Nostalgia (Part of Presipitasi)”

Cerita Fiksi

Sekotak Jendela Impian

Bismillah, saya post lagi, semoga bermanfaat. Ini cerpen yang membawa banyak cerita buat saya, mengantarkan saya untuk jadi Mapres Bidang Kepenulisan tahun lalu. Selamat membaca.

***

langit pagi

Pagi. Bingkai jendela kamarku masih memotret lukisan itu lagi. Aku menyebutnya lukisan langit. Kamar ini pun kusebut sebagai Tetangga Langit. Biarlah, aku memang selalu jatuh cinta pada keindahan langit, apalagi yang terbingkai dalam jendela kamarku ini, yang tiap pagi menyapaku dengan kuning cahayanya atau terkadang bau genteng sisa hujan jika semalam rintik hujan menyapa bumi. Lihatlah, bingkai lukisan itu terlalu indah untuk kulewatkan setiap paginya. Kau boleh menyebutnya biasa saja, tapi bagiku selalu istimewa. Karena di sana, aku pernah berjanji pada langit. Pagi ini, langit menagihnya lagi. Sama seperti pagi-pagi sebelumnya.

Kepala masjid, dipadu dengan ‘pengantin’ hijau daun-daun kelapa yang menjuntai, dengan latar biru disertai gradasi langit dan mega-meganya.

  “Apa yang masih kaulihat dari sekotak jendela itu?” perempuan dua puluh tiga tahun masuk ke kamarku. Ia meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kecil yang kayunya hampir lapuk.

 Aku diam saja, setelah tadi sempat meliriknya.

 “Kau masih menganggap langit menagih janjimu?”

 Lagi-lagi, aku hanya diam. Perempuan ini selalu bertanya itu tiap pagi. Dan aku juga selalu menjawabnya dengan diam. Ia tak pernah menyerah. Sampai secangkir teh hangat itu dingin pun, ia tetap berdiri di belakangku, dan akan beranjak jika aku bersedia duduk dan meminum secangkir teh hangatnya (yang entah masih hangat atau tidak). Pagi ini, entah mengapa, aku tidak ingin melakukan itu. Aku ingin bicara. Ya, b-i-c-a-r-a. Bukankah itu yang dinantikan oleh perempuan ini selama delapan bulan aku hanya diam? Continue reading “Sekotak Jendela Impian”

Cerita Fiksi

Nymphaea Alba

nymphaea_albaKamu kehilangan kata. Cerita hanya mampu membeku. Sementara 149.599.000 kilometer dari titikmu berpijak, cahaya itu menyilaukan mata. Harusnya panasnya mencairkan cerita. Tapi tidak. Kamu menatapnya sambil mengatupkan tangan kananmu ke sebagian wajahmu. Mata kirimu mulai memicing. Nafasmu setengah terhambat. Ada yang kamu tahan. Ada yang kamu simpan. Jelas kamu tidak rela ada fluida lagi mengalir dari mata beningnya. Itulah mengapa kamu berlari menjauhinya. Menerima telak semua keputusannya. Lalu berhenti di sini. Di pinggir danau dengan Nymphaea alba  yang bunganya menunggu mekar. Kamu tahu persis itu impian kamu dan dia.

“Kamu sayang sama aku atau impian kamu?” pertanyaan itu mengiang begitu saja.

“Hei, itu pertanyaan konyol!” jawabmu.

Dia tersenyum. “Pernahkah kamu bertanya mengapa kita bertahan dengan semua kondisi ini? Dengan cerita luka yang magis, dengan kepercayaanku yang menipis, tapi dengan rindu yang masih saja berlapis?”

“Karena kita masih punya tujuan yang sama,” tegas kamu menjawabnya.

“Apa? Jangan-jangan kita hanya terlalu sayang jika impian kita tidak tercapai, maka kita memilih untuk bertahan, senano-nano apapun rasanya perjalanan ini.”

“Aku mau membangun danau dengan beragam Nymphaea yang indah. Dan kamu akan menjadi yang paling anggun di sana. Menjadi Nymphaea alba.”

Dia tertawa kecil, lalu berdiri, membelakangimu. “Itu impian kamu.”

“Lalu impian kamu?” kamu mulai gemetar. Jantungmu menunggu sebuah jawaban agar ia tidak berdegup lebih kencang dari ini. Continue reading “Nymphaea Alba”

Cerita Fiksi

Presipitasi #7

images from; http://aldiku.com/wp-content/uploads/2012/09/hati-ragu-960x420.jpg
images from; http://aldiku.com/wp-content/uploads/2012/09/hati-ragu-960×420.jpg

Suara tegap sang pemimpin upacara mungkin terdengar sengau bagimu. Kamu hanya menunduk di balik topi abu-abu yang kamu kenakan. Aku melirikmu sebentar. Sebentar kemudian melirik ke barisan kelas sebelah, perempuan itu sama menunduknya sepertimu. Siapa yang peduli dengan dua manusia yang menunduk di antara barisan itu, upacara tetap berlangsung begitu khidmat.

Senin yang sendu. Begitu aku mengingat hari Senin itu, entah sudah berapa ratus hari yang lalu Senin itu kini sudah berlalu. Selepas pemimpin upacara membubarkan pasukannya, aku melihatmu memasuki kelas dengan wajah yang tak biasanya.

Hanya ada hening yang tersisa dalam 50 cm jarak tempat dudukku dan tempat dudukmu. Teman-teman masih di depan kelas, membicarakan segala yang berlalu selama weekend, membicarakan tugas-tugas akhir semester genap yang mulai menumpuk. Kamu menunduk, sesekali membaca sesuatu di ponselmu. Aku hanya diam membaca halaman-halaman terakhir novel karya penulis favoritku. Membiarkan novel itu menutupi sebagian wajahku.

Sebuah tangan mengangkat novel itu, membuat wajahku yang tertutupi jadi terlihat. Kamu. Diam. Hanya menyetorkan ekspresi murung. Aku mengerti. Continue reading “Presipitasi #7”

Cerita Fiksi

Kaktus dan Pangeran Kodok

image

Alkisah, ada sebuah tumbuhan yang tumbuh remaja bernama Kaktus. Ia tumbuh jadi kaktus sederhana, namun memikat banyak mata. Banyak yang ingin menjadikannya bebungaan indah di taman hijau, menjadi warna yang meneduhkan mata siapapun yang memandangnya. Banyak yang memberinya air kehidupan bahkan pupuk termahal untuk menjadikannya tumbuh subur di taman hatinya. Menghilangkan duri-durinya yang menyakitkan. Sayang, Kaktus tidak pernah mau. Ia memilih tetap menjadi Kaktus yang tumbuh gersang di padang pasir. Ia tidak tahu mengapa. Sama tidak tahunya sebagaimana seekor Kodok Petualang yang menanyainya mengapa ia tidak memilih menerima air kehidupan atau pupuk-pupuk mahal yang ditawarkan kepadanya.
“Aku lebih bahagia menjadi Kaktus. Aku mau nunggu pangeran yang bisa membuatku survive hidup di manapun dan tentu saja ia tidak menghilangkan duri-duriku.”
Si Kodok tertawa, “Pangeran Kodok?”

Continue reading “Kaktus dan Pangeran Kodok”

Cerita Fiksi

Episode yang Terlewat

sumber gambar: http://indonesian.iloveallaah.com/wp-content/uploads/2012/02/hujan4.jpg

“Mamaaaaaa…” laki-laki kecil berusia 3 tahunan itu berlari kecil mengarah kepadaku. Aku membenarkan jilbab, lalu menyandarkan lutut di tanah, menunggu pelukannya. Ya, seperti kuduga, dia memelukku erat sekali.

“Lizhal tadi ketemu sama Om-om, dibikinin pesawat ini, Ma.” katanya kemudian setelah melepaskan pelukanku. Aku mengerutkan dahi. Menunggu kejutan apalagi yang dibawa oleh pangeran kecilku. Sebelas hari ini, sepulang sekolah, dia selalu bercerita tentang ibu gurunya, hampir cerita yang sama. Tapi, di beranda sekolah bermain ini, aku  selalu menunggu cerita-ceritanya dengan perasaan bahagia, tak peduli cerita yang sama itu terus berulang. Sama bahagianya seperti sebelas hari lalu ketika dia mengenakan seragam sekolah pertamanya.

“Mama, Ibu gulu nyuluh Lizhal nyanyi lagi, tapi Lizhal nggak mau, Lizhal kan sukanya nggambar.” Begitu biasanya ia bercerita. Tapi entah kenapa ceritanya hari ini berbeda. Tentang “om-om” katanya. Entah siapa yang dimaksud.

“Pesawat apaan , Rizhar sayang?”

“Jet mini, Ma.”

Tanganku tiba-tiba berhenti mengelus rambutnya.

“Ini, Ma.” Si kecil Rizhar mengeluarkan pesawat kertas dari sakunya.

Aku mengaburkan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Kuusap lagi rambutnya, kali ini lebih keras.

“Ah, Mama juga bis..”

Aku belum selesai berbicara ketika tiba-tiba Rizhar berteriak dan menunjuk seseorang yang berada di luar pagar sekolah. “Mamaaa, itu Omnyaaaaaaaaaa..” Tangan kecilnya kemudian menyeretku ke depan, membuatku tidak bisa menolak lagi. Rizhar benar-benar menggambar ceritanya hari ini. Sungguh, ini benar-benar kejutan.

Continue reading “Episode yang Terlewat”

Cerita dan Celoteh, Cerita Fiksi

(masih)

Burung kecil di pintu rumahku baru saja memberi tahu bahwa kamu datang. Dua kali kamu mengetuk pintu. Pukul 13.09. Tak ada jawaban. Satu menit kemudian, kamu mencoba mengetuknya lagi. Masih tak ada jawaban. Tentu saja tak ada, pintu rumah yang kamu ketuk itu ditinggal penghuninya.
Sekarang pukul 13.24. Burung kecil di depan rumah berkicau ketika aku sampai, mengatakan bahwa kamu datang. Aku hanya bisa terpatung dalam senyap. Kakiku mendadak kaku. Sudah lama sekali burung kecil itu tidak pernah memberi kabar tentang kamu. Siang ini, tanpa kuduga, dia mengatakan kamu datang. Bukan suratmu. Tapi kamu.
Ada apa? Aku hanya bertanya pelan dalam ruang sunyi kalbuku. Ingin bertanya pada burung yang memberitahuku, tapi urung. Kuhelakan nafas, ber-hmmmm panjang, mengikhlaskan waktu yang belum mempertemukan kita. Tak apa, aku selalu percaya, ada skenario yang lebih indah dari sekadar pertemuan. Mungkin, memang belum waktunya kita bicara.
Tok tok tok. Ada suara yang mengetuk pintuku lagi, kupikir itu kamu. Bukan.

090812
13.–

~bahwa tidak semua yang kita harapkan terjadi sesuai keinginan kita. Kadang ada yang meleset, tetapi skenario yang ada pasti lebih indah dari sekadar keinginan kita.