Mama Curhat, Mama Lyfe

Trik Mengurus Rumah Tangga Tanpa ART

Foto ilustrasi dari free photo library

Hai haloo. Ahimsa kembali lagi ngeblog. Kali ini aku ingin cerita pengalaman sebagai mama dua anak balita yang seringkali sok rempong sendiri dan jadi alasan biar nggak nulis ๐Ÿ˜‚. So, kali ini aku mau nulis. Mau terus melawan segala kemageran ceritanya. Mager nulis, ya lawan deegan nulis. Males nyapu, ya lawan dengan cepet ambil sapu lalu kerjakan. Males nyetrika, ya cepet nyetrika. Karena cara melawan males ya dengan dikerjakan. Bukan begitu buibu?

Jadi ceritanya, beberapa waktu ini aku mencoba menerapkan pola yang lebih disiplin supaya nggak keteteran ngurus rumah dan anak. Apalagi suami sering banget ada kerjaan keluar kota kan. Sementara itu, kami sepakat untuk nggak pakai jasa ART (Asisten Rumah Tangga) karena beberapa hal. Jadi kalau suami pergi tuh, biasanya rewel rungsing sendiri aku tuh. Selain capek karena ngurus semua sendiri, ya gimana gitu ya nggak ada temen ngomel sebelum tidur. Kalau ada suami kan, sepulang suami kerja, ada yang nemenin anak-anak, aku bisa melipir beberes. Abis itu ada temen ngobrol. Nah kalau dia nggak ada, ya aku harus atur banget supaya tetep bisa beberes tanpa nunggu ada yang jagain anak-anak.

Nah, lama-lama aku mikir, ya masa mau rungsing terus tiap suami keluar kota?
Lalu aku praktekkan beberapa trik ini. Well, ini juga trial error sih sampai aku ketemu di titik ini. Setiap rumah tangga pasti punya cara yang berbeda. Tapi semoga saja satu atau beberapa dari trik ini bisa diterapkan juga untuk mengurangi kerempongan mama dalam bekerja dan berpikir. Tsaaah.

Berikut trik mengurus rumah tangga tanpa ART versi Ahimsa.

Continue reading “Trik Mengurus Rumah Tangga Tanpa ART”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Mama Curhat, Mama Lyfe

Berdamai dengan Keterbatasan Diri

Fiuhhhh. Begitulah leganya aku ketika rumah sudah bersih, anak-anak tidur dan mereka sudah makan, semua urusan rumah beres dan target harianku selama puasa terpenuhi. Eh tunggu, terpenuhi?

Ternyataaaa, jauh, Pemirsa. Target bacaan Qur’an belum maksimal, hari ini gatot nulis sesuai tema, dan diuji banget dengan aktivitas anak-anak seharian. Rasanya kuingin marah melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini, lah malah nyanyi.

Tulisan ketiga hari ini harusnya ada temanya sesuai challenge yang aku ikuti. Iya, aku sedang mengikuti tantangan 30 hari menulis blog. Tidak tanggung-tanggung, aku mengikuti dua event dari dua komunitas sekaligus, dari @bloggerperempuan dan @bloggersumut. Terkadang satu tulisan bisa untuk dua event itu sekaligus, tapi jiwa perfeksionis dalam diriku sering memberontak ingin menulis dua topik yang berbeda. Apalagi untuk @bloggerperempuan temanya ditentukan.

Nah sayangnya, tema yang sudah kusiapkan untuk hari ketiga ini gagal aku eksekusi karena aku kehilangan struk pembelian produk yang akan diulas. Bete? Banget. Continue reading “Berdamai dengan Keterbatasan Diri”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Mama Curhat, Mama Lyfe

Tempat Buka Puasa Favoritku Selama di Medan

Hmm sebenarnya, kalau ngomongin tempat buka puasa favorit mah di rumah ya. Ngumpul bareng-bareng, makan apa aja juga seru. Tapi kadang memang ada momennya kita makan di luar, entah bertepatan dengan acara buka bersama atau ya sekadar mau cari suasana baru bareng keluarga.

Selama tinggal di Medan sih, ada dua tempat yang cukup mengena buat aku kalau lagi buka di luar. Mari coba kita ulas yaa..

Continue reading “Tempat Buka Puasa Favoritku Selama di Medan”

Mama Curhat, Mama Lyfe

Naya dan Toilet Training

Hai, I’m come back. Kali ini cerita perjalanan as a mother. Ini hanya cerita ya. Sekalian kemarin mencatat perkembangan Naya sejak toilet training. Saya banyak belajar dari tulisan ibu-ibu di blog tentang proses toilet training anaknya. Then, saya juga jadi semangat ikut nulis juga. Mungkin ada emak-emak yang jadi semangat ngajarin anaknya TT setelah baca ini. Aamiin.

Continue reading “Naya dan Toilet Training”

Mama Curhat, Mama Lyfe

Pengalaman Hamil dengan Toksoplasma

Ketika saya divonis dokter tengah terpapar toksoplasma di usia kehamilan sepuluh minggu, saya jelas saja syok sekali. Berbagai hal buruk tentang risiko yang mungkin akan diderita janin di kandungan membuat saya stress. Hampir saja saya menggugurkan bayi ini, tapi alhamdulillah tidak jadi.

Saat itu, saya mencari banyak referensi tentang TORCH, khususnya Toksoplasma saat hamil. Tapi, yang keluar dari google adalah informasi yang buat saya cukup mengerikan dan membuat saya semakin gila serta overthinking. Hingga saya nemu beberapa artikel di blog yang menceritakan pengalaman hamil dengan toksoplasma. Dari situ, saya membaca nada optimisme. Bahwa segala kemungkinan masih bisa terjadi. Bahwa prasangka baik itu harus terus ditumbuhkan. Entah apapun hasilnya.

Mengingat masa itu, saya jadi ingin menceritakan pengalaman ini juga di blog. Barangkali ada ibu hamil yang juga mengalami apa yang saya alami, dan bisa saling berbagi serta menguatkan. Continue reading “Pengalaman Hamil dengan Toksoplasma”

Mama Curhat, Mama Lyfe, perempuan

Cerita Hamil #2: Terima Kasih, Ibu

 

“Bu, ternyata begini ya hamil. Dulu Ibu begini juga ya pas hamil aku?”

Itulah yang saya sampaikan kepada ibu saya beberapa hari yang lalu ketika perut saya didera sakit. SayDSCF1263a sampaikan pertanyaan itu dengan mata berkaca-kaca dan hati yang tulus. Sepaket simbol permintaan maaf dan terima kasih sudah mengandung dan melahirkanku.

Ibu hanya tersenyum lalu menjawab, “Ya begitulah kodratnya wanita. Jalani dengan ikhlas, nanti kamu mengerti sendiri kebahagiaannya ketika anakmu sudah lahir.”

Saya diam-diam menitikkan air mata. Ada rasa yang saya tidak bisa mendefinisikan bagaimana. Ada pertanyaan berulang di kepala saya. “Saya akan menjadi ibu?”

Ya, rasa sakit yang saya alami beberapa hari lalu mengingatkan saya pada masa trimester pertama kehamilan. Saya akui, trimester pertama adalah masa terberat. Bisa dipastikan setiap hari didera mual atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘morning sickness’. Walaupun istilahnya begitu, yang saya alami adalah ‘all day sickness’. Nggak hanya menunggu morning, siang malam pun rasa mual bisa datang kapan saja. Setiap habis makan, pasti langsung muntah. Capek sedikit, pasti muntah. Belum ditambah peningnya. Tapi saya masih bersyukur, berdasar pengalaman teman-teman bumil lainnya, ternyata banyak yang lebih parah dari saya. Ada yang sampai tidak doyan nasi dan masakan yang mengandung bawang sehingga harus dipaksa makan buah. Bahkan ada yang sering pingsan, mengalami lemah kandungan, dan lain-lain. Saya yakin setiap calon ibu diberi cobaan demikian sepaket dengan kekuatannya masing-masing. Sakit memang, tapi entah ini rasa apa namanya, saya tulus bahagia merasakan semua sakitnya. Saya yakin setiap calon ibu merasakan apa yang saya rasakan. Ah, begitu pulakah yang dulu ibu saya rasakan ketika mengandungku? Continue reading “Cerita Hamil #2: Terima Kasih, Ibu”