Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Agar Tetap Menulis di Kala Rempong

Sebagai mama dengan dua anak balita, terkadang aku merasa menjadi orang paling rempong sedunia yang nggak bisa ngerjain apa-apa selain momong anak. Padahal yaaaa, sebenernya nggak gitu-gitu kali.

Prinsipku, selama kita masih bisa buka instagram dan baca whatsapp, selama itu pula kita masih bisa produktif. Nah selanjutnya, itu tinggal masalah kemauan. Mau atau tidak. Dan hanya kita sendiri yang tahu alasan pastinya.

Produktif itu sendiri macam-macam ya definisinya, dan setiap orang berbeda. Terkadang, dengan menyelesaikan setrikaan juga aku merasa produktif wkwkw. Tapi karena aku di sini memang profesiku juga penulis, salah satu indikator produktifku ya ketika menulis.

So, tentukan dulu produktif versi kamu yang seperti apa. Dan lagi-lagi, ini butuh yang namanya self awareness, alias kenal sama diri sendiri. Biar produktifnya kita itu bukan standardnya orang lain. Kan lelah udah ngejar ini itu ternyata nggak puas. Nggak memenuhi kebutuhan diri sendiri. Cuma nurutin ego biar nggak kalah sama yang lain #eh.

Baiklah, kali ini aku mau kecilin lingkup khusus menulis ya karena ini keseharian aku.

“Himsa, gimana sih bisa tetap nulis sambil ngurus dua balita gitu?”

Banyak yang nanya gitu, dan rata-rata ibu-ibu dengan anak toddler. Tahu lah ya gimana lelahnya ngurus todler yang lagi asyik lari sana-sini. Sebenernya bukan ibu-ibu aja sih yang rempong dan jadi males nulis, banyak. Alasannya macam-macam.

Nah, sebenarnya aku sendiri pun tak serajin itu. Ada kalanya juga males banget. Capek. Me time nya mau nonton youtube ringan aja. It’s okay. Tapi ya itu tadi, menulis sama aku itu kayak udah ada ikatan emosionalnya. Jadi, aku merasa aku ada ketika aku menulis. Aku merasa legaaaa banget kalau selesai nulis. Makanya aku ikut event yang bikin aku menulis secara berkala. Nah, di Ramadan ini, aku ambil tantangan menulis selama tiga puluh hari.

Oh, ya, balik lagi. Gimana tuh bisa nulisnya?

1. Tentukan strong why
Temukan alasan yang kuat kenapa sih kamu harus nulis. Kalau aku ya karena nulis itu udah jadi kebutuhan aku. Kalau lama nggak nulis rasanya kayak ada yang sesak gitu. Setelah itu niatin dulu bakal konsisten. Nah terserah mau setiap hari atau setiap minggu atau gimana kamu deh. Yang paling penting, komitmen ke diri sendiri akan menjalaninya dengan baik.

2. Manajemen waktu
Punya anak ini terkadang ngatur waktunya lumayan bikin ngos-ngosan, karena kan mereka nggak bisa kita setting kapan anteng, kapan heboh. Jadi ya kita yang harus pelajari. Trial error pasti. Nanti lama-lama ketemu kok polanya. Kalau aku biasanya nulis pas nunggu Kafin tidur nyenyak. Dia itu sering udah tidur tapi nggak mau ditinggal gitu, jadi harus nempel sama kita. Nah saat itulah aku ambil HP dan ketik-ketik sambil nunggu dia nyenyak.

3. Fleksibel
Nggak usah nunggu ada laptop dulu baru nulis. Inilah yang kumaksud tadi kita masih bisa produktif selama masih bisa baca whatsapp dan buka IG. Karena ya sebenarnya waktu yang kita pakai untuk terlalu lama membaca media sosial itu, bisa kita pakai untuk produktif, baik menulis ataupun yang lain.
Nah, dengan menulis di HP, kita bisa nulis di mana aja. Dulu pas masih kerja, aku selalu nulis di atas transjakarta. Karena jauh kan, jadi lumayan.

Oh ya, kalau aku pakai aplikasi namnya writer. Ini apilkasi ringan tapi bisa lihat udah berapa kata nulisnya, dan lain-lain.

So, masih ada alasan untuk tidak produktif? Silakan. Nggak apa-apa pun jika itu piluhanmu. Tapi jangan lupa semuanya ada konsekuensinya. Jangan sampai kita menikmati suatu pilihan yang kita ambil tapi mengeluh dengan konsekuensinya. Nanti lelah sekali.

Kurang lebih begitulah ya tips tetap bisa menulis meskipun rempong ala ahimsa. Selebihnya ya kembali ke kita sendiri, mau atau nggak.

Semoga bermanfaat. See ya to the next post..

Medan,
9 Mei 2019
22.18

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Prosa dan Puisi

Untuk Aku Jika Sedang Kesal

Dear Aku, suatu hari kamu pasti pernah kesal. Entah pada seseorang atau keadaan yang seakan tak berpihak padamu. Kamu ingin marah, dadamu sesak. Ingin rasanya semuanya kamu salahkan.

Jika itu terjadi, duduklah sebentar. Tarik napasmu lebih dalam. Kamu boleh menulis semua kekesalanmu di selembar kertas kosong, lalu sobeklah sekuat tenaga. Lampiaskanlah semua amarah yang menyesakkan dadamu itu melalui goresan penamu.

Tapi wahai aku, maukah kuberi tahu dirimu sesuatu? Ini pengingat untukmu, diriku sendiri. Simak baik-baik ya. Continue reading “Untuk Aku Jika Sedang Kesal”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Mama Curhat, Mama Lyfe

Berdamai dengan Keterbatasan Diri

Fiuhhhh. Begitulah leganya aku ketika rumah sudah bersih, anak-anak tidur dan mereka sudah makan, semua urusan rumah beres dan target harianku selama puasa terpenuhi. Eh tunggu, terpenuhi?

Ternyataaaa, jauh, Pemirsa. Target bacaan Qur’an belum maksimal, hari ini gatot nulis sesuai tema, dan diuji banget dengan aktivitas anak-anak seharian. Rasanya kuingin marah melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini, lah malah nyanyi.

Tulisan ketiga hari ini harusnya ada temanya sesuai challenge yang aku ikuti. Iya, aku sedang mengikuti tantangan 30 hari menulis blog. Tidak tanggung-tanggung, aku mengikuti dua event dari dua komunitas sekaligus, dari @bloggerperempuan dan @bloggersumut. Terkadang satu tulisan bisa untuk dua event itu sekaligus, tapi jiwa perfeksionis dalam diriku sering memberontak ingin menulis dua topik yang berbeda. Apalagi untuk @bloggerperempuan temanya ditentukan.

Nah sayangnya, tema yang sudah kusiapkan untuk hari ketiga ini gagal aku eksekusi karena aku kehilangan struk pembelian produk yang akan diulas. Bete? Banget. Continue reading “Berdamai dengan Keterbatasan Diri”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Tentang Prasangka Baik

Ketika kita sudah berusaha berprasangka baik, tapi ternyata hasilnya tetap tidak baik, itu rasanya ingin menyerah saja. Buat apa selama ini berprasangka baik? Toh yang terjadi tetap saja buruk. Tetap saja tidak tidak sesuai harapan kita.

Eh tunggu, buruk versi siapa?

Kita mungkin lupa bahwa berprasangka baik itu tidak sekadar berarti berprasangka bahwa sesuatu akan terjadi sesuai keinginan kita. Tapi berprasangka baik juga percaya, bahwa apa yang akan terjadi nanti setelah segala usaha kita, adalah yang terbaik yang diatur Allah–entah sesuai dengan keinginan kita atau tidak. Berprasangka baik itu meyakini, bahwa seburuk apapun keadaan yang menimpa kita, tersimpan hal baik yang sedang disiapkan Allah.

Mungkin tidak sekarang hikmahnya bisa kita ambil. Mungkin nanti. Karena itu prasangka baik selalu berpasangan dengan bersabar.

Prasangka baik bukan pula berarti mengabaikan segala emosi negatif yang sedang kita rasakan. Tak perlu berpura-pura kuat jika memang sedang lelah. Tak perlu berpura-pura sabar jika memang sedang kesal. Tak perlu pula berpura-pura memasang senyum paling manis di media sosial tapi menyimpan sejuta luka di kehidupan nyata.

Berprasangka baik berarti kita menerima itu semua. Boleh lelah, boleh marah, boleh berhenti sejenak dari hingar bingar dunia jika memang terasa begitu sulit untuk sekadar tersenyum. Lalu salurkanlah dengan cara yang baik. Entah menulis, bersih-bersih, menangis dalam salat, atau apapun.

Continue reading “Tentang Prasangka Baik”

30 Hari Ngeblog Ramadhan, Mama Curhat, Mama Lyfe

Tempat Buka Puasa Favoritku Selama di Medan

Hmm sebenarnya, kalau ngomongin tempat buka puasa favorit mah di rumah ya. Ngumpul bareng-bareng, makan apa aja juga seru. Tapi kadang memang ada momennya kita makan di luar, entah bertepatan dengan acara buka bersama atau ya sekadar mau cari suasana baru bareng keluarga.

Selama tinggal di Medan sih, ada dua tempat yang cukup mengena buat aku kalau lagi buka di luar. Mari coba kita ulas yaa..

Continue reading “Tempat Buka Puasa Favoritku Selama di Medan”

Cerita Fiksi

Buka Puasa Pertama Denganmu

Aku teringat lima tahun lalu, saat pernikahan kita baru berusia sebulan. Ramadhan pertama kita sebagai sepasang suami istri. Saat itu semuanya masih terasa manis. Menjelang berbuka, beberapa pesan masuk meramaikan grup whatsapp-ku. Juga grup yang sama dengan punyamu. Alumni IPA G SMA Cahaya 5 Surabaya.

“Ciye, yang buka sama sahurnya ada yang nemenin.”

“Ciye, buka puasanya masakin seseorang nih.”

“Ciye, puasanya barengan. Awas batal siang hari yaaa. Wkwkw.”

Aku tertawa sendiri membaca pesan-pesan itu. Memang, kita pasangan pertama yang menikah di kelas. Usia kita saat itu masih 21. Kamu nekat melamarku setelah yakin dengan usaha yang kamu rintis. Dan aku entah kenapa mau-mau saja, padahal aku sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahku. Pernikahan terasa sederhana bagiku yang saat itu dilanda resah setelah sekian lama memendam rasa untukmu. Gayung bersambut. Kamu melamarku secara tak terduga. Kedua orang tua kita pun memberi restu tanpa banyak syarat. Semua terasa mudah.

Kehidupan yang sempurna bukan?Menikah di usia muda dengan seseorang yang kuidamkan di masa remaja, menyelesaikan skripsi ditemani pendamping halal, dan menikmati Ramadhan berdua. Syahdu. Yaaa walaupun dalam hatiku terbersit rasa sombong karena merasa jauh lebih dulu dari teman-temanku yang lain. Tapi aku tak peduli. Hidupku bahagia. Dan terkadang aku pun menikmati sensasi membuat orang lain merasa iri dengan kehidupan yang kupunya.

“Makanya kalian buruan nyusul woii. Nggak bosen apa jomblo mulu. Wkwkwk.” Jawabku membalas pesan-pesan itu. Tentu saja dengan sombong yang tak kuanggap ada di hati.

Tak lama kemudian, aku ganti mengirim pesan untukmu.

“Sayang, cepat pulang ya, menu buka puasa hari ini sudah siap. Ada es teh segar, kalau nggak salah kesukaanmu kan?” Aku mengirim pesan disertai gambar makanan yang tersaji di meja. Sebenarnya aku menebak saja tentang minuman kesukaanmu.

“Iya, ini mau pulang. Apapun yang kamu bikin kesukaanku kok, Sayang. See you soon.” Jawabmu.

Aku tersenyum lega. Sebenarnya, aku lebih suka minum air putih saja, lalu makan cemilan sebentar ketika berbuka puasa. Setelahnya aku minum sinom, minuman herbal khas Surabaya yang terbuat dari irisan kunyit dan daun sinom. Rasanya sedikit asam, tapi segar, dan banyak bermanfaat untuk kesehatan. Pokoknya kesukaanku. Dulu Ibu sering membuatkan. Tapi karena ini di Medan dan jauh dari Ibu, belinya pun sulit, aku memilih diam saja dan mengikutimu minum es teh. Tadinya aku mau buat sih, tapi takut kamu tidak suka. Toh kamu tampak bahagia dengan menu kali ini. Apa salahnya kan berkorban? Bukankah katanya pernikahan itu pengorbanan?

Begitulah. Buka puasa pertama itu begitu membekas untukku. Aku jadi sering membuatkanmu es teh karena kurasa itu adalah minuman favoritmu. Hingga setahun kemudian, di Ramadhan berikutnya, aku tidak menyangka perkara minuman ini justru menjadi salah satu pemicu malapetaka dalam rumah tangga kita.

Continue reading “Buka Puasa Pertama Denganmu”

Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Untuk Aku yang Sedang Menunggu

Dear Aku,

Kamu tahu? Dari sekian banyak jenis menunggu, yang paling menyakitkan adalah menunggu orang lain atau keadaan berubah. Itu menyakitkan. Karena kita berharap sendirian.⁣

Percayalah. Sekuat apapun kamu meminta, keadaan tidak akan berubah jika kamu tidak memulai menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Menerima dulu. Seberapapun diri kamu berusaha menolak karena tidak tahan dengan rasa tidak enaknya. Terima dulu.⁣

Dalam proses itu, mungkin kamu akan tahu, bahwa ada hal di kehidupan kita yang akan terasa menjadi membahagiakan hanya ketika kita menerimanya. Terima dulu, barangkali Tuhan sedang menitipkan pesan lewat keadaan itu.⁣

Selebihnya, lakukan upaya yang bisa kamu lakukan. Jangan tunggu keadaan mengubah semuanya lebih baik. Kamu lah yang bergerak. Kamu lah yang memulai, meskipun jika nanti hasilnya tetap tak sesuai keinginanmu.⁣

Apakah itu mudah? Tidak. Continue reading “Untuk Aku yang Sedang Menunggu”

Mama Curhat, Mama Lyfe

Naya dan Toilet Training

Hai, I’m come back. Kali ini cerita perjalanan as a mother. Ini hanya cerita ya. Sekalian kemarin mencatat perkembangan Naya sejak toilet training. Saya banyak belajar dari tulisan ibu-ibu di blog tentang proses toilet training anaknya. Then, saya juga jadi semangat ikut nulis juga. Mungkin ada emak-emak yang jadi semangat ngajarin anaknya TT setelah baca ini. Aamiin.

Continue reading “Naya dan Toilet Training”

Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Memaafkan Diri Sendiri

Ini adalah aku suatu ketika, yang sedang berbicara dengan diriku sendiri. Adalah aku, yang mulai bertanya. Duhai diri, kapankah kamu akan memulai memaafkan dirimu sendiri?

Entah pada episode ke berapa, kamu akan sampai pada titik itu. Kamu masih saja menangis, atau sekadar merutuk. Mencari orang lain untuk kamu jadikan si ‘Yang Bersalah’, agar kamu menjadi korban. Membiarkan orang lain membuatmu begitu tersakiti. Lalu menangis seolah kamu paling menderita. Berharap menjadi sejenak lebih baik setelahnya. Kamu lagi-lagi begitu menikmati peranmu sebagai korban. Hingga kamu tak sadar, lukamu sendiri kamu tutup begitu tebal. Luka yang kamu perbuat pada dirimu sendiri.

Kalau tak ada lagi sesiapa yang bisa kamu salahkan atas air matamu, maka kamu mulai menyalahkan keadaan. Menyalahkan hujan yang harusnya turun menjadi berkah. Menyalahkan matahari yang harusnya menghangatkan jiwamu. Menyalahkan apa saja. Agar kamu tak tampak bersalah. Agar kamulah yang tampak menjadi korbannya. Hingga kamu semakin tak menyadari, lukamu bernanah di balik perban tebal yang kamu bebatkan. Kamu seolah baik-baik saja. Tapi langkahmu berat, jiwamu kosong. Hanya senyummu tersungging seolah kamu yang paling kuat. Ah, bukankah itu sungguh menyesakkan? Continue reading “Memaafkan Diri Sendiri”

buku, Review

Purple Prose (Ulasan)

Judul buku: Purple Prose
Penulis: Suarcani
Tebal: 304 halaman, 20 cm
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun: Cetakan Pertama, 2018

Sebagai pencinta genre novel metropop, novel ini sangat worth to read. Bahasanya sederhana, mengalir, tapi konfliknya cukup pelik dan membuat penasaran. Pantang berhenti sebelum ending.

Alur cerita bermula ketika Galih dimutasi dari Jakarta ke Bali. Sebenarnya ia tidak ingin kembali ke Bali, kota yang penuh dengan kenangan kelam masa lalunya. Buat apa membuka kenangan buruk, menyakitkan. Bukankah hidupnya sudah nyaman selama ini? Tapi ia tidak punya pilihan lain jika ingin naik jabatan.

Benar saja, di Bali, dosa-dosa masa lalunya, yang selama tujuh tahun ia tinggalkan, mulai menghantuinya. Dan pertemuan dengan Roya, yang ternyata juga memiliki rasa bersalah yg teramat dalam di masa lalunya, membuatnya seperti menemukan kaca. Berdua, mereka mulai mengurai masa lalu masing-masing. Belajar memaafkan diri sendiri, meminta maaf pada siapa yang pernah mereka sakiti, serta menghadapi semua hal buruk yang sebelumnya mereka hindari. Continue reading “Purple Prose (Ulasan)”