Cerita Fiksi

A Gentleman

Aku duduk di kantin kampus. Entah sejak kapan, kantin ini sekarang dilengkapi dengan iringan musik instrumental. Aku menikmatinya, ketika tak berapa lama kamu datang.

“Seru ya, Kak, sekarang ada musiknya,” sapamu sambil terseyum seperti biasanya. Dan kamu masih memanggilku “kakak”.

“Iya, sejak kapan?”

“Sejak negara api menyerang, Kak.”

“Ah, kamu basi, Dek.” Dan aku masih menyapamu dengan “Dek”.

“Aku nggak berniat bikin basi, Kak. Tapi perubahan di kampus ini benar-benar mengubah banyak hal.”

“Apanya?”

“Kakak amati, deh. Oh, Kakak rasakan. Masih bau asap rokok?”

Aku melirik sekitar, menarik nafasku, tidak ada.

“BEM yang baru seru, Kak.”

BEM? Aku teringat cita-citamu yang ingin menjadi Ketua BEM sejak masuk kuliah.

“Oh, jadi sekarang kamu ketuanya?” aku bersemangat, “wah selamat ya,”

Dia menunduk sebentar, lalu tersenyum, “saya nggak jadi maju, Kak.”

“Bukannya itu impian kamu?”

“Dilan punya kemampuan lebih, Kak, dari saya. Dia punya massa yang banyak dan dia punya kemampuan menggerakkan orang lain.”

“Kamu?”

“Aku masuk ke departemen, Kak, membantu Dilan.”

Aku tidak mengerti cara pikirmu. Seingatku, kamu seorang visioner yang percaya bahwa mimpi harus dicatat, direncanakan, dan diperjuangkan. Bukankah, mmm, mimpimu semester ini adalah menjadi Ketua BEM? Bukankah, kemarin-kemarin sebelum ini, semua langkah untuk sampai sini sudah diperjuangkan? Mengapa kamu mundur di tengah jalan?

“Kamu mundur? Ah, nggak gentle kamu, Dek.”

Kamu membenarkan posisi dudukmu, “sejak aku kenal Dilan mendalam, aku tahu, Kak, kampus ini lebih butuh pemimpin seperti dia. Bisa jadi aku memang punya banyak strategi, tapi kemampuan menggerakkan massa dan diikuti massa, itu ada di diri Dilan. Efekku tidak sebesar dia, Kak.”

Aku masih kurang paham.

“Gini, Kak. Kalau aku terus maju, aku egois. Iya, prestasiku mungkin akan menjulang, aku memang sudah menyiapkan banyak strategi. CV-ku akan terlihat keren dengan posisi sebagai Ketua BEM. Tapi, buat apa kalau itu nggak sampai ke semua elemen kampus? Buat apa kalau aku nggak punya pengaruh besar? Aku melakukan ini untuk semua kepentingan di kampus ini kan? It means, not only my ambition.”

“Lalu, Dilan?”

“Aku mungkin bisa membangun pengaruh di sini, tapi Dilan sudah jauh lebih mampu dalan hal itu, Kak. Ini akan makan waktu lagi. Jadi, aku memilih mendampinginya, menyalurkan strategi-strategi yang kususun sejak dulu di kepemimpinannya. Buat apa sih kita pergi membawa prestasi tapi tidak meninggalkan jejak manfaat? Prestasi semu bukan?”

Aku tersenyum, dalam hatiku meralat penilaianku tadi, “you’re so gentle, Boy!”

“Kakak kelihatan lebih muda pakai jilbab warna gitu,” ia melirik jilbab tosca yang kukenakan. Aku tersenyum lagi, kali ini semu muka merah.

 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

13 thoughts on “A Gentleman”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s