30 Hari Ngeblog Ramadhan, Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Ketika Aku Tidak Mampu

Dear Aku, apa yang sedang kamu pikirkan? Mengapa tak henti kamu rutuki dirimu sendiri? Berhentilah menghujani dadamu dengan sederet perasaan bersalah.

Coba lihat lagi, lihat lebih dalam. Kamu bukannya bersalah, kamu hanya tidak mampu. Dan itu tidak apa-apa. Tidak semua hal mampu kamu kerjakan. Sungguh, itu tidak apa-apa. Karena kamu juga manusia yang tidak maha segala.

Setidaknya, kamu tahu kamu sudah berusaha. Kamu tidak menyerah tanpa melakukan apapun. Kamu sudah berjuang. Tapi akhirnya kamu tetap tidak mampu. Sekali lagi, itu tidak apa-apa. Justru ucapkanlah terima kasih pada dirimu sendiri karena telah mau berjuang sekeras itu.

Aku tahu kamu masih sedih karena kegagalan atau ketidakmampuanmu ini. Pasti karena kamu mulai membandingkan dirimu dengan orang lain. Iya kan?

Mengapa dia bisa berjuang lebih keras lagi sedangkan untuk sampai di sini saja aku tak sanggup?

Mengapa dia malah bisa meraih itu semua tanpa perjuangan yang berarti?

Ya, aku bisa mendengar jerit di hatimu.

Kamu tenggelam dalam protes. Kamu kecewa pada keadaan. Kamu lupa kalau kamu hanya manusia yang tidak bisa menyaksikan semua hal sekaligus. Maka tidak adil jika menilai suatu kemudahan hanya dari satu kejadian. Karena setiap manusia hidup berproses dan bersinggungan dengan banyak hal.

Bisa jadi, seseorang dimudahkan di suatu hal karena dia telah berjuang banyak untuk hal lain jauh sebelum ini. Dan kita tidak tahu perjuangan apa yang telah dilalui itu sehingga dia layak memperoleh apa yang dia mau.

Bisa jadi juga, kita tidak diberi kemampuan dalam hal ini, tapi ada hal lain yang menanti kita dengan sederet kemudahan. Hanya saja, karena fokus pada ketidakmampuan, kita melupakan kemampuan kita yang lainnya.

Bisa jadi juga, kita hanya perlu belajar dari sederet kejadian ini. Ya, belajar lebih mencintai lagi takdir Allah. Belajar mengenal lagi diri sendiri. Belajar mencintai lagi Rabb kita.

Dear, Aku.

Jangan lelah berusaha. Tapi juga jangan lupa menerima. Lepaskan banyak kekhawatiran yang kamu buat. Terima jika kamu memang tidak mampu.

Tidak apa-apa.

Menjadikan diri tersangka secara berkepanjangan atas kesalahan yang sudah terlewat hanya akan membuatmu diam di satu titik. Kamu hanya akan merenung, menangis, menyesal. Sudahlah.

Lihatlah dirimu sendiri lebih banyak. Tanyalah. Apa yang kamu mau, hai aku? Dengarkankah jawaban dari hatimu. Lalu buatlah standard keberhasilanmu sendiri, bukan karena keberhasilan orang lain.

Tapi jangan juga kamu lupa, menyadari ketidakmampuan juga bukan berarti membuatmu mudah menyerah tanpa usaha. Menerima suatu keadaan bukan berarti kamu membiarkan dirimu bermalasan karena merasa tidak mampu, padahal bisa saja mampu. Juga bukan dengan penundaan atau alasan lain yang sebenarnya hanyalah ketakutanmu sendiri.

Dear, Aku.

Aku tahu tidak mudah memilih kapan kita harus berhenti dan menerima ketidakmampuan. Kapan kita harus terus keras mengejar ambisi. Pengalaman, tidak lelah mencoba, akan membuatmu mengerti. Dan itu adalah tentang perjalananmu sendiri, jangan pernah bandingkan dengan yang lain, kecuali kamu akan ambil pelajarannya saja.

Dear, Aku.
Terima kasih sudah terus berjuang sejauh ini. Mari bangun dan berjuang lagi.

Medan,
12 Mei 2019
20.11

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s