Cerita dan Celoteh

Cerita Pernikahan: Dari Tak Kenal Hingga Ta’aruf

Beberapa waktu yang lalu, ada yang nanya di IGS, gimana sih ceritanya dulu waktu ta’aruf sebelum menikah? Lalu aku terpikir untuk kembali menulis cerita ini lagi di blog. Sebenarnya sih cerita gimana aku nikah udah aku share di buku ‘Cinta yang Baru‘ lengkap. Tapi di tulisan kali ini, aku mau cerita tentang persiapannya.

Aku menikah umur 22 tahun 3 bulan, muda apa nggak relatif yaa. Takdir Allah, ketemu jodohnya di usia segitu. Dan iya, aku menikah sama seseorang yang aku nggak kenal sama sekali sebelumnya. Kok bisa? Aku juga nggak tahu. Padahal sebelumnya aku tuh percaya jodoh ada di lingkaran terdekat kita, entah temen sekolah atau kuliah atau organisasi gitu. Eh ndilalah kalau sama yang udah kenal ya gagal terus di prosesnya. Lalu di saat aku mulai menyerah urusan jodoh, ujug-ujug ‘ketemu’ kakak kelas di kampus yang beda empat tahun, beda jurusan, pokoknya nggak pernah ketemu blas lah. Ketemunya aku kasih tanda petik, karena kita belum ketemu secara langsung. Waktu itu hanya via BBM. Dia udah kerja di Medan, dan aku lagi meniti asa menjadi penulis di Bandung. Ceileh meniti asa πŸ˜†

Intinya waktu itu tuh lagi menggebu nekat ngejar passion, resign dari kerjaan di Jakarta dan stay di Bandung supaya bisa nulis dan nerbitin buku. Aku kerja jadi kakak asuh asrama salah satu boarding school di Dago Pakar.

Ada duit nggak? Boro-boro. Mau ngekos aja nggak bisa, nebeng sama temen sambil cari kosan eh alhamdulillah nemu kosan setelah sms temen kosan lama.

Mikirin jodoh nggak? Ya nggak sama sekali. Yang penting mikir gimana caranya nyambung hidup di kota yang jauh dari keluarga. Awalnya aku belum dapet kerja di asrama, masih nganggur di kosan, kerjaku bener-bener full nulis sama baca buku. Sama cari-cari kerja. Pokoknya ikhtiyar semampuku. Nah di kosan itu aku ketemu temen, terus dia nawarin mau ngenalin ke kakaknya. Ya spontan aku bilang nggak mau. Hahaha.

Saat itulah, ya ada aja cara Allah, lewat pembaca blogku, aku dikenalin tentang asrama itu. Aku coba masukin CV dan diterima. Alhamdulillah aku dapet kerjaan di asrama. Nah pas mau pindah ke asrama, aku ditanyain lagi sama temenku itu tentang tawaran mau dikenalin ke kakaknya. Aku masih santai aja sih. Ya kali paling bercanda doang, pikirku.

Eh beneran, aku di-BBM sama si masnya. Isi BBM-nya to the poin lagi. Hahaha. Intinya dia bilang, dia kakaknya temenku dan mau berproses serius kalau aku memang bersedia. Kalau dalam prosesnya nggak cocok ya udah selesai, kalau cocok ya nanti diatur. Terus aku terpesona πŸ˜† Receh kan? Padahal sebelumnya juga ada yang begitu, tapi entahlah kali itu berbeda aja rasanya.

Sebenernya aku juga bingung, semuanya kayak gampang aja. Semua keluarga langsung oke gitu. Padahal sebelum-sebelumnya alot. Terus pas aku lihat kalender itu, jeng jeng, tanggal aku kenal dia itu adalah tanggal yang aku tulis di proposal nikah. 41014.

Aku dulu emang pingin nikah sebelum umur 22 tahun. Aku punya proposal gitu, aku tulis ntar pinginnya nikahnya tanggal 4-10-14. Bulan Oktober. Kenapa Oktober? Karena aku lahirnya November, ntar suamiku lahirnya September, dan kita bertemu di Oktober. Kan sweet? Gitu maksudnya. Nggak jelas kan? Ahaha. Nggak tahu, aku dulu suka ngekhayal. Terus kenapa 4-10-14? Karena 4+10=14. Pas aja gitu. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Nah, 4-10-14 itu ternyata bukan tanggal nikahku. Tapi tanggal aku kenal seseorang itu. Dan ini jadi kayak nambah bikin yakin gitu.

Terus cukup yakin gitu aja? Nggak dong.

Sebelum nikah, aku udah lumayan rajin ikut kajian atau seminar pranikah. Ssstt sebenarnya waktu itu karena patah hati sih. Di momen itu, aku terpuruk banget, dan sadar kalau pernikahan itu bukan cuma penyatuan dua manusia yang saling jatuh cinta. Aku sadar harusnya harapanku itu ke Allah. Bulat. Allah doang. Bukan ada embel embel biar nikah sama si dia. Jadi aku kayak disadarkan kalau ternyata nikah itu nggak sesimpel soal jatuh cinta, tapi gimana membangun cinta dan mempertahankannya. Daripada aku galau, aku ikut banyak banget kegiatan waktu itu. Dan dapet banyak pelajaran tentunya.

Aku belajar bahwa menikah itu ternyata nggak melulu bahagia. Akan ada banyak konflik yang kita hadapi. Makanya penting banget membicarakan banyak hal kepada si dia dalam proses menuju pernikahan itu. Ini untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan setelah nikah.

Soal keahlian mah tiap orang beda-beda ya. Yang penting, kita tahu diri kita seperti ini, dia seperti itu, lalu saling mengerti. Mana yang bisa kuterima, dan mana yang tidak bisa kuterima. Apakah masih bisa ditolelir dengan solusi? Atau nggak bisa lagi? Nah inilah pentingnya proses.

Kadang dua orang yang dimabuk cinta, lupa akan hal ini. Karena lagi cinta-cintanya, ya tahunya dia baik, pokoknya baik. Nggak ada diskusi mendalam untuk saling mengenal dari hal kecil sampai hal besar.

Aku sendiri akhirnya memutuskan bikin proposal nikah karena aku tipe orang yang terkonsep. Lebih suka kalau segala sesuatu itu dituliskan. Di proposal itu isinya ya diri aku seperti apa, keluargaku seperti apa, visi misiku gimana, dan lain-lain. Aku dulu ngarang sendiri sih nggak pakai template. Panjang banget kayak novel jadinya karena aku full cerita. Hehe.

Nah proposal ini nantinya bisa disampaikan ke calon pasangan kita dalam proses perkenalan. Ada banyak sekali hal yang bisa didiskusikan dari proposal itu pastinya. Kalau bisa sih sedetail mungkin.

Terus kalau udah ada proposal lalu tukeran langsung deal nikah? Ya nggak juga. Aku beberapa kali berproses tukar proposal tapi gagal. Ya karena ada hal-hal yang tidak disepakati. Dan itu nggak apa-apa kok. Namanya berproses kan.

Apakah proposal ini satu-satunya cara untuk saling mengenal sama calon kita?
Nggak juga, masih banyak sekali cara lainnya. Lewat diskusi langsung sama ortunya atau saudaranya misalnya. Tapi kalau aku pribadi, proposal sangat membantu karena lebih terkonsep. Lha kita bikin event aja ditanya proposal kan, apalagi ini mau menjalani event seumur hidup?

Aku udah kenal banget sama dia, masih perlu pakai proposal?

Menurut aku sih masih perlu banget. Ini aku lho ya, beda kan gapapa yaa. Menurutku, kadang saking kenalnya kita sama seseorang, kita sampai lupa bicarain sesuatu yang sifatnya visioner.
Jadi proposal ngebantu banget dalam proses diskusi. Jadi lebih terarah gitu sih.

Terus kalau udah pakai proposal dijamin nikahnya bahagia selamanya? Yeee itu mah cinderella. Wkwkw. Ya kalii, tetep aja ujian mah banyak. Tapi setidaknya kita sudah meminimalisir banyak hal di awal. Sesuatu yang bisa kita diskusikan sebelum nikah, sudah kita habiskan duluan. Bukan udah nikah baru dibahas. Lebih susah. Banyak lho yang nyesel karena pas nikah ternyata suaminya nggak pro ASI misalnya. Sementara si istri maunya ASI eksklusif. Atau si istri mau kerja, si suami nggak ngebolehin. Masalahnya terlihat simple. Bisa banget didiskusikan. Tapi karena nggak ada komunikasi, itu jadi masalah dalam pernikahan. Kedua belah pihak merasa tidak mendapat support system dalam rumah tangga. Terus drama dan masalahnya meluber ke mana-mana.

Kalau aku, misal pas proses aku tahu calonku nggak ngebolehin aku nulis, ya langsung aku cut prosesnya. Itu dulu syarat mutlak sih buat aku. Jadi bisa diminimalisir.

Ujian mah banyak. Belajar mah terus ya kan? Ya intinya mah udah tahu akan banyak ujian, terus nekat nggak belajar tapi mau cepet-cepet masuk ruang ujian, ya pusing atulah.

Kenapa sih milih ta’aruf? Sebelumnya aku tegasin lagi, jalan jodoh mah macem-macem yaa. Nah ini kan aku kagi cerita yang kualami aja hehe. Kalau buat aku, ta’aruf itu prosesnya jelas. Secara sebelumnya aku udah pernah patah hati karena PHP. Jadi nggak mau lagi sama proses yang nggak jelas. Iya, aku emang nggak kenal sama calonku waktu itu. Tapi selama masa ta’aruf itu, aku kenalan banyak sekali. Ya lewat proposal tadi, ya nanya-nanya juga ke orang terdekatnya, ya diskusi juga nyambung apa nggak. Aku mencoba sejujur mungkin selama proses itu.

Berapa lama prosesnya? Kalau sama suamiku ini, proses kami sampai yakin ‘ya, kita cocok’ itu sekitar sepuluh hari. Ini termasuk cepet. Sebelumnya aku pernah juga ta’aruf dua mingguan tapi nggak berlanjut karena ya banyak hal yang nggak bisa diselaraskan. Jadi, proses mah relatif yaa. Yang penting, selama proses itu pastikan semua rasa penasaran tuntas, nggak ada yang ngganjal, sampai benar-benar yakin.

Dan abis itu juga ujianku masih banyak kok. Bahkan hampir nggak jadi nikah karena aku takut ini itu. Sampai aku melihat gimana dia menyelesaikan masalah, gimana dia marah, gimana dia mengatasi egoku, lalu saat itulah aku makin yakin untuk menjadikan dia imamku. Aku yakin itu adalah bagian proses, cara Allah menjawab istikharahku, menunjukkan banyak hal untuk membungkam raguku. Makanya, penting banget selama proses ta’aruf hingga waktu pernikahan tiba, teruslah meminta petunjuk pada-Nya.

So, begitulah kurang lebih persiapan nikahku dulu dari tak kenal hingga ta’aruf. Yakinin hati, yakinin semuanya, dan yang penting sih BENERIN NIAT. Bener niatnya karena mau ibadah kan? Bukan karena lelah kerja terus mau nikah aja kan biar ada suami? Bukan karena kesel sama keadaan rumah terus biar kabur kan kalau udah nikah? Bukan karena mau menyandarkan harapan bahagia sama pasangan kan? Bukan biar bisa upload foto romantis di IG dan bikin baper para jomblo kan?

Serius. Kalau niatnya itu, nanti dapetnya capek aja. Bukan bahagia. Karena nikah kan ibadah. Separuh agama. Ya udah pasti terjal jalannya.

Makanya, buat yang masih single, banyakin belajar dan belajar. Fokus berkarya. Jangan sampai masih single, ngebet mau nikah, tapi nanti udah nikah pingin single lagi. Udah tahu kan kalau udah nikah juga pasti ada konsekuensinya? Apalagi kita perempuan, harus ada ridho suami dulu sebelum berbuat apapun.

Teori mah gampang ya, prakteknya emang sesuatu. Hehehe..

Oh ya, selain ikut kajian pra nikah, baca buku-buku self improvement juga penting. Aku sih rekomen baca karya-karya mas Kurniawan Gunadi dan istrinya Aji Nur Afifah. Bikin kita melek mata. Atau baca juga deh novelnya Adhitya Mulya yang best seller itu lho, Sabtu Bersama Bapak. Dulu si Mas aku suruh baca itu terus kita diskusikan, pas kita lagi proses kenalan. Banyak pelajaran tentang pernikahan di sana yang bisa diambil.

So, bukan nikah mudanya ya poinnya. Tapi gimana kita menyiapkannya. Dan juga harus diinget, menyiapkannya pun bukan buat si dia. Tapi ya karena kita memang harus menjadi semakin baik, harus berbenah karena Allah. Mau dapet jodohnya kapan dan gimana itu urusan Allah. Titik. Soalnya kalau diniatin nunggu jodoh aja, mau tahajud ribuan kali rasanya berat di hati kala jodohnya nggak dateng, karena niatnya nggak murni ke Allah.

Susah? Iya 😭

Selamat berikhtiyar. Mari terus belajar kenal sama diri sendiri. Kenalan sama Allah. Nanti Allah yang bantu prosesnya.

Oh ya, banyak juga yang DM, mau lihat proposalku itu kayak gimana sih?

Kalau mau lihat punyaku, maaf aku nggak bisa lihatin. Karena isinya sangat pribadi yaaa. Kalau ditanya template juga aku bingung, karena dulu aku ngasal aja.

Nah sekarang sih ada buku ini. InsyaAllah ngebantu banget buat kita kenalan lagi sama diri sendiri. Ada banyak hal yang bisa diisi. Bisa tukeran juga sama calon.

Buku ini tuh kayak ngasih langkah nyata, apa sih yang kita lakukan jika kita masih single dan berikhtiyar menuju pernikahan?

Kalau belum ada pasangan yang diajak diskusi gimana?
Ya nggak apa-apa, minimal kita udah gerak selangkah lebih maju. Aku dulu juga bikin proposal sebelum kebayang siapa dianya.

Terus kalau di buku ini tuh udah dikasih tahu juga, misal kita udah okay nih mau nikah, terus mau bikin acara pernikahan, apa aja yang harus disiapkan? Sedetail itu. Mungkin bisa membantu yaaa.. Kalau tanya detail tentang buku ini, bisa klik ini aja ya manteman.. atau manualnya bisa ke whatsapp 085726800487.

Selamat berjuang!

24 thoughts on “Cerita Pernikahan: Dari Tak Kenal Hingga Ta’aruf”

  1. Aku menikah usia 22 tahun kurang 10 hari. Walaupun tak memakai jalur proposal ini kemarin, karena paksu kk senior satu alumni di sekolah dulu. Tapi kami yakin jalur ini salah satu ikhtiar terbaik mendapatkan jodoh.

  2. Pernikahanku juga lewat jalur perjodohan lewat murobiyah. Prosesnya dari dapet proposal hingga ke akad nikah 1 bulan. Aq belum pernah ketemu dan interaksi dengan beliau sama sekali sebelumnya. Tapi 1 bulan sebelum menerima proposal nikah, dia adalah laki-laki yang dengan ikhlas kudoakan dimudahkan bertemu dengan jodohnya di sebuah Jum’at yang gerimis seusai munashoroh Palestina akhir 2006

  3. Kereeeen .
    Pernah dengar curcol seSeorang,
    tujuan nikah kita itu harus ditelaah, kalo gak akan dipatahkan oleh keinginan kita..

    Misalnya :
    cowok: aaku nikah biar ada yang urus, Eeeh Ndilalah istrinya pemalas.

    Cewek: aku nikah biar ada yang nafkahin, Eeeh Ndilalah malah dia yang cari nafkah banting tulang.

  4. aku juga nikah sama orang yg bukan dari lingkungan dekat/lingkar pertemanan kak. hampir mirip tapi tak sama. memang allah segituu luarbiasanya dalam mengatur dan menyutradarai hidup kita hambanya ini ya kak. tulisan ku ttg ini juga menyusul. heheheh

  5. Terimakasih atas pengalamannya, kak.
    Semoga keluarga kakak senantiasa Allah limpahkan Rahmat dan karunia-Nya. Aamiin.

    Ternyata ada juga yang tidak setuju kalau istrinya penulis ya. πŸ˜”

  6. Romansa ta’aruf kalau direwind lg buat senyam senyum ya….tapi persis yang disampaikan ahimsa, setelah ta’aruf ketika ingin melangkah ke jenjang selanjutnya perbaiki niat ‘menikah karena Allah, karena ingin menyempurnakan keimanan’ . Itu bantu banget ketika nantinya pernikahan terlaksana dan kita menjalani hari2 pernikahan. Insya Allah segala permasalahan pernikahan akan dikembalikan lagi kepada yang mentakdirkan pernikahan ini terjadi. Insya Allah lebih tenang…

  7. Makasi sharing nya kak himsaa, aku salah satu yang ngikutin Novel nya kaka dari yang Novel pertama daaan paling jatuh cinta sama Teka-teki Rasa. Hehe.
    Waah ternyata proses taaruf juga panjang ya, dan bener2 harus lurusin niat. Komit juga sama apa yang kita buat di Proposal Ta’aruf.
    Makasii kak, aku jadi tau harus ngapain lagi setelah ini .

  8. Hihi, jd ingat jg, saya nikah usia 22 tahun lebih 7 bulan. Udah masuk 23 blm yaa…hampiir. jalan menuju jodoh itu memang misteri. Udah nyiapin proposal nikah sejak di Jogja, eh dptnya org Medan juga. Cm bs blg Alhamdulillah.

  9. Prosesnya sangat bertahap ya. Persis kayak buat event , karena ada proposal. Menikah memang bukan sekedar 2 insan yang berjenis kelamin berbeda dan saling cinta2an langsung sama satu rumah. Karena ada banyak tantangan yang akan dihadapi dalam berumah tangga

  10. Proses mendapatkan jodoh memang sudah takdir Allah ya, mau mengelak dikenalkan dengan seseorang malah berujung ke pernikahan. Yap benar untuk nikah itu berawal dari niat, dan niatnya harus BENAR dan karena Allah πŸ™‚

  11. Mau dong bukunya kak… Gratis kan? #eh
    Ternyata Taaruf ini kelihatannya asik ya kak… Kita ga akan tau sifat jodoh kita dan setelah menikah, baru deh tau. Semoga bisa taarufan. Hihihi

  12. Selalu amaze mendengar cerita tentang ta’aruf, karena aku nggak melewati proses itu dulu. Memang niat nikah itu harus diluruskan ya nov, niat menikah untuk ibadah ke Allah. Kalo udah lurus niat dan ikhlas, mau jalan terjal gimana pun bakal kuat menghadapinya.

  13. Aku juga baca Sabtu bersama bapak,
    Udah lama dan agak lupa sih wkwk, tapi waktu itu abis baca emang niat ngeshare buku itu biar dibaca saking aku merasa bagus untuk bekal pernikahan haha

    *Emak emak diatas cerita pengalaman ta’aruf, aku komen buku aja dah hahaha

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s