Cerita Fiksi

Buka Puasa Pertama Denganmu

Aku teringat lima tahun lalu, saat pernikahan kita baru berusia sebulan. Ramadhan pertama kita sebagai sepasang suami istri. Saat itu semuanya masih terasa manis. Menjelang berbuka, beberapa pesan masuk meramaikan grup whatsapp-ku. Juga grup yang sama dengan punyamu. Alumni IPA G SMA Cahaya 5 Surabaya.

“Ciye, yang buka sama sahurnya ada yang nemenin.”

“Ciye, buka puasanya masakin seseorang nih.”

“Ciye, puasanya barengan. Awas batal siang hari yaaa. Wkwkw.”

Aku tertawa sendiri membaca pesan-pesan itu. Memang, kita pasangan pertama yang menikah di kelas. Usia kita saat itu masih 21. Kamu nekat melamarku setelah yakin dengan usaha yang kamu rintis. Dan aku entah kenapa mau-mau saja, padahal aku sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahku. Pernikahan terasa sederhana bagiku yang saat itu dilanda resah setelah sekian lama memendam rasa untukmu. Gayung bersambut. Kamu melamarku secara tak terduga. Kedua orang tua kita pun memberi restu tanpa banyak syarat. Semua terasa mudah.

Kehidupan yang sempurna bukan?Menikah di usia muda dengan seseorang yang kuidamkan di masa remaja, menyelesaikan skripsi ditemani pendamping halal, dan menikmati Ramadhan berdua. Syahdu. Yaaa walaupun dalam hatiku terbersit rasa sombong karena merasa jauh lebih dulu dari teman-temanku yang lain. Tapi aku tak peduli. Hidupku bahagia. Dan terkadang aku pun menikmati sensasi membuat orang lain merasa iri dengan kehidupan yang kupunya.

“Makanya kalian buruan nyusul woii. Nggak bosen apa jomblo mulu. Wkwkwk.” Jawabku membalas pesan-pesan itu. Tentu saja dengan sombong yang tak kuanggap ada di hati.

Tak lama kemudian, aku ganti mengirim pesan untukmu.

“Sayang, cepat pulang ya, menu buka puasa hari ini sudah siap. Ada es teh segar, kalau nggak salah kesukaanmu kan?” Aku mengirim pesan disertai gambar makanan yang tersaji di meja. Sebenarnya aku menebak saja tentang minuman kesukaanmu.

“Iya, ini mau pulang. Apapun yang kamu bikin kesukaanku kok, Sayang. See you soon.” Jawabmu.

Aku tersenyum lega. Sebenarnya, aku lebih suka minum air putih saja, lalu makan cemilan sebentar ketika berbuka puasa. Setelahnya aku minum sinom, minuman herbal khas Surabaya yang terbuat dari irisan kunyit dan daun sinom. Rasanya sedikit asam, tapi segar, dan banyak bermanfaat untuk kesehatan. Pokoknya kesukaanku. Dulu Ibu sering membuatkan. Tapi karena ini di Medan dan jauh dari Ibu, belinya pun sulit, aku memilih diam saja dan mengikutimu minum es teh. Tadinya aku mau buat sih, tapi takut kamu tidak suka. Toh kamu tampak bahagia dengan menu kali ini. Apa salahnya kan berkorban? Bukankah katanya pernikahan itu pengorbanan?

Begitulah. Buka puasa pertama itu begitu membekas untukku. Aku jadi sering membuatkanmu es teh karena kurasa itu adalah minuman favoritmu. Hingga setahun kemudian, di Ramadhan berikutnya, aku tidak menyangka perkara minuman ini justru menjadi salah satu pemicu malapetaka dalam rumah tangga kita.

“Kamu tadi bikinin sahur apa sih? Aku sakit seharian nggak bisa meeting. Padahal kerjaan lagi numpuk.” Katamu begitu sampai rumah.

“Terong balado kan sama ayam goreng? Kamu kenapa? Ya udah istirahat aja.” Aku menyiapkan bantal untukmu istirahat. Aku menawarimu untuk membatalkan sahur jika memang sakit, tapi kamu menolak dan memilih tidur, tanpa menolehku.

Menjelang waktu berbuka, kamu menarik napas panjang sewaktu melihat hidangan yang kusajikan di meja. Kamu tampak tak berselera. Hanya air putih dan dua biji kurma yang kamu makan. Setelah itu kamu salat Magrib dan tidur lagi. Tidak tahan dengan diammu, aku menghampirimu.

“Apa lagi sih? Bisa nggak sih biarin dulu aku bebas dengan pilihanku? Semua kamu yang pilih. Egois kamu tuh!” Katamu dengan nada tinggi ketika aku berusaha mendekatimu. Sontak aku terkejut.

“Egois?”

“Baju semua kamu pilih. Minum teh tiap hari buat buka juga pilihan kamu. Aku tuh nggak suka teh! Nggak suka pedes!” Katamu lagi. Aku semakin terkejut. Sementara dadaku mulai terasa sesak. Sakit.

“Kenapa kamu nggak bilang saja?”

“Ya gimana, kamu nanti merajuk kalau aku nggak makan.”

“Kapan aku merajuk?”

“Ah nggak tahu lah!” Kamu lalu menutup seluruh tubuhmu dengan selimut. Sementara aku tersedu di sampingmu.

Pernikahan yang aku banggakan ternyata oleng hanya karena perkara sepele. Aku tidak tahu harus berbicara apa selain memegang dada kiriku yang terasa semakin sakit. Engap. Aku tidak menyangka lelaki lembut yang selama ini membahagiakanku ternyata begitu kecewa denganku.

***

Hari ini, empat tahun berlalu sejak hari itu, Ramadhan yang kelimaku denganmu. Kamu tersenyum menikmati kurma lalu meminum air putih. Begitupun denganku. Ternyata sebenarnya kita berdua sama. Sama-sama tidak suka minum teh untuk berbuka puasa. Aku menertawakan kekonyolan kita saat itu.

Kita. Dua orang yang berusaha saling membahagiakan, saling takut mengecewakan, memilih menerka kode, memilih setuju atas apapun daripada memicu konflik. Dan kita, pada kenyataannya adalah dua orang yang saling kecewa, saling menyimpan kesal. Merasa sudah berkorban banyak tapi tak dianggap. Karena nyatanya kita tidak mengorbankan apa-apa selain diri kita sendiri.

“Padahal pernikahan bukan untuk menyakiti diri sendiri ya,” katamu tertawa setelah mengenang ini semua.

“Segitu pentingnya ya komunikasi. Kalau dari awal kita saling bicara pasti nggak akan segininya.” Timpalku.

“Tapi kalau nggak gitu kita nggak belajar. Karena ya emang kita itu terkadang lebih suka memendam banyak hal, takut akan konflik, padahal semakin kita tidak bicara ya semakin memicu konflik yang lebih besar. Kan bisa dibicarain baik-baik, walaupun abis itu ya ada konflik juga sih.”

“Iya.” Aku tersenyum. Tak terhitung entah berapa konflik yang kita alami untuk sampai di titik ini. Mengenalmu dari lama ternyata tak menjamin pengetahuanku tentangmu juga sama banyaknya. Yang permukaan saja aku salah. Aku terus belajar mengenalmu dan mengenal diriku sendiri lewat pernikahan ini.

Aku sadar ternyata tidak ada pernikahan yang mudah. Yang ada adalah dua orang yang terus berjuang. Sejak itu, aku tak lagi melihat pernikahan sebagai suatu ‘pretasi yang patut dibanggakan.’ Setiap pernikahan adalah ibadah dan proses belajar. Mereka yang lebih dulu menjalaninya belum tentu lebih dewasa menjalaninya.

“Eh udah beli sinomnya?” Tanyamu.

“Udah kok. Seneng deh sekarang ada @sinom.jowo di Medan, jadi nggak perlu jauh-jauh minta bikinin Ibu di Surabaya. Hehehe.”

“Alhamdulillah. Nanti aku minta juga ya.” Iya, ternyata kamu juga sinom.

Trink. HP kami berbunyi bersamaan. Pesan dari grup yang sama. Sebuah kabar gembira tentang kelahiran bayi.

“Wah, ponakan online yang ke tujuh.”
Lima tahun berlalu, teman-teman kita menyusul menikah, beberapa bayi sudah lahir setelahnya.

Kita lalu saling tatap setelah membaca pesan itu. Biasanya, aku selalu menangis. Tapi kali ini senyummu membuatku kuat.

“Salat yuk. Kita minta sama Allah lagi. Punya anak itu titipan, mungkin sekarang belum waktunya kita dititipi.” Katamu.

Aku menurut. Tersenyum sebentar. Memelukmu. Lalu berwudu. Bersimpuh. Memohon ampun atas semua kesombongan yang pernah ada di hati.

Medan,
6 Mei 2019
15.57

1 thought on “Buka Puasa Pertama Denganmu”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s