Cerita dan Celoteh

Membatasi Rezeki

Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya
Tak peduli seberapa blur dan absurd hidup yang kau jalani, kau selalu punya kesempatan untuk memetik hikmahnya

Rezeki Allah itu luaaas sekali. Tapi pernah nggak menyadari bahwa sering kali kita yang membatasi rezeki kita sendiri? Membatasi seperti apa? Baiklah. Saya akan bercerita tentang perenungan saya di busway–as usual saat diem di busway seperti ini, adalah saat yang sangat bisa kita manfaatkan untuk mengenal Allah lebih dekat melalui kontemplasi. Yap. Sampai akhirnya saya menuliskan judul di atas.

Tulisan ini akan saya mulai dari cerita seorang gadis. Sebut saja namanya Harmoni (terinspirasi dari halte paling hectic se-Jakarta). Harmoni ini ingin sedekah. Ia juga ingin sekali memberikan uang untuk kedua orang tuanya. Tapi oh tapi bukan iman namanya jika tidak diuji. Bagian dari dirinya yang lain mengeluh.

“Saya ingin sedekah Ya Allah. Tapi kan gaji saya bulan ini pas-pasan. Nanti buat hidup sampai akhir bulan gimana? Ah lagian kan orang tua masih bisa mencari nafkah. Saya kan di sini kerja keras sampai capek. Nanti dulu sedekahnya lah kalau gaji saya udah lebih banyak dari ini.”

Si Harmoni bukannya makin tenang tetapi makin galau. Hari demi hari berjalan, ia merasa rezekinya sangat kurang. Tapi bukannya uangnya tidak jadi dikurangi untuk sedekah? Bukannya masih utuh untuk keperluan yang sudah dia atur sedemikian rupa dalam rencana-rencana keuangannya? Ia semakin resah.

Sampai suatu ketika, ia teringat Harmoni yang dulu. Harmoni yang masih mengandalkan uang saku dari ayahnya. Harmoni yang ingin sedekah lalu berujar “nanti saja kalau udah kerja dan punya gaji”. Ia pun teringat ayahnya yang tak pernah mengatakan ‘nanti’ saat saldo ATM-nya menipis. Ia melihat dirinya sendiri. Apa ini yang dikatakan kerja keras? Padahal sungguh itu belum sepersekian dari yang dilakukan ayahnya untuknya. Tak terasa air matanya menetes. Ia bertanya apakah manusia memang bertabiat suka menunda kebaikan? Sementara panggilan-Nya sungguh tak akan tertunda.

“Tapi kan uangku pas-pasan sampai akhir bulan? Bahkan rasanya nggak cukup.”

Kali ini ia jengah mengikuti suara itu. Ia ikuti nuraninya. Uangnya yang tak seberapa ia sedekahkan dan ia berikan orang tuanya. Apa yang terjadi? Harmoni masih hidup sampai bulan berikutnya ia menerima gaji lagi. Ia bahkan sama sekali tidak kekurangan. Malah kelebihan.

Bisa? Bisa. Dialah Allah yang Maha memberi rezeki. Harmoni merasa rezekinya hanya sebatas gajinya. Ia sungguh lupa bahwa Tuhannya berfirman Kun Fayakun. Rezeki yang tak pernah terduga datang begitu saja. Ia tiba-tiba dihubungi dosennya, diajak membuat suatu tulisan. Taraaa. Tulisannya membawa rezeki untuknya. Rezekinya berlebih.

Begitulah cerita Harmoni. Sederhana tapi penuh makna. Kita seringkali berprasangka buruk sama Allah, merasa rezeki hanya datang dari satu pintu. Oh duhai, padahal pintu rezeki-Nya amat tak terhitung. Di sinilah iman diuji. Saat apa-apa yang belum nampak ada dan kita yakini semata-mata karena percaya Allah mampu membuatnya ada.

Oh Allah ampuni kami yang terlalu sering lalai.

Transjakarta

19 Mei 2014

19.55

Ketika dalam dirimu ada dua hal yang berbicara, ikutilah nuranimu. Lakukan hal baik. Jika kau khawatir akan ada banyak risiko yang terjadi jika hal baik itu kaulakukan, tetap lakukan hal baik itu. Semua akan baik-baik saja. Toh kalaupun kekhawatiran kita terjadi, setidaknya malaikat di sisi kanan kita sudah mencatat hal baik itu. Kau akan bahagia untuk itu. Dan kau akan semakin resah jika terus menjauh dari nuranimu. Maka terus isi nuranimu dengan mengingat Allah.

*again*

*ngomongsamadirisendiri*

4 thoughts on “Membatasi Rezeki”

  1. Persis.
    Sedekah itu soal keyakinan, bukan kekayaan. Kalau yakin sedekah itu bikin miskin, ya jadi miskin beneran. Kalau yakin dengan sedekah itu justru makin berkah dan mulia, ya kejadian..

    Seperti kisah pak syafii yang sedekah sejuta, berbuah semilyar karena keyakinannya.. (ada di bukunya ust. YM yang “Feel” *promosi 😀 )

    Harta kita sesungguhnya kan yang kita sedekahkan, yang dipegang sekarang cuma titipan. Keep istiqamah, dan semoga kita semua dimudahkan untuk senantiasa bersedekah 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s