Cerita Fiksi

Ilalang

ilalang

“Oh ya? Kita satu SMA dong?” kataku antusias sekaligus terkejut.

Perempuan di depanku juga tak kalah antusias, “Iya, pas aku lulus, kamu kayaknya baru masuk jadi siswa baru. Hehehe.”

“Iya, Kakak. Nggak nyangka deh ketemu pejuang satu almameter di sini.”

“Nggak usah panggil Kakak, panggil aja Nimar. Biar nggak berasa tua. Oke?” dia tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya, membentuk simbol ‘oke’ dengan membulatkan jempol dan telunjuknya.

Aku tersenyum dan mengikuti gerakan tangannya. Sepertinya, seseorang yang baru kukenal beberapa menit yang lalu ini akan menjadi teman yang menyenangkan. Setidaknya, di antara ratusan wajah yang baru kulihat hari ini, aku yakin Nimar akan menjadi salah satu teman dekat. Ya, aku baru saja mengikuti gathering komunitas womanpreneur yang diadakan di Bandung. Sengaja sekali datang dari Jakarta dengan niat ingin memperdalam ilmu dan memperluas jaringan.

“Mifa, berarti kamu baru lulus tahun lalu dong?”

“Iya, Kak, eh Nimar, hehe. Masih belajar banget soal bisnis. Duh lebih nyaman panggil Kakak.”

“Haha, ya udah terserah kamu deh, Mifa.”

“Oh ya, Kak, alumni SMA kita ada yang populer banget loh di kampusku. Aku sih nggak kenal langsung, cuma tahu aja. Hmmm, mungkin dia seangkatan sama Kakak. Sekarang dia kuliah di Inggris. Namanya Satria. Kakak kenal?”

“Satria?” tanyanya sambil mengerutkan kening. Entah kenapa aku menangkap perubahan ekspresi dari wajahnya yang ceria.

“Iya, Satria Nusantara. Anaknya aktif banget, peraih IPK tertinggi pas wisuda angkatan dia.”

“Oh.. Kenal dong. Dia dulu temen sekelas malah.” Senyumnya kembali terkembang. Entah kenapa, tetap saja aku merasa ada yang aneh. Tapi rasa aneh itu tertutupi begitu saja oleh rasa penasaran yang tetiba menggelayutiku.

“Waah, berarti Kakak kenal juga dong sama calon istrinya Bang Satria? Calon istrinya kan satu SMA juga sama kita, Kak.”

“Calon istri?” kerut itu terlihat lagi. Continue reading “Ilalang”

Cerita Fiksi

Diary Buaya

Aku memandangi sebuah buku yang dua tahun ini begitu kuhindari. Buku tentangmu. Aku pernah menulis semuanya untukmu. Cerita-cerita kita. Harapan-harapan kita. Bahkan karenamu pula aku pernah melabeli semua lelaki itu “buaya”, walaupun aku tak yakin apa hubungan buaya dengan kamu, yang meninggalkanku begitu saja sore hari itu. Tanpa kabar lagi.

Hari ini, aku ingin marah sekaligus membanggakan diri di hadapanmu. Hari ketika aku menyebarkan undangan pernikahanku yang tinggal dua minggu lagi. Akan kukirimkan sepaket untukmu dengan buku diary yang berisi semua cerita kita–termasuk transkrip semua janji-janji yang dulu pernah kamu utarakan. Kamu mungkin tak menyangka aku menulis semuanya. Tapi itu gilanya cintaku padamu, saat itu. Yang tiga tahun kemudian berubah menjadi kebencian yang membara.

Hari ini, aku ingin bilang kepadamu bahwa ternyata aku bisa bahagia dengan lelaki lain. Yang bukan buaya. Akan kukembalikan semua janji-janjimu. Ah tapi bukan kamu yang kutemui di rumahmu. Hanya pembantumu yang menunduk memberi sebuah amplop.

“Mas Fatah sekarang tinggalnya di sini, Mbak.” katanya kepadaku. Di depan amplop itu tertulis sebuah alamat. Continue reading “Diary Buaya”

Cerita Fiksi

Undangan

undanganAku pulang lebih cepat hari ini. Pak Broto, CEO perusahaanku sedang bahagia karena ia ulang tahun. Kabarnya juga, anak perempuan semata wayangnya akan menikah minggu depan. Jadilah ia memberikan special day untuk karyawannya. Masuk sampai jam 12.00 dilanjut dengan acara makan-makan satu kantor. Sebenarnya tadi acara masih panjang. Kabarnya Pak Broto akan memperkenalkan putrinya kepada para karyawannya. Tapi aku tak peduli siapa putrinya. Bisa pulang pukul 14.00 dari kantor di hari Senin adalah kesempatan langka.

“Mas Andro udah pulang?” Andra, adik bungsuku yang masih SMP tampak terkejut begitu aku sampai rumah, ekspresi yang kuduga.

“Surprize, Ndra. Haha.” Aku meletakkan tas dan kunci motor di kamar. Tak lama kemudian, menyusul Andra di ruang TV.

“Mau ngapain Mas Andro?”

“Main PS lah. Kapan lagi mumpung pulang cepet?”

Aku pun bisa menebak lagi ekspresi Andra. Ia cepat menarik stick PS.

“Nggak bisa, Mas. Hari ini jatahku! Besok kan aku pulang sore, ada les.”

“Ye, nggak mau tahu, aku malah nggak tahu kapan bisa pulang cepet lagi.” Aku menarik stick PS itu.

“Nggak bisa, Mas. Nggak mau. Ih udah gede masa nggak mau ngalah?”

“Bodo amat.”

“Nggak bisa. Ini kan hadiah ulang tahun dari Ayah buat aku bukan buat Mas Andra.”

“Ih, tapi aku ikut iuran buat belinya,” aku tak mau kalah. Toh, sekali saja. Tak apalah sudah 25 tahun bertengkar sedikit dengan si bungsu.

“Ini punyaku. Mas Andra nanti malem aja. Nanti malem aku ada belajar kelompok soalnya.”

“Nggak bisa, ini punyaku.”

“Heeeh, ribut amat, kenapa sih?” Ibu muncul dari dapur, “Eh Andra udah pulang?”

“Iya, Bu. Si Bos ulang tahun dan anaknya mau nikah, jadi dia happy.

“Oh, ngomongin soal nikahan, Ibu ada undangan nih.”

“Iya, Mas Andra, udah PS ini punyaku aja ya? Tuh, Mas Andra udah punya undangan.” Continue reading “Undangan”

Cerita Fiksi, Cuplikan Buku

Foto

quote kenangan 

Ada kebisingan yang memekaki telingaku di ruang ini. Ruang kosong, berdinding putih kusam, dengan cahaya temaram. Tidak ada siapa-siapa di ruang itu, selain aku dan kamu. Oh, bukan,lebih tepatnya, aku dan foto masa kecilmu. Gigimu belum ada di foto itu, karena jika sudah ada, aku yakin mereka pasti akan berjajar rapi menghiasi wajah ceriamu, sebagaimana ciri khas semua fotomu saat kamu tersenyum. Aku lupa usiamu berapa di foto itu—mungkin enam bulan. Aku lupa. Yang aku ingat, kita terakhir bertemu tepat enam tahun yang lalu. Saat setiap cerita berakhir dengan jalan cerita yang sama sekali tak kuinginkan. Hari itu, semua tentangmu sudah tak ada. Kecuali foto ini, yang terselip di bawah pintu, yang mungkin jatuh ketika aku mengemasi semua barangku.

Maka, demi menemukan foto ini lagi, semua hal tentangmu bernyanyi dan bercerita bersahutan, memekaki telingaku. Semua. Dari suaramu yang menenangkan hingga suara serakmu ketika pamit.

Dulu, di ruangan kecil ini, aku menghabiskan masa kuliahku. Tiga tahun. Ruangan ini adalah saksi saat rinduku membuncah dengan pasrah. Atau saat suaramu menyapaku melalui telepon—yang sangat singkat. Tiga tahun kita bersahabat dengan hubungan tanpa pertemuan, yang bahkan hanya diikat dengan sekali dua perbincangan di yahoo messenger atau telepon. Selebihnya, kita berbicara lewat karya. Aku yang kaubaca dari tulisanku di tumblr. Dan kamu, yang kubaca dari gambar abstrakmu yang kauunggah di deviantart. Seindah dan semagis itulah hubungan tiga tahun yang kita jalani. Tiga tahun yang kita jaga demi masa depan. Walau nyatanya masa depan tak berpihak pada kita.

Kalau boleh mengenang, aku sering tak percaya bahwa cerita kita diawali dengan perpisahan dan diakhiri dengan pertemuan. Ingatkah kamu? Saat itu, kita sedang merayakan kelulusan sebagai siswa SMA—sekaligus keberhasilanmu memperoleh beasiswa untuk kuliah Ilmu Fisika di Inggris. Hari yang antah berantah buatku. Antara bahagia karena kita lulus, aku diterima di universitas impianku di negeri ini, dan kamu. Iya, kamu yang akan pergi jauh ke negeri orang.

“Zhira, nanti kalau aku udah berangkat, tunggu aku ya di masa depan.”

Fiuh! Aku masih ingat tulisanmu di sebuah sticker post it yang kamu tempel di buku tulisku. Yang bahkan sudah kusimpan rapi dalam kardus—harusnya kubuang, tapi entahlah. Tulisan yang terdengar konyol untuk remaja 18 tahun seperti kita. Tapi itulah janjimu yang kuterima dengan anggukan. Hari itu terakhir kita bertemu, karena setelahnya kamu sudah sibuk persiapan di Jakarta dan langsung berangkat ke Inggris. Aku sendiri melabuhkan cerita di kota ini, kota yang tak terasa sudah delapan tahun kutinggali. Kota yang menjadi saksi pertemuan yang mengakhiri hubungan kita. Tapi juga kota yang masih saja kucintai. Bandung.

Aku masih duduk lemas di lantai, belum selesai mengenang cerita kita. Nafasku masih naik turun tak beraturan. Aku sudah hampir menangis (entah karena apa) kalau saja handphone-ku tidak berdering. Ibu.

“Zhira, kamu di mana? Ini sudah jam tiga. Jam empat persis kamu udah harus siap di Selasar Sunaryo ya?”

“Iya, Bu. Dari Dipati Ukur ke Dago Pakar nggak lama kok.”

“Ya udah, yang penting cepet siap-siap ya? Takut macet. Kan weekend. Jangan kelamaan di kosan lama. Keluarga Hardi udah mau keluar tol Pasteur.

Aku belum sempat menjawab dan Ibu sudah menutup teleponnya. Hari ini datang juga. Hari pertemuan yang sangat kuhindari. Aku memutuskan untuk menyimpan foto masa kecilmu di dalam tasku. Kuputuskan untuk menunda mengenang tentang pertemuan kita yang menjadi akhir cerita. Aku paling benci bagian itu. Bagian yang membuatku cukup takut menghadapi pertemuan hari ini.

***

“Bagaimana jika suatu saat kamu justru berjodoh dengannya?”

Aku terngiang pertanyaan Nuffy yang sering sekali ditanyakan padaku ketika aku mulai mengeluh tentangmu. Tentang sakit yang kamu tinggalkan pasca kepergianmu.

“Fy, aku selalu berharap bisa hidup bahagia dengan laki-laki lain.”

“Kalau dia jodohmu?”

“Aku mau yang lain.”

“Tapi kalau tetap dia jodohmu?” begitu terus tanyanya berulang dan aku tetap menjawab dengan “aku mau yang lain”.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin sepenuhnya melepaskannya.”

Nuffy tertawa. Katanya, aku sama sekali sedang tidak melepaskanmu. Katanya, aku sama sekali belum ikhlas melepas kepergianmu. Tapi bagaimanalah, aku bahkan sudah menjauhimu bukan? Aku sungguh tak mengerti. Dan mungkin, Tuhan menjawab semua ketidakmengertianku itu melalui pertemuan yang dirancang Ibu ini. Entahlah, aku masih belum sampai di Selasar Sunaryo. Tapi mungkin saja, Tuhan punya jawaban di sana.

Continue reading “Foto”

Cerita Fiksi

Lupa

lupa

Gadis kecil berusia delapan tahun itu terduduk menangis di mejanya. Beberapa teman perempuannya menatapnya sambil berbisik-bisik. Sementara teman laki-lakinya mengejeknya, “Anak pintar kok nggak ngerjain PR?”. Ia benci tatapan dan ejekan itu. Ia ingin pulang memeluk sang mama. Dengan bahasanya, ia merutuki dirinya sendiri, “kenapa aku harus lupa dan teman-temanku ingat?”, begitu keluhnya.

Ia masih duduk di kursinya ketika teman-temannya istirahat. Tadi ibu gurunya memberi hukuman untuk menulis 1000 kalimat “Aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” di buku tulis. Entahlah, ia bahkan tak menghitung sudah berapa kalimat yang ia tulis. Pensilnya sudah menumpul dan ia raut berkali-kali. Air matanya ia tahan agar tak melunturi tulisannya. Itu hukuman pertama baginya. Bukankah ia gadis penurut yang selalu patuh pada peraturan? Tapi salahkah kalau hari ini ia lupa? Ia hanya lupa, bukan menyengaja.

Ia benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tujuh  tahun kemudian.

Gadis kecil yang dulu amat benci pada kata “lupa” itu kini sudah meremaja. Usianya lima belas tahun. Ia sudah pindah bersekolah di sebuah SMA favorit di kota besar. Berlari jauh meninggalkan SD-nya yang pernah amat menyakitinya. Prestasinya kini cemerlang. Ia menjuarai berbagai kompetisi akademik hingga tingkat nasional. Ia pun aktif di berbagai aktivitas organisasi. Jangan tanya berapa jumlah laki-laki yang menyukainya. Banyak sekali.

Lihatlah, hari ini ia tampil mempesona ketika menjadi dirigen pemandu paduan suara pada upacara peringatan hari Kemerdekaan RI di depan walikota. Semua hadirin memuji kepiawaiannya. Sayang sekali, hari ini, lagi-lagi ia harus bermasalah dengan kata “lupa”. Ia lupa memberi tanda pada gerakan tangannya. Nyanyian “Indonesia Raya” yang seharusnya sudah berhenti masih menggema padahal bendera sudah mencapai ujung tiang. Para peserta paduan suara memberi kode supaya ia memperbaiki gerakan tangannya, tapi ia tak paham. Terjadilah keributan kecil akibat kesalahpahaman itu. Upacara di depan walikota itu pun tak berlangsung mulus. Pelatihnya memarahinya. Teman-temannya menyalahkannya.

Menulis 1000 kalimat “aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” membuatnya pandai meminimalisir diri supaya tidak mudah lupa. Tapi nyatanya, ia harus mengalami “lupa” itu pada hari yang amat penting baginya. Ia semakin benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tiga tahun kemudian. Gadis itu sudah mulai kuliah. Sampai usianya delapan belas tahun, ia masih tidak mengerti mengapa Tuhan harus menciptakan lupa untuk manusia. Merepotkan.

“Hei, sepertinya aku mengenalmu.” Seorang laki-laki yang seusia dengannya memanggilnya ketika ia tengah berdiri di halte menunggu bus kampus.

“Iya?” gadis itu mencoba mengamati wajah sang lelaki dengan seksama. Ia belum mengingat siapa dia, tapi hatinya berdesir tidak karuan. Laki-laki itu berbeda dengan laki-laki mana pun yang pernah ia temui. Oh Tuhan, apa gadis itu jatuh cinta?

“Kamu lupa ya?” kata lelaki itu.

Gadis itu benci dengan pertanyaan itu, “tidak, tidak, aku sudah berjanji tidak akan menjadi pelupa sejak usiaku delapan tahun.”

“Sejak hukuman menulis 1000 kalimat itu ya?” kata sang laki-laki sambil tersenyum.

Gadis itu terkejut.

Continue reading “Lupa”

Cerita Fiksi

Piala Dunia

image

Hasna pulang. Ia kembali meninggalkan Jogjakarta, meninggalkan separuh hatinya yang empat tahun masih bertanya. Aku tahu persis rasanya menjadi dia. Aku tahu rasanya tak dipercaya ketika mengatakan “sudah move on” karena memang raut mukaku pun bercerita bahwa aku sedang berbohong. Sebagaimana wajahnya ketika ia mengatakan bahwa ia sudah melupakan Hafiz, cinta pertamanya yang menumbuh dalam diam. Ya, karena aku pun merasakannya.
“Sebentar lagi, piala dunia ya?” Katanya sebelum pamit.
“Ha? Kenapa?” Aku, yang tak pernah mengikuti perkembangan dunia sepak bola, sama sekali tidak mengerti maksud Hasna memulai pembicaraan tentang bola padaku.

Continue reading “Piala Dunia”

Cerita Fiksi

Lembayung Bali

image

Tidak ada yang meragukan keceriaanmu. Bahkan aku yakin tak ada yang mampu menemukan fotomu tanpa gigimu berjajar rapi. Ciri khas senyummu. Rambutmu yang pendek gaya “dora” atau yang kadang-kadang dikuncir dua adalah ciri khas kepolosanmu. Aku sering membenak dalam hati apa yang kaukuncir dari rambut yang sangat pendek itu? Belum lagi buku-buku tebalmu, mengapa kaubawa setiap hari di sekolah? Aku kadang mengasihani tubuh kurusmu yang harus memikul beban buku-buku itu. Tapi itulah kamu. Bukan culun. Kamu hanya sedikit ‘berbeda’ dari yang lain.
Entahlah. Aku baru menyadari bahwa aku masih bisa mendeskripsikanmu dengan jelas setelah empat tahun waktu seakan menelan cerita. Ah, bukan menelan. Rasanya masih tersedak di tenggorokan. Apa kabarmu? Apakah kamu juga tersedak? Continue reading “Lembayung Bali”

Cerita Fiksi

Halte (cerpen)

Aku sudah duduk di sini sejak empat jam yang lalu. Sudah puluhan bus yang lewat. Sudah ratusan langkah kaki yang lalu lalang. Mereka bertanya, “apa yang kutunggu?”
“Bus kuning,” jawabku.
“Sudah berlalu banyak sedari tadi. Tapi tak kau hiraukan. Apa yang masih kamu tunggu?” kata mereka.
Kamu. Hanya hatiku yang menjawab. Mulutku diam. Mereka lelah menungguku tak kunjung berbicara. Aku menunggu bus kuning berisi kamu, tersenyum juga menungguku di dalamnya. Tapi tak ada.

Empat menit kemudian, kamu datang. Bukan naik bus kuning. Roda sepedamu berputar. Seorang gadis duduk di boncengannya. Bus kuning datang lagi. Aku pergi dan kamu mengikutiku. Bus kuning berlalu. Sepedamu sudah terjatuh sejak kamu mengejarku. Gadis itu terdiam sendu menemani halte. Kami diam memeluk tanya.

Di halte, orang-orang menunggu. Aku juga.
Continue reading “Halte (cerpen)”

Cerita Fiksi

Langit (cerpen)

Ahimzz(819)

Toko buku ini masih sepi. Salah seorang petugasnya masih tampak menata buku di rak tengah, rak buku best sellers yang ditata sedemikian rupa untuk menarik perhatian pengunjung. Aku sengaja datang pagi-pagi, mencari diskon 25% yang ditawarkan toko ini untuk seratus pelanggan pertama. Aih, dasar manusia diskon! Tapi biarlah, untuk seorang penggila buku sepertiku, empat kali diskon 25% bisa menambah satu koleksi buku, itu penting. Hehe.

Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak langsung menuju ke rak pojok depan tempat novel-novel tertata rapi. Sengaja. Aku melangkah lebih jauh menuju rak belakang untuk mencari buku tentang filsafat komunikasi yang menjadi bahan dasar skripsiku. Skripsi? Ah, makhluk yang satu itu mau tidak mau mengurangi jatahku menulis dan membaca kisah-kisah fiksi. Sesampainya di area buku komunikasi, langsung saja kubuka buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” karangan Elvinaro yang kebetulan sudah dibuka sampulnya. Barangkali buku ini bisa menjawab pikiran kacauku tentang paradigma penelitian.

“Aisa.” Seseorang memanggilku. Aku menoleh mencari sang pemilik suara. Seketika kutemukan seorang lelaki melambaikan tangannya sambil tersenyum di balik rak buku di seberang tempatku berdiri.

Astaga. Sekejap kecamuk pikiranku tentang paradigma penelitian, data-data latar belakang, teori-teori filsafat komunikasi yang beberapa hari ini mengganggu pikiranku, enyah begitu saja. Aku tidak tahu molekul apa yang mampu menerbangkan mereka dari pikiranku. Seketika itu pula, mataku tertuju pada baju cokelat muda sesiku yang tampak dari sela-sela buku daaaan.. sepasang sesuatu yang mencirikhaskan dirinya. Itu dia. Kacamata itu. Kacamata itu mencirikhaskan seseorang yang… ah, tidak salah lagi. Itu dia.

“Eh, Bang Izar?” Aku menutup buku yang dari tadi kubaca. Hatiku memuji diriku yang bisa mengendalikan setrum yang tiba-tiba saja serasa mengaliri seluruh pembuluh darahku. Dia tersenyum lagi.

“Sudah pulang ke Indonesia, Bang?” kali ini aku mengutuk diriku. Pertanyaan bodoh. Jelas-jelas ia kini di depanku—tentu saja di Indonesia.

“Iya, kangen buku-buku berbahasa Indonesia.” Katanya sambil menyodorkan sebuah buku yang judulnya tak sempat terbaca olehku.

“Oh, thesisnya sudah selesai ya? Wah, keren..” pembicaraan ini mulai kaku, aku tidak tahu harus berbicara apa. Bertemu dengannya di pertemuan yang amat tak terduga seperti ini adalah kejutan yang tak pernah kusiapkan bagaimana cara mengatasinya.

“Belum kok, Abang ke Indonesia cuma seminggu karena kebetulan dapat tiket sponsor. Sebentar lagi selesai insyaAllah, Sa. Doanya.”

“Aamiin. Sukses selalu, Bang.”

“Rumah Langit apa kabar?”

“Masih biru seperti langit, Bang. Maksudku, adik-adiknya masih ceria dan semangat. Kalau ada waktu senggang, main saja, Bang.”

Dia tersenyum. Ingin sekali kutanyakan banyak hal, tapi semua terkunci bisu di tenggorokan. Kapan ia akan mengunjungi Rumah Langit? Masihkah ia ingat pada junior macam aku yang hobi sekali bikin heboh di komunitas itu? Masihkah ia rindu hari-hari tertawa ketika merangkai permainan untuk adik-adik? Ah, tapi tak ada satu pun pertanyaan-pertanyaan itu yang terlontar . Hanya itu pembicaraan kami di pagi yang sepi di toko buku. Aku pamit sesaat setelah ia tersenyum. Kuambil saja buku “Filsafat Ilmu Komunikasi” yang dari tadi kubuka-buka dan kuserahkan ke kasir. Bang Izar masih menyusuri rak-rak buku itu. Aku menelan ludah sambil meninggalkannya. Kalau saja aku bisa berbicara padanya lebih lama… Kalau saja tenggorokanku tidak kering seketika.. Kalau saja tanganku tidak gemetar. Tapi entahlah perasaan apa ini namanya. Aku sudah lama sekali tak merasakannya sejak urusan patah hati menoreh luka di dasar hati. Aku seperti menyentuh langit. Melayang.

***

Nina tertawa mendengar ceritaku pagi ini, sepulang dari toko buku. Aku cepat mengetuk pintu kamarnya. Masih pukul 09.00, ia masih mengantuk. Aku yakin dia baru tidur pukul 07.00 mengingat kebiasaannya begadang semalaman. Ah, tapi demi mendengar ceritaku pagi ini, matanya terbuka lebar. Ia asyik menertawakanku. Aku cemberut.

It is a crazy little thing called love, Baby.” Katanya santai sambil menarik ciput jilbabku, membuat dahiku tertutup kain jilbab.

“Iya, terakhir aku melayang-layang di langit kayak gini ituuuu, lima tahun lalu, pas masih SMA. Kamu tahu persis ceritanya. Ah, kamu tahu aku hampir tak percaya pada hal kecil gila yang kamu sebut love. Bagaimana pun aku menjaga dan menghargai cinta, toh akhirnya cinta hanya berujung sakit kan? Sakit sekali, Nin. Melayang di langit, menunggu dijemput di singgasana bulan, lalu dijatuhkan begitu saja ketika senja menjelang.” Aku berbicara panjang sambil berfilosofi tidak jelas—kebiasaanku.

“Siapa yang bilang kalau cinta itu harus melayang-layang di langit? Itu salahmu sendiri, Aisa.” Continue reading “Langit (cerpen)”

Cerita Fiksi, perempuan

PHPMyStory

berharap

“Kamu serius memutuskan untuk datang, Zi?”

Perempuan berjilbab biru muda di depanku ini tersenyum tanpa beban. Seakan memang begitulah seharusnya ia bersikap. Ia mengaduk hot chocolate yang baru saja kuseduh. Menyeruputnya pelan-pelan.

“Kalau nggak dateng ngapain bawa baju bagus gini dan sampai bela-belain ke Bandung, Sa. Maaf ya numpang di rumahmu. Hehe.” Ia meletakkan cangkir putih yang isinya kini tinggal tiga per empat dari sebelumnya.

“Kamu serius?” aku masih tidak percaya.

“Sekilo bukan lagi serius.” jawabnya santai.

“Oke. Oke.” Aku masih bingung, “kamu mandi aja dulu deh. Aku khawatir perjalanan kereta Jogja-Bandung seharian tadi bikin kamu nggak waras. Ada air hangat di termos, pakai aja.”

Dia malah memelukku bahagia lalu beranjak mengambil handuk menuju kamar mandi. Aku masih tidak mengerti dengan sikapnya itu. Bukankah baru dua bulan lalu dia sama memelukku seperti tadi? Berbahagia atas sesuatu. Tapi bukankah harusnya hari ini berbeda. Bukankah harusnya hari ini dia kecewa? Tapi nyatanya dia sama bahagianya. Aku masih tak mengerti.

Sambil terus berada dalam rasa tak mengerti, aku menyiapkan makan malam sementara Xizi masih menyelesaikan mandinya. Ini bukan kali pertama ia menginap di rumahku. Setiap kali bertandang ke Bandung, Xizi selalu menginap di rumahku. Mengenang masa-masa kuliah katanya. Kami dulu memang bersahabat dekat. Aku asli Bandung dan Xizi asli Jogja. Kita baru saja menjadi sarjana delapan bulan lalu. Xizi memutuskan untuk kembali ke Jogja setelah ia diterima menjadi editor di salah satu perusahaan penerbitan di sana. Sementara aku meneruskan bisnisku berjualan baju-baju muslimah di Bandung.

“Masak apa kali ini, Sa? Kamu kayanya udah siap banget jadi istri ya. Ihii. Ups lupa, dua bulan lagi udah jadi istri orang ya?” ledek Xizi tiba-tiba sekeluar dari kamar mandi. Ia buru-buru mengenakan jilbab kaosnya yang juga berwarna biru.

“Makanan kesukaan kamu.” Aku tak menghiraukan ledekannya.

“Seblak?” dia terkejut senang.

“Seblak telur makaroni pedas banget.”

Dia memelukku lagi, “iyaaa cita-citaku buat buka cabang seblak di Jogja belum kesampaian nih. Hehe.”

“Iyaaa. Tapi jangan pedas dulu ya kali ini. Kasihan perut kamu baru balik dari perjalanan jauh. Ntar sakit nggak jadi dateng lagi besok.”

“Woo. Harus jadilah.”

“Yang ngundang kamu dia sendiri kan?” kataku sambil meletakkan semangkuk seblak telur makaroni di meja makan. Xizi menyambutnya antusias.

“Hari gini gitu, Sa. Di grup FB aja dia nyebar undangan kan?”

“Kamu bela-belain dateng dari Jogja padahal diundang secara personal aja nggak?” Continue reading “PHPMyStory”