Cerita dan Celoteh

Baling-Baling Cerita

Mengapa jadi begini? Kita hidup dalam langkah masing-masing. Bukankah aku sudah pernah bilang, aku ingin seiring. Tapi kita justru tergiring di bawah baling-baling cerita kita sendiri-sendiri. Tertatih berpegang kayu kering. Sementara saat kamu mencari tangan  untuk menobang tubuhmu yang melayu, bukan aku yang ada. Bukan aku. Aku berjalan, juga tertatih, dengan uluran tangan yang juga bukan darimu. Bukan kamu.

Tak apa. Ujungnya senyumku masih mengembang, selama harap masih terucap. Selama dalam doa ada rasa untuk bersua. Selama dalam riuh gerak kita, masih ada ingin untuk seiring. Walau bukanlah mudah melangkah terseret baling-baling. Aku tak akan takut, aku akan berjalan, ada jembatan teduh di pertengahan menuju ujung kita. Yang menghentikan putaran baling-baling. Ya, selama kamu juga masih berjalan walau terseret,  menuju jembatan itu.

Tak perlu orang lain percaya. Tak perlu orang lain tahu. Cukup aku dan doaku. Cukup kamu dan doamu. Hingga doa kamu dan doaku menemukan kita.

Selamat melangkah. Tak apa jika harus dalam langkah masing-masing. Tak apa. Selamat menjadi kuat.

“Biar angin terus memutar baling-baling, menyeret ke mana pun langkah aku dan kamu.”, katamu.

Kampus biru,

19 Oktober 2012

15.07 WLH