Event, Review

Menyicip Berbagai Rasa di Pucuk Coolinary Festival

Apa? Ada festival kuliner di Medan dari Teh Pucuk Harum? Waaa langsung seneng banget dong karena aku tuh dasarnya doyan banget jajan. Udah kebayang pasti bakal ada banyak pilihan makanan di sana. Begitu tahu tanggalnya, aku langsung ngajakin temen-temen buat dateng. Ya walaupun waktu itu aku lagi diet, tapi nggak apa-apa. Kapan lagi kan ada event sekeren ini?

Continue reading “Menyicip Berbagai Rasa di Pucuk Coolinary Festival”

Review

Film Mahasiswi Baru, Film Kocak Layak Tonton

Beberapa bulan terakhir, aku lagi hobi banget nonton youtube. Dan setiap nonton youtube, pasti selalu saja muncul trailler film di beranda. Hingga suatu ketika, sampailah aku di film ‘Mahasiswi Baru’. Awalnya sih penasaran aja ini film tentang apa sih. Lalu iseng nonton, eh udah ngakak dong aku dari menit pertama. Asli, ini film komedi Indonesia yang fresh banget baik dari segi cerita maupun pemainnya yang tampak berbeda dari perannya sebelumnya. Akhirnya aku malah nonton beberapa kali.

Poster Film Mahasiswi Baru

Film bergenre komedi garapan Monty Tiwa ini bercerita tentang seorang nenek berusia 70 tahun yang masih semangat belajar dan ikut kuliah. Selayaknya mahasiswi baru, si nenek bernama Lastri yang diperankan oleh Widyawati ini, pun ikut OSPEK. Kebayang nggak sih, betapa kocaknya Widyawati, yang biasanya berperan sebagai ibu peri yang kalem di filmnya, kali ini jadi mahasiswi baru? Ikut OSPEK dan punya geng anak-anak muda yang usianya saja terpaut setengah abad? Ikutan ngomong ‘Yoayyy Brayy’. Hahaha lucu asliii.

Selain Widyawati yang berakting berbeda, film ini juga menawarkan akting apik dari Selamet Rahardjo. Dan yang tak kalah seru, Morgan muncul lagi di kancah film Indonesia sebagai Danny dengan akting yang makin matang dan karakter yang juga berbeda dari peran dia sebelumnya. Selain Morgan, ada juga Mikha Tambayong (Sarah) dan Sonya Alyssa (Reva) yang tampil semakin cantik di film ini. Dan yang tak kalah seru, Umay yang memang sering akting kocak, juga hadir menambah keseruan dengan perannya sebagai Ervan. Coba bayangin, Morgan, Mikha, Sonya, dan Umay bergabung satu geng dong dengan Widyawati? Dan oh ya, Karina Suwandi juga hadir sebagai Anna, anak dari Widyawati yang di sini perannya jadi anak rasa ibu karena harus nasihatin ibunya sendiri biar nggak bikin ulah sama geng kampusnya 😆😂

Kalau nonton trailler-nya, pasti udah bisa ketawa sakit perut kok sama joke-joke yang ditawarkan. Aku sendiri paling suka bagian Lastri OSPEK terus ditanya kakak kelasnya, “kamu lahir tahun berapa?”. Dan dia jawab “70 tahun lalu.” Hahaha. Itu epic banget sih. Siapa kakak kelas siapa lebih tua. Wkwkwk.

Ada juga pas Lastri (Widyawati) berkumpul dengan teman gengnya, terus mereka rapat tentang apa nama gengnya. Dan Lastri bilang, ini bukan geng tapi paguyuban. Dan yang lain kompak bilang “Tua kali”. Ada juga yang Widyawati mau nyontek pas ujian, eh nggak kelihatan dong karena matanya udah tua. Hahaha gitu ya nenek-nenek kalau gaul sama millenial.

Ending trailler-nya juga nggak kalah epic. Jadi mereka ceritanya mau kabur gitu kan lewat jendela. Eh nggak nyadar dong kalau itu tuh jendela lantai 3? Ekpresinya itu lho dapet banget.

Aku yakin filmnya nanti bakal lebih seru dan menghibur banget. Cocok ditonton oleh semua kalangan. Yang lagi kuliah apalagi, pasti bakal makin semangat kuliahnya. Masa kalah sama nenek-nenek kan?

Film ‘Mahasiswi Baru’ juga bisa jadi rekomendasi film keluarga yang layak tonton di 2019 ini. Karena selain kocaknya, ada makna besar yang ditawarkan di film ini, yaitu tentang pentingnya belajar tak kenal usia. Serta bagaimana konflik keluarga dibahas. Aku sendiri penasaran sih kenapa Lastri memutuskan kuliah lagi di usianya yang sudah 70 tahun? Pasti deep banget.

Biar aku nggak penasaran sendiri, kita tunggu bareng-bareng aja deh yaaa. Nanti insyaAllah film ‘Mahasiwi Baru’ bakal tayang tanggal 8 Agustus 2019. Jangan lupa saksikan yaa film ‘Mahasiwi Baru’ di bioskop kesayangan kalian.

Nah sambil nunggu, kita intip aja lagi trailler-nya yuk..

buku, Review

Purple Prose (Ulasan)

Judul buku: Purple Prose
Penulis: Suarcani
Tebal: 304 halaman, 20 cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: Cetakan Pertama, 2018

Sebagai pencinta genre novel metropop, novel ini sangat worth to read. Bahasanya sederhana, mengalir, tapi konfliknya cukup pelik dan membuat penasaran. Pantang berhenti sebelum ending.

Alur cerita bermula ketika Galih dimutasi dari Jakarta ke Bali. Sebenarnya ia tidak ingin kembali ke Bali, kota yang penuh dengan kenangan kelam masa lalunya. Buat apa membuka kenangan buruk, menyakitkan. Bukankah hidupnya sudah nyaman selama ini? Tapi ia tidak punya pilihan lain jika ingin naik jabatan.

Benar saja, di Bali, dosa-dosa masa lalunya, yang selama tujuh tahun ia tinggalkan, mulai menghantuinya. Dan pertemuan dengan Roya, yang ternyata juga memiliki rasa bersalah yg teramat dalam di masa lalunya, membuatnya seperti menemukan kaca. Berdua, mereka mulai mengurai masa lalu masing-masing. Belajar memaafkan diri sendiri, meminta maaf pada siapa yang pernah mereka sakiti, serta menghadapi semua hal buruk yang sebelumnya mereka hindari. Continue reading “Purple Prose (Ulasan)”

buku, Review

Seribu Wajah Ayah: Seribu Kontemplasi

swaSebagai pembaca blog azharologia.com dari ketika postingannya masih belasan sampai sekarang sudah menjelma menjadi tiga buku, rasa-rasanya belum seru kalau saya belum membuat review buku Azhar Nurun Ala di blog ini. Hehehe. Dan Seribu Wajah Ayah, entah kenapa spontan mendorong saya untuk menulis ini. Buku yang sangat layak dibaca siapapun, kapanpun, berkali-kali.

“Selalu ada hal yang lebih bijak dari mengenang: membuat cerita baru yang lebih indah.”

Begitu kata Azhar menutup SWA. Dari semua tulisan Azhar, rasa-rasanya kutipan di ataslah yang paling saya sukai. Kalimat itu (kalau saya tidak salah ingat) juga ada di semua buku Azhar. Kalimat sederhana tapi bermakna dalam. Bagi saya, penutup ini berhasil membuat kita berhenti merutuki masa lalu atau terlena menikmati kenangan. Karena bagaimanapun, kenangan adalah ruang terjauh yang tak dapat kita jangkau, sedang masa depan selalu ada di depan mata kita setiap detiknya, siap kita sambut dengan cerita baru.

Selain penutupnya yang menarik, sebenarnya, sepanjang halaman buku ini pun sudah menawarkan seribu kontemplasi bagi pembacanya. Jujur saja, saya sempat salah terka, saya kira buku ini akan becerita tentang perjuangan dramatis seorang ayah dalam membesarkan anaknya. Ternyata, Azhar membungkusnya dengan kemasan berbeda. Kisah dramatis itu diramu sedemikian rupa menjadi sederhana ke dalam sebelas foto kenangan yang berisi beragam cerita kehidupan penuh makna.  Walaupun sosok ayah di novel ini digambarkan telah tiada, saya rasa Azhar berhasil membuat si tokoh ayah selalu hidup—melalui nasihat-nasihatnya. Sosok Ayah menjelma ke dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari penerimaan takdir, cinta, waktu, cita-cita, pendidikan anak bahkan tauhid.

Kalau boleh sedikit membandingkan, membaca novel ini mengingatkan saya pada ‘Sabtu Bersama Bapak’-nya Adhitya Mulya. Hanya saja, Adhitya membuat sang ayah selalu hidup melalui nasihat yang direkam menjadi video-video. Sementara Azhar, menghidupkan tokoh ayah melalui foto-foto yang bertransformasi menjadi rentetan renungan. Walaupun berbeda gaya penyampaian, kedua novel ini sama-sama menawarkan beragam nasihat kehidupan. Continue reading “Seribu Wajah Ayah: Seribu Kontemplasi”

buku, Review

2 States The Story of My Marriage

Sebelum kau membangun masa depan, kau harus memperbaiki masa lalu

—Chetan Bhagat

2 states

Sudah lama sekali saya tidak menulis review buku ya? Padahal menulis kembali apa yang telah dibaca adalah salah satu upaya untuk mengikat makna, yang membuat isi buku akan terus tertinggal di hati. Dan semoga hikmah baiknya bisa kita jadikan pelajaran dan kita terapkan. Baiklah, kali ini, di tengah profesi saya sebagai full time blogger (karena masih menunggu supaya jadi profesi lain yang sejalan, mohon doa) dan keasyikan membaca tulisan-tulisan dari sahabat Gamus, saya membaca sebuah novel kocak tapi juga bijak. Saya menemukannya ketika refreshing (baca: cuci mata di Toga Mas). Sebuah kalimat “Salah satu novelnya diadaptasi menjadi film 3 Idiots” di kover sebuah buku langsung membuat tangan saya menarik buku itu dan membaca sinopsisnya. Bahkan saya baru tahu kalau 3 Idiots itu diadaptasi dari novel (ke mana aja, Hims?). Well, kemudian galaulah saya karena baru saja 5 buku saya serahkan ke kasir. Apalagi, ada 3 judul buku dari penulis yang sama, yang sialnya juga sama menariknya, pun menggoda untuk dibeli. Ditambah lagi tulisan besar-besar “Diskon 30% untuk novel s.d. 9 Februari”. Baiklah, karena saya sadar saya terancam tidak makan kalau membeli semuanya, saya putuskan untuk ambil satu saja. Setelah menghitung kancing baju yang nggak ada kancingnya (naon?), saya memilih buku “2 States The Story of My Marriage” untuk melengkapi buku lain yang sudah di kasir.

Novel terbitan Bentang Pustaka ini tidak bisa membuatku menunggu lama. Langsung saya baca di angkot dalam perjalanan pulang, hehe. Gaya bahasanya menarik, terjemahannya tidak membingungkan sehingga masih rasa “Indonesia” walaupun ditulis oleh penulis kebangsaan India dan berlatar budaya India. Total 479 halaman sama sekali tidak membuat novel ini terasa tebal. Cerita yang seru selalu menarik untuk dilanjutkan bukan?

Chetan Bhagat—sang penulis—menceritakan tentang proses menuju pernikahan dari dua orang yang saling mencintai. Namun, dalam pernikahan, cinta saja selalu tak pernah cukup. Menurut simpulan saya, setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan untuk menuju fase tersebut: Continue reading “2 States The Story of My Marriage”