30 Hari Ngeblog Ramadhan, Cerita dan Celoteh, Prosa dan Puisi

Tentang Prasangka Baik

Ketika kita sudah berusaha berprasangka baik, tapi ternyata hasilnya tetap tidak baik, itu rasanya ingin menyerah saja. Buat apa selama ini berprasangka baik? Toh yang terjadi tetap saja buruk. Tetap saja tidak tidak sesuai harapan kita.

Eh tunggu, buruk versi siapa?

Kita mungkin lupa bahwa berprasangka baik itu tidak sekadar berarti berprasangka bahwa sesuatu akan terjadi sesuai keinginan kita. Tapi berprasangka baik juga percaya, bahwa apa yang akan terjadi nanti setelah segala usaha kita, adalah yang terbaik yang diatur Allah–entah sesuai dengan keinginan kita atau tidak. Berprasangka baik itu meyakini, bahwa seburuk apapun keadaan yang menimpa kita, tersimpan hal baik yang sedang disiapkan Allah.

Mungkin tidak sekarang hikmahnya bisa kita ambil. Mungkin nanti. Karena itu prasangka baik selalu berpasangan dengan bersabar.

Prasangka baik bukan pula berarti mengabaikan segala emosi negatif yang sedang kita rasakan. Tak perlu berpura-pura kuat jika memang sedang lelah. Tak perlu berpura-pura sabar jika memang sedang kesal. Tak perlu pula berpura-pura memasang senyum paling manis di media sosial tapi menyimpan sejuta luka di kehidupan nyata.

Berprasangka baik berarti kita menerima itu semua. Boleh lelah, boleh marah, boleh berhenti sejenak dari hingar bingar dunia jika memang terasa begitu sulit untuk sekadar tersenyum. Lalu salurkanlah dengan cara yang baik. Entah menulis, bersih-bersih, menangis dalam salat, atau apapun.

Lalu, setelah semua emosi negatif itu tersalurkan pada tempatnya, kembalilah berkarya, kembalilah bergerak. Kita juga tidak boleh lama larut dalam sedih kan? Tapi memang, jangan pernah lupa memberi waktu diri kita sendiri untuk istirahat sejenak, untuk sekadar sadar bahwa kita juga bisa sakit.

Setelahnya, kembalilah yakin bahwa ada hal baik dari semua sakit ini.

Pelan-pelan kita akan mengerti, mengapa kejadian yang seharusnya begitu, tapi kenyataannya tidak begitu. Mungkin sekarang terasa buruk, tapi kita tidak tahu, dari ‘keburukan’ itu, nantinya ada kebahagiaan besar yang sangat berarti untuk hidup kita.

Sulit? Iya.

Tapi selalu lebih sulit jika kita terus membiarkan diri larut menyalahkan keadaan dan terpuruk dalam ketidakberdayaan.

Mudah? Sekali lagi tidak.

Ada yang lebih mahal dari semuanya, yaitu pelajaran yang kita dapatkan dari semua proses ini. Maka sesulit apapun, setidaknya, masih ada pelajaran yang bisa diambil untuk bekal langkah selanjutnya.

#NoteToMySelf #selfreminder #30haribercerita #30haritantanganpuasabloggersumut #bloggersumut @bloggersumut

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s