Cerita Fiksi

Buka Puasa Pertama Denganmu

Aku teringat lima tahun lalu, saat pernikahan kita baru berusia sebulan. Ramadhan pertama kita sebagai sepasang suami istri. Saat itu semuanya masih terasa manis. Menjelang berbuka, beberapa pesan masuk meramaikan grup whatsapp-ku. Juga grup yang sama dengan punyamu. Alumni IPA G SMA Cahaya 5 Surabaya.

“Ciye, yang buka sama sahurnya ada yang nemenin.”

“Ciye, buka puasanya masakin seseorang nih.”

“Ciye, puasanya barengan. Awas batal siang hari yaaa. Wkwkw.”

Aku tertawa sendiri membaca pesan-pesan itu. Memang, kita pasangan pertama yang menikah di kelas. Usia kita saat itu masih 21. Kamu nekat melamarku setelah yakin dengan usaha yang kamu rintis. Dan aku entah kenapa mau-mau saja, padahal aku sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahku. Pernikahan terasa sederhana bagiku yang saat itu dilanda resah setelah sekian lama memendam rasa untukmu. Gayung bersambut. Kamu melamarku secara tak terduga. Kedua orang tua kita pun memberi restu tanpa banyak syarat. Semua terasa mudah.

Kehidupan yang sempurna bukan?Menikah di usia muda dengan seseorang yang kuidamkan di masa remaja, menyelesaikan skripsi ditemani pendamping halal, dan menikmati Ramadhan berdua. Syahdu. Yaaa walaupun dalam hatiku terbersit rasa sombong karena merasa jauh lebih dulu dari teman-temanku yang lain. Tapi aku tak peduli. Hidupku bahagia. Dan terkadang aku pun menikmati sensasi membuat orang lain merasa iri dengan kehidupan yang kupunya.

“Makanya kalian buruan nyusul woii. Nggak bosen apa jomblo mulu. Wkwkwk.” Jawabku membalas pesan-pesan itu. Tentu saja dengan sombong yang tak kuanggap ada di hati.

Tak lama kemudian, aku ganti mengirim pesan untukmu.

“Sayang, cepat pulang ya, menu buka puasa hari ini sudah siap. Ada es teh segar, kalau nggak salah kesukaanmu kan?” Aku mengirim pesan disertai gambar makanan yang tersaji di meja. Sebenarnya aku menebak saja tentang minuman kesukaanmu.

“Iya, ini mau pulang. Apapun yang kamu bikin kesukaanku kok, Sayang. See you soon.” Jawabmu.

Aku tersenyum lega. Sebenarnya, aku lebih suka minum air putih saja, lalu makan cemilan sebentar ketika berbuka puasa. Setelahnya aku minum sinom, minuman herbal khas Surabaya yang terbuat dari irisan kunyit dan daun sinom. Rasanya sedikit asam, tapi segar, dan banyak bermanfaat untuk kesehatan. Pokoknya kesukaanku. Dulu Ibu sering membuatkan. Tapi karena ini di Medan dan jauh dari Ibu, belinya pun sulit, aku memilih diam saja dan mengikutimu minum es teh. Tadinya aku mau buat sih, tapi takut kamu tidak suka. Toh kamu tampak bahagia dengan menu kali ini. Apa salahnya kan berkorban? Bukankah katanya pernikahan itu pengorbanan?

Begitulah. Buka puasa pertama itu begitu membekas untukku. Aku jadi sering membuatkanmu es teh karena kurasa itu adalah minuman favoritmu. Hingga setahun kemudian, di Ramadhan berikutnya, aku tidak menyangka perkara minuman ini justru menjadi salah satu pemicu malapetaka dalam rumah tangga kita.

Continue reading “Buka Puasa Pertama Denganmu”

Cerita Fiksi

Ilalang

ilalang

“Oh ya? Kita satu SMA dong?” kataku antusias sekaligus terkejut.

Perempuan di depanku juga tak kalah antusias, “Iya, pas aku lulus, kamu kayaknya baru masuk jadi siswa baru. Hehehe.”

“Iya, Kakak. Nggak nyangka deh ketemu pejuang satu almameter di sini.”

“Nggak usah panggil Kakak, panggil aja Nimar. Biar nggak berasa tua. Oke?” dia tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya, membentuk simbol ‘oke’ dengan membulatkan jempol dan telunjuknya.

Aku tersenyum dan mengikuti gerakan tangannya. Sepertinya, seseorang yang baru kukenal beberapa menit yang lalu ini akan menjadi teman yang menyenangkan. Setidaknya, di antara ratusan wajah yang baru kulihat hari ini, aku yakin Nimar akan menjadi salah satu teman dekat. Ya, aku baru saja mengikuti gathering komunitas womanpreneur yang diadakan di Bandung. Sengaja sekali datang dari Jakarta dengan niat ingin memperdalam ilmu dan memperluas jaringan.

“Mifa, berarti kamu baru lulus tahun lalu dong?”

“Iya, Kak, eh Nimar, hehe. Masih belajar banget soal bisnis. Duh lebih nyaman panggil Kakak.”

“Haha, ya udah terserah kamu deh, Mifa.”

“Oh ya, Kak, alumni SMA kita ada yang populer banget loh di kampusku. Aku sih nggak kenal langsung, cuma tahu aja. Hmmm, mungkin dia seangkatan sama Kakak. Sekarang dia kuliah di Inggris. Namanya Satria. Kakak kenal?”

“Satria?” tanyanya sambil mengerutkan kening. Entah kenapa aku menangkap perubahan ekspresi dari wajahnya yang ceria.

“Iya, Satria Nusantara. Anaknya aktif banget, peraih IPK tertinggi pas wisuda angkatan dia.”

“Oh.. Kenal dong. Dia dulu temen sekelas malah.” Senyumnya kembali terkembang. Entah kenapa, tetap saja aku merasa ada yang aneh. Tapi rasa aneh itu tertutupi begitu saja oleh rasa penasaran yang tetiba menggelayutiku.

“Waah, berarti Kakak kenal juga dong sama calon istrinya Bang Satria? Calon istrinya kan satu SMA juga sama kita, Kak.”

“Calon istri?” kerut itu terlihat lagi. Continue reading “Ilalang”

Cerita Fiksi

Kepada Pagi

Aku pernah duduk sengaja menikmati bulan, seakan menghambat pagi yang sudah ditandai fajar. Aku pernah duduk berlama bernegosiasi pada matahari agar terlambat terbit. Demi romansa malam. Aku pernah duduk menangisi malam yang berlalu. Tapi tolonglah, setelah aku mengenal pagi, aku selalu menunggunya lagi. Menunggu burung-burung berkicau, embun-embun mengenyahkan dahaga, adzan subuh yang menenteramkan, hingga segelas teh hangat yang mencairkan cinta.

Maka kepadamu pagi yang harus kutunggu lagi, aku tetap di sini. Menantimu dengan senyum berbalut air mata rindu. Menunggumu dengan semangat mengapi untuk menyalakan kobar kehidupan yang penuh makna. Semoga.

Maka kepadamu pagi, kutitipkan rindu yang menggantung di langit-langit malam. Kuucapkan doa yang mengerjap di antara kerlip bintang. Kunadakan cinta di antara senyap yang menyiksaku. Kepadamu pagi. Dengan mataharimu. Dengan cintamu yang tak hanya membuatku berani berjalan menatap siang, tapi juga senyuman menikmati malam yang senyap.

Maka kepadamu pagi, kubiarkan rindu menjadi jalan untuk ridlo-Nya.

Continue reading “Kepada Pagi”

Cerita Fiksi

Diary Buaya

Aku memandangi sebuah buku yang dua tahun ini begitu kuhindari. Buku tentangmu. Aku pernah menulis semuanya untukmu. Cerita-cerita kita. Harapan-harapan kita. Bahkan karenamu pula aku pernah melabeli semua lelaki itu “buaya”, walaupun aku tak yakin apa hubungan buaya dengan kamu, yang meninggalkanku begitu saja sore hari itu. Tanpa kabar lagi.

Hari ini, aku ingin marah sekaligus membanggakan diri di hadapanmu. Hari ketika aku menyebarkan undangan pernikahanku yang tinggal dua minggu lagi. Akan kukirimkan sepaket untukmu dengan buku diary yang berisi semua cerita kita–termasuk transkrip semua janji-janji yang dulu pernah kamu utarakan. Kamu mungkin tak menyangka aku menulis semuanya. Tapi itu gilanya cintaku padamu, saat itu. Yang tiga tahun kemudian berubah menjadi kebencian yang membara.

Hari ini, aku ingin bilang kepadamu bahwa ternyata aku bisa bahagia dengan lelaki lain. Yang bukan buaya. Akan kukembalikan semua janji-janjimu. Ah tapi bukan kamu yang kutemui di rumahmu. Hanya pembantumu yang menunduk memberi sebuah amplop.

“Mas Fatah sekarang tinggalnya di sini, Mbak.” katanya kepadaku. Di depan amplop itu tertulis sebuah alamat. Continue reading “Diary Buaya”

Cerita Fiksi

Undeniable

hakikat-pernikahan

Aku bersumpah tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari ketika kamu mengucap janji di depan ayahku dan tentu saja di depan Tuhan. Sangat syahdu. Aku menangis ketika bersalaman denganmu. Kamu mengecup keningku lembut untuk pertama kalinya. Hari yang sepuluh tahun lalu pernah kubayangkan dalam mimpiku. Tapi juga hari yang sejak empat tahun lalu tak pernah lagi kuinginkan terjadi.

“Hal apa yang paling kamu hindari di dunia ini?” aku pernah mendapatkan pertanyaan itu dari seorang sahabatku.

“Menikah dengan satu-satunya mantanku,” jawabku mantap saat itu.

“Kenapa?”

“Kita masih bisa bahagia dengan orang lain kan?”

Tapi Tuhan berkata lain. Hari ini, seseorang yang baru saja mengecup keningku itu adalah kamu, sang mantanku satu-satunya. Kamu masih laki-laki yang kusimpan dalam khayalan futuristikku, satu-satunya yang kubiarkan mengobrak-abrik hatiku, termasuk menyakitinya. Parahnya, karena hanya kamulah obat atas sakit yang juga kamu sebabkan itu. Entah bagaimana cerita Tuhan mengatur hati, kita bertemu setelah saling melepaskan. Bertemu untuk berjanji di hadapan-Nya.

It’s undeniable.. that we should be together.

Continue reading “Undeniable”

Cerita Fiksi

Undangan

undanganAku pulang lebih cepat hari ini. Pak Broto, CEO perusahaanku sedang bahagia karena ia ulang tahun. Kabarnya juga, anak perempuan semata wayangnya akan menikah minggu depan. Jadilah ia memberikan special day untuk karyawannya. Masuk sampai jam 12.00 dilanjut dengan acara makan-makan satu kantor. Sebenarnya tadi acara masih panjang. Kabarnya Pak Broto akan memperkenalkan putrinya kepada para karyawannya. Tapi aku tak peduli siapa putrinya. Bisa pulang pukul 14.00 dari kantor di hari Senin adalah kesempatan langka.

“Mas Andro udah pulang?” Andra, adik bungsuku yang masih SMP tampak terkejut begitu aku sampai rumah, ekspresi yang kuduga.

“Surprize, Ndra. Haha.” Aku meletakkan tas dan kunci motor di kamar. Tak lama kemudian, menyusul Andra di ruang TV.

“Mau ngapain Mas Andro?”

“Main PS lah. Kapan lagi mumpung pulang cepet?”

Aku pun bisa menebak lagi ekspresi Andra. Ia cepat menarik stick PS.

“Nggak bisa, Mas. Hari ini jatahku! Besok kan aku pulang sore, ada les.”

“Ye, nggak mau tahu, aku malah nggak tahu kapan bisa pulang cepet lagi.” Aku menarik stick PS itu.

“Nggak bisa, Mas. Nggak mau. Ih udah gede masa nggak mau ngalah?”

“Bodo amat.”

“Nggak bisa. Ini kan hadiah ulang tahun dari Ayah buat aku bukan buat Mas Andra.”

“Ih, tapi aku ikut iuran buat belinya,” aku tak mau kalah. Toh, sekali saja. Tak apalah sudah 25 tahun bertengkar sedikit dengan si bungsu.

“Ini punyaku. Mas Andra nanti malem aja. Nanti malem aku ada belajar kelompok soalnya.”

“Nggak bisa, ini punyaku.”

“Heeeh, ribut amat, kenapa sih?” Ibu muncul dari dapur, “Eh Andra udah pulang?”

“Iya, Bu. Si Bos ulang tahun dan anaknya mau nikah, jadi dia happy.

“Oh, ngomongin soal nikahan, Ibu ada undangan nih.”

“Iya, Mas Andra, udah PS ini punyaku aja ya? Tuh, Mas Andra udah punya undangan.” Continue reading “Undangan”

Cerita Fiksi, Cuplikan Buku

Foto

quote kenangan 

Ada kebisingan yang memekaki telingaku di ruang ini. Ruang kosong, berdinding putih kusam, dengan cahaya temaram. Tidak ada siapa-siapa di ruang itu, selain aku dan kamu. Oh, bukan,lebih tepatnya, aku dan foto masa kecilmu. Gigimu belum ada di foto itu, karena jika sudah ada, aku yakin mereka pasti akan berjajar rapi menghiasi wajah ceriamu, sebagaimana ciri khas semua fotomu saat kamu tersenyum. Aku lupa usiamu berapa di foto itu—mungkin enam bulan. Aku lupa. Yang aku ingat, kita terakhir bertemu tepat enam tahun yang lalu. Saat setiap cerita berakhir dengan jalan cerita yang sama sekali tak kuinginkan. Hari itu, semua tentangmu sudah tak ada. Kecuali foto ini, yang terselip di bawah pintu, yang mungkin jatuh ketika aku mengemasi semua barangku.

Maka, demi menemukan foto ini lagi, semua hal tentangmu bernyanyi dan bercerita bersahutan, memekaki telingaku. Semua. Dari suaramu yang menenangkan hingga suara serakmu ketika pamit.

Dulu, di ruangan kecil ini, aku menghabiskan masa kuliahku. Tiga tahun. Ruangan ini adalah saksi saat rinduku membuncah dengan pasrah. Atau saat suaramu menyapaku melalui telepon—yang sangat singkat. Tiga tahun kita bersahabat dengan hubungan tanpa pertemuan, yang bahkan hanya diikat dengan sekali dua perbincangan di yahoo messenger atau telepon. Selebihnya, kita berbicara lewat karya. Aku yang kaubaca dari tulisanku di tumblr. Dan kamu, yang kubaca dari gambar abstrakmu yang kauunggah di deviantart. Seindah dan semagis itulah hubungan tiga tahun yang kita jalani. Tiga tahun yang kita jaga demi masa depan. Walau nyatanya masa depan tak berpihak pada kita.

Kalau boleh mengenang, aku sering tak percaya bahwa cerita kita diawali dengan perpisahan dan diakhiri dengan pertemuan. Ingatkah kamu? Saat itu, kita sedang merayakan kelulusan sebagai siswa SMA—sekaligus keberhasilanmu memperoleh beasiswa untuk kuliah Ilmu Fisika di Inggris. Hari yang antah berantah buatku. Antara bahagia karena kita lulus, aku diterima di universitas impianku di negeri ini, dan kamu. Iya, kamu yang akan pergi jauh ke negeri orang.

“Zhira, nanti kalau aku udah berangkat, tunggu aku ya di masa depan.”

Fiuh! Aku masih ingat tulisanmu di sebuah sticker post it yang kamu tempel di buku tulisku. Yang bahkan sudah kusimpan rapi dalam kardus—harusnya kubuang, tapi entahlah. Tulisan yang terdengar konyol untuk remaja 18 tahun seperti kita. Tapi itulah janjimu yang kuterima dengan anggukan. Hari itu terakhir kita bertemu, karena setelahnya kamu sudah sibuk persiapan di Jakarta dan langsung berangkat ke Inggris. Aku sendiri melabuhkan cerita di kota ini, kota yang tak terasa sudah delapan tahun kutinggali. Kota yang menjadi saksi pertemuan yang mengakhiri hubungan kita. Tapi juga kota yang masih saja kucintai. Bandung.

Aku masih duduk lemas di lantai, belum selesai mengenang cerita kita. Nafasku masih naik turun tak beraturan. Aku sudah hampir menangis (entah karena apa) kalau saja handphone-ku tidak berdering. Ibu.

“Zhira, kamu di mana? Ini sudah jam tiga. Jam empat persis kamu udah harus siap di Selasar Sunaryo ya?”

“Iya, Bu. Dari Dipati Ukur ke Dago Pakar nggak lama kok.”

“Ya udah, yang penting cepet siap-siap ya? Takut macet. Kan weekend. Jangan kelamaan di kosan lama. Keluarga Hardi udah mau keluar tol Pasteur.

Aku belum sempat menjawab dan Ibu sudah menutup teleponnya. Hari ini datang juga. Hari pertemuan yang sangat kuhindari. Aku memutuskan untuk menyimpan foto masa kecilmu di dalam tasku. Kuputuskan untuk menunda mengenang tentang pertemuan kita yang menjadi akhir cerita. Aku paling benci bagian itu. Bagian yang membuatku cukup takut menghadapi pertemuan hari ini.

***

“Bagaimana jika suatu saat kamu justru berjodoh dengannya?”

Aku terngiang pertanyaan Nuffy yang sering sekali ditanyakan padaku ketika aku mulai mengeluh tentangmu. Tentang sakit yang kamu tinggalkan pasca kepergianmu.

“Fy, aku selalu berharap bisa hidup bahagia dengan laki-laki lain.”

“Kalau dia jodohmu?”

“Aku mau yang lain.”

“Tapi kalau tetap dia jodohmu?” begitu terus tanyanya berulang dan aku tetap menjawab dengan “aku mau yang lain”.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin sepenuhnya melepaskannya.”

Nuffy tertawa. Katanya, aku sama sekali sedang tidak melepaskanmu. Katanya, aku sama sekali belum ikhlas melepas kepergianmu. Tapi bagaimanalah, aku bahkan sudah menjauhimu bukan? Aku sungguh tak mengerti. Dan mungkin, Tuhan menjawab semua ketidakmengertianku itu melalui pertemuan yang dirancang Ibu ini. Entahlah, aku masih belum sampai di Selasar Sunaryo. Tapi mungkin saja, Tuhan punya jawaban di sana.

Continue reading “Foto”

Cerita Fiksi

Wisuda

quote_kenangan

Wita menatap wajah itu penuh bangga. Topi toga masih bertengger di kepala lelaki itu ketika tepuk tangan riuh menyorakinya. Memang, seremonial wisuda sarjana di kampus kebanggaan negeri itu sudah selesai. Tapi bagi Ghazi, lelaki yang dari tadi ditatap Wita dari jauh, seremonial baru saja dimulai.

“Hidup Mahasiswa!” suara itu menggema di antara kerumunan para mahasiswa yang baru saja menjadi alumni. Di belakang mereka, segerombolan mahasiswa mengenakan jas almameter dan membawa bendera, mengarak senior mereka, tanda pelepasan, dan tanda…

Ghazi berjalan menuju tenda di samping gedung wisuda. Belasan photoboot masih di sana, para wisudawan berfoto bersama orang tua atau kerabat. Ghazi berjalan mendekati sebuah keluarga yang baru saja berpose bangga bersama seorang putrinya yang berselempang “cumlaude”. Teriakan “Hidup Mahasiswa” yang tadi menggema kini mulai meredam. Seolah menunggu langkah kaki Ghazi sampai persis selangkah di depan keluarga itu, teriakan itu kembali menggema, berganti dengan suara “Hidup Cinta!”. Wita sekali lagi tersenyum, air matanya hampir menetes, namun ia tahan.

Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, seorang putri, dan seorang kakak laki-laki itu mulai tampak kebingungan didatangi massa yang sekilas mirip dengan sekumpulan mahasiswa yang akan demo di depan gedung DPR. Mata sang kakak laki-laki mulai menyelidik ke arah Ghazi. Sadar tatapan curiga itu, Ghazi tersenyum. Segerombolan ‘massa’ yang tadi mengikutinya pun hening. Walaupun puluhan pasang mata lain di halaman gedung itu mulai memperhatikannya.

“Bapak, Ibu, dan Mas. Perkenalkan saya Ghazi. Mohon maaf jika Bapak, Ibu, Mas, dan Mmmm,” Ghazi menghela nafas sebentar, “dan Narita tidak nyaman dengan situasi ini. Atau dengan ketiba-tibaan saya berada di sini.” Ghazi berusaha sesopan mungkin berhadapan dengan keluarga asli Jawa ini.

Sang Ibu tersenyum. Ia sejujurnya bukan menanyakan siapa nama lelaki yang dengan santun baru saja memperkenalkan diri itu. Semua yang hadir di acara wisuda hari ini tahu siapa dia. Presiden mahasiswa tahun lalu, yang hari ini berpidato dengan sangat membanggakan mewakili para wisudawan. Ibu mana yang tidak terkesima dengan kalimat penutup “Bagi saya, wisuda adalah sebuah purna. Ya, purnanya saya menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab pada diri saya sendiri. Sudah saatnya pembekalan saya di kampus ini saya aplikasikan ke dalam tanggung jawab hidup yang lebih besar, mmm, bertanggung jawab terhadap seorang gadis misalnya.” Ya, walaupun kalimat itu menjadi bahan tawa seluruh hadirin, tapi bagi Ibu, ada kalimat serius yang diucapkan lelaki itu, walaupun disusul cepat dengan kalimat lanjutan, “maaf, saya hanya ingin mencairkan suasana. Maksud saya, kita akan dihadapkan pada tanggung jawab masa depan yang lebih berat. Terserah jadi apapun kita nanti, momen ini adalah pengingat bahwa ilmu yang kita punya harus kita pertanggungjawabkan sekeluarnya kita dari gedung ini.”

“Ada apa ya?” sang Kakak, yang disebut Mas Akar itu menyelidik, ia jelas tampak tidak nyaman.

“Baik, Mas, akan saya jelaskan. Saya mengenal Narita sejak tiga tahun lalu ketika saya aktif di laboratorium. Dan sejak hari itu hingga hari ini, saya menyimpan niat baik saya. Sebuah niat yang hari ini ingin saya utarakan di depan Bapak dan Ibu.”

Sang Ibu tersenyum haru, Bapak tampak manggut-manggut, Mas Akar masih memasang wajah galak—protektif. Narita sendiri, yang biasanya dikenal Ghazi sebagai perempuan heboh dan ceria, entahlah, dia hanya menunduk sejak tadi.

“Narita seorang gadis yang baik, Pak. Segala keceriaannya, perhatiannya terhadap sesama, hal-hal tak terduga yang terjadi selama ada dia, kekonyolannya, kemengertiannya, keingintahuannya akan ilmu, kemandiriannya, dan juga semua kekurangannya yang tidak perlu saya sebutkan, adalah apa yang bisa saya terima. Dan apa yang bisa menjadikan hidup saya semakin bermakna.”

“Lalu?” Bapak bertanya dengan wajah senyumnya. Ghazi mulai lega, ini respon baik. Pasukan ‘massa’ di belakangnya pun masih terdiam, seakan berdoa bersama untuk ‘keselamatan’ sang komandan.

“Saya ingin bertanggung jawab atas semua ilmu yang saya dapatkan selama 23 tahun saya hidup. Dan untuk itu,” Ghazi menghela nafas lagi, kalimat yang sudah ia rangkai sejak sebulan lalu ini, entah kenapa begitu susah untuk dikatakan, “Hmm..”

Ghazi menatap Narita yang terus menunduk, “Saya ingin berterima kasih kepada Bapak karena sudah membesarkan seorang gadis sebaik dia. Sudah bertanggung jawab penuh dalam hidupnya. Jika Bapak berkenan, bolehkah saya meminta Narita dari tanggung jawab Bapak dan menjadikannya tanggung jawab saya?” Ghazi melepas topi toganya dan ia serahkan penuh hormat kepada Bapak. Wita masih hanya melihat dari jauh. Kali ini air matanya menetes. Kalimat yang persis sama.

Belum sempat ada jawaban apa-apa dari Bapak. Belum sempat ‘massa’ di belakang Ghazi berteriak “Hidup Cinta!” sambil membuka sebuah spanduk yang sudah disiapkan sejak sebulan lalu. Belum sempat tulisan “I’m gonna marry your princess and make her my queen” terbaca, Narita lari dari kerumunan. Entah ada apa. Entah. Rencana lamaran bernuansa demo—khas aktivis macam Ghazi—yang sudah sebulan direncanakan itu gagal jadi romantis. Ghazi ingin mengejar Narita, tapi Mas Akar sudah menahannya dan mengejarnya terlebih dahulu. Disusul Bapak dan Ibu. Seremonial itu berakhir tanpa komando. Continue reading “Wisuda”

Cerita Fiksi

Lupa

lupa

Gadis kecil berusia delapan tahun itu terduduk menangis di mejanya. Beberapa teman perempuannya menatapnya sambil berbisik-bisik. Sementara teman laki-lakinya mengejeknya, “Anak pintar kok nggak ngerjain PR?”. Ia benci tatapan dan ejekan itu. Ia ingin pulang memeluk sang mama. Dengan bahasanya, ia merutuki dirinya sendiri, “kenapa aku harus lupa dan teman-temanku ingat?”, begitu keluhnya.

Ia masih duduk di kursinya ketika teman-temannya istirahat. Tadi ibu gurunya memberi hukuman untuk menulis 1000 kalimat “Aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” di buku tulis. Entahlah, ia bahkan tak menghitung sudah berapa kalimat yang ia tulis. Pensilnya sudah menumpul dan ia raut berkali-kali. Air matanya ia tahan agar tak melunturi tulisannya. Itu hukuman pertama baginya. Bukankah ia gadis penurut yang selalu patuh pada peraturan? Tapi salahkah kalau hari ini ia lupa? Ia hanya lupa, bukan menyengaja.

Ia benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tujuh  tahun kemudian.

Gadis kecil yang dulu amat benci pada kata “lupa” itu kini sudah meremaja. Usianya lima belas tahun. Ia sudah pindah bersekolah di sebuah SMA favorit di kota besar. Berlari jauh meninggalkan SD-nya yang pernah amat menyakitinya. Prestasinya kini cemerlang. Ia menjuarai berbagai kompetisi akademik hingga tingkat nasional. Ia pun aktif di berbagai aktivitas organisasi. Jangan tanya berapa jumlah laki-laki yang menyukainya. Banyak sekali.

Lihatlah, hari ini ia tampil mempesona ketika menjadi dirigen pemandu paduan suara pada upacara peringatan hari Kemerdekaan RI di depan walikota. Semua hadirin memuji kepiawaiannya. Sayang sekali, hari ini, lagi-lagi ia harus bermasalah dengan kata “lupa”. Ia lupa memberi tanda pada gerakan tangannya. Nyanyian “Indonesia Raya” yang seharusnya sudah berhenti masih menggema padahal bendera sudah mencapai ujung tiang. Para peserta paduan suara memberi kode supaya ia memperbaiki gerakan tangannya, tapi ia tak paham. Terjadilah keributan kecil akibat kesalahpahaman itu. Upacara di depan walikota itu pun tak berlangsung mulus. Pelatihnya memarahinya. Teman-temannya menyalahkannya.

Menulis 1000 kalimat “aku tidak akan lupa lagi untuk mengerjakan PR” membuatnya pandai meminimalisir diri supaya tidak mudah lupa. Tapi nyatanya, ia harus mengalami “lupa” itu pada hari yang amat penting baginya. Ia semakin benci kenapa Tuhan menciptakan lupa. Baginya, lupa itu selalu merepotkan.

***

Tiga tahun kemudian. Gadis itu sudah mulai kuliah. Sampai usianya delapan belas tahun, ia masih tidak mengerti mengapa Tuhan harus menciptakan lupa untuk manusia. Merepotkan.

“Hei, sepertinya aku mengenalmu.” Seorang laki-laki yang seusia dengannya memanggilnya ketika ia tengah berdiri di halte menunggu bus kampus.

“Iya?” gadis itu mencoba mengamati wajah sang lelaki dengan seksama. Ia belum mengingat siapa dia, tapi hatinya berdesir tidak karuan. Laki-laki itu berbeda dengan laki-laki mana pun yang pernah ia temui. Oh Tuhan, apa gadis itu jatuh cinta?

“Kamu lupa ya?” kata lelaki itu.

Gadis itu benci dengan pertanyaan itu, “tidak, tidak, aku sudah berjanji tidak akan menjadi pelupa sejak usiaku delapan tahun.”

“Sejak hukuman menulis 1000 kalimat itu ya?” kata sang laki-laki sambil tersenyum.

Gadis itu terkejut.

Continue reading “Lupa”

Cerita Fiksi

Mimpi Kita

mimpi kita

Kamu tak akan mengerti betapa hidup itu tidak adil ketika kamu belum merasakannya sendiri. Kamu juga tak akan mengerti betapa hidup itu amat adil ketika kamu belum memasrahkan hidupmu sendiri. Aku pernah mengalami semuanya. Dan sekarang aku mengerti betapa kehidupan itu amat…. Ah, coba simpulkan sendiri dari ceritaku ini.

Bandara Soekarno-Hatta belum terlalu ramai dini hari itu. Aku sendiri datang berdua ditemani seseorang. Kami pamit di halaman depan terminal 2D pintu 2. Ia tersenyum di mobilnya, melambaikan tangannya ke arahku. Matanya memandangku penuh rasa sedih. Aku mendekat lagi ke jendela mobilnya.

“Beneran nggak mau nemenin sampai dalem?”

“Aku nggak mau jadi cowok rapuh di depan kamu.” katanya sambil tersenyum.

“Rapuh gimana? Dengan kamu tidak berani menghadapi kenyataan, itu artinya kamu…”

“Hai sudahlah, bagaimana pun kamu harus pergi. Jaga diri baik-baik, ya.” Dia tersenyum lagi.

“Aih kamu nggak ada romantis-romantisnya. Temenin lah, setidaknya sampai boarding.

“No! Aku tahu kamu gadis yang amat mandiri.”

“Aih, parah.” Mataku mulai berkaca-kaca, bukan karena kata-katanya, melainkan karena menyadari kehidupan yang harus berjalan seperti ini.

“Kita udah janji nggak akan pernah ada air mata ya?” ia mengingatkan, “lima belas menit lagi, check in udah ditutup. Buruan lariiii.”

“Hei?” aku merajuk, ingin sekali memeluknya.

“Cepat lari! You’ve decided it, so you must do it! No matter how it will be. Believe me I can, and you can.”

Dia tersenyum sekali lagi sebelum ia tancap gas meninggalkanku berdiri sendirian. Selain karena memang satpam bandara sudah berkali-kali mengingatkan supaya ia tidak parkir di sana, aku tahu ia tidak pernah sanggup melihatku menangis. Aih, mengapa perpisahan terkadang harus seperti ini? Bukankah perjalanan impian ini harusnya kita jalani berdua?

***

Continue reading “Mimpi Kita”