Cerita Fiksi

They Call it, “Nyesek!”

puzzle heart

Ada yang bilang bahwa di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa dipaksakan: cinta dan celana. Sama-sama menyesakkan kalau dipaksa. Well, hey. Ada benarnya. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengaku pejuang cinta tapi terus menunggu, menunggu yang dicinta—tapi tidak balik mencinta—berubah pikiran tentang cintanya? Adakah itu berarti kesetiaan? Kesetiaan untuk siapa? Jika saja yang dicinta bahkan tak pernah memilihnya. Apakah itu seperti, terus menunggu pesawat mendarat di stasiun kereta?

Figi menghembuskan nafas memikirkan hal itu, ia ngeri membayangkan pesawat mendarat di rel kereta. Bukan tempatnya. Atau mungkin lebih baik perumpaannya adalah seperti lego yang tidak terpasang dengan pasangannya, atau puzzle yang tidak diletakkan pada tempatnya. Ah, bukan itu intinya, ia teringat temannya yang empat tahun berlalu ternyata masih menunggunya. Padahal sejak empat tahun pula Figi sudah menolaknya secara baik-baik.

“Bagaimana kamu tetap bisa berteman baik denganku? Kalau aku masih menunggumu bagaimana?” tanya lelaki itu pada Figi, suatu hari melalui pesan whatsapp.

Figi tak membalas. Dicintai sahabat sendiri, sedangkan kita tidak cinta itu dilema. Antara harus menjauh atau tetap menjaga berteman baik dengannya. Ya, berteman baik, seharusnya tidak jadi masalah, jika saja pertemanan itu murni pertemanan. Dalam cinta, nyatanya kita tidak bisa berkedok sekadar teman, ada kalanya kita harus tegas. Ah, Figi 90% percaya tidak ada pertemanan antara laki-laki perempuan yang murni pertemanan, tetap saja entah dua-dua atau satu di antaranya, terbersit perasaan berbeda. Kata mereka friendzone. Mungkin itu alasan Islam mengatur dengan baik interaksi lawan jenis. Lalu, apa itu berarti harus menjauh? Maybe, dengan begitu hati lebih mandiri. Belajar bebas dari harapan-harapan. Belajar membuka banyak kesempatan yang lain.

Well, Gi. You don’t need to answer. I’m truely your friend now. Like others.” Bunyi beep lagi di ponsel Figi.

“Kamu tahu aku kan? If I say no, it means no. Sulit sekali berubah. I’m happy to have a friend like you. Ya, terlebih kamu mau menerima penolakanku, menghargaiku,  dan tidak memutuskan untuk terus menungguku.” jawab Figi akhirnya.

“Bagaimana jika aku terus menunggu diam-diam? Tanpa kamu ketahui misalnya?”

“Hmm. Up to you. Aku hanya berusaha untuk tidak menyakiti dan tidak mau menjadi bagian dari perempuan kolektor jemuran.”

“Jemuran?”

“Ya, hobi menggantung laki-laki.”

“Oh.”

“Jadi, semua terserah kamu. Jika kamu siap sakit hati dengan terus menunggu yang tak pasti. Itu benar-benar terserah kamu. Kamu tak berhak menuduhku menyakitimu jika suatu saat aku memilih lelaki lain. Bukannya tega, aku hanya belajar tegas, karena aku menghargai perasaanmu. Dan sebaiknya, hargai juga perasaanku. It’s enough. You deserve better girl than me if you want.”

“Ya, ketegasanmu juga yang dulu membuat aku memilihmu.”

Ketegasan Figi bukan semena-mena, bahkan ia tahu persis rasanya di posisi Haka, mencintai seseorang yang melabuhkan cinta di hati orang lain. Iya, itu memang nyesek. Tapi bagi Figi, hati harus diajari untuk mandiri dan terbuka. Well now, kalau bukan kita sendiri yang mengendalikan hati kita, lalu siapa? Apa iya kita berbuat dzalim pada diri sendiri dengan terus menunggu yang tak pasti? Toh—ini catatan penting bagi Figi—Tuhan selalu punya cara untuk mengisi nama di hati kita. Jadi, baginya, tindakan itu sama saja dengan menutup hati. Kalau kita terus seakan-akan tidak menyerah di satu titik yang sudah pasang pagar menolak kita, apa iya kita harus terus menunggu? Apa iya bahkan kita akan terus menunggu sambil nyanyi “kutunggu jandamu” atau “kutunggu dudamu”. Figi ingin muntah membayangkannya.

“Ya, terima kasih sudah memilihku. Maaf karena aku nggak bisa memilihmu,” jawab Figi semakin tegas.

“:) no problem. Aku menerima dan aku melepaskan. Mungkin memang bukan kamu orangnya. Ya, nggak ada yang tahu ke depan gimana.”

“Memang, kita nggak tahu ke depan gimana, tapi setidaknya kita sudah tahu akan ke mana kan? Masalah sampai atau tidak bukan urusan kita, Ka.”

Calm, Gi. Aku fair kok dan  menerima hasil dari perjuanganku. Setidaknya, aku udah ngomong jujur ke kamu.”

Bagi Figi, jawaban itu lebih menenangkan walaupun mungkin menyesakkan bagi Haka. Tapi pun, jika Haka terus berusaha mendekatinya, barangkali Figi pun yang akan terus sesak. Kalian tahu rasanya ketika kalian sudah tidak ingin menyakiti orang lain, tapi ia yang tidak ingin kausakiti terus mendekat dan menyakiti dirinya sendiri? Itu sama saja menyesakkannya.

Maka, cinta yang tak menyatu barangkali bukanlah cinta. Karena katanya cinta adalah magnet yang akan dipersatukan oleh dua kutub yang saling tarik menarik. Dan jika hanya satu sisi yang tertarik sementara sisi lainnya menjauh, yang perlu dilakukan para pencinta sesungguhnya hanya saling menghargai, tanpa saling menyakiti. Bahwa kutub itu tidak bisa dipaksa, terus didekati padahal tetap tak bisa ditarik. Berjalanlah! Mungkin di bumi lain, kita akan menemukan kutub magnet yang saling tarik menarik itu. Karena pun jika benar cinta, kita akan selalu bisa melepaskannya—setelah perjuangan kita tak berujung seperti cita.

 

New room

Bandung,

12 September 2014

00.37

32 thoughts on “They Call it, “Nyesek!””

  1. Nice. Pada akhirnya memang harus bisa melepaskan 🙂

    Tapi kalau memang benar seperti magnet, apa berlaku utara-selatannya?
    Kalau sama-sama kutubnya, kan saling menolak. Apa berarti kalau saling menjauh, keduanya saling cinta? (Kutubnya sama)

    Masih blm nangkap gimana bisa kalau satu tertarik, satu menjauh. Mungkin magnetnya ada 3 ya, no.1 ketarik sama no.2, tapi no.2 jadi ngejauh karena ketarik magnet no.3 hehe.
    Atau magnetnya memang magnet spesial? 🙂

    Anyway, welcome back to Bandung 😀

    1. Karena begini, jika satu magnetnya menolak, itu artinya ia akan memberikan kutub yang sama, dan tidak bisa tarik menarik, hingga akhirnya hanya bisa tolak-menolak. Jd kalo hanya salah satu magnet yang ingin mendekat dan satu magnetnya tidak, pada akhirnya tetap tolak menolak. Jika dia terus ada di posisi itu, dia menyakiti dirinya sendiri. Jadi, yg terbaik adalah melepaskan. Slg menghargai.

  2. “kalau tidak ada alasan syari untuk menolak”, mungkin setelah penolakan itu, masa waktu menunggu bisa jadi tambah lama, yang kita sendiri tak tau kapan yg lain akan datang lagi #noted kasih tau si figi

    1. Yapp. Figi percaya, ketika jodoh, entah bagaimana ceritanya, Allah akan menghadirkan rasa “sreg” di hatinya. Rasa yakin. Jika belum, ya harus sabar. Karena menunggu jodoh bukan dengan buru2 karena takut menunggu lama hehehee. Selama hati masih terbuka dan mau obyektif aja mas.

  3. Nyesek nya di mana ya? kalau di dada kiri seperti tertekan dan menjalar ke lengan dan tidak hilang dengan istirahat mungkin itu serangan jantung. Segera bawa ke rumah sakit. 😀

  4. Mngkn bkn cm haka. Ada haka1, haka2 dan…
    #kidding 😀
    Apapun itu, cinta bkn hnya mmberi. tp jg mnerima.
    Jgn ampe ad ambisi utk mmiliki. cinta itu fitrah…yg jg perlu utk dikelola dgn baik.

    sampein ke haka ya…ntr fhu bntuin cari figi yg lain mau ga? #makcomblang mode on 😀

  5. nyeesss,mba *suara es meleleehh*..hahahaa..kalau “the real men itu yg pake three pedals”,kata anak otomotif..tapi kalau kata azaleav “the real men adalah cukup tak saling menyakiti aja.cukup!”

  6. subhanaaAllah sepertinya selama ini dia berusaha menjadi Figi, berusaha menjaga persahabatan dg “keep away” ga kayak jaman sma dulu (:

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s