Cerita dan Celoteh, GAMUS

Menjadi Alumni

FEB Univ. Telkom

Dulu sekali, saat masih memegang amanah di organisasi, saya sering merindukan para alumni. Terlebih saat tahun terakhir kepengurusan, saat kita menjadi “kakak tertua” dan mereka yang kita panggil “kakak” telah pergi ke berbagai belahan kota untuk melanjutkan kehidupan masing-masing. Ingin rasanya bercerita kepada mereka saat adik-adik mengeluh atau saat masalah yang kami hadapi terasa begitu berat. Ingin sekali mereka ada seperti dulu saat kami masih menjadi staf. Dibimbing, diajari, walaupun tak jarang dikritik. Melalui pesan whatsapp, sms, atau media apapun, tak jarang pesan ini terucap, “Teteeeeh/Kakaaak kapan ke Bandung? :(” lengkap dengan emoticon sedih. Bukan sedih yang dibuat, apa adanya.

Saya ingat sekali di akhir kepengurusan, kami mengalami banyak problem. Walaupun hanya melalui telepon, mereka bersedia mendengarkan cerita kami. Entah bagaimana cara mereka meluangkan waktu. Tapi didengarkan dan dinasihati begitu terasa menenteramkan. Bahkan mereka pun menghubungi kami, menawarkan solusi, walaupun raga mereka tak dapat hadir. Begitulah, para alumni adalah kakak yang akan selalu dirindukan. Tak jarang kerinduan itu kadang begitu egois.

Ya, dulu sekali, saya selalu berharap alumni masih dan akan selalu ada di sekitar kami. Meluangkan segenap jiwa untuk kami. Saya lupa bahwa kehidupan berputar. Dan sekarang, putaran itu pun membuatku sampai di titik ini: menjadi alumni.

Kadang, saya terpikir tentang kerinduanku pada alumni yang jarang terobati kecuali pada event tertentu yang diatur amat sedemikian rupa supaya banyak dari mereka bisa hadir. Saya teringat saya yang dulu ‘protes’ kenapa mereka tak selalu ada. Saya teringat saya yang dulu mempertanyakan kenapa mereka harus pergi. Saya teringat kenapa saat mereka masih ada di dekat kami, saya tidak menggali ilmu sebanyak mungkin dari mereka. Ya, karena kehidupan berputar. Sekarang, saat saya menjadi alumni, saya benar-benar mendapatkan jawabannya. Para alumni  sebenarnya tak pernah pergi. Pun jika pikiran dan tenaga kami tak bisa berkontribusi penuh, doa kami akan selalu ada untuk kalian. Untuk adik-adik yang melanjutkan perjuangan organisasi kami. Pun jika harus ada yang disampaikan perihal kenapa kami pergi, adalah sebuah kata “maaf” karena kami (saya) tak mampu selalu ada di samping kalian. Kami (saya) tak mampu melawan laju hidup yang membawa kami pada berbagai titik peradaban. Tapi kami berjanji akan selalu ada. Ya, ‘ada’. Dalam doa, dalam rindu, dalam kenangan. Kami masih selalu siap mendengarkan cerita kalian. Masih. Insya Allah.

Kalian barangkali kecewa. Sama. Saya pun pernah merasakannya. Kecewa terjadi karena harapan yang tak sesuai kenyataan. Atau barangkali karena kita menyandarkan keluh kesah pada alumni—yang juga manusia. Tapi begitulah. Kita selalu bisa belajar dari kesalahan. Di suatu titik di ujung pergantian status menjadi alumni, perlahan saya mendapat jawaban. Ini bukan tentang siapa yang pergi atau siapa yang masih ada di tempat. Mungkin kalau boleh menyimpulkan dengan bahasa saya sendiri, ini adalah soal peran.

Sebelumnya, saya mau mengutip jawaban salah seorang alumni ketika saya bertanya, kenapa alumni tak selalu ada seperti harapan kami.

“..Dunia alumni (dunia kerja) dan kampus berbeda. Pada umumnya, mereka yang ada di kampus punya banyak waktu untuk berkontribusi, namun dananya kurang. Kalau alumni kondisinya terbalik, waktu untuk berkontribusi sedikit tapi insyaAllah ada dana…” (cuplikan singkat, masih banyak lanjutannya, hanya gambaran)

Artinya? Alumni dan kalian yang masih ada di kampus tetaplah dua kesinambungan yang tetap dapat bersinergi dengan peran yang berbeda. Tak ada yang salah. Toh jika peran itu berjalan maksimal, insyaAllah akan terbentuk suatu organisasi yang mandiri dan barakah. Aamiin.

Bukan karena kami tak peduli, tapi karena tiba masanya kami berkontribusi dalam bentuk yang lain. Pun tidak semua dari kami. Saya yakin masih banyak alumni yang bertahan mencurahkan segenap jiwa di samping raga kalian. Bukan berarti yang pergi tak peduli, tapi barangkali memang begitulah perannya. Semua punya porsinya masing-masing. Semua punya perannya masing-masing. Tapi kita harus juga ingat, berdakwah tidak selalu berada dalam organisasi dakwah (kata seorang sahabat). Ya, saya percaya, dakwah ini sangat luas sekali. Ambillah peranmu secara maksimal. Kelak pun kehidupan akan membawamu seperti kami: menjadi alumni. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dari tulisan ini. Memilih menjadi alumni seperti apa. Toh, saya percaya, jadi apapun, alumni akan selalu ada. Setidaknya, dalam doa, dalam rindu, dalam kenangan.

Perlahan, saya pun memahami, ada saatnya kita dibimbing, ada pula saatnya kita membimbing. Ada saatnya kita dituntun, ada pula saatnya harus mandiri dengan memegang apa yang telah dipelajari. Ada pula saatnya harus membimbing diri sendiri dalam lingkungan yang sangat heterogen. Jika kita tak pernah merasakan kehilangan mereka, lalu bagaimana kita belajar untuk berdiri sendiri?

Teruntuk adik-adik dan saudaraku yang masih berjuang, I can’t do nothing dan maaf tidak bisa melanjutkan amanah seperti dulu. Hidup seringkali berjalan di luar rencana. Begitulah. Tapi jika ini terjadi pasti karena izin Allah dan pasti ada hikmahnya. Selamat berjuang! Jangan pernah merasa “tidak enak” untuk mengganggu kami. Walaupun tak sama seperti dulu, insyaAllah kami pun masih ingin berkontribusi, entah dalam bentuk apapun. Kutunggu cerita dari kalian.

Ruang tanpa nama

23.52 WHH

21 April 2014

*dalam rangka Finishing yang ga finish2 *projectkenangan

*juga permintaan maaf. Begitulah, hidup seringkali berjalan begitu saja, seringkali tidak sesuai rencana.

Tulisan ini ngoceh, cuma ungkapan hati, barangkali banyak perspektif yang salah, silahkan diberi masukan 😀

Tapi saya sepakat, seperti apapun jauhnya alumni terpencar di berbagai belahan dunia, ikatan tetaplah penting. Toh, di era ini, media sangat memungkinkan untuk kita saling mengikat diri #apasih. Intinya saya lagi kangen sama organisasi kampus (dan tentu saja orang-orangnya). Sekian.

6 thoughts on “Menjadi Alumni”

  1. Memang porsi setiap episode kehidupan selalu tak seperti yang diharapkan. Dan pada akhirnya manusia hanya bisa berandai-andai, kenapa di masa itu tak begini begitu dan sebagainya. Namun alumni yang baik pasti memiliki porsi khusus untuk adik-adiknya tatkala mereka membutuhkannya.
    Sepertinya gedung itu tak asing. Salam kenal dari alumni tetangga sebelah ya.
    Mampir mampirlah ke gubuk ocehan saya. 🙂

  2. menjadi semakin penasaran dengan dunia kerja sesungguhnya.
    Salam mbak, boleh minta follow back blog saya ? hehe 🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s