Mama Curhat, Mama Lyfe

Pengalaman Hamil dengan Toksoplasma

Ketika saya divonis dokter tengah terpapar toksoplasma di usia kehamilan sepuluh minggu, saya jelas saja syok sekali. Berbagai hal buruk tentang risiko yang mungkin akan diderita janin di kandungan membuat saya stress. Hampir saja saya menggugurkan bayi ini, tapi alhamdulillah tidak jadi.

Saat itu, saya mencari banyak referensi tentang TORCH, khususnya Toksoplasma saat hamil. Tapi, yang keluar dari google adalah informasi yang buat saya cukup mengerikan dan membuat saya semakin gila serta overthinking. Hingga saya nemu beberapa artikel di blog yang menceritakan pengalaman hamil dengan toksoplasma. Dari situ, saya membaca nada optimisme. Bahwa segala kemungkinan masih bisa terjadi. Bahwa prasangka baik itu harus terus ditumbuhkan. Entah apapun hasilnya.

Mengingat masa itu, saya jadi ingin menceritakan pengalaman ini juga di blog. Barangkali ada ibu hamil yang juga mengalami apa yang saya alami, dan bisa saling berbagi serta menguatkan. Continue reading “Pengalaman Hamil dengan Toksoplasma”

Mama Curhat, Mama Lyfe, perempuan

Cerita Hamil #2: Terima Kasih, Ibu

 

“Bu, ternyata begini ya hamil. Dulu Ibu begini juga ya pas hamil aku?”

Itulah yang saya sampaikan kepada ibu saya beberapa hari yang lalu ketika perut saya didera sakit. SayDSCF1263a sampaikan pertanyaan itu dengan mata berkaca-kaca dan hati yang tulus. Sepaket simbol permintaan maaf dan terima kasih sudah mengandung dan melahirkanku.

Ibu hanya tersenyum lalu menjawab, “Ya begitulah kodratnya wanita. Jalani dengan ikhlas, nanti kamu mengerti sendiri kebahagiaannya ketika anakmu sudah lahir.”

Saya diam-diam menitikkan air mata. Ada rasa yang saya tidak bisa mendefinisikan bagaimana. Ada pertanyaan berulang di kepala saya. “Saya akan menjadi ibu?”

Ya, rasa sakit yang saya alami beberapa hari lalu mengingatkan saya pada masa trimester pertama kehamilan. Saya akui, trimester pertama adalah masa terberat. Bisa dipastikan setiap hari didera mual atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘morning sickness’. Walaupun istilahnya begitu, yang saya alami adalah ‘all day sickness’. Nggak hanya menunggu morning, siang malam pun rasa mual bisa datang kapan saja. Setiap habis makan, pasti langsung muntah. Capek sedikit, pasti muntah. Belum ditambah peningnya. Tapi saya masih bersyukur, berdasar pengalaman teman-teman bumil lainnya, ternyata banyak yang lebih parah dari saya. Ada yang sampai tidak doyan nasi dan masakan yang mengandung bawang sehingga harus dipaksa makan buah. Bahkan ada yang sering pingsan, mengalami lemah kandungan, dan lain-lain. Saya yakin setiap calon ibu diberi cobaan demikian sepaket dengan kekuatannya masing-masing. Sakit memang, tapi entah ini rasa apa namanya, saya tulus bahagia merasakan semua sakitnya. Saya yakin setiap calon ibu merasakan apa yang saya rasakan. Ah, begitu pulakah yang dulu ibu saya rasakan ketika mengandungku? Continue reading “Cerita Hamil #2: Terima Kasih, Ibu”