Cerita dan Celoteh, Turkey Story

Tentang Mimpi No. 20

Seringkali, kita justru mendapatkan sesuatu yang kita inginkan setelah kita melepaskannya.

***

 

Pertolongan Allah itu amat dekat :)
Pertolongan Allah itu amat dekat 🙂

“Loh Mbak, bukannya kamu pingin ke Turki ya?” kata adekku ketika kita ngobrol dan aku menyeletuk ingin menjejakkan kaki di Perancis. Beberapa bulan lalu, saat libur semester.

“Eh iya ya?” kataku.

Aku teringat sebuah pembicaraan setahun sebelum hari itu. Usai buka puasa, meja makan adalah tempat favorit keluarga kami untuk membicarakan apapun. Saat itu iseng aja aku bilang, “Bah, aku mau ke Turki.” gara-gara nonton acara TV Ramadhan yang banyak menawarkan keindahan dan pesona sejarah kota Istanbul. Abah tersenyum lalu memberikan banyak khutbah sambil bercanda seperti biasanya, intinya “tidak ada yang tidak mungkin, Vi.”

Ya, bagi keluarga sederhana kami, melakukan perjalanan ke luar negeri bukan sesuatu yang tinggal merem, mengingat budget yang lumayan tidak sedikit juga. Aku juga sadar kesempatan itu harus kuperjuangkan, bukan sekadar kutunggu. Dan lihatlah, rentetan mimpi itu seperti domino. Aku sepakat dengan falsafah Andrea Hirata, bahwa Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.

Usai mengikuti sebuah Call for Paper di UNY dan diberi kesempatan untuk memperoleh juara II, menulis paper menjadi semacam candu yang baru bagiku—asupan gizi untuk otak, setelah terlalu banyak terjejali kisah-kisah ceracauan di blog ini. Seorang teman, sebut saja namanya Mahaning, mengajakku untuk kembali menulis paper. Ia rekan satu organisasi di Kemuslimahan Gamus, juga rekan tim dalam berkarya, sekarang sudah jadi partner in crime dan katanya sih dia mendaftarkan diri untuk jadi Kepala Marketing di peluncuran bukuku kelak, haha.

“Ke Turki, Mbak. Coba aja yuk.” Katanya saat itu, di sepanjang perjalanan pulang Jogja-Bandung.

“Ayo aja.”

Bismillahirahmanirrahim. Mimpi itu kami upayakan. Paper kami lolos sebagai salah satu best paper sehingga kami berhak untuk mempresentasikan paper kami di sana, di suatu forum internasional bernama Democratic Economic Youth Summit. Satu langkah terlalui untuk mendekatkan mimpi itu. Pertanyaan selanjutnya adalah: Dapet duit dari mana? Seperti kubilang tadi, perjalanan ke luar negeri bagi keluarga kami tidak semudah itu. Masih banyak prioritas lain yang lebih mendesak untuk kebutuhan keluarga kami.

Langkah selanjutnya pun kami tempuh. Mungkin seperti teman-teman lain, menyebarkan proposal sana-sini. Berdoa. Menyerah. Berdoa. Berusaha lagi. Menyerah lagi. Berdoa lagi. Berusaha lagi. Ya, bagi kami menyerah itu suatu keniscayaan, tapi bangkit kembali dari suatu keniscayaan adalah tanda ketidakmenyerahan.

Sebulan lagi, tiga minggu lagi, dua minggu lagi. Kabar baik itu tak juga ada. Seorang teman yang lebih berpengalaman dalam mewujudkan impiannya ke negeri Kincir Angin, sebut saja namanya Feni, terus memotivasi. (Hahaha, thanks ya, Uni 😛 ) Juga teman-teman lain. Semangat itu naik turun. Terasa sekali. Sudah dua minggu lagi, tapi sama sekali kabar baik itu belum juga datang. Atau bisa jadi dalam catatan rahasia-Nya, tidak adanya kabar baik itu adalah kabar baik yang sebenarnya? Hmm, aku tak mengerti rencana-Nya.

“Him, kamu tahu nggak, Bang Fuadi, di Ranah 1 Warna cerita, dia itu dapat kabar bahwa ada universitas yang bisa menerimanya sesuai dengan beasiswanya,  H-1 Minggu dari tenggat waktu. Kamu masih dua minggu, masih lama itu.” Kata Nina, mentor menulis tergalak, yang satu selera denganku soal buku.

Tentu saja masih banyak motivasi lainnya, doa-doa, harapan-harapan, dari banyak orang. Terima kasih. Walaupun kami selalu menjawab dengan senyum saat kalian bertanya, “eh jadi berangkat kapan, Himsa, Haning?”. Hanya senyum, karena kami benar-benar tidak tahu rencana Tuhan selanjutnya.

Sudah H-1 minggu, amunisi terakhir sudah kami gencarkan. Belum ada jawaban juga, “Pertolongan Allah itu bukan berlaku harian, bulanan, apalagi tahunan, Vi. Pertolongan Allah itu bahkan berlaku detikan. Pertolongan Allah itu dekat. Udah, kamu percaya aja sama Allah. Pasrah.” Kata Abah di telepon, yang jelas saja langsung membuatku menangis (dasar cengeng!).

Bagaimanapun, kalimat itu nyatanya ajaib. Pas sekali momennya dengan Idul Adha, ketika Allah mengajarkan konsep ikhlas sebagaimana dikisahkan melalui Ibrahim dan Ismail. Kami benar-benar ikhlas, melepaskan mimpi itu. Setidaknya kami sudah berusaha, begitu kami menghibur diri. Toh masih banyak hal yang bisa dilakukan kalaupun mimpi itu tak tercapai bukan? Aku ingat tulisanku yang berjudul “3 Hal tentang Impian”. Bahwa mimpi itu tak melulu soal hasil, tapi juga menerima apapun hasil dari apa yang kita upayakan. Maka hari itu aku benar-benar sadar. Bagi pemimpi sejati, proses mengupayakan impian itu jauh lebih agung daripada hasil dari impian itu sendiri.

Berbekal kekuatan hati, kami sudah benar-benar siap dengan semua keputusan yang diberikan hari itu. Kalau memang Allah menitahkan rezeki untuk kami, itu pasti mudah sekali bukan? Dan kamu tahu apa yang terjadi, Kawan? Seringkali, kita justru mendapatkan sesuatu yang kita inginkan setelah kita melepaskannya. Nasihat itu benar sekali.

“Vi, kalau memang dapat rezekinya, bersyukurlah sama Allah, kalau nggak dapet, tetep bersyukur juga sama Allah.” Itu pesan Abah.

Hari itu, H-4 sebelum hari keberangkatan, kabar baik itu pun tiba. Lebih dari harapan kami. Maka apalagi yang kuragukan dari-Mu, Ya Rabb? Kabar baik itu justru datang dari tempat yang tak terduga, sama sekali tak terduga sebelumnya. Bahkan itu yang kubilang amunisi terakhir.

Ada banyak proses dalam perjalanan impian no. 20 ini. Terima kasih banyak sahabat, saudara, pembaca blog yang mendoakan mimpi-mimpiku. Bisa jadi, kabar baik itu datang karena doa dari kalian. Aku bahkan tak pernah tahu doa mana yang diijabah oleh-Nya.

Aku suka dan sepakat sekali dengan konsep Fahd Djibran di buku “Perjalanan Rasa”, kadang kita perlu memaksa Tuhan supaya mewujudkan impian kita. Nah lho, gimana caranya?

“Aku akan memintamu mendoakanku, seperti akan kuminta puluhan orang lain mendoakanku. Bersama puluhan orang itu, aku akan mengarak doaku untuk menggetarkan langit dan memaksa para malaikat untuk membuka pintu Arasy. Di sanalah para malaikat akan melihat gumpalan-gumpalan doa kita berubah menjelma gelombang cahaya yang demikian besar sehingga membuat mereka silau dan gemetar—sehingga tatkata gelombang itu sampai tepat di hadapan mereka, mereka tak punya pilihan lain selain membukakan pintu langit dan mengantarkannya ke hadapan Tuhan. Dan Tuhan yang Maha Mengabulkan Semua Doa yang Sampai di Hadapan-Nya, tak bisa lagi menolaknya.”

Aku mengucapkan kalimat itu, Kawan, mempraktekannya. Di perpustakaan, di status facebook, di twitter, aku meminta kalian mendoakan, dan Tuhan mengabulkan. Ya, sekali lagi Fahd memperjelas kalimat di atas dalam kalimatnya, “Langit tak akan sanggup menangkal doa tulus yang diantar 40 orang kepadanya. Hanya soal waktu untuk menunggunya dikabulkan”. Aku sepakat dan percaya, dalam hati yang paling dalam.

Maka sekali lagi, terima kasih pasukan yang mengantarkan doa-doa itu. Terima kasih 🙂

Ruang Move Up

7.15

20 Oktober 2013

Terima kasih “Telkom University” 🙂

..dan tak ada satupun kejadian yang berjalan tanpa hikmah..

Ternyata Allah mengatur sesuatu dengan datangnya kabar baik yang mepet itu: kita justru dapet tiket promo, hehehehe.

Aku bahkan telah berjanji pada diriku sendiri, jadi berangkat atau tidak, tercapai atau tidak, aku akan tetap mencatat kisah perjalanan impian no. 20 ini di sini. Terlalu banyak hikmahnya. 🙂

Semoga ada hikmah yang didapat, semoga ditulis bukan untuk pamer. Semoga mimpi-mimpi kalian pun dipeluk oleh Tuhan.

Tunggu catatan selanjutnya dari negeri seribu kubah 🙂

19 thoughts on “Tentang Mimpi No. 20”

  1. Good Girl you deserve to get that
    Wow ga sabar Ngetrip bareng kamu seminggu kedepan dan kita akan kenalan lebih jauh,hehe…sampai ketemu di jakarta ya neng

  2. Semangat dan Congratulation Vi !! Aku sepakat dengan kata – kata ini juga “Langit tak akan sanggup menangkal doa tulus yang diantar 40 orang kepadanya. Hanya soal waktu untuk menunggunya dikabulkan”. Dan itu juga berlaku padaku Vi. Subhanallah, setelah banyak rintangan yang menurutku akan membuat kita semakin bersyukur ketika meraihnya. 😀
    *maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan

      1. Alhamdulillah vi .. Disini aman, buanyak orang Indonesia. Karena termasuk central Europe jadi mau ke negara2 sampingnya seperti France, Belgium, Germany mudah. Aku pengen bisa nulis vi biar menginspirasi kaya km.

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s