perempuan

Poligami

hhhh

Mungkinkah terlalu muda bagiku untuk membicarakan poligami? Tapi urusan ini seringkali menggoda alam pikir. Bukankah kita menangis membayangkan perasaan Aisha dalam Ayat-Ayat Cinta ketika Fahri menikahi Maria? Atau sekadar terlintas  pertanyaan, “apa yang dipikirkan oleh seorang Teh Ninih?”, “bagaimana ia bisa setegar itu?”, “pernahkah ia cemburu lalu sesak?”. Aku bertanya sendiri. Alam pikirku lari pada kisah Aisyah, Ummul Mukminin yang amat cerdas. Bukankah ia pun sering terlintas cemburu? Lalu apakah Teh Ninih juga pernah sama sesaknya oleh cemburu? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tak memerlukan jawaban, ia justru mengundang renungan.

“Baik poligami, maupun monogami semuanya sunnah rasul. Selama menikahi Khadijah, rasul tidak pernah memadunya dengan perempuan lain. Dan poligami, sebagaimana yang kita tahu, dijalani Rasulullah setelah menikahi Aisyah. Semua disertai alasan-alasan yang amat logis dan tidak lebih dari empat.” begitulah kata seorang kawan laki-laki ketika tak sengaja beberapa di antara kami terlibat dalam perbincangan tentang poligami, “tingga pilih yang mana?”, lanjutnya.

Aku tidak menjawab karena tentu saja aku tidak punya hak pilih. Namun, jika saja diberi kesempatan untuk memilih, aku selalu berharap menemukan pendamping yang tidak berpoligami. Bukan karena itu dilarang, bukan. Tapi entahlah. Barangkali aku belum sekuat Aisyah atau setegar Teh Ninih. Barangkali begitulah harap hampir setiap wanita biasa sepertiku.

Sekelindan bisik menyapa halus dalam desir jiwa: Siapa aku yang ingin seperti Khadijah hingga ia tak pernah dimadu rasul padahal poligami bukanlah sesuatu yang abnormal di suku dan masa itu? Atau siapalah aku berharap seperti Fatimah yang dijaga hatinya oleh Rasul hingga Ali tak diizinkan beliau untuk menikah lagi selama Fatimah masih hidup? Apa aku selembut dan sesuci perempuan tercinta, sang bunda yang dijamin surga? Apa aku seberani dan sebaik Fatimah, sang putri kesayangan?

Lambat aku berpikir, ini bukan tentang siapa yang kuharapkan hadir dengan kerelaannya menjadikanku satu-satunya. Ini tentang seberapa pantas aku untuk dijadikan satu-satunya. Sudah pantaskah?

Maka teruslah memantaskan diri. Masih jauh sekali dari dua perempuan suci yang tak diizinkan oleh Rasul merasakan sesak dimadu. Continue reading “Poligami”

perempuan

Inspirative Housewife Story

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak-anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih seangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Minggu (21/ 7) lalu, saya mengikuti acara Forum Indonesia Muda (FIM) Ramadhan yang diadakan di UNPAD. Niat awalnya mau nabung ilmu dan inspirasi sebelum pulang kampung, selain juga memang karena pengisi acaranya inspiring. Eh, pembicara yang paling saya tunggu ternyata berhalangan hadir. But, that’s not the point. Semua pembicara yang hadir memang sangat inspiring, tapi saya benar-benar dikejutkan di sesi terakhir. Tentang parenting. Awalnya saya pikir sesi ini mau membicarakan apa gitu. Do you know actually? It talks about a success and inspiring housewife. Saya langsung melek. Lupa lapar. Like my dream becomes closer. Saya mencari seminar yang membahas tentang keiburumahtanggaan. Nggak tahunya nemu di sana. Lihatlah daftar mimpi besar saya nomor 1-4. Rasanya terbahas semua sore itu. (No offense nomor 2, gue juga kagak tahu kalau urusan itu :p ) Baiklah, mukadimah ini akan terlalu panjang kalau saya lanjutkan.
image

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.

Continue reading “Inspirative Housewife Story”

GAMUS, perempuan

Amanah: Sahabat Terbaik

Kemuslimahan and Friends
Kemuslimahan and Friends

Malam ini, dunia seperti lebih tenang dari biasanya. Masih terukir senyum para sahabat muslimah di Mushala Lantai 2 Gedung B tadi siang. Senyum penuh semangat untuk melestarikan Al-Qur’an. Lalu tanpa kami duga, siang tadi juga, kami sepakat untuk membentuk komunitas pecinta Al-Qur’an untuk muslimah, yang kemudian kami beri nama: KOMPAQ. Tadi siang, aku sadar betul, berada di antara saudara-saudara yang bersemangat menuju kebaikan itu nikmat luar biasa, menenteramkan.

Aku juga tersenyum mengingat ekspresi bahagia sahabat Muslimah yang hadir pada Keputrian Jumat, 26 April 2013 kemarin. Ada wajah-wajah antusias saat aku bercerita tentang isi buku “Be A Great Muslimah” karya Teh Pewski. Ada pula yang berebut mengantri ingin meminjam buku tersebut. Aku bahagia ketika inspirasi menjadi rangkaian domino tanpa ujung. Ah ya, ada juga yang dengan jleb mengatakan, “ah kirain bukunya Teh Himsa yang dibedah hari ini?”. Pertanyaan itu lagi-lagi ‘menampar’ saya. InsyaAllah. Bismillah. Ditunggu. 🙂

Aku juga merenung mengingat pelajaran-pelajaran dalam setiap Liqa’ yang kemudian secara tidak sadar membawaku antusias mencari tahu kisah-kisah sahabat, membaca buku-buku islami, mempelajari hal-hal yang dulu tak terpikirkan, dan menyadari betapa pentingnya menghafal ayat-Nya. Memang terlambat, tapi aku bersyukur masih diberi kesadaran itu.

Semua renungan itu kemudian membawaku untuk menarik satu premis: semua berawal dari amanah yang diberikan padaku Juli 2012 lalu. Continue reading “Amanah: Sahabat Terbaik”

GAMUS, perempuan

#GamusStory Menjadi Muslimah Bersyukur di SBC

“Sebenar-benar nikmat adalah nikmat iman dan Islam..”

 

Sabtu, 4 Mei 2013, menjadi hari yang berbeda untuknya. Rambutnya yang biasanya terurai, hari itu tertutup dengan rapi oleh jilbab merah. Sahabat-sahabat Kemuslimahan yang lain langsung menghambur memeluknya. Kejutan pertama di acara Smart and Beauty Class, sebuah program kerja dari Divisi Kreasi dan Olahraga Departemen Kemuslimahan, Divisi yang dipimpinnya. Masih ada kejutan lain yang akhirnya membuat seluruh pasang air mata para muslimah tak tertahan untuk keluar dari lakrimalnya. Cerita yang semoga membuat kita semakin bersyukur atas iman dan Islam yang kita punya. Cerita itu semakin lengkap disertai dengan kisah motivasi dan keceriaan para muslimah yang hadir. Untuk sahabat yang berhalangan hadir, semoga cerita berikut ini bisa mengabadikan kisah inspiratif itu.

Smart Beauty Class, 4 Mei 2013, Dasar G Gd. A IM Telkom
Smart Beauty Class, 4 Mei 2013, Dasar G Gd. A IM Telkom

***


“Himsa, boleh keluar sebentar?” panggilnya usai rapat rutin Kemuslimahan Selasa lalu.

Aku keluar mengikutinya.

“Untuk SBC nanti, aku boleh cerita kisahku yang itu?”

Sejujurnya aku terkejut. Kisah yang mungkin hanya diketahui oleh segelintir orang, yang sebelumnya selalu dia minta padaku untuk benar-benar menjaganya, akan diceritakannya kepada banyak orang.

Aku tersenyum, “Kalau kamu siap tak apa. Menceritakan masa lalu itu memang tak pernah mudah. Tapi insyaAllah kisahmu menginspirasi banyak orang.”

Dia mengangguk sambil tersenyum.

Kurang lebih begitu sekilas pembicaraan kami minggu lalu. Tidak persis, tapi insyaAllah tidak mengubah maksud. Pembicaraan itu menjadi pengantar yang bagiku sendiri, meskipun tidak mengalaminya secara langsung kisahnya, turut merasa lega atas keberanian yang dimilikinya. Kepala Divisi yang satu ini, diam-diam memang menginspirasiku. Membuatku tak sabar menunggu hari Sabtu tiba. Continue reading “#GamusStory Menjadi Muslimah Bersyukur di SBC”

perempuan

Memaknai Euphoria Hari Kartini

Kartini
Kartini

Terlepas dari pertanyaan, “Mengapa ada hari Kartini tapi tidak ada Hari Dewi Sartika atau Hari Cut Nyak Dien? Toh mereka punya perannya masing-masing yang tak kalah menakjubkan?”, saya mencoba untuk masuk ke dalam euphoria Hari Kartini yang bahkan menjadi TTWW di twitter hari ini. Ya, saya mencoba memaknai peringatan Hari Kartini yang jatuh tiap tanggal 21 April. Bukan, saya tidak akan ikut protes soal siapa tokohnya, tapi pada esensi Hari Kartini yang kerap kali dimaknai sebagai hari lahirnya emansipasi wanita di negeri ini. Lalu, emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Kartini?

Tak bisa dipungkiri, surat-surat RA. Kartini memang memiliki andil sehingga perempuan-perempuan masa kini memperoleh hak untuk bersekolah dan merasakan pendidikan. Suara-suara RA. Kartini yang tertuang dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” kemudian menjadi pembenaran atas maraknya emansipasi wanita dan kampanye kesetaraan gender serta isu-isu feminis lainnya yang kini ramai diperbincangkan.

Emansipasi wanita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. Sayangnya, emansipasi kini menjadi topeng bagi para wanita untuk menuntut kesamaan hak dengan laki-laki dalam berbagai aspek. Mereka seakan-akan bersaing dengan laki-laki dalam bidang apapun. Tanpa disadari bahwa bagaimana pun laki-laki dan perempuan memanglah berbeda. Ya, secara kedudukan mereka memang sama dan setara, tapi Tuhan sudah membekali laki-laki dan perempuan dengan keistimewaan masing-masing, sepaket dengan hak dan kewajiban masing-masing yang—lagi-lagi—tidak bisa disamaratakan.

Lalu, emansipasi seperti apakah yang sebenarnya diinginkan oleh RA. Kartini? Berikut salah satu kutipan surat beliau dalam Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat RA. Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Nah, silahkan simpulkan sendiri. RA. Kartini ingin agar kaum perempuan belajar lebih banyak agar ia mahir dalam menjalankan kewajibannya, yaitu kewajiban kodrati seorang perempuan: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama, bukan menjadi pesaing laki-laki. Bukankah begitu juga yang diatur dalam Islam? 🙂

“Dan wanita adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugasnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Semoga realitas emansipasi wanita yang kini berjalan tidak membuat RA. Kartini menjadi sedih. Seharusnya momen ini bisa menjadi pengingat bagi kita, kaum wanita, untuk lebih menyadari peran dan tanggung jawab kita. Saya sendiri memaknai Hari Kartini dengan mencoba menumbuhkan kesadaran bahwa segala keleluasaan yang didapat perempuan sekarang ini adalah untuk memaksimalkan peran kita sebagai perempuan: menjadi Ibu, sekolah pertama generasi emas.

Bagaimana denganmu? 🙂

Pendapat saya tentang emansipasi wanita bisa dibaca di sini. Mohon koreksi jika ada kesalahan. Selamat berkarya, Muslimah 🙂

Berbahagialah Wahai Muslimah, tak perlulah engkau risau untuk menjadi sama dengan kaum Adam, engkau itu istimewa.

Islam begitu menghormati wanita, untuk itulah ada perintah berhijab. Wanita itu mahal sehingga Islam terlalu sayang jika keindahan tubuh mereka dapat disaksikan oleh siapa pun secara cuma-cuma. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena Allah menganugerahkan sifat penyayang yang lebih untuk kaum mereka. Bahkan, seorang wanita yang sholihah itu lebih baik dari seribu lelaki sholeh. Bahkan dalam suatu hadist Nabi disebutkan, “Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapakmu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.” Allah juga memberikan jalan yang begitu indah untuk para wanita agar bisa menggapai surga. “Wanita yang taat dan berkhidmat pada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga.” Ya, sebegitu istimewanya seorang wanita dalam islam.

 

Pojok Biru 2,

21 April 2013

19.34 Waktu Bagian Cinta Muslimah

(Kalau boleh menjawab mengapa ada Hari Kartini tapi tidak ada Hari lain-lain? Mungkin saja karena Kartini menulis, sedang kita tahu apa yang ditulis akan terkenang dan apa yang terucap saja akan hilang)

perempuan

Berbagi Cerita dan Foto #jilbabkuitu , Dapatkan Gamis Cantiks dan Sepaket Alat Kecantikan+Jilbab! Free!

Assalamualaikum Ukhti, Pasti kalian punya cerita yang tak terlupakan dan inspiratif tentang jilbabmu kan? Jangan simpan cerita itu sendiri, berbagilah dan tebar inspirasi dengan saudarimu. Nah, Kemuslimahan Gamus IM Telkom sedang mengadakan kuis loh tentang #jilbabkuitu , hadiahnya seru. Bagaimana caranya? Yuk baca poin-poin di bawah ini:
1. Siapkan cerita atau foto termenarik yang kamu punya tentang pengalamanmu dan jilbabmu.
2. Bagikan cerita itu di twitter dengan hashtag #jilbabkuitu dan mention @gamusimtelkom . Cerita boleh berbentuk kultwit, panjang cerita tidak dibatasi. Follow juga ya @gamusimtelkom , insyaAllah banyak update inspiratif dari sana ^^
3. Untuk lomba foto, silahkan join di FB: Kemuslimahan Gamus IM Telkom . Upload foto-foto seru tentang jilbabmu bersama muslimah kesayanganmu (boleh ibu, kakak, sahabat, siapapun) di sana. Beri deskripsi minimal 1 kalimat tentang foto itu.
4. Lomba dimulai dari tanggal 11-14 Februari 2013 dan diumumkan pada tanggal 15 Februari 2013 melalui akun @gamusimtelkom atau FB Gamus Imtelkom
5. Lomba terbuka untuk semua muslimah di manapun berada.
6. Ada satu buah gamis dari @GamisCantiks untuk cerita termenarik. Koleksi gamisnya bisa dilihat di gamiscantiks.com atau like dan lirik galeri fanpage FB: Gamis Cantiks Aluna . Pemenang boleh memilih gamis sesuai keinginan (kategori gamis Aluna Simpel/ Ciks).
7. Ada satu paket alat kecantikan dan sebuah jilbab untuk foto termenarik dan hadiah menarik untuk foto dengan like terbanyak.
8. Pemenang akan dihubungi oleh panitia. Hadiah bisa diambil di sekretariat Gamus IM Telkom, Gedung B Institut Manajemen Telkom, Jalan Telekomunikasi, No. 1, Dayeuh Kolot, Bandung. Jika pemenang dari luar kota, hadiah bisa dikirim dengan syarat ongkos kirim ditanggung pemenang.
9. Tunggu apalagi? Siapkan ceritamu dan sebarkan informasi ini sebanyak-banyaknya 😀 Untuk informasi lebih lanjut silahkan mention @gamusimtelkom atau sms/ whatsapp Himsa 0857 2680 0487 .
10. Keep istiqamah, Muslimah!

PS: Pengurus Gamus boleh ikut, tapi jajaran pengurus inti sampai kadiv jangan harap jadi pemenang yah 😀

Cerita dan Celoteh, perempuan

Dongeng Sebelum Tidur (Seharusnya Perempuan Itu..)

Sejak Ipank meninggal, saya sering berbicara sendiri pada ruang kosong bernama line. Di sana, saya asyik berbicara dengan seseorang yang saya tahu pasti tak akan mengaktifkan akun line miliknya. Well, sometimes, that’s so interesting. 😀 Kadang, saya juga mendongeng tidak jelas kepada Upin, Pinu, atau kepada diri saya sendiri. Malam ini, saya ingin mendongengi diri sendiri. Tentang rangkuman nasihat dari Abah, Ibu, dan lainnya. Nasihat untuk perempuan. Akan kubagi untukmu, Cantik. 🙂
Tadi sore, Abah menelepon santai seperti biasanya. Tapi pembicaraan beliau, bagiku sangat serius. Berikut percakapan kami.
Abah: Lagi ngapain, Vi? Libur asyik nih tidur seharian.
Continue reading “Dongeng Sebelum Tidur (Seharusnya Perempuan Itu..)”