Cuplikan Buku, Prosa dan Puisi

Mencemburui Masa Lalu

image

Suatu kali saya pernah memiliki pertanyaan, “apakah setiap orang pernah mencemburui masa lalu pasangannya?”. Saya, jujur saja, pernah. Lalu, pikiran saya terbang menuju berbagai situasi lampau di mana seandainya pada masa lalu itu, saya lah yang ada di sebelah pasangan saya, bukan orang lain. Tapi pikiran saya yang lain seperti membunyikan alarm sendiri. Hei, bukankah di masa yang sama yang telah lampau itu, saya pun juga memiliki kisah sendiri? Adil. Bukankah kita dibersamakan sepaket dengan masa lalu, masa kini, dan (semoga) masa depan? Saya terdiam lagi.

Continue reading “Mencemburui Masa Lalu”

Cerita dan Celoteh, Cuplikan Buku, Prosa dan Puisi

Kamu dan Keberuntungan

image

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.
Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.
“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”
Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.
Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”
Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”
Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.
“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa. Continue reading “Kamu dan Keberuntungan”

Cerita dan Celoteh, Cuplikan Buku, perempuan

#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan

image

Randomisasi hari ini disponsori oleh suami yang kasih surprise karena pulang dua hari lebih cepat dari jadwal dinasnya. Wuhu! Temanya tentang perempuan dan harapan. Dua kata yang secara umum sering disandingkan. Nah apa hubungannya sama suami pulang lebih cepat? 😀
Jadi begini ceritanya.. Hampir tiap bulan, ada saja suami saya dapat tugas dinas ke luar kota. Entah ke Aceh atau sekitaran Sumatera Utara. Alhasil, udah pasti dong saya sering ditinggal? Hehe. Continue reading “#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan”

Cuplikan Buku, Prosa dan Puisi

Menemukanmu

image

Menemukanmu adalah seperti menemukan angka di saat aku berenang di dalam lautan abjad. Menemukanmu adalah seperti bermain di pantai. Aku mencari kerang dan mutiara di sepanjang pasir putih, namun kamu adalah sebentuk mawar biru yang tiba-tiba tumbuh di sana. Menemukanmu adalah sebuah perjalanan berhenti menerka, karena takdir Tuhan terlalu indah untuk diterka. Sekalipun untuk aku yang terlalu banyak menerka.

Continue reading “Menemukanmu”

Cerita Fiksi, Cuplikan Buku

Foto

quote kenangan 

Ada kebisingan yang memekaki telingaku di ruang ini. Ruang kosong, berdinding putih kusam, dengan cahaya temaram. Tidak ada siapa-siapa di ruang itu, selain aku dan kamu. Oh, bukan,lebih tepatnya, aku dan foto masa kecilmu. Gigimu belum ada di foto itu, karena jika sudah ada, aku yakin mereka pasti akan berjajar rapi menghiasi wajah ceriamu, sebagaimana ciri khas semua fotomu saat kamu tersenyum. Aku lupa usiamu berapa di foto itu—mungkin enam bulan. Aku lupa. Yang aku ingat, kita terakhir bertemu tepat enam tahun yang lalu. Saat setiap cerita berakhir dengan jalan cerita yang sama sekali tak kuinginkan. Hari itu, semua tentangmu sudah tak ada. Kecuali foto ini, yang terselip di bawah pintu, yang mungkin jatuh ketika aku mengemasi semua barangku.

Maka, demi menemukan foto ini lagi, semua hal tentangmu bernyanyi dan bercerita bersahutan, memekaki telingaku. Semua. Dari suaramu yang menenangkan hingga suara serakmu ketika pamit.

Dulu, di ruangan kecil ini, aku menghabiskan masa kuliahku. Tiga tahun. Ruangan ini adalah saksi saat rinduku membuncah dengan pasrah. Atau saat suaramu menyapaku melalui telepon—yang sangat singkat. Tiga tahun kita bersahabat dengan hubungan tanpa pertemuan, yang bahkan hanya diikat dengan sekali dua perbincangan di yahoo messenger atau telepon. Selebihnya, kita berbicara lewat karya. Aku yang kaubaca dari tulisanku di tumblr. Dan kamu, yang kubaca dari gambar abstrakmu yang kauunggah di deviantart. Seindah dan semagis itulah hubungan tiga tahun yang kita jalani. Tiga tahun yang kita jaga demi masa depan. Walau nyatanya masa depan tak berpihak pada kita.

Kalau boleh mengenang, aku sering tak percaya bahwa cerita kita diawali dengan perpisahan dan diakhiri dengan pertemuan. Ingatkah kamu? Saat itu, kita sedang merayakan kelulusan sebagai siswa SMA—sekaligus keberhasilanmu memperoleh beasiswa untuk kuliah Ilmu Fisika di Inggris. Hari yang antah berantah buatku. Antara bahagia karena kita lulus, aku diterima di universitas impianku di negeri ini, dan kamu. Iya, kamu yang akan pergi jauh ke negeri orang.

“Zhira, nanti kalau aku udah berangkat, tunggu aku ya di masa depan.”

Fiuh! Aku masih ingat tulisanmu di sebuah sticker post it yang kamu tempel di buku tulisku. Yang bahkan sudah kusimpan rapi dalam kardus—harusnya kubuang, tapi entahlah. Tulisan yang terdengar konyol untuk remaja 18 tahun seperti kita. Tapi itulah janjimu yang kuterima dengan anggukan. Hari itu terakhir kita bertemu, karena setelahnya kamu sudah sibuk persiapan di Jakarta dan langsung berangkat ke Inggris. Aku sendiri melabuhkan cerita di kota ini, kota yang tak terasa sudah delapan tahun kutinggali. Kota yang menjadi saksi pertemuan yang mengakhiri hubungan kita. Tapi juga kota yang masih saja kucintai. Bandung.

Aku masih duduk lemas di lantai, belum selesai mengenang cerita kita. Nafasku masih naik turun tak beraturan. Aku sudah hampir menangis (entah karena apa) kalau saja handphone-ku tidak berdering. Ibu.

“Zhira, kamu di mana? Ini sudah jam tiga. Jam empat persis kamu udah harus siap di Selasar Sunaryo ya?”

“Iya, Bu. Dari Dipati Ukur ke Dago Pakar nggak lama kok.”

“Ya udah, yang penting cepet siap-siap ya? Takut macet. Kan weekend. Jangan kelamaan di kosan lama. Keluarga Hardi udah mau keluar tol Pasteur.

Aku belum sempat menjawab dan Ibu sudah menutup teleponnya. Hari ini datang juga. Hari pertemuan yang sangat kuhindari. Aku memutuskan untuk menyimpan foto masa kecilmu di dalam tasku. Kuputuskan untuk menunda mengenang tentang pertemuan kita yang menjadi akhir cerita. Aku paling benci bagian itu. Bagian yang membuatku cukup takut menghadapi pertemuan hari ini.

***

“Bagaimana jika suatu saat kamu justru berjodoh dengannya?”

Aku terngiang pertanyaan Nuffy yang sering sekali ditanyakan padaku ketika aku mulai mengeluh tentangmu. Tentang sakit yang kamu tinggalkan pasca kepergianmu.

“Fy, aku selalu berharap bisa hidup bahagia dengan laki-laki lain.”

“Kalau dia jodohmu?”

“Aku mau yang lain.”

“Tapi kalau tetap dia jodohmu?” begitu terus tanyanya berulang dan aku tetap menjawab dengan “aku mau yang lain”.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin sepenuhnya melepaskannya.”

Nuffy tertawa. Katanya, aku sama sekali sedang tidak melepaskanmu. Katanya, aku sama sekali belum ikhlas melepas kepergianmu. Tapi bagaimanalah, aku bahkan sudah menjauhimu bukan? Aku sungguh tak mengerti. Dan mungkin, Tuhan menjawab semua ketidakmengertianku itu melalui pertemuan yang dirancang Ibu ini. Entahlah, aku masih belum sampai di Selasar Sunaryo. Tapi mungkin saja, Tuhan punya jawaban di sana.

Continue reading “Foto”

Cuplikan Buku, Prosa dan Puisi

Dear, Kamu

image

Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bola mata yang hanya dengan menatapku lekat seperti mampu menghapus semua sakit. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk bahu bidang yang hanya kusandari seperti mampu membuatku memiliki dunia. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sebentuk pesan yang walaupun singkat tanpa rima seperti mampu membuat hati ini terus kuat. Aku tetiba amat merindukanmu. Merindukan sesosok senyum sederhana tapi mampu membuatku mengingat penciptanya. Sayangnya, aku bahkan tak tahu siapa kamu.
Continue reading “Dear, Kamu”

Cerita Fiksi, Cuplikan Buku

Saya, Jatuh Cinta (Barangkali Ini Cerpen)

7-manfaat-kesehatan-dari-jatuh-cinta

Saya harus mengetik tanda koma pada judul di atas karena pada dasarnya saya pun tidak yakin dengan pendapat saya sendiri bahwa saya sedang jatuh cinta. Bukan. Bukan saat ini. Saya bahkan lupa sejak kapan. Yang jelas, jatuh cinta—entah apapun namanya—resmi membuat saya menghilang dari untaian-untaian huruf. Dua puluh empat hari tidak bisa menulis sebenarnya adalah siksaan bagiku. Begitulah. Aku tidak berani menulis karena aku jatuh cinta. Sebuah kenyataan yang sangat berbalik dengan opini publik bahwa jatuh cinta—katanya—bisa meningkatkan produktivitas.

Ah, barangkali itu benar. Jika saja cinta itu tepat. Tepat versi Tuhan—dengan segala penjagaan-Nya.

Anggaplah cerita ini adalah cerita cinta dari seseorang yang menamai dirinya sebagai ‘saya’, entah siapa nama sebenarnya.

Baiklah, kamu mungkin sudah mulai menerka-nerka jatuh cinta macam apa yang sedang pernah kualami beberapa waktu lalu ini. Iya, kamu tepat. Tentu saja saya jatuh cinta kepada seorang lelaki. Jatuh cinta yang teramat diam-diam, walaupun akhirnya gosip-gosip mulai beterbangan karena wajah saya yang tidak dapat menahan rona merah seketika namanya disebut. Semoga ia tak mendengarnya. Saya jatuh cinta hanya karena ia mencintai huruf-huruf yang saya tulis. Saya juga tak yakin apa benar itu alasannya. Toh, apapun alasannya, saya yakin wanita normal pasti mengaguminya. Entahlah, saya tidak tahu sejak kapan. Dia, yang sebenarnya hampir tidak pernah terlibat dalam kehidupan saya, tiba-tiba terasa dekat (hanya terasa). Kenapa tidak dari dulu saat ia pertama kali menyapa kami dengan sapaan “adik-adik”? Kenapa baru sekarang saya baru bisa berpendapat bahwa saya jatuh cinta? Saya juga tidak tahu. Dia, dengan segala diamnya, senyumnya yang kucuri pelan-pelan ketika tak sengaja kita berada dalam satu forum, seperti mampu mengobati luka-luka lama. Saya tahu saya harus beristighfar berkali-kali untuk perasaan yang merajai hati dengan sangat berani ini. Saya bahkan tahu saya tak boleh mengulangi kesalahan yang sama—berharap pada manusia (yang sebenarnya pun bagai pungguk merindukan satelit). Continue reading “Saya, Jatuh Cinta (Barangkali Ini Cerpen)”