Uncategorized

Dia Memang Pintar

Tiba-tiba ingin bernostalgia dengan tulisan lama yang belum sempat ter-publish. Pas baca senyum-senyum sendiri, bahasanya masih amat sederhana, tapi saya suka makna cerpen ini. Haha, narsis ya. Cerpen ini terinspirasi dari dua orang teman terbaik, namun dengan cerita yang sudah difiksikan. Ditulis 2010, silakan dibaca.
***
Dia memang pintar. Semua orang mengakuinya. Dia memang sangat kreatif dan memiliki potensi lebih. Semua orang juga mengakuinya. Tapi mungkin dia terlalu pintar, hingga kehidupan sosialnya terbengkalai. Teman-temannya banyak yang segan kepadanya. Alih-alih untuk minta diajari tentang pelajaran yang sulit, menyapa saja kadang mereka tak berani. Muhammad Bintang Smarta memang orang yang amat tertutup dan terkesan tidak peduli. Tapi, sesuai namanya, ia seperti bintang yang kilau otaknya sangat terang.

Siang ini, XI-IPA8 tampak sepi, satu jam lagi bel pulang, tapi masih ada satu lagi pelajaran menanti. Fisika. Pelajaran yang tidak ringan dan banyak dikeluhkan siswa, sekalipun di kelas yang disebut-sebut unggulan. Wajah-wajah mereka sudah tampak lesu, ditambah lagi sebelumnya mereka harus menghadapi ulangan Matematika. Tapi, saat Bu Resti memasuki ruangan kelas, mereka pun tak tega dan segera membenarkan posisi duduk masing-masing untuk mengikuti pelajaran.
“Selamat Siang anak-anak!”, sapa Bu Resti lembut.
“Siang, Bu!” jawab anak-anak cukup lemas.
“Sepertinya kalian lelah ya? Ya sudahlah kalau begitu Ibu batalkan pretest hari ini. Habis ulangan ya?”
“Iya, Bu! Tadi ulangan Matematika susah banget, masih pusing. Hehe..” jawab Firkha polos.
“Ah, biasa aja kok, Bu! Ulangan aja sekalian, Bu!” celetuk Bintang tiba-tiba membuat semua mata di ruangan itu memandang sengit padanya.
Mengetahui kondisi itu, Bu Resti segera menengahi. “Ya sudah kalau gitu, hari ini Ibu tayangkan flash tentang termodinamika saja ya.. Nanti Ibu terangkan sedikit-sedikit.”
Mereka pun tersenyum lega, kecuali Bintang yang tampak tanpa ekspresi. Ia justru mengambil sesuatu dari tasnya ketika Bu Resti tengah sibuk mengutak-atik komputer di depan. Meskipun tampak lelah, mereka mencoba mendengarkan penjelasan Bu Resti dengan baik, walau entah Fisika atau bukan yang kini ada di pikiran mereka. Ada juga di antara mereka yang mengantuk.
Sementara itu, di deretan kanan, seorang siswa berkacamata justru asyik mengutak-atik kubik, sesekali melirik sebentar pada tayangan flash di depan kelas. Siswa yang lain sudah tak menghiraukannya. Toh, dia juga sudah pintar. Tapi sesaat Bu Resti berhenti menjelaskan materinya. Ia terdiam, matanya mengarah pada sosok berkacamata itu.
“Anak-anak, saya tahu kalian bosan dan lelah, apalagi dengan pelajaran saya yang melelahkan, juga mungkin cara saya menerangkan yang tidak menarik untuk kalian. Saya tahu kalian pintar. Apalagi kelas ini, nilai kalian selalu membanggakan.”
Anak-anak terdiam. Mereka tahu maksud Bu Resti. Selama ini beliau amat lembut, beliau tak pernah marah sama sekali. Tapi, anak-anak banyak yang kurang mengerti dengan materi yang disampaikan Bu Resti, mereka lebih banyak belajar di luar untuk pelajaran Fisika. Tak heran, kadang-kadang mereka mengikuti pelajaran beliau dengan tidak bersemangat. Sepertinya Bu Resti menyadari ini sejak lama, tapi beliau hanya diam. Mungkin saat ini beliau sudah lelah.
Bu Resti menarik ujung jilbabnya ke sudut matanya. “Tapi, memang begini cara saya mengajar.. Saya harap kalian mengerti materi yang saya sampaikan, karena tidak ada kebahagiaan yang luar biasa untuk seorang guru kecuali muridnya senang dan mengerti dengan materi pembelajaran yang disampaikan. Ya sudahlah, maafkan Ibu. Ayo, kita lanjutkan sebentar, sepuluh menit lagi bel.”
Semuanya tertunduk malu. Firkha yang duduk di depan mengerti sekali perasaan Bu Resti, ia merasa bersalah. ‘Betapa tulusnya beliau.’ pikirnya. Bintang hanya terdiam dan meletakkan kubiknya. Sepertinya ia cukup merasa tersindir.
Sepuluh menit pun berlalu. Bel pulang berbunyi. Setelah bersalaman dengan siswanya, Bu Resti keluar kelas. Dengan sigap, Firkha segera berdiri di depan kelas. “Nggak boleh ada yang pulang duluan! Kita mesti minta maaf sama Bu Resti.”
“Ah, ngapain sih, gitu aja kok, biasa guru kayak gitu, besok ngajar lagi juga udah baik-baik saja.” sahut Bintang, “Udah ah, aku pulang aja.”
“Eh, Bintang! Mentang-mentang kamu bintang sekolah bisa seenaknya aja ya kayak gitu. Oke, aku tahu kamu pintar. Nggak ada Bu Resti juga kamu pasti bisa. Tapi kamu bodoh dalam bersikap!” Firkha yang dari tadi memang sudah sebal dengan Bintang tak bisa lagi menahan emosinya.
“Ya udah minta maaf, ayo… Nggak usah pakai ribut, gitu aja susah sih..”
Firkha makin tersulut emosinya ditantang seperti itu, “Duduk bentar nggak bisa ya?”
Bintang pun duduk. Sebenarnya ia sebal sekali dikatakan seperti itu. Kata-kata Firkha yang berani menyebutnya bodoh masih terngiang dengan jelas. Tak pernah ada yang mengatakan seperti itu kepadanya. Ia hanya terdiam mendengarkan Firkha dan teman-temannya berdiskusi.
“Oke, habis ini kita makan di kantin saja dan sebagian ikut ke rumah Bu Resti, kita harus minta maaf sama beliau. Terutama kamu, Ntang!”
Bintang tercengang. Ia menatap Firkha tajam.
“Kamu nggak lihat tadi Bu Resti menyeka air matanya pakai ujung jilbabnya?? Kalau kamu nggak mau berarti kamu memang benar-benar BODOH!! Percuma selama ini jadi bintang!!!”
“Ya, aku ikut.” jawab Bintang tegas. Ini sudah cukup membunuh harga dirinya. Ia menyerah dan setelah ini ingin memikirkan seperti apa sebenarnya sosoknya selama ini.
Setelah semuanya siap, Firkha, Bintang dan beberapa temannya bertandang ke rumah Bu Resti. Tak seperti yang mereka pikirkan sebelumnya, Bu Resti menerima mereka dengan sangat baik dan terbuka. Di rumahnya, Bu Resti menyampaikan uneg-unegnya selama mengajar. Bintang justru tampak paling akrab. Dengan sangat bertanggung jawab, ia bertindak sebagai proklamator kata maaf itu. Teman-temannya, terutama Firkha amat terkejut dengan ini. Ini sisi lain Bintang yang tak pernah mereka kenal.
“Pokoknya Ibu cuma berpesan sama kalian, walaupun kalian pintar, kalian harus tetap rendah hati dan menghormati guru. Ingat itu ya… Kalau guru menerangkan dihargai. Aku tahu kalian itu anak yang pintar-pintar, tanpa Ibu kalian juga bisa. Apalagi kamu, Bintang, potensi kamu lebih. Ibu tau, tapi ingat, bukan begitu menghargai orang lain.” Bu Resti tersenyum, “Ayo diminum dulu..”
“Sekali lagi kami minta maaf, Bu. Tidak ada maksud kami menyakiti Ibu.” ucap Firkha.
“Saya juga, Bu, terima kasih banyak, belum tentu juga tanpa Ibu saya bisa seperti ini. Sebenarnya selama ini saya selalu mendengarkan pelajaran Ibu dengan baik, tapi mungkin cara saya seperti itu. Insyaallah saya perbaiki, Bu.” sahut Bintang menimpali.
Sekali lagi Bu Resti hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Ibu tahu.”
Setelah berbincang cukup lama, mereka pun pamit pulang, apalagi hari sudah sore. Di perjalanan, Firkha memberanikan diri berbincang sebentar dengan Bintang. Tapi belum terkumpul keberaniannya, Bintang sudah memulai.
“Udah selesai kan, Fir? Cewek sih, kebanyakan pakai perasaan, logika donk dipakai, buktinya kamu tadi banyak diamnya di sana.”
Firkha terdiam, ia redam emosinya untuk tujuan awalnya, “Maafin aku tadi ya, udah lancang nuduh-nuduh kamu. Harusnya aku nggak gitu.”
“Oke. Tapi makasih juga sih.. “
Firkha sebenarnya malu pada Bintang juga pada dirinya sendiri. Tapi, perasaannya benar-benar tersentuh oleh ketulusan Bu Resti hingga ia berani seperti itu pada Bintang.
“Emm, Ntang, aku nggak ngerti kenapa kamu bilang makasih, tapi ya udah lah. Aku buru-buru pulang dulu ya… Assalamualaikum.”
Firkha berlari, Bintang hanya tersenyum kecil, ia tahu gadis itu malu, “Waalaikumsalam..”
Tiba di rumah, ia memikirkan dirinya seperti janjinya pada diri sendiri siang tadi. Dari situlah ia sadar, bahwa manusia itu butuh bersosialisasi dengan manusia lain. Selama ini, ia merasa dihargai dengan sikap teman-temannya yang segan kepadanya, tapi ia tak pernah tahu bagaimana sebenarnya cara menghargai orang lain. Dan hari ini ia mengerti semuanya. Dia memang pintar juga dalam bersikap. Ia tak seperti yang dikatakan Firkha. Dia sosok yang bertanggung jawab juga baik hati.  Tapi tak dipungkirinya bahwa kata-kata Firkha ialah jalan Allah bagi Bintang untuk berpikir.
Bintang melangkah ke kelas dengan percaya diri seperti biasanya pagi ini. Sekilas tak ada yang berubah darinya. Tapi semakin jam berputar, Ia mulai berbaur dengan teman-temannya, sesekali ia mengajarkan pelajaran yang mereka tidak mengerti. Teman-temannya sangat terkejut dengan hal itu. Tapi mereka menyikapi bahwa ini adalah hal positif. Semakin hari, Bintang mulai akrab dengan teman-temannya layaknya remaja yang lain. Walaupun begitu, dia tetap Bintang yang bersinar cerah dan tidak terlalu banyak bicara. Bahkan kini sinarnya semakin berkilau. Firkha tersenyum dengan semua ini. Ia tahu setiap kejadian pasti menyimpan hikmah. ‘Mungkin ini buah air mata ketulusan seorang guru.’ pikirnya.

Pojok Biru
17 Mei 2010

10 thoughts on “Dia Memang Pintar”

  1. kalau kata mba umil nih. disaat dia membisu, disanalah fondasi kejeniusannya sdg terbentuk. ada juga yah ternyata orang macam itu. seru kayaknya hidupnya. hahaha

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s