perempuan

We are Muslimah Hijrah, We are GREAT MUSLIMAH!

Ada satu momen di mana kamu bertemu seseorang yang sebenarnya  sudah kamu kenal, tapi kamu tak menyadarinya. Hingga suatu ketika perpisahanlah yang justru menyadarkanmu tentang pertemuan itu. Jangan pernah resah, karena Allah selalu punya rencana untukmu.

 we are muslimah hijrah

Minggu, 1 Desember 2013 tak akan terlupa di benak saya. Bagaimana bisa? Untuk pertama kalinya saya merasakan langsung makan bersama di atas daun pisang dengan kuah air hujan alami. Serius itu romantis banget. Dan yang paling tak terlupakan, hari itu, tentu saja saya bertemu dengan para muslimah hijrah dengan segudang cerita yang pastinya inspiratif, namanya GREAT MUSLIMAH. Komunitas yang diprakarsai oleh Teh Pewski (Febrianti Almeera) dkk ini memang sudah lama menarik minatku. Unik. Berbeda dengan komunitas muslimah lainnya. Maka, ketika Teh Pewski mengumumkan adanya kegiatan Gathering Muslimah Military di seminar Temu Akhwat, saya langsung daftar saat itu juga.

Ketika hari H tiba, sejujurnya saya terlambat. Saya salah memperkirakan waktu perjalanan. Dalam jam normal, perjalanan Dakol-Dago biasanya satu jam via angkot. Saya pikir masih pagi jadi tidak macet. Ah, saya lupa pada hari Minggu jalur angkot berbeda karena ada Car Free Day, jalanan pun bukannya sepi justru lebih ramai dari biasanya. Jadilah saya baru sampai sekitar pukul 08.40, padahal acara dimulai pukul 08.00. Tapi, rupanya Allah punya rencana atas keterlambatan saya. Karena telat, saya asal saja dimasukkan ke Pasukan 1. Siapa sangka, di pasukan 1 inilah saya bertemu dengan orang-orang luar biasa, dengan cerita luar biasa. Juga perjuangan luar biasa. Gathering yang mengambil konsep military ini nyatanya menarik sekali. Membuat kami begitu dekat satu sama lain. Hawa dingin Dago Pakar—lokasi kegiatan—pun kalah oleh kehangatan canda kami (ciyeh).

Dalam gathering ini, kami dibagi dalam enam pasukan dan dipimpin oleh Komandan Pewski. Saya sendiri tergabung dalam pasukan 1. Setiap pasukan ini nantinya harus menyelesaikan misi di setiap batalyon yang disediakan. Waktu yang disediakan dalam setiap batalyon hanya 20 menit. Ketika sirine berbunyi, maka kita harus cepat berlari menuju batalyon selanjutnya untuk melanjutkan misi yang lain. Subhanallah, bukan cuma misi, setiap batalyon ini menyimpan surat cinta yang sungguh menggetarkan hati kami.

Pasukan 1 sendiri memulai peta perjalanan ke Batalyon Infanteri  4.100 terlebih dahulu. Batalyon ini berlokasi di Goa Jepang. Terbayangkah suasana goa? Ya, gelap. Kami harus menyelesaikan misi dengan cara menemukan satu bintang untuk masing-masing anggota tim. Bintang-bintang tersebut tersembunyi di dinding-dinding goa. Di akhir, kami harus menemukan kotak berisi surat. Yeah, meskipun tidak 100% berhasil, pasukan 1 berhasil menemukan bintang-bintang dan surat itu. Kami merinding ketika surat tersebut kami baca, sayangnya saya tak sempat mencatat detail apa isi surat karena sudah harus dikembalikan ke Jenderal Batalyon Infanteri 4.100. Apa hikmah yang didapat? Let Guess it!

Yuk mari kita buka QS. 4 Annisa ayat 100,

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ya, bintang adalah hikmah yang akan selalu kita dapatkan dalam setiap masa lalu, seburuk dan segelap apapun itu. Karena bagaimana pun masa lalu kita, sejatinya kita masih akan selalu punya kesempatan untuk menjadikan masa depan kita benderang oleh cahaya. Bukankah Allah menjanjikan hadiah untuk siapapun yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya? Maka mari terus berhijrah, bersatu menjadi great muslimah.

Usai speechless di batalyon 4.100, Pasukan 1 melanjutkan perjalanan menuju Batalyon 23.115. Kami sempat tersesat mencari lokasi batalyon ini. Kekompakan tim mulai diuji. Saya salut pada pemimpin kami yang selalu berusaha melindungi dan mengarahkan pasukannya. Serunya, di tengah pusing mencari lokasi, kami masih asyik saja menyanyikan yel-yel kami sambil berjalan. Yeah, di sebuah bukit nun jauh (emangnya teletubbies, plak!), Batalyon Infanteri 23.115 akhirnya ketemu juga.

bendera GM

Di sana, kami menemukan delapan bendera yang tertancap di setiap sudut serta seorang jenderal yang membawa kain. Kami mulai bertanya-tanya, untuk apa? Sang Jenderal yang paham mengartikan wajah penasaran kami segera menjelaskan misi di batalyon tersebut. Kami diminta mengikat kaki kita satu sama lain. Dalam keadaan kaki yang saling terikat, kami harus mengambil delapan bendera yang ditancapkan panitia di tanah. Yaa, ternyata ini tidak mudah. Ada ego yang harus diturunkan, ada kerjasama yang diuji, ada rasa peka atas sakit yang menimpa pergelangan kaki kawan, dan yang pasti ada semangat untuk sebuah misi yang merupakan komitmen kita datang ke batalyon ini.

“Kiri, kanan.. eeeh, berhenti dulu, stop dulu, kakiku sakiiit. Nah ayo melebar, ambil bendera yang itu…” kurang lebih begitulah suara riuh antusias kami. Dan yeay! Kami berhasil mencabut delapan bendera itu walaupun dengan pergelangan kaki yang sakit karena saling tertarik. Ini susah, tapi benar-benar menyenangkan.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS 23. Al-Mu’minun: 115)

Allah menciptakan kita tidak main-main, lalu kenapa untuk hidup kita malah main-main. Life is not a game. Jika permainan saja perlu strategi yang terencana, apalagi hidup itu sendiri yang jelas-jelas bukan permainan. Bergerak dengan keadaan kaki terikat memang perlu strategi khusus. Begitu pun hidup. Kita harus melangkah dengan pertimbangan yang matang. Dengan kepedulian, kepekaan, penurunan ego, dan tentu saja kerja sama yang kuat.

Sirine pun berbunyi, kami cepat berlari menuju batalyon selanjutnya, Batalyon Infanteri 3.16. Di sana, kami menemukan sebuah terpal. Misi kami adalah membalik terpal tersebut dengan kondisi semua anggota tim berada di atas terpal tersebut. Kami sempat bingung, bagaimana caranya? Sementara waktu kami hanya 20 menit. Kami mencoba berbagai cara. Benar, ternyata tak ada yang tak mungkin walaupun perlu perjuangan luar biasa. Ada tubuh yang saling menopang dan ditopang agar tak keluar terpal. Ada teriakan bernada menyerah karena tubuh doyong ingin jatuh. Tapi karena bersama saling menguatkan, ternyata misi ini berhasil kami patahkan.

BaoP1b5CMAA9AFP

Mungkin begitulah, dalam setiap perubahan, kita perlu perjuangan luar biasa. Saat itulah, kita benar-benar memerlukan orang-orang yang saling menguatkan untuk menjaga kita agar tak keluar dari koridor yang benar. Dan percayalah, keberadaan sahabat yang saling menguatkan mampu membuat kita bertahan dan terus berjalan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

“(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (QS. 3 Ali Imran: 16).

Batalyon selanjutnya yang kami tuju ternyata gagal kami lalui misinya, batalyon 14.22. Walaupun gagal, kami tak sedih dan putus asa, karena bagi kami, tidak semua perjuangan harus diapresiasi. Di batalyon ini, kami harus jeli membedakan suara. Bagaimana tidak? Kami diminta untuk menutup mata sambil berjalan melewati labirin yang penuh rintangan (tali rafia yang tak boleh disentuh). Kami diperdengarkan dua suara sebagai petunjuk, satu dari tim kami dan satu lagi adalah seorang jenderal yang seolah-olah menjelma menjadi setan.

BaoRVxpCcAAbTAn

Pernahkah dalam hidup kita mengalami hal ini? Kita seperti berada di antara dua suara, suara hati (kebaikan) dan suara setan. Dalam banyak aktivitas buruk yang kita laksanakan, berapa kali kita berujar “Ah, ini gara-gara bisikan setan”. Eits, kok jadi setan yang salah ya? Iya, karena tugas setan memang menghasut, dan kita lah yang sebenarnya punya wewenang untuk mengikuti atau menolak hasutan itu. Nah kalau kita mengikuti, salah siapa hayo? Yuk mari kita cek.

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” QS. 14 Ibrahim: 22).

Setelah gemes karena suara-suara bisikan setan, kami melanjutkan perjalanan ke Batalyon Infanteri 29.6. Batalyon ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bersungguh-sungguh atau jihad. Hal tersebut disimulasikan melalui teka-teki yang jawabannya harus didapatkan dengan cara merangkaki jalur laba-laba yang disediakan oleh panitia.

“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. 29 Al-Ankabut: 6)

BaoOMakCcAAy4a6

Taraaa, sampailah kami di batalyon terakhir, Batalyon Infanteri 14.26. Ini batalyon seru karena kami harus memanjat pohon untuk mengambil quotes. Well, kenapa memanjat pohon?

BaoU4pPCEAA713T

“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang burukseperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.(QS. 14. Ibrahim: 25-26). Karena pohon adalah simbol kebermanfaatan. Tak ada satupun bagian dari pohon yang tak bermanfaat bahkan ketika sudah mati sekalipun. Selain itu, dari batalyon ini kami juga menyimpulkan bahwa hidayah itu harus dijemput kalau perlu dipanjat, bukan sekadar ditunggu seperti buah yang jatuh dari langit. Quotes yang kami ambil membuat kami tercengang, bahkan beberapa di antara kami menangis karena terharu.

Sambil menunggu bunyi sirine, kami bercerita dengan Jenderal Batalyon Infanteri 14.26 yang ternyata dulu adalah seorang gangster. Kami tak percaya bahwa wajah ramah di balik jilbabnya menyimpan cerita masa lalu yang berbeda. Teteh tersebut bercerita sedikit di balik jilbabnya. Aku tertegun, ia menjemput hidayahnya dengan indah.

Sirine berbunyi kembali, misi semua batalyon dinyatakan telah selesai. Kami melanjutkan kegiatan dengan shalat berjamaah dan makan siang 😀 Nah ini yang tak terlupakan. Kami diisediakan daun pisang yang terhampar untuk makan siang bersama-sama. Di atasnya, nasi, ayam, dan lauk lainnya siap kami makan. Alhamdulillah, di tengah makan bersama, tiba-tiba hujan deras. Makanan kami pun menyatu dengan hujan. Uniknya, kami menikmati hal tersebut. 🙂

makan2

Usai makan siang, kami kemudian dikumpulkan untuk menjalankan games terakhir yang bersenjatakan air (tapi juga ditemani hujan). Seru sekali, kami harus saling merebut bendera antar pasukan. Setelah semua selesai, komandan pasukan membawa kami berteduh untuk mengambil hikmah dari semua rangkaian acara. Ya, semua rangkaian kegiatan yang luar biasa ini pun menyampai ujungnya. Kami kemudian menerima kartu tanda anggota Great Muslimah yang keren sekali.

cardsolat

Acara ditutup menjelang Adzan Asar. Kami saling bertukar kontak dan berpamitan. Saat itu, Teh Culie (pemimpin pasukan kami) ternyata hendak pergi ke kampusku untuk mengikuti acara Pesta Wirausaha. Singkat cerita, kami akhirnya pulang bareng. Beliau bahkan main ke kosanku. Menyenangkan sekali. Kami bahkan berjanji akan ke gunung bareng, hehe. Kami pun saling tukar kontak whatsapp dan twitter. Yang menarik adalah ketika saya nge-tweet tentang Great Muslimah, tiba-tiba beliau mention.

“Kemarin nggak ikut ya, Teh?”

“Teteh ini Himsa yang kemarin.” Jawabku.

Dan tiba-tiba saya merinding. Teh Culie ternyata sudah mengenal saya sejak lama melalui tulisan saya. Anehnya, kami sudah bercerita banyak, tapi justru kami menyadarinya setelah kami berpisah. Allahuakbar. Rencana Allah itu indah sekali. Semoga bisa kembali dipertemukan dengan beliau dan teman-teman lain.

Demikian cerita singkat saya tentang Great Muslimah, sampai jumpa Muslimah Hijrah. Salam kenal. Semoga melalui tulisan ini semakin banyak muslimah hijrah yang tergabung di Komunitas Great Muslimah, semakin banyak pula yang bersatu saling menguatkan dalam taat. Aamiin.. keep istiqamah. 🙂

Sampai jumpa di Batch 2.

Himsa,

6 November 2013

23.56

all pictures by @GreatMuslimahID

2 thoughts on “We are Muslimah Hijrah, We are GREAT MUSLIMAH!”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s