Cerita dan Celoteh

Karena Tuhan Belum Restu

Ada tiga huruf, alfabet empat, lima, dan sebelas, yang biasa kamu gunakan untuk menyapa. Sudah lama tidak terdengar. Biar saja tak terdengar. Ada 20 bungkus cokelat krispi kesukaanku di dalam kresek merahmu. Sudah lama tanganku tak menerima. Biar saja tak terterima. Ada beberapa baris syair tak bernada tapi bernyanyi merdu di pikiranku. Sudah lama tak berbisik. Biar saja tak terbisik. Ada sendu dalam rindu yang mencandu. Sudah lama tak berpadu. Biar saja menjadi tumpukan residu.

Diam-diam, kita mungkin saling bertukar cerita dalam perantara yang tak ada, atau saling meniadakan dalam ada, atau saling menggantung dalam pendulum waktu yang entah kapan terhenti di titik aku dan kamu. Mungkin kamu juga mengatakan, “Biar saja bla bla bla”, lalu tenggelam lagi dalam deru aktivitas. Melupakan soal itu. Atau mungkin kamu sedang bersiap? Bersiap apa? Entahlah, aku bahkan hanya menerka dengan ‘mungkin bla bla bla’ sejak huruf pertama masuk ke paragraf ini. Biar saja tak terterka, sampai kamu memberi jawaban. Continue reading “Karena Tuhan Belum Restu”

Cerita dan Celoteh, Cerita Fiksi

Sampai Jumpa pada Takdir Allah

image

“Kamu percaya nggak kalau kerikil kecil di sungai ini berasal dari sungai di antah berantah sana?” gadis manis itu bertanya dengan lirih.
Seorang gadis di sampingnya tersenyum, mengangguk.
“Kamu percaya nggak, kalau mungkin saja kerikil yang ada di sebelahnya dulu pernah bertemu dan terpisah oleh arus sungai yang sangat deras?”
Gadis di sampingnya itu tersenyum lagi, mengangguk lagi.
“Kamu percaya nggak kalau muara sungai ini bukan kebetulan yang mempertemukan dua kerikil ini?”
Gadis itu, masih tersenyum lagi, mengangguk lagi.
“Kamu percaya kalau kerikil ini bahkan tidak menyangka akan dipertemukan kembali?”
Ia tersenyum lagi, mengangguk lagi, kali ini lebih mantap.
“Kenapa kamu percaya semua itu begitu saja?”

Continue reading “Sampai Jumpa pada Takdir Allah”