Cerita dan Celoteh, GAMUS

Menjadi Alumni

FEB Univ. Telkom

Dulu sekali, saat masih memegang amanah di organisasi, saya sering merindukan para alumni. Terlebih saat tahun terakhir kepengurusan, saat kita menjadi “kakak tertua” dan mereka yang kita panggil “kakak” telah pergi ke berbagai belahan kota untuk melanjutkan kehidupan masing-masing. Ingin rasanya bercerita kepada mereka saat adik-adik mengeluh atau saat masalah yang kami hadapi terasa begitu berat. Ingin sekali mereka ada seperti dulu saat kami masih menjadi staf. Dibimbing, diajari, walaupun tak jarang dikritik. Melalui pesan whatsapp, sms, atau media apapun, tak jarang pesan ini terucap, “Teteeeeh/Kakaaak kapan ke Bandung? :(” lengkap dengan emoticon sedih. Bukan sedih yang dibuat, apa adanya.

Saya ingat sekali di akhir kepengurusan, kami mengalami banyak problem. Walaupun hanya melalui telepon, mereka bersedia mendengarkan cerita kami. Entah bagaimana cara mereka meluangkan waktu. Tapi didengarkan dan dinasihati begitu terasa menenteramkan. Bahkan mereka pun menghubungi kami, menawarkan solusi, walaupun raga mereka tak dapat hadir. Begitulah, para alumni adalah kakak yang akan selalu dirindukan. Tak jarang kerinduan itu kadang begitu egois.

Ya, dulu sekali, saya selalu berharap alumni masih dan akan selalu ada di sekitar kami. Meluangkan segenap jiwa untuk kami. Saya lupa bahwa kehidupan berputar. Dan sekarang, putaran itu pun membuatku sampai di titik ini: menjadi alumni. Continue reading “Menjadi Alumni”

GAMUS

Halo, Senja

Senja, sore ini.
Senja, sore ini.

Di antara siluet senja yang tertutup mendung

Rintik hujan yang tak terbendung

Mimpi yang terkurung

Sebenarnya ada jeda untuk merenung.

 

Kamu..

Sedang menikmati senjakah?

Di sini, orang-orang terperdaya hawa tenang.

Lurus menikmati keadaan.

Duduk diam menunggu hujan reda.

Sementara aku ingin berlari.

 

Karena aku percaya, langit masih berwarna biru.

Kamu percaya? Semoga.

Aku bahkan percaya kita akan dipertemukan karena kepercayaan kita akan birunya langit ketika mendung mengusik.

 

Selamat menikmati senja. Continue reading “Halo, Senja”

Cerita dan Celoteh, GAMUS

A Little Thing Called “KEPO”

Ceritanya baru aja nonton film “A Little Thing Called Love” makanya jadi agak terpengaruh gitu ke judul tulisan ini. Haha. Ke mane aje lu, Hims, hari gini baru nonton tuh film? Santai aja kelees (gaya Feni), gue kan nggak hobi film kecuali disodorin atau ada novel kesukaan yang difilm-in. Hehe. Nah, apa hubungan antara film itu dan tulisan ini? Nggak ada sih, biar keren aja (Gubrak!). Ya intinya saya nggak ngobrolin tentang “love” tapi “kepo” walaupun “kepo” dan “love” sebenarnya saling berhubungan. Nah lho? Sabar. Baca dulu ocehan tidak jelas saya ini sampai selesai 😀 Walaupun–lagi-lagi–tulisan ini akan jadi random sekali. Otak saya masih dalam posisi randomisasi tingkat tinggi yang artinya nggak bisa diajak skripsian. Jadi, daripada saya nggak produktif, saya ngerandom aja di sini ya 😛

Hmm, sudah pernah saya singgung sebelumnya sih, saya sering merasa orang zaman sekarang malas peduli karena malas dibilang kepo. Mungkin juga saya. Jadi, ketika kita ketahuan kepo-in seseorang jadinya malu. Padahal mah nggak apa-apa. Bukan semua yang kepo berarti ada apa-apa kan? Kepo itu tanda sayang. Tapi kalau dikepoin juga nggak usah kegeeran macam-macam dan mengartikan sayang yang gimana-gimana. Apalagi perempuan, saya sudah bilang berkali-kali, nggak usah melayang-layang, nanti jatuh kalau sakit. Tapi juga nggak usah kepo-in yang nggak penting juga, nanti sakit hati. Pengalaman ya, Hims? 

keep-calm-and-stay-kepo

Keep calm aja Bro Sist. Keep kepo! Karena menurut saya kepo itu perlu. Continue reading “A Little Thing Called “KEPO””

GAMUS

#GamusStory Apakah Ini yang Terakhir?

Ketua Sementara LDK Al-Fath Universitas Telkom
Ketua Sementara LDK Al-Fath Universitas Telkom

Kampus berubah. Empat institusi disatukan dalam wadah universitas. Untuk sementara waktu semua status ormawa demisioner. Semua harus memulai lagi. Semua harus berjuang lagi. Begitulah, selalu ada pengorbanan untuk setiap perubahan. Bagiku, beruntunglah mereka yang di hatinya punya rasa gelisah atas kondisi keberlanjutan dakwah mengingat semua kondisi itu. Maka tulisan ini saya awali dengan rasa salut saya pada tim unifikasi LDK Universitas Telkom yang berhari-hari mengesampingkan ego mereka, untuk menyusun banyak draft yang pasti memusingkan. But they do it surely. Entah berapa jam tidur mereka.

Saya sendiri pada awalnya tidak terlalu peduli, masalah ini sejujurnya tidak menjadi prioritas awalku. Dalam otakku, tanpa saya berkontribusi sekali pun, LDK akan tetap terbentuk dan berjalan sebagaimana mestinya. Terlebih lagi banyak agenda lain yang lebih menggoda untuk dikerjakan. Intinya, saya berpikir bahwa banyak orang yang lebih berkapasitas dari saya untuk menjalankan amanah tersebut. Tapi ternyata saya salah. Bukan dakwah yang membutuhkan saya, tapi saya yang membutuhkan dakwah.

Allah lalu ‘menyesatkan’ku untuk tergabung dalam tim unifikasi tersebut. Jangan bayangkan saya sekeren teman-teman lain, saya hanya nimbrung lalu bersyukur sekali bisa merasakan langsung cinta yang menggelora pada dakwah dari tim unifikasi ini.

“Himsa, hari ini bisa datang syuro kan?” melalui sms dari Pak Ketua, saya memutuskan untuk datang ke DKM siang itu. Bismillah. Di sanalah semua persepsi dan ketidakpedulianku perlahan berubah. Mereka (teman-teman dari LDK 4 kampus) tampak begitu total membicarakan dan menyusun semua rancangan pembentukan LDK ini. Aku deg-degan serius. Allah, kenapa aku tak segelisah mereka?  Kenapa aku tidak sesedih mereka jika dakwah berhenti? Saya mulai was-was dengan diri saya sendiri. Semangat mereka berkobar. Semakin membakar diriku. Daaan, ketika kita memutuskan untuk terjun berkontribusi, apa yang kita terima sebenarnya jauh lebih besar dari kontribusi kita.

Hingga Muktamar LDK Universitas Telkom dilaksanakan, saya semakin gemetar. Mengingat banyak sekali perjuangan kawan-kawan, mengingat saya yang tak berbuat banyak, mengingat saya yang beruntung terus diingatkan, mengingat apa yang telah terjadi selama tiga tahun lebih bergabung di lembaga dakwah. Sore ini, melalui sebuah pesan whatsapp, saya merinding mendengar bahwa LDK Universitas Telkom telah dibentuk melalui Muktamar LDK yang dilaksanakan pada 22-24 November 2013. LDK Al-Fath. Sebuah kemenangan.

Saya jadi ingat tiga setengah tahun lalu ketika pertama kali masuk Gamus (LDK IMT). Jujur, sama sekali saya tak berniat untuk aktif menjadi pengurus di dalamnya. Awalnya, saya bergabung karena menemukan kakak-kakak di organisasi itu. Karena mereka menerimaku dan menganggapku penting. Ketika mereka mengajakku untuk sama-sama belajar. Padahal kalau diingat, 2010 itu Himsa sedang dalam fase jadi orang yang paling nyebelin karena marah sama diri sendiri. Karena marah atas impian yang tak pernah kucoba. Karena marah kenapa saya harus di IMT bukan di UI. Saat itu perlahan saya sadar, Gamus mungkin adalah salah satu alasan kenapa saya ditempatkan di kampus ini. Dari Gamus, saya mengenal sebuah organisasi bernama Lembaga Dakwah Kampus, satu hal yang sama sekali tak pernah kupikirkan sebelumnya. Entah daya tarik seperti apa yang diatur Allah, Gamus menarik hati saya dan memperkenalkan saya pada kata ‘dakwah’. Ya, Gamus mungkin tidak sebesar Gamais atau Salam yang sudah luar biasa. Tapi justru karena itulah Gamus dapat menarik orang-orang seperti Himsa yang bandel ini. Hehe. Dan hari ini, ketika Muktamar LDK ini dilaksanakan, mau tidak mau sebuah perubahan harus terjadi. Bagaimana nasib Gamus selanjutnya? Hilangkah? Meleburkah? Menjadi satukah? Ganti namakah? Continue reading “#GamusStory Apakah Ini yang Terakhir?”

Cerita dan Celoteh, GAMUS

MENJADI MAHASISWA: APA NIATMU?

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Selamat datang Mahasiswa Baru Telkom Business School, Telkom University. Bagaimana rasanya? Menyenangkan kah? Atau masih rindu masa-masa SMA? J Apapun itu, berbahagia lah menyambut kehidupan penuh warna yang akan dijalani nanti.

“Akan ada suatu keadaan, kenangan, dan orang-orang tertentu yang pernah singgah dalam hati kita dan kita pun tidak akan pernah sama lagi seperti kita sebelumnya.” (5cm)

#artwork2 cocpy

Ya, seberapa indah pun masa putih abu-abu itu, ia hanyalah sepotong episode dalam hidup kita yang pasti berlalu. Kita pun tidak akan pernah sama lagi seperti kita sebelumnya. Kita sekarang mahasiswa, yang memiliki tahap lebih tinggi dari SMA. Sudah bukan saatnya lagi bersenang-senang tanpa tujuan, tapi sekarang lah waktunya mendekatkan mimpi, merangkai tanggung jawab, menjadi manusia yang benar-benar manusia. Di sinilah mungkin kita akan merasakan sensasi bahwa hanya Allah lah yang paling setia, tempat segala bergantung, ketika keluarga dan sahabat sedang sibuk menata hidupnya sendiri. Di sinilah kita belajar mengelola air mata, mengelola bahagia, menjadikan diri kita manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Menjadikan kata dewasa adalah langkah yang harus kita tempuh. Di sinilah kita akan merasakan betapa keluarga kedua itu benar-benar ada. Di sinilah kita akan merasakan sebuah perjuangan pahit berujung manis. Di sinilah kita akan belajar bertanggung jawab pada diri kita sendiri.

Tapi kuliah tetaplah hanya fasilitas, karena sejatinya tetap kita sendiri yang memilih akan menjadikan apa diri kita ini setelah status mahasiswa kita sandang. Lalu, apa niatmu ketika memutuskan untuk melanjutkan hidup sebagai mahasiswa? Continue reading “MENJADI MAHASISWA: APA NIATMU?”

GAMUS

#GamusStory Mewarna di Jogja

IYC 2013 - UNY

Tak ada kata yang paling tepat untuk mewakili setiap perjalanan ini selain “subhanallah”. Akan ada banyak terima kasih di balik tawa ceria yang terlukis pada foto di atas. Barangkali benar, sejatinya kebetulan itu tak ada. Allah merangkai setiap frame kehidupan untuk melengkapi frame lainnya.

Cerita berawal di sebuah malam yang penuh kegalauan. Sederhana saja, semua berawal dari pertanyaan galau: “Apa yang sudah aku lakukan selama kuliah?”. Setelah itu, daftar mimpi yang saat itu belum kurapikan di blog ini dan kutempel di dinding kamar, memanggilku pelan-pelan. Ada beberapa daftar yang menunggu untuk dicapai. Kalau sudah seperti itu, aku biasanya melamun sebentar sambil browsing artikel atau kepo timeline apa aja, hehe. Saat itulah, di sebuah ruang tumblr, bertemulah Himsa dengan informasi itu: ada Call for Paper bertema Integrasi Nilai-Nilai Islam melalui Pendidikan. Tema yang tepat untuk mewujudkan mimpi kecil—yang bahkan belum sempat tertulis: mewarna bersama tim Kemuslimahan Gamus IM Telkom, berdakwah dengan prestasi.

Perjalanan ini pun dimulai. Bersama Haning dan Nadya, kami ikhtiar dengan bismillah, juga sedikit nekat karena sebenarnya dateline tidak lebih dari 14 hari tersisa. Kalau merenungi lagi kisahnya, kami selalu bilang: “Ya Rabb, Alhamdulillah Engkau mudahkan semua prosesnya”. Hari pertama berkumpul di perpustakaan, kami bertemu dengan Bu Eka. Kami menghadap beliau dan memohon beliau untuk menjadi pembimbing kami, namun rupanya saat itu beliau sibuk, “Gini aja, untuk tema paper kalian, saya punya teman yang bisa membimbing kalian, namanya Bu Yuda. Ada nomornya?” Kami lalu menghubungi Bu Yuda, kebetulan Bu Yuda juga merupakan salah satu pengisi rutin Keputrian tiap hari Jumat. Namun sayang, tidak diangkat. Tak berapa lama, beliau malah menelepon balik, memberikan dukungan dan semangat serta kesediaan untuk membimbing.

“Nggak apa, Dek, dateline udah dekat juga tak apa, dicoba dulu saja. Niatkan dakwah karena Allah. Minimal kalian mencoba dan belajar,” kata Bu Yuda, membuat kami semakin semangat.

“Tapi kita belum bisa ketemu, saudara saya sakit di Garut, jadi mesti ke Garut dulu, nanti by email saja yah,” lanjut beliau. Tak masalah buat kami, beliau bersedia pun kami sangat bahagia.

Kami pun semakin semangat, beberapa judul kami rumuskan, dan kami sepakat untuk mengambil tema khusus tentang youth community yang terintegrasi nilai Islam. Awalnya, kami akan mengangkat Ngabrink Community, salah satu komunitas positif Bandung yang menurut kami berbeda karena terselip nilai Islam yang ditanamkan di anggotanya. Seminggu berlalu, founder komunitas tersebut sulit dihubungi. Dateline makin dekat. Kami hampir menyerah. Continue reading “#GamusStory Mewarna di Jogja”

GAMUS

Dakwah Dulu Atau Memperbaiki Diri Dulu?

sumber gambar: ferilookinsid.wordpress.com
sumber gambar: ferilookinsid.wordpress.com

Pertanyaan yang kujadikan judul di atas cukup menarik bagiku. Dari serangkaian inspirasi yang disampaikan oleh Oki Setiana Dewi pada Mega Seminar, Minggu, 19 Mei 2013 di BPU UPI, pertanyaan “Dakwah dulu atau memperbaiki diri dulu?” benar-benar mengusikku. Ini pertanyaan sederhana, yang bisa jadi memiliki berbagai macam jawaban dengan berbagai macam pembenaran.

“Ya memperbaiki diri dulu lah, masa kita menyampaikan apa yang tidak kita lakukan?”

“Iya betul itu, kan kabura maqtan indallahi an taquulu maa laa taf’aluun.”

“Orang yang banyak ngomong tapi nggak action ya sama aja munafik. jadi ya memperbaiki dulu lah.”

Sah-sah saja jawaban di atas. Memang benar adanya. Tapi jangan sampai kita fokus memperbaiki diri sendiri tapi lupa mendakwahkannya. Kalau kata salah seorang sahabat, “itu namanya mau soleh sendirian”. Yang lebih parah, kita nggak mau berdakwah dengan alasan mau memperbaiki diri dulu tapi nggak punya indikasi kapan diri kita sudah bisa disebut baik untuk berdakwah. Nah lho? Dulu, Himsa juga begitu. Hehe. Himsa takut hidup di area dakwah, lebih tepatnya takut tidak bisa menjalankan apa yang disampaikan. (Tapi nyemplung juga di lembaga dakwah kampus, haha). Alhamdulillah, suatu keadaan ‘memaksa’ku untuk mengemban amanah dakwah. Perlahan-lahan, sebagaimana saya tulis dalam tulisan sebelum ini, amanah dakwah menjadi pengingat dan nasihat terbaik supaya kita terus memperbaiki diri. Continue reading “Dakwah Dulu Atau Memperbaiki Diri Dulu?”