Cerita dan Celoteh

Melompat Lebih Tinggi

“Tidak apa mundur beberapa langkah dulu, karena dari sana kamu bersiap untuk melompat jauh lebih tinggi. Dari pada kamu terus melangkah dalam langkah yang itu-itu saja.” –abah

Bukankah kamu sudah berjanji, Himsa?
Bukankah kamu sudah berjanji, Himsa? 🙂

Kegalauan pasca kampus memang hal yang sangat wajar terjadi pada setiap orang. Belum, saat saya menulis ini jadwal sidang saya bahkan belum keluar. Saya tidak tahu apakah saya sudah dapat dikatakan masuk ranah pasca kampus atau belum. Tetapi, benar kata orang-orang, kegalauan sudah merayapi sudut-sudut hati. Pertanyaan wajar, mau ke mana saya setelah ini?

Dan saya yakin sekali setiap diri kita punya jawaban untuk pertanyaan itu. Begitu pun saya pribadi. Tapi kadang, keyakinan pada hati kecil kita goyah oleh berbagai hal, terguncang angin sepoi yang seakan ingin memberhentikan atau membelokkan kita dari tujuan kita, dari mimpi-mimpi kita. Ya, ini soal mimpi. Tapi juga benar kata orang bahwa dalam keberjalanannya nanti idealisme mimpi kita sering terbentur dengan realitas.

Well, mau apa saya setelah kuliah? Walaupun saya menulis mimpi-mimpi dalam buku, mencari jalan mewujudkannya, mendoakannya, namun tetap saja kadang keraguan itu muncul begitu saja. Apa saya bisa hidup dari mimpi-mimpi itu? Sementara terkadang posisi menjadi anak pertama begitu hmm entahlah, mungkin kalian yang anak pertama tahu rasanya.

Ketika hal itu terjadi, kita harus tahu kuncinya: komunikasikan baik-baik dengan orang tua. Mungkin kalian pernah tahu dari tulisan ini, tentang impian saya empat tahun lalu. Saya merelakan diri untuk tidak mendaftar di UI karena tidak tega merusak kebahagiaan orang tua saya ketika tahu saya mendapat kesempatan kuliah di kampus Telkom secara free selama delapan semester. Kalau mengingat masa itu, saya sering tersenyum sendiri. Ketika itu, saya sama sekali tidak membicarakan kepada orang tua saya tentang keinginan saya yang sebenarnya. Padahal, kuliah di UI itu mimpi besar saya sejak SMA. Saat itu saya berpikir bahwa saya akan memudahkan orang tua saya dengan pilihan mereka. Tapi tidak begitu kenyataannya. Justru karena pilihan yang sebenarnya bukan pilihan saya itulah, untuk pertama kalinya saya melihat air mata Abah menyesali aku yang diam. Saat itu semua sudah selesai, saya sudah siap berangkat ke Bandung dan jalur masuk UI tahun 2010 pun sudah tidak dibuka lagi. Ah, saya tersenyum lagi mengingat masa-masa itu. Satu tahun pertama kuliah yang saya lewati hanya dengan ambisi, kehilangan kepercayaan pada mimpi, pelajaran tentang penerimaan, hakikat impian, dan masih banyak lagi. Kenyataannya banyak sekali hikmah yang saya dapatkan setelah saya berada di sini, di Bandung, di kampus ini. Do you get the point? Yap, tentu walaupun begitu, saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, tidak lucu kalau saya justru tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang tua saya sendiri. Mungkin kalian juga masih ingat betapa hebatnya kekuatan komunikasi kepada orang tua menjadi jalan terwujudnya impian sebagaimana dikisahkan dalam film 3 Idiots.

Maka tentang kehidupan pasca kampus ini, entah kenapa Abah justru lebih peka pada diri saya. Abah benar-benar belajar dari peristiwa empat tahun lalu. Dialah orang yang tahu mimpi-mimpi saya tanpa saya memberitahukannya secara tersurat. Dialah orang yang meyakinkan mimpi-mimpi saya ketika saya sendiri meragukannya. Dialah orang yang selalu menanyakan, “novelnya udah sampai mana?”, “lha udah selesai belum novelnya?”, dan semacamnya. Saya sempat tidak mau cerita ke Abah karena merasa Abah tidak setuju dengan mimpi saya. Tapi memang prasangka buruklah yang merusak komunikasi kita dengan orang lain. Nyatanya ketika saya menyinggung sedikit tentang impian saya, Abah menyiraminya, menumbuhkannya, bahkan mengokohkannya ketika goyah.

Saya paham tidak semua orang tua bisa mengerti impian saya. Bagaimanalah? Ketika kebanyakan orang mencari kerja sana-sini setelah lulus, saya justru ingin fokus menulis setelah lulus. Saya ingin merampungkan novel saya sebenar-benar rampung walaupun secara sekilas sebenarnya naskahnya sudah selesai. Saya ingin memperbaiki dan mematangkan konsepnya. Kalau pun saya harus kerja, saya ingin kerja di dunia penerbitan buku. Saya ingin sekolah lagi. Ah, sudahlah. Itu hanya rencana, dan tetap Allah yang menentukan. Saya bahkan tidak tahu kalau besok tiba-tiba saya malah kerja kantoran. Tapi mimpi saya sebenarnya ya: Menulis. Menulis. Menulis. Mencari ilmu. Berbagi sebanyak-banyaknya. (kan kalau mimpi jadi ibu rumah tangga professional harus jadi Ibu, jadi ya sebelum diberi Allah kesempatan untuk jadi ibu, mengembangkan diri dulu kan? Memperbaiki diri dan bermanfaat semaksimal mungkin).

Tapi eh tapi. Saya kan anak pertama, saya kan setidaknya harus hidup mandiri. Ya walaupun selama ini Alhamdulillah ada pemasukan tambahan, tetap saja tidak saya pungkiri saya masih membutuhkan subsidi orang tua. Saya masih bercita-cita membantu kuliah adik saya. Tapi dari mana saya mendapatkan itu semua kalau beberapa bulan setelah lulus ini justru saya fokuskan untuk menulis dan kegiatan lain yang berhubungan dengan menulis. Dan di sinilah komunikasi dengan orang tua berperan. Abahlah yang justru dengan tenang mengatakan, “kamu fokus saja menulis, nggak usah sibuk cari lowongan sana-sini. Kita memang tidak tahu rencana Allah selanjutnya. Tapi kita tahu ke mana kita akan melangkah, kamu tahu tujuan kamu, ya sudah fokus ke sana. Kalau tujuan kamu baik, Allah yang akan menolong. Sudah, fokus menulis. Abah seratus persen mendukung. Sambil kamu cari tahu informasi buat  cita-cita kamu untuk terus sekolah. Semoga ada rezekinya. Yang penting ikhtiar.”

Astaghfirullah. Dengan memohon ampun kepada Allah, ternyata tidak semudah itu, Kawan.  Saya sempat tergoda ingin mengambil peluang magang di salah perusahaan bonafit, sempat tergoda mencari lowongan sana-sini, yang itu semua justru menjauhkan saya dari tujuan awal saya. Novel saya tidak tersentuh gara-gara galau memikirkan dan mencari peluang lain. Ah, mimpi saya diuji. Apalagi terkadang sempat ada rasa gimana gitu ketika melihat orang-orang nyaman bekerja kantoran. Ah, sepertinya hidup lebih terjamin. Bla blab la. Tapi hati kecil saya selalu berbisik, it’s not you, Himsa, you know your own way. Kurang syukur apalagi saya diberi orang tua yang paham betul pada impian anaknya.

“Vi, buka Al-Qur’an lagi deh. Segala sesuatu itu berjalan pada porosnya masing-masing. Kalau mereka bekerja kantoran, ya memang jiwa mereka begitu. Kelebihan mereka di sana. Kalau kamu merasa tidak bisa menjadi seperti mereka, ya nggak usah dipaksakan. Diikhtiarkan aja dulu apa yang menjadi tujuan kamu.” Kata Abah lagi.

Maka, bismillah, dari tulisan ini saya ingin teman-teman mengambil hikmahnya. Setiap impian punya ujiannya masing-masing. Tapi pegang baik-baik impian itu. Saya sengaja menuliskannya di sini sebagai pengingat bagi saya sendiri. Saya punya Allah, kenapa saya harus khawatir dengan mimpi-mimpi itu? Toh saya tidak melanggar aturan-Nya kan? Allah tidak pernah bilang lulus kuliah harus kerja. Jadi ya sudah, bismillah, saya akan terus melangkah, memohon doa dari teman-teman. Saya tidak tahu bagaimana keputusan Allah atas impian-impian ini, tapi dari tulisan ini saya tahu bahwa saya menggenggam impian saya baik-baik. Setidaknya ketika saya lupa, biar huruf-huruf ini yang berbicara.

Saya mungkin sejenak mundur, tidak mengambil peluang-peluang yang tampak di depan mata. Tujuan saya memang sedikit lebih jauh, saya masih harus terus berjalan untuk sampai ke sana. Dan saya tahu pasti dalam perjalanan saya digoda oleh banyak hal yang meminta saya berhenti atau berbelok dari tujuan saya yang sebenarnya. Maka dari itu, mari mundur sejenak, dan bersiap untuk melompat lebih tinggi, untuk bekal perjalanan yang lebih jauh. Toh nyatanya bukankah selama ini Allah mendekatkan saya pada impian-impan itu? Didekatkan dengan teman-teman sefrekuensi, diajak untuk membangun suatu komunitas yang berhubungan dengan menulis, berbagi di sini, bukankah semua itu adalah sign yang harus saya jemput? Bismillah.

Saya percaya dalam kondisi terdesak, tingkat kreativitas seseorang meningkat lebih pesat. Mungkin dengan dihadapkan pada semua kondisi ini, Allah sedang menyiapkan jalan istimewa untuk saya. Entah apa. Banyak hal yang bisa saya lakukan yang tentu saja masih in line dengan tujuan saya. Menulis novel, membangun komunitas, terus berbagi dan aktif di berbagai kegiatan positif, jadi editor freelance (eh siapa tahu dari sini ada yang nawarin hehe),  cari-cari info beasiswa S2, berkembang bersama KAMA Syar’i, atau bertemu jodoh yang satu frekuensi misalnya #eeeeh. Hahaha. Intermezzo sedikit.

Barangkali ada teman yang ingin memberikan nasihat, ingin melengkapi impian saya, ingin memberikan kritik, ingin berbagi perwujudan impian, berbagi informasi beasiswa S2, atau apalah, saya terbuka sekali. Semoga tulisan ini bermanfaat. Karena setiap mimpi punya waktu untuk tercapai. Tidak ada yang tak mungkin selama kita selalu percaya DIA.

Tunggu novel Himsa ya ^^. Spoilernya bisa dilihat di Presipitasi. Kalian mungkin akan menemukan ending yang tak terduga, hehehe.

Move Up!

9.57 WLH

23 Januari 2014

Saya tahu bisa jadi jauh ke depan saya justru tidak menjadi seperti yang saya mimpikan ini. Tapi itulah rencana. Tetap Allah yang menentukan. Saya percayakan pada-Nya. Yang penting, saya mengupayakannya terlebih dahulu. And I know I have to be more taught to catch my dreams.

Note: Komunikasikan baik-baik impian itu kepada orang tua atau siapa pun mereka yang punya hak dan kewajiban atas hidupmu.

12 thoughts on “Melompat Lebih Tinggi”

  1. “Saya merelakan diri untuk tidak mendaftar di UI karena tidak tega merusak kebahagiaan orang tua saya ketika tahu saya mendapat kesempatan kuliah di kampus Telkom secara free selama delapan semester.”

    mengalami hal yang sama, make my passion lost..
    but hope doesn’t make my hope lost.
    Innallaaha ma’anaa.. 🙂

  2. Bahagia sekali punya abah seperti itu. Tetap berjuang. Selalu ada kemudahaan bagi yang bersungguh2 😊

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s