Cerita dan Celoteh

Menulis dan Ketulusan

“Mas, aku ngerasa jadi manusia nggak bermanfaat. Dulu, aku bisa nulis banyak. Udah beberapa hari kayak mandeg. Susah banget tiap mau nulis. Padahal kalau misalnya ngobrol gini bisa menyampaikan. Tapi kok kalau mau nulis susah ya?”
Keluhku melalui telepon.
“Aku punya ide, Mas.” Lanjutku.
“Hmm, apa?”
“Bikin perjanjian ya, jangan telepon aku sampai minimal aku bisa beresin satu tulisan atau satu bab novelku.”
Aku sedikit berat mengatakannya. Untuk pasangan LDR seperti kita, itu namanya bukan hukuman untukku, tapi hukuman untuk kita berdua.
“Nggak mau, ah.” Katanya cepat menanggapi usulku. Continue reading “Menulis dan Ketulusan”

Cerita dan Celoteh, Cuplikan Buku, Prosa dan Puisi

Kamu dan Keberuntungan

image

Suatu hari kita berbicara tentang keberuntungan dan perjuangan. Banyak hal. Aku bercerita tentang perjuanganku menghadapi masa-masa sulit dalam menyelesaikan pendidikan. Kamu pun begitu. Kamu selingi dengan cerita kesuksesan kawan-kawan dekatmu.
Kemudian kamu tertawa karena menyadari betapa sangat jauh keberuntungan darimu. Ya, keberuntungan yang didefinisikan secara umum.
“Kalau ada lucky draw atau undian berhadiah atau doorprize, aku hampir tidak pernah menang.”
Aku yang saat itu mendengarkanmu bercerita sambil ngepel tertawa dalam hati, “kalau istrimu ini Miss Doorprize, Mas. Harus dapat doorprize dalam acara apapun.” Aku tersenyum mengingat semangatku saat mengikuti suatu seminar. Rajin duduk di depan dan paling semangat saat ikut games atau aktif bertanya pada sesi pertanyaan.
Kemudian kamu tersenyum lagi, aku masih mengepel. “Tapi bukan keberuntungan seperti itu yang diberikan Allah untukku. Ternyata banyak sekali keberuntungan dalam hidupku yang harus disyukuri.”
Aku masih mengepel, kali ini kuhentikan sebentar untuk tersenyum ke arahmu, “Iya, Mas. Kalau kita bersyukur kan kita sedang beruntung?”
Kamu merebahkan dirimu di sofa, dan aku masih mengepel. Itu aturanku, hehehe. Tidak boleh ada kaki menginjak lantai saat aku mengepel sampai lantai kering. Dan kamu tak pernah protes, malah sering tersenyum saat melihatku membawa alat pel. Kamu sadar harus segera angkat kaki dari nikmatnya gelosoran di lantai.
“Mendapatkan kamu adalah keberuntungan besar buat Mas.” Gumammu. Aku sedikit tersentak. Sebenarnya aku deg-degan, tapi menutupinya dengan tertawa. Continue reading “Kamu dan Keberuntungan”

Cerita dan Celoteh, Cuplikan Buku, perempuan

#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan

image

Randomisasi hari ini disponsori oleh suami yang kasih surprise karena pulang dua hari lebih cepat dari jadwal dinasnya. Wuhu! Temanya tentang perempuan dan harapan. Dua kata yang secara umum sering disandingkan. Nah apa hubungannya sama suami pulang lebih cepat? 😀
Jadi begini ceritanya.. Hampir tiap bulan, ada saja suami saya dapat tugas dinas ke luar kota. Entah ke Aceh atau sekitaran Sumatera Utara. Alhasil, udah pasti dong saya sering ditinggal? Hehe. Continue reading “#NulisRandom2015 (2): Perempuan dan Harapan”

Cerita dan Celoteh

41014: Story About My Marriage

Keakraban dua jiwa yang ditakdirkan bersama terkadang terjalin begitu saja. Tanpa perlu waktu yang lama. Tanpa perlu debar kasmaran. Hanya ada yakin yang begitu saja menghampiri. Karena jiwa-jiwa yang disatukan oleh langit telah saling tarik menarik satu sama lain. Ketertarikan yang terkadang tak perlu penjelasan akal. Rasa tenang sebagaimana janji-Nya dalam Ar-Ruum:21 akan terasa begitu saja ada, jika cinta yang dilabuhkan di pernikahan berlandaskan cinta hakiki, karena Allah.

photo by: Whelix Photography
photo by: Whelix Photography

Bismillah, akhirnya ngeblog lagi, setelah entah sekian lama pojok biru ini jadi kusam karena penghuninya sok sibuk dengan berbagai ini itu. Ah, kebanyakan ngeles ya? Hehe. Ya sudah, berhubung suami sedang menjalankan tugas negara di ujung Indonesia dan saya nggak bisa tidur, lebih baik saya menulis. Ya, menulis untuk mengenang sebuah kisah penting dalam hidup saya. Sekaligus menunaikan janji menjawab pertanyaan ‘gimana ceritanya bisa nikah?’ dari teman-teman dan pembaca buku di berbagai chat, yang saat itu saya janjikan, ‘nanti ya tunggu di blog’. Hihi. Dan tak terasa, hari ini sudah sebulan sejak peristiwa peradaban itu terjadi di hidup saya. Siap-siap ya, agak panjang nih sekalian curhat :p. Yang pasti, semoga ada banyak hikmah yang bisa diambil. (Khususnya buat yang lagi galau soal jodoh).

Hmm, mengenang cerita ini mau tidak mau membuat ingatan saya berlari pada Oktober 2014. Bulan yang menjadi saksi bahwa impian dan doa itu benar-benar dicatat dan dikabulkan Allah dengan cara-Nya. Jadi, saya dulu punya mimpi yang saya beri judul ‘Mimpi Oktober 2014’. Sesungguhnya, itu hanya mimpi konyol saja. Mimpi bahwa saya ingin menikah atau bertemu jodoh saya di bulan Oktober 2014. Kenapa Oktober? Ini agak konyol juga sih, saya kan orangnya absurd. Saya ingin Oktober menjadi bulan spesial, bulan perantara yang menjembatani saya dan pasangan saya. Saya kan lahir November, nah saya punya mimpi konyol lagi, yaitu punya suami yang lahirnya bulan September. Jadi, nanti kita dipertemukan oleh Oktober. So sweet kan? (Padahal alay ya? Hahaha). Walaupun konyol, mimpi itu saya seriusin. Saya ingat, tidak ada doa yang tak didengar. Oktober 2013 saya punya mimpi ingin ke luar negeri, ternyata benar Allah mengizinkan saya ke Turki. Jadi, saya pikir, tak ada salahnya berani bermimpi (lagi).
Continue reading “41014: Story About My Marriage”

Cerita dan Celoteh

Definisi Bahagia

bahagia

Saya teringat tulisan saya tentang kisah ibu rumah tangga inspiratif. Tentu saja, di balik banyaknya  tanggapan positif tentang kisah itu, banyak juga yang mempertanyakan kisah tersebut. Emang iya ya jadi ibu rumah tangga membahagiakan? Kan ya sayang sekolahnya tinggi-tinggi? Eh tapi, saya tidak akan bahas tentang itu. Ini bukan sekadar jadi ibu rumah tangga atau jadi wanita karir. Ini tentang definisi bahagia setiap orang yang berbeda—yang kita wajib menghormatinya.

Keinginan saya untuk menulis ini dimulai dari surat kaleng seorang sahabat perempuan tentang keputusan hidupnya untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Ia punya cara unik yang ia sebut: mendefinisikan bahagia. Sebagai seorang yang pintar, keinginannya awalnya seperti orang-orang pada umumnya. Kuliah tinggi, aktif di organisasi sebagai bekal untuk meniti karir dan sukses karir di ibukota. Awalnya, begitulah ia mendefinisikan bahagia. Yang pada akhirnya ia sadari, itu adalah definisi bahagia versi orang pada umumnya. Yang sayangnya bukan versi dirinya sendiri.

Tiba-tiba saya dikejutkan oleh pesan whatsapp darinya yang kurang lebih isinya begini:

Himsa, aku mau belajar, jadi dosen aja, nggak jadi kerja di Jakarta, aku mau nanti aku sendiri yang mendidik anak-anakku. Aku mau anak-anakku dapat pemahaman baik tentang hidup dari ibunya sendiri.

Saya kaget. Seorang enerjik itu berubah haluan? Ada apa? Continue reading “Definisi Bahagia”

Cerita dan Celoteh

Meluaskan Hati

Ada kalanya, kita lelah, “mengapa si ini nggak bisa mengerti kita?”. Dan kita menjadi kesal dengan orang tersebut. Ya, kita memang tidak bisa mengendalikan orang lain sebagaimana mau kita. Karena hanya Allah yang berhak menggerakkan hati manusia. Tapi kita, diberi kesempatan untuk dapat mengendalikan diri sendiri. Kalaupun orang lain itu terus membuat sakit, kita bisa membuat hati kita tidak sakit. Mmm, aku menyebutnya ‘meluaskan hati’.
Bayangkan, hati kita adalah sebuah kolam yang diisi air. Kita tidak punya cara untuk mematikan kran yang terus mengalirkan air, sampai kolam itu luber airnya. Maka, sebelum itu terjadi, luaskanlah kolam itu. Jika hampir luber lagi, luaskanlah terus. Begitulah, jadikanlah hati kita terus meluas hingga bahkan ketika orang lain ingin menyakiti kita, kita masih bisa mengatasinya. Tidak ada rasa sakit yang meluber ke mana-mana.

Jadi, mari lapangkanlah hati.

Continue reading “Meluaskan Hati”

Cerita dan Celoteh

Jeda

Hari ini, jadwalnya saya post tulisan baru di blog. Tapi karena beberapa hari terakhir menulis terus tanpa asupan gizi tinta, akhirnya teko imajinasi saya kosong. Ya, bagiku, menulis adalah semacam menuangkan isi teko. Teko, adalah ibarat otak dan hati kita yang diisi berbagai jenis ilmu, mulai dari bacaan, kepekaan pada lingkungan, bepergian, hikmah film, kejadian, cerita sahabat, dan lain-lain. Dan menulis, adalah menuangkan semua itu ke dalam gelas-gelas untuk dibagi kepada orang banyak, agar isi teko itu tidak meluber.

Sampai detik saya mengetik ini, saya punya dua cerpen yang sudah jadi malam ini. Tapi entahlah, rasanya ada yang kurang sehingga bagi saya cerpen itu belum layak baca. Ada yang kurang. Dan saya tahu, sudah lima hari ini saya belum baca buku lagi. Begitulah, menulis tanpa membaca adalah seperti mau sms tapi tidak punya pulsa. Ada yang mau disampaikan tapi tidak sampai.

Bukankah mereka yang punya cita-cita menjadi penulis tapi tak membaca satu buku pun dalam satu minggu lebih baik melupakan cita-cita mereka untuk menjadi penulis?

Atas nama tekad saya untuk konsisten update satu cerita dua hari sekali, saya menulis cerita pengakuan ini. Semoga adanya tekad kuat tersebut tidak membuat saya menulis tanpa rasa. Bagaimanapun, menulis, adalah juga tentang suatu proses menyampaikan rasa.

Maka karena itulah, saya memutuskan untuk jeda. Ada banyak buku yang meminta untuk dibunyikan halaman-halamannya.

Sampai bertemu lagi. Pre-order buku pertama “EPHEMERA” masih terus disiapkan. Terima kasih yang sudah email atau message ya! 🙂 Continue reading “Jeda”