Cerita Fiksi

Jogjakarta

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna

-Kla Project

Aku selalu suka kota ini. Selalu suka kesantunan masyarakatnya. Selalu suka ciri khas budayanya. Dan.. selalu suka saat-saat takdir mempertemukan kita dalam ketidaksengajaan di kampusmu. Namun rupanya sore ini takdir tidak ditulis Tuhan untuk membuatku menatapmu diam-diam di balik pohon saat kamu lewat. Atau ketika tidak sengaja kulihat kamu sedang duduk di kantin sambil membaca buku. Ya, pertemuan singkat tanpa sapa tapi selalu kuingat. Kamu tak pernah tahu. Tapi hari ini, hari ketika aku sekadar ingin mengatakan “selamat” atas gelar sarjana kedokteran yang kauraih, takdir bercerita lain. Sudah pukul 17.00. Dan kamu tak kulihat berlalu. Sementara wisudawan yang lain sudah pulang. Kampus ini sudah sepi dari hiruk pikuk perayaan kelulusan. Dan aku masih di sini, menanti punggungmu untuk sekadar kutatap.

Jogja

Ah, kalau boleh jujur, barangkali bukan hari ini saja aku menantimu. Jauh. Jauh sekali empat tahun berselang ketika tiba-tiba kita menjadi dekat dan jauh begitu saja. Begitu saja. Tanpa nama. Tanpa ikatan. Tanpa tahu apa definisi nyaman ketika aku mendengar cerita-ceritamu. Tanpa tahu apa definisi bangga ketika tahu kamu bercerita banyak hal padaku. Hanya padaku. Semua perempuan tahu kamu makhluk paling dingin sedunia.

“Oke. Malam ini kita sms Hafiz. Tebak siapa yang bakal dibalas. Dia juaranya.” Kata Gita, salah seorang sahabat kita, yang diikuti teman-teman lain. Juga aku. Aku tertawa setiap mengingat kekonyolan itu.

Paginya, kita saling bercerita tentang apa yang kita lakukan dalam rangka memperoleh balasan sms darimu. Ada yang tanya PR, iseng jarkom, dan hal-hal tak penting lainnya. Aku? Dengan gaya cuekku, karena aku bahkan tak peduli padamu saat itu, dengan santainya mengejekmu.

“Boleh nanya nggak? Virus sama bakteri bahaya mana sih?”

Sms itu kaubalas dengan cepat. Di luar dugaanku. “Bahaya mana ya? Virus kalau udah nyerang dia bisa tinggal di inangnya sih. Kalau bakteri kan nggak.”

“Kalau gitu kamu kaya virus. Nyebelin.” Kataku, tanpa merasa bersalah. Aku tidak tahu apa hubungannya dengan jawabannya. Tapi itulah aku, yang aku sendiripun tidak mengerti dengan absurditas cara pikirku sendiri. Aku sebenarnya hanya ingin bilang bahwa sikap dingin dan sombong yang kaumiliki itu nyebelin. Benar-benar nyebelin. Tak ada yang kukagumi darimu selain otak brilianmu—saat itu.

“Kalau gitu kamu bakterinya.” Jawabmu singkat, membuatku semakin kesal.

“Seenggaknya bakteri nggak nyusahin inang lain. Huu.”

“Tapi virus lebih pintar oi. Struktur virus sederhana (hanya terdiri atas asam inti dan protein) tapi mampu mengendalikan sel inang hanya dengan asam nukleat (DNA/RNA) yang dimilikinya, ini membuat virus hanya bisa dimusnahkan dengan substansi yang mampu memusnahkan DNA/RNA yang dimilikinya.”

“Bakteri juga banyak yang cerdas dan bahaya. Hati-hati ya sama bakteri.”

“Hati-hati sama virus. Sekali dia menyerangmu, ia mampu tinggal di DNA-mu.”

Aku belum membalas. Kesal.

“Tanpa pelindung selnya, bakteri tidak akan mampu menyerang inang atau melakukan aktivitas hidupnya. Bakteri mudah banget kehilangan stabilitas kalau pelindung-pelindung selnya sudah hancur.” Jawabmu lagi.

“Setelah kupikir-pikir, ngapain aku harus jadi bakteri, dua-duanya sama-sama bisa menyebabkan kematian. Kamu aja tuh virus.”

“Oh gitu, ya udah tapi ingat ya. Hati-hati sama virus. Sekali dia menyerangmu, ia mampu tinggal di DNA-mu.”

“Hahaha. Mau banget sih jadi virus. Baru kali ini ada orang diejek santai-santai aja.”

Kemudian pesan itu berlanjut begitu saja. Terus berlanjut tanpa kusadari kita mulai saling bercerita. Sementara pagi hari itu, teman-teman membicarakanmu, mengeluh karena sms yang tak kaubalas atau kaubalas dengan sekadar “ya”, “tidak”, atau “no. 2” atau jawaban singkat lainnya. Tak ada satupun yang tahu perkelahian virus dan bakteri terjadi. Sampai kau benar-benar menjadi virus dalam hidupku. Seperti katamu, sekali menyerang, kau tinggal di DNA-ku. Dan hanya mampu dihancurkan dengan substansi yang mampu memusnahkan DNA/RNA yang dimilikinya.

Aku tertawa mengingatnya. Sekaligus merindukanmu secara bersamaan.

“Hasnaaaa”, kudengar suara Jani dari kejauhan. Aku terkejut. Tentu saja. Aku mengaku padanya tak akan datang lagi menunggumu. Aku mengaku padanya untuk melupakan kisah tidak jelas yang menggantung di sanubariku.

“Kamu. Tadi nemuin Hafiz ya?” cercanya langsung. Sudah kuduga.

“Nggak. Orang baru datang.” Aku berbohong.

“Mau ngapain?”

“Main ke Jogja. Jengukin kamu.”

“Huu. Kamu kira berapa tahun aku jadi sahabatmu? Aku masih bisa bedain kapan kamu jujur dan kapan kamu bohong,” dia kemudian duduk, menemaniku.

“Btw, tumben kamu lewat FK?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Kamu masih nunggu dia ya?”

“Buat apa nunggu yang nggak jelas?” Kataku.

“Kamu hanya masih bertanya apa yang dia rasakan sejak empat tahun kalian terpisah.”

Sekarang kita sama-sama diam. Lama. Kupandangi sisa-sisa kursi kosong di kantin fakultasmu.

“Pulang yuk.” Jani membuka suara. “Kamu tahu nggak, abang becak itu nungguin kamu?”

“Nggak.”

“Karena kamu nggak tanya dan abangnya nggak bilang. Abangnya bisa jadi mengira kamu mau naik karena kamu jalan kaki ke arahnya. Padahal kamu mau jalan terus. Begitu juga kamu. Bisa jadi kamu ngira abangnya nungguin kamu, eh ternyata abangnya nungguin pelanggannya.”

“Ya udah apa susahnya abangnya nanyain kita kalau dia mau tahu kan?”

“Apa susahnya juga kamu tanya abangnya lowong nggak becaknya?”

Aku diam. Memilih berdiri sebagai isyarat mengiyakan ajakan Jani untuk pulang. Entah pulang ke mana. Walaupun klise, karena setiap ke Jogja aku akan selalu tinggal di rumah kosnya.

Jani ikut berdiri mengikutiku, “Itu seperti kalian. Hei, kalian udah sama-sama dewasa. Banyak cara untuk menyampaikan. Kalian sudah cukup menjaga diri empat tahun ini. Apa susahnya jujur pada diri sendiri?”

Waktu terhempas dalam diam. Tak ada suara selain hembus angin dan langkah kaki kami. Entah kenapa kampusmu sepi sekali sore itu. Aku akhirnya menaiki becak setelah memastikan bahwa abang becak yang tadi kubahas bersama Jani memang sedang menunggu kami. Entahlah, aku tak mengerti. Aku hanya manusia yang percaya cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saatnya semua rahasia hati ini terbongkar. Entah bagaimana caranya. Barangkali kita belum cukup siap jika dipertemukan sekarang. Atau memang kamu tetaplah lelaki dingin yang menganggapku biasa saja.

“Cinta sejati memang selalu menemukan jalan, Na. Tapi cinta juga logis sekali. Kalau dia tak bisa tegas, berhentilah seperti ini. Tegaslah sama diri kamu sendiri. Lagi, cinta sejati akan selalu bertemu. Tegaslah pada dirimu sendiri.”

“Entahlah, Jan. Hari ini aku hanya ingin bilang bahwa mulai minggu depan aku sudah mulai penempatan kerja. Kehidupan kita akan semakin jauh. Aku bahkan tidak tahu akan ditempatkan di mana. Entah apa respon dia. Aku hanya ingin bilang itu.” Kataku begitu kita turun dari becak.

Langit sudah senja. Jawaban perasaan kita, apakah akan terus begini hingga senja hidup kita menjelang? Dan Jogja selalu menjadi saksi atas semua kerinduan diam-diam ini.

busway

20.23

8 Mei 2014

Diedit lagi di Bandung

00.58 1 Juni 2014

Special buat sahabat-sahabat yang katanya nunggu lanjutan cerita Hasna dan Hafiz. Semoga rangkaian kata ini mampu ‘berbicara’.

15 thoughts on “Jogjakarta”

      1. kirain ini tuh lanjutan cerpen2-mu yg presipitasi loh nov..suka bingung urutan ceritanya,,hahaha..udah buat blog beda aja lagi,nov khusus cerpenmu ini,,hahaha

      1. Mengarah pada 2 orang mungkin. Kamu mengabaikan tokoh Hasna. Ahaha jangan salah sangka bu. Utk cerpen ini saya murni penulis dan penyaksi. 😛

  1. bakteri berguna juga bagi manusia. E.colli misalnya?
    bakteri juga strukturnya lengkap. jadi bisa berkembang biak sendiri. bisa dianggap sebagai ‘makhluk hidup’.
    dalam kasus infeksi, bakteri juga serangannya relatif stabil, dan Jelas proses kesembuhannya. dsb
    #tb2 pengen kepo bakteri dan virus. nice story 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s