Cerita Fiksi

Piala Dunia

image

Hasna pulang. Ia kembali meninggalkan Jogjakarta, meninggalkan separuh hatinya yang empat tahun masih bertanya. Aku tahu persis rasanya menjadi dia. Aku tahu rasanya tak dipercaya ketika mengatakan “sudah move on” karena memang raut mukaku pun bercerita bahwa aku sedang berbohong. Sebagaimana wajahnya ketika ia mengatakan bahwa ia sudah melupakan Hafiz, cinta pertamanya yang menumbuh dalam diam. Ya, karena aku pun merasakannya.
“Sebentar lagi, piala dunia ya?” Katanya sebelum pamit.
“Ha? Kenapa?” Aku, yang tak pernah mengikuti perkembangan dunia sepak bola, sama sekali tidak mengerti maksud Hasna memulai pembicaraan tentang bola padaku.

Ia berdiri setelah mengikat tali sepatu ketsnya, lalu merapikan roknya, dan hanya tersenyum padaku.
“Apaan?” Kataku masih bingung.
“Nggak apa-apa sih. Cuma sekarang nggak seru aja.”
Aku berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengerti. Ah, momen piala dunia empat tahun lalu. Ketika dua remaja tujuh belas tahun saling bergurau menikmati suguhan bola. Lalu menggelindingkan bola cinta masing-masing tanpa mau menangkap. Bola itu menggelinding begitu saja. Mereka biarkan ‘gol’ di gawang hati mereka tanpa perlawanan tapi juga tanpa kejelasan. Aku ikut tersenyum.
“Sudah ya, aku pamit.” Katanya kemudian. “Keretanya berangkat 20 menit lagi. Ngebut nih harus.”
“Tuh abang ojeknya udah sampai. Hati-hati yaa.. Salam nggak buat Hafiz?”
“Nggak usah. Dia juga tahu aku kirim salam tanpa kata.”
“Ah kamu, cepat sana. Lain kali kalau ke Jogja beneran karena mau nemuin gue ya? Jangan modus!” Kataku sambil mencubit pinggangnya.
Dia tertawa. Sesaat kemudian honda astra milik Mas Edi mengantarnya ke stasiun. Aku mengamatinya pergi. Kali ini aku yang tersenyum.
Hasna, aku sengaja tidak menanggapi curhatnya tentang dokter muda yang juga sahabatku. Aku memilih menertawakan semuanya. Piala dunia itu milik kalian. Untuk dua hati yang amat lapang dan memilih untuk mengikuti aturan Tuhannya. Mereka tahu bola-bola cinta itu menggelinding tepat di gawang hati mereka. Tapi  mereka memilih diam. Menunggu waktu yang tepat untuk melempar bola pada saatnya nanti, di lapangan luas.
Aku mengagumi kalian. Aku pun sama seperti kalian, pernah menjadi remaja belasan tahun yang tiba-tiba saling jatuh cinta begitu saja. Ah, sayangnya, aku memilih mengikuti ketakutanku. Mengikat cintaku dan cintanya dalam suatu hubungan tanpa nama. Lalu berjanji untuk saling menunggu di masa depan. Ah, nyatanya janji itu tertinggal di dalam kenangan indah masa remaja. Kita bahkan gagal mempertahankan cinta yang kita khawatirkan. Apa arti komitmen? Entah menggelinding di gawang yang mana. Aku bersusah payah menikam bola itu, memegangnya erat agar tidak pergi dari hati. Nyatanya, tangan Tuhan lebih memilihnya untuk menggelinding. Lalu aku terdiam dalam gawang kenangan. Tinggal kenangan. Karena nyatanya setelahnya belum ada bola yang berhasil ‘gol’ di gawang hatiku seperti saat itu.
Maka beruntunglah kalian duhai Hasna dan Hafiz. Aku tahu mata kalian berbicara dan tangan kalian ingin menggenggam erat bola cinta yang saling menggelinding. Tapi kalian memilih tidak menggenggamnya. Membiarkannya saling digenggam tangan Tuhan. Dan lihatlah. Empat tahun berlalu. Bola kalian tak pernah pergi, meski masih saling bertanya. Entah bagaimana nanti Tuhan punya cerita untuk bola kalian. Tapi aku, mengagumi kisah kalian. Mengagumi ketulusan kalian untuk menjaga cinta karena-Nya. Sesakit apapun rindu menyayat.
Hanya doa tulus semoga bola cinta kalian mengantarkan kalian menjadi sang juara, merebut ‘piala dunia’ dengan cara yang diridloi Pemilik Bola.

Jani,
Untuk Hasna dan Hafiz
Yang masih diam

22.26
17 Juni 2014
Pojok saja

Note: untuk sementara kisah Hasna dan Hafiz sampai di sini dulu ya.. kecuali tiba-tiba ada cerita lain 😉

6 thoughts on “Piala Dunia”

  1. benar-benar luar biasa, dari momen piala dunia aja bisa jd sebuah cerpen coba..jooss!
    ***
    bapakmu tahun lalu terpilih jd penjaga gawang terbaik yah?
    kok tahu?
    iya habisnya, saya dari dulu susah meng-”gol”-kan ke hatimu..
    ***

  2. walau digenggam kuat, andai ia bukan milik kita – ia akan terlepas jua. Walau ditolak ke pinggir lapangan, andai bola itu memang harus masuk gawang hati, ia akan mendatang jua. 🙂

    aaa aku tahu deh kayaknya siapa ni Hafiz sama Hasna. semoga ada yang teriak Gol one day nanti yaaaa

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s