GAMUS

#GamusStory Apakah Ini yang Terakhir?

Ketua Sementara LDK Al-Fath Universitas Telkom
Ketua Sementara LDK Al-Fath Universitas Telkom

Kampus berubah. Empat institusi disatukan dalam wadah universitas. Untuk sementara waktu semua status ormawa demisioner. Semua harus memulai lagi. Semua harus berjuang lagi. Begitulah, selalu ada pengorbanan untuk setiap perubahan. Bagiku, beruntunglah mereka yang di hatinya punya rasa gelisah atas kondisi keberlanjutan dakwah mengingat semua kondisi itu. Maka tulisan ini saya awali dengan rasa salut saya pada tim unifikasi LDK Universitas Telkom yang berhari-hari mengesampingkan ego mereka, untuk menyusun banyak draft yang pasti memusingkan. But they do it surely. Entah berapa jam tidur mereka.

Saya sendiri pada awalnya tidak terlalu peduli, masalah ini sejujurnya tidak menjadi prioritas awalku. Dalam otakku, tanpa saya berkontribusi sekali pun, LDK akan tetap terbentuk dan berjalan sebagaimana mestinya. Terlebih lagi banyak agenda lain yang lebih menggoda untuk dikerjakan. Intinya, saya berpikir bahwa banyak orang yang lebih berkapasitas dari saya untuk menjalankan amanah tersebut. Tapi ternyata saya salah. Bukan dakwah yang membutuhkan saya, tapi saya yang membutuhkan dakwah.

Allah lalu ‘menyesatkan’ku untuk tergabung dalam tim unifikasi tersebut. Jangan bayangkan saya sekeren teman-teman lain, saya hanya nimbrung lalu bersyukur sekali bisa merasakan langsung cinta yang menggelora pada dakwah dari tim unifikasi ini.

“Himsa, hari ini bisa datang syuro kan?” melalui sms dari Pak Ketua, saya memutuskan untuk datang ke DKM siang itu. Bismillah. Di sanalah semua persepsi dan ketidakpedulianku perlahan berubah. Mereka (teman-teman dari LDK 4 kampus) tampak begitu total membicarakan dan menyusun semua rancangan pembentukan LDK ini. Aku deg-degan serius. Allah, kenapa aku tak segelisah mereka?Β  Kenapa aku tidak sesedih mereka jika dakwah berhenti? Saya mulai was-was dengan diri saya sendiri. Semangat mereka berkobar. Semakin membakar diriku. Daaan, ketika kita memutuskan untuk terjun berkontribusi, apa yang kita terima sebenarnya jauh lebih besar dari kontribusi kita.

Hingga Muktamar LDK Universitas Telkom dilaksanakan, saya semakin gemetar. Mengingat banyak sekali perjuangan kawan-kawan, mengingat saya yang tak berbuat banyak, mengingat saya yang beruntung terus diingatkan, mengingat apa yang telah terjadi selama tiga tahun lebih bergabung di lembaga dakwah. Sore ini, melalui sebuah pesan whatsapp, saya merinding mendengar bahwa LDK Universitas Telkom telah dibentuk melalui Muktamar LDK yang dilaksanakan pada 22-24 November 2013. LDK Al-Fath. Sebuah kemenangan.

Saya jadi ingat tiga setengah tahun lalu ketika pertama kali masuk Gamus (LDK IMT). Jujur, sama sekali saya tak berniat untuk aktif menjadi pengurus di dalamnya. Awalnya, saya bergabung karena menemukan kakak-kakak di organisasi itu. Karena mereka menerimaku dan menganggapku penting. Ketika mereka mengajakku untuk sama-sama belajar. Padahal kalau diingat, 2010 itu Himsa sedang dalam fase jadi orang yang paling nyebelin karena marah sama diri sendiri. Karena marah atas impian yang tak pernah kucoba. Karena marah kenapa saya harus di IMT bukan di UI. Saat itu perlahan saya sadar, Gamus mungkin adalah salah satu alasan kenapa saya ditempatkan di kampus ini. Dari Gamus, saya mengenal sebuah organisasi bernama Lembaga Dakwah Kampus, satu hal yang sama sekali tak pernah kupikirkan sebelumnya. Entah daya tarik seperti apa yang diatur Allah, Gamus menarik hati saya dan memperkenalkan saya pada kata ‘dakwah’. Ya, Gamus mungkin tidak sebesar Gamais atau Salam yang sudah luar biasa. Tapi justru karena itulah Gamus dapat menarik orang-orang seperti Himsa yang bandel ini. Hehe. Dan hari ini, ketika Muktamar LDK ini dilaksanakan, mau tidak mau sebuah perubahan harus terjadi. Bagaimana nasib Gamus selanjutnya? Hilangkah? Meleburkah? Menjadi satukah? Ganti namakah?

Kita masih sama-sama tidak tahu. Musyawarah akan terus berlanjut. Entah bagaimana Allah mengatur jalannya musyawarah kami selanjutnya, yang jelas kita harus selalu me-refresh tujuan kita. Untuk apa kita di sini? Gamuskah? Atau dakwah Islam?

Terlepas dari itu semua, Gamus (entah apapun namanya nanti) adalah tempat saya bertumbuh. Gamus adalah tempat saya berproses, menyerah, bangkit, belajar, menjadi adik, menjadi kakak, menjadi pemimpin, menjadi sahabat, juga saudara. Saya bersyukur pernah ada di Gamus. Saya bersyukur mengenal pemimpin seperti Ahsan, yang kebaikannya susah kami deskripsikan (saking baiknya), yang dengan diam-diam saya yakin selalu mendoakan kita. Saya bahagia mengenal sahabat seunik Fatimah, selembut Mbak Rida, sebaik para kepala departemen (Indera, Lino, Mas Balek, Irwan) dan sekeren anggota-anggota kemuslimahan serta departemen lainnya. Melalui Gamus, impian-impian saya terwujud. Melalui Gamus, hati saya belajar untuk tertaut pada Allah. Melalui Gamus, aaaa (kemudian nangis). Melalui Gamus pula pada akhirnya saya bertemu dengan teman-teman dari LDK lain yang perlahan mengubah persepsi saya tentang lembaga dakwah. Tiga setengah tahun. Persepsi itu berubah tahap demi tahap. Hingga saya akui, di lingkungan inilah saya belajar banyak tentang kehidupan dan mengenal Allah.

Kemarin, ketika berada di dalam sidang komisi bagian struktur, sejujurnya pada awalnya saya tidak rela kalau Gamus hilang. Bagaimanalah, seperti sudah saya katakan tadi, Gamus adalah kenangan kehidupan. Siapa yang rela kenangannya hilang? Tapi sejalan dengan diskusi yang kami lakukan, saya sadar sekali, bahwa kami mengadakan Muktamar ini bukan untuk Gamus atau eksistensi sebuah organisasi, tapi untuk dakwah islam. Maka, rasanya menjadi tak lagi penting entah namanya Gamus atau apa pun, tapi proses yang akan berjalan nanti, dakwah yang akan hidup di Fakultas Ekonomi Bisnis (IMT) ini. Aamiin.

Semoga, melalui tulisan ini, teman-teman tidak merasa sedih atas apapun yang terjadi pada Gamus selanjutnya. Berbahagialah. Karena insyaAllah , lembaga dakwah baru dengan filosofi dan semangat luar biasa akan siap mewarnai kampus merah-abu (tak lagi biru) kita. Kalau Gamus punya tagline, Mewarna Luar Biasa! InsyaAllah, LDK Al-Fath Universitas Telkom akan lebih mewarna luar biasa lagi. Berbahagialah!

Kawan, tahun ini bisa jadi merupakan kepengurusan terakhir Β Gamus IM Telkom sebagai lembaga dakwah kampus. Saya bersyukur sekali dulu di awal kepengurusan, kita memilih opsi kepengurusan satu setengah tahun yang ditawarkan oleh Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO). Satu setengah tahun yang memberikan banyak sekali pelajaran kehidupan buat saya. Termasuk bertumbuh pelan-pelan untuk menerima impian dan menata hati.

Jadi apapun Gamus IM Tekom nanti, semoga kita tidak pernah lupa, di sinilah kita pernah belajar, bertumbuh, menyerah, bangkit lagi. Jadi apapun Gamus IM Telkom nanti, semoga kita tidak pernah lupa, melalui lembaga ini Allah memperkenalkan kita banyak hal yang insyaAllah jalan untuk kehidupan kita selanjutnya. Jadi apapun Gamus IM Telkom nanti, semoga kita tidak lupa, di sini pula, bahkan banyak yang menemukan jodohnya (eh, salah fokus ya, intermezzo πŸ˜› Tapi bener kan? Coba kita hitung. Bagaimana denganmu? Ahahaha).

Jadi apapun Gamus IM Telkom nanti, marilah kita sambut kelahiran LDK Al-Fath Universitas Telkom dengan kebahagiaan dan tekad membuncah untuk menghidupkan dakwah ini. Karena ibarat Power Rangers, saya membayangkan, saat ini kita sedang berubah menjadi Robot Besar. Kita sedang bertransfomrmasi dari berbagai warna kita sebelumnya untuk kekuatan yang lebih besar. Allahuakbar! Semangat melanjutkan amanah, Adik-adik keren!

Diedit kembali pada 25 November 2013 8.51 WRM

dari tulisan yang ditulis sambil merem-merem

pada 24 November 2013 22.50 Waktu Ruang Move Up

Terima kasih kakak-kakak Gamus 2007-2009 yang memperkenalkan saya pada banyak hal. Teh Tiwi, Teh Halwi, Teh Syifa, Teh Senja, Teh Yeula, Mbak Atik, dan semuanya yang seperti kakak kandung. Kang Adi, Kang Afdil, Kang Ragil, Kang Azmi, Kang Dhanis, dan semuanya yang memberikan teladan.

Terima kasih Ahsan yang makin kurus, Amir dan Iksan yang memberikan pelajaran penting tentang arti β€œketegasan” dan idealisme Islam, Fatimah dan Rida yang jadi temen curhat, Indera yang paling galak dan semangat, Lino yang banyak mengingatkan, Irwan yang memelihara aset Gamus, dan Mas Balek yang desainnya keren. Juga semua tim.

Spesial terima kasih untuk tim Kemuslimahan Gamus Pelangi. Devita, Melfi, Haning, Nanda, Feni, Marjani, Nadya, Hera, Emil, Ika, Meilda, Meilani, Novi, Resty, Titi, dan Septin. Kalian membuat saya menjadi kakak sekaligus teman sekaligus β€˜emak’ hehehe. I love you full. Terima kasiiiiiiiih gadis-gadis cantik nan shalehah :*

Oh ya, terima kasih untuk Tim Unifikasi LDK Universitas Telkom yang SUPER TANGGUH LUAR BIASA. Terima kasih sudah melibatkan saya di sini, walaupun kontribusi saya tak seberapa. Terima kasih Riri, Muslimah, Talitha. Kuberi tahu rahasia, sesungguhnya saya merasa minder kalau bersama kalian, rasanya saya nggak muslimah gitu, hehe. Abis kalian udah subhanallah banget. Juga para ikhwan yang katanya rapatnya dari subuh sampai subuh lagi, ALLAHUAKBAR! Kak Tebe, Ahsan, David, Alfin, Indera, Azmy, semoga dilancarkan Allah selalu.

Banyak hal yang kita mulai dari tersesat, lalu dari tersesat itulah kita justru menemukan jalan terang. Semoga kita tersesat di jalan yang benar. –azaleav

5 thoughts on “#GamusStory Apakah Ini yang Terakhir?”

  1. masyaallah , terharu melihat perjuangan gamus ketika itu ;’) , hai semua kakak alumni skrng kami yg sedang menjalankan estafet dakwah kalian di Feb Telkom doakan dakwah ini akan terus hidup di kampus ini πŸ™‚

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s