Cerita dan Celoteh

Jakarta! (2)

Sungguh tidak terasa, hari ini sudah satu bulan lewat satu hari saya tinggal di kota ini. Sudah resmi dua hari pula saya pindah. Iya, saya memilih untuk pindah dari tempat tinggal saya sebelumnya yang bisa dibilang sudah super nyaman. AC, kamar mandi air panas, baju dicuciin, disetrikain, kalau mau nyuci ada mesin cuci, dekat juga dari kantor, dekat mall, pasar, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Tapi entahlah. Hati saya tidak nyaman. Selain tentu saja karena harganya yang mahal (hahaha), saya merasakan sekali kenyamanan itu melenakan. Saya susah menulis. Dan inilah saya sekarang. Memilih pindah. Menikmati busway dari pagi dan berjumpa lagi malam hari. Saya tidak tahu entah akan bertahan berapa lama. Tapi berangkat pagi dan berdiri di bus menurut saya jauh lebih bermanfaat daripada menerima panggilan bantal untuk memeluknya lagi karena jam masuk kantor masih lama (baca: tidur lagi). Dan lagi, saya menikmati membaca dan menulis di atas bus. Like I do now. Baiklah, saya kumat ya? Mukadimahnya kepanjangan. Hehehe. But one thing you can get from this opening is: betapa kesusahan seringkali lebih menimbulkan hasrat untuk berkarya lebih dan lebih. Dan kenyamanan adalah pisau, yang kalau kita tak memanfaatkannya dengan baik, ia akan tumpul atau pun jika tajam, ia tak segan membunuhmu.

Baiklah, berbicara soal kenyamanan, saya jadi ingin kembali fokus pada cerita hikmah yang ingin saya share malam ini. Lagi, tentang mimpi. Hari ini, dengan segala suka duka menjadi seorang pekerja kantoran, saya menyempatkan diri merenung. Apa benar bahwa ini adalah jalan menuju impian saya? Saya terdiam lama. Sebulan. Akhirnya saya menyadari bahwa memang bekerja sungguh bukanlah zona nyaman saya. Ya, sejak memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini, saya tahu saya sedang keluar dari zona nyaman saya. Tapi saya ingat sekali niat saya saat itu: MENCARI ILMU.

Ya, bekerja sejatinya adalah proses belajar. Dan karena ini di luar zona nyaman, maka saya benar-benar belajar banyak hal. Saya jadi inget lagi nasihat dari seorang sahabat ketika saya kabari saya akhirnya memilih bekerja.

“Kegalauan pasca lulus dan semua pas kuliah itu belum ada apa-apanya dibanding ngehadepin kehidupan kantor. Hehehe.  Intinya harus siap mental. Pokoknya nanti kamu bakal ngerasain sendiri. Hahaha.” (whatsapp Kak Sukma)

Belum ada apa-apanya. Yeah. Bagi yang masih mahasiswa dan mengeluhkan tugas, skripsi, dosen, administrasi kampus, organisasi, dan apa sajalah itu, I believe it just a very little part of works. Kalau kata temen sekantor saya, itu baru perjalanan menuju pintu gerbang. Dan inilah dunia kerja. Ketika kita harus beradaptasi dalam kondisi apapun. Saya bold kata adaptasi karena lingkungan tempat kita berada akan selalu berbeda dengam lingkungan lainnya. Dan kita harus siap.

Dulu, ketika mengerjakan sesuatu tugas, kita sudah merasa maksimal, tapi bisa jadi perusahaan menganggap tugas itu tak ada artinya. Why? Karena perusahaan punya standardnya sendiri. Bukan standard kita. Kalau mau standard kita, ya pastinya bikin perusahaan sendiri. Hehe. Dan menurut saya, di sinilah seni utamanya bekerja. You have to manage your ego well. Apalagi untuk fresh graduate. Seeksis apapun kita saat masih mahasiswa, tentu saja kita tetap orang baru di dunia kerja. Terima apapun masukan dan kritik. Jangan jadikan bahan untuk sakit hati. Terima, pelajari, adaptasi, implementasikan, ambil nilai-nilainya. Saya sendiri, jujur merasa bodoh sekali sejak bekerja. Bukan karena apa-apa, tapi betapa ilmu saya dulu belum ada apa-apanya. Orang tak akan peduli kita lulus cumlaude atau mahasiswa terbaik sekalipun. Kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan baik dan memahami standard perusahaan, ya it means nothing. (Yang kuliah IKOM, mata kuliah budaya organisasi dan komunikasi organisasi bermanfaat banget). Bekerja juga menuntut kita untuk belajar sabar. Karena saat bekerja, apalagi yang baru merintis karier dan masih di level staf, tentu harus bisa memahami para atasan dan para rekan kerja lainnya. Dan bagi saya, ini adalah pelajaran berharga.

Ya, bekerja adalah belajar. Tak peduli semudah apapun pekerjaan kita, akan selalu ada pelajaran baru yang bisa kita ambil.

Dan perenungan saya pada akhirnya membuat saya menyadari bahwa proses belajar ini adalah jalan untuk menuju impian, bukan tujuan akhir. Karena itu, ketika hati saya mengeluh saya selalu mengingat bahwa ini semua adalah proses. Bekerja bukan hanya pekerjaan atau ide-ide atau intelektualitas semata. Ini sungguh juga tentang membangun mental.

Terakhir, saya ingin mengutip nasihat dari penulis favorit saya (youknowwho, namanya Tere Liye) bahwa sebenarnya yang membuat kehidupan menjadi sulit adalah gaya hidup kita. Begitupun hidup di Jakarta ini. Walaupun sudah bekerja, tapi jika kita tidak sok-sokan mengubah gaya hidup menjadi kalangan elite, santai-santai saja kok. Jakarta memang mahal, tapi kita bisa membuatnya cukup untuk hidup. Hehe. Bekerja dan punya uang sendiri bukanlah alasan untuk kemudian mengeluarkan uang dengan bebas dan seenaknya.

dan..akhirnya saya semakin yakin untuk melanjutkan impian saya. Belajar, mengajar, be a professional housewife 😉 aamiin. Mari nikmati dulu prosesnya.

Kamu, pasti punya jalan hidup dan pilihan sendiri. Seperti selalu saya bilang, setiap pilihan memiliki konsekuensi. Carilah alasan kenapa kamu harus bersyukur dengan jalan yang kamu punya daripada mengeluh. Believe me, God teaches us so many lessons from every way.

celotehan seorang pekerja kantoran.

6-5-2014

19.17

di atas busway

12 thoughts on “Jakarta! (2)”

  1. “betapa kesusahan seringkali lebih menimbulkan hasrat untuk berkarya lebih dan lebih. Dan kenyamanan adalah pisau, yang kalau kita tak memanfaatkannya dengan baik, ia akan tumpul atau pun jika tajam, ia tak segan membunuhmu.”

    the best quote in the morning…

    Selamat datang di Jakarta. Selamat menikmati suguhan terbaik ibukota 😀

  2. amazing women.. :D. Sedikit orang yang bisa menuliskan apa yg dia rasakan dan menjadikanny pelajaran d tengah absurd ny kota jakarta. lam kenal kakakk, let’s conquer this city

  3. ahh.. suka ceritanya.. bagus mba, spertinya hal ini pun terjadi pada saya,. habis lulus, kerja dan ternyata memang dunia kerja itu berbeda dengan dunia perkuliahan, terkadang melenakan dan terkadang tidak sesuai harapan kita.

  4. “God teaches us so many lessons from every way.” – Setuju sangat (y)

    Semangat mempersiapkan bekal jadi ibu profesionalnya.
    Ibarat matematika, mau A dulu atau B dulu, insya allah ujungnya akan jadi AB juga.
    Mau jalannya jadi Ibu dulu atau jadi Professional dulu, ujungnya jadi Ibu profesional juga 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s