Uncategorized

Bulan, katakan padanya..

Aku janji dalam ceritaku malam ini tak akan ada air mata. Maka bersiaplah untuk tersenyum. Aku mau minta tolong padamu.
Bulan, kalau malam ini dia menatapmu, tolong katakan padanya, aku baik-baik saja, tersenyum ceria menikmati hikmah demi hikmah yang dijejakkan Allah di hidupku.
Kalau malam ini ia tengah tertawa lepas, bisikkan padanya, aku bahagia mengetahuinya.
Kalau malam ini dia mengeluh, katakan maafku padanya, aku tak akan ada untuk sekadar mendengar keluhnya, tapi Allah selalu ada untuk meluaskan hatinya.
Kalau malam ini ia tengah gundah oleh masalah-masalah duniawi, tegaskan padanya, pertolongan Allah itu amat dekat.
Kalau ia diam, cukup tatap ia. Tampakkan cahayamu, temani ia, sebagaimana cahaya menemaninya dalam namanya. Biarkan dia berpikir banyak sebagaimana sekarang aku tiba-tiba berpikir.
Kalau ia tak mengingatku atau tertawa oleh senyum selain senyumku, jangan marah, Bulan. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Katakan saja padanya, daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Continue reading “Bulan, katakan padanya..”

Cerita dan Celoteh

Bulan, Aku Rindu..

image

Bulan, apa kabar kamu? Hujan sudah lama membuatmu tidak tampak. Terlebih sudah dua purnamamu aku hilang. Dia juga. Maaf, dua purnama ini terlalu menyakitkan untuk sekadar menatapmu. Tapi, malam ini, aku akan bercerita lagi. Walaupun wajahmu masih bersembunyi. Dengarkan baik-baik seperti purnama-purnamamu sebelumnya yang menjadi teman baikku menahan rindu.
Bulan, aku rindu saat seseorang menatapmu dari sudut kota yang berbeda, sambil bercerita keluh kesahnya, lalu kamu, cukup dengan kutatap dan kusenyumi, akan menceritakan semua padaku. Terlebih jika ia bercerita tentang rindu, aku pasti akan tersenyum lebih lama padamu. Bulan, aku rindu saat aku dan dia sama-sama menyimpan rindu di wajahmu. Aku rindu saat aku dan dia luruh dalam diam, hanya rasa hati yang terlukis di wajahmu. Aku rindu saat aku dan dia, hanya tentang aku dan dia saja. Dan wajahmu tersenyum menatap balik wajah kami yang tersipu atau mendiam menahan sesak rindu.
Bulan, adakah doa-doa masih terpanjat dalam diam? Adakah rindu masih beradu di balik amarahku yang berpadu?
Maaf, di balik hujan yang merintik menutupimu malam ini, kukabarkan pada wajahmu tentang kesedihan dan amarah. Kupamerkan pula wajahku yang mengalirkan air, entah air hujan, atau air mata. Aku tak dapat membedakannya. Maka, demi air yang membasahi wajahku, kumohon jangan bercerita apa-apa selain tentang aku dan dia. Jangan bawa dia-dia lainnya, atau tiadakan saja cerita selainnya. Biar memang tidak ada cerita selain tentang aku dan dia. Aku dan dia, yang diam-diam menitipkan rindu dan doa padamu. Yang diam-diam menunggu satu waktu untuk menatapmu dari satu bingkai jendela yang sama. Ya, aku dan dia saja. Kamu pasti mengerti.
Hei, Bulan, kamu baik-baik saja kan? Kutunggu wajahmu tampak manis tanpa rintik hujan atau hitam awan. Karena sebelum purnamamu yang ketiga datang, aku ingin mendengar lagi celotehnya padamu sebagaimana ia berceloteh sebelas purnama lalu. Saat dia berbisik, “Bulan, aku merindukan seseorang yang menatapmu di kota lain”. Saat wajahmu masih menjadi saksi rindu diam-diam kita. Kita. Hanya aku dan dia. Tak ada lagi lainnya.
Bulan, aku rindu. Itu saja. Oh ya tentang aku dan dia. Saja.

Pojok biru 2,
15 Desember 2012
23.53 WHH

*Would you like to draw me a moon?