Cerita Fiksi

Perasaan Kugy

kugy

“Kak, kakak pernah mikirin perasaan Kugy nggak pas dia dilamar sama Remi?”

Kak Arin menghentikan gambarnya. Ia meletakkan pensilnya sambil menghela nafas panjang. Seper sekian detik kemudian, ia menoleh ke arahku yang tengah duduk di pinggir gazebo. Ya, di gazebo berukuran 3×3 meter persegi yang terletak di sudut utara rumah kami ini, hampir setiap hari Kak Arin menggambar. Katanya tugasnya banyak. Tapi entahlah, aku tak percaya sebanyak itu hingga ia harus menggambar setiap pulang kuliah.

“Al? Kamu masih waras kan? Mending kamu mikirin deh gimana caranya kakakmu ini bisa beli seperangkat drawing tablet-nya apple.”

“Salah deh ngomong gini sama Princess of DKV.”

“Haha. Ya kamu sih. Mikirin apa yang nggak nyata. Kebanyakan baca novel kan?”

“Eh kenapa? Membaca novel, genre apapun, termasuk cinta itu melatih kepekaan rasa kita lho. Bukan sekadar romantis menye-menye.”

“Kata siapa?”

“Kata blogger favorit ku yang juga aku rasain.”

Kak Arin menggulung kertas gambarnya lalu duduk mendekatiku. Aku suka momen menunggu senja seperti ini sambil mengganggunya mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Aku tahu persis ketika ia berdiri sambil menggulung kertasnya adalah saat ia—untuk  kesekian kali—mengalah: menunda tugasnya dan mendengar ocehan tidak jelas dariku. Benar, mahasiswi Desain Komunikasi Visual tingkat akhir ini pun mendekat padaku. Aku buru-buru melafalkan kalimat wajibnya sebelum ia mengucapkannya terlebih dahulu.

“13 menit buat Alea. Besok beliin Kakak kertas gambar di Gramed sebagai bayaran atas waktu Kakak sore ini.” aku menyerobot sebelum kalimat itu dikatakannya. Sial, kami malah mengatakannya hampir bersamaan. Dia tertawa.

“Aku nggak tahu diri ya gangguin Kakak pas ngerjain tugas. Haha. Abis nggak ada tugas juga gambar mulu kerjaan Kakak.”

Dia mencubit pipiku, “Menggambar juga melatih kepekaan rasa lho, Azalea Alvaro, adik kesayanganku, putri turun dari dunia novel. Eh kenapa tadi si Kugy?”

Dia selalu seperti itu. Lemah lembut walaupun seringkali galak dan terlihat cuek. Ah, iya, juga selalu berkorban. Maka demi waktu yang dia relakan untuk mendengar ocehan-ocehanku, aku memberanikan diri menanyai hal ini padanya. Tidak, sore ini 13 menit mungkin tak cukup.

“Iya, Kugy Kak. Apa sih yang kurang dari Remi? Dia hebat, ganteng, pekerja keras, sayang banget lagi sama Kugy. Tapi Kugy malah sedih pas dia dilamar sama Remi. Aku juga nggak tahu sih sebenarnya perasaan Kugy gimana. Yang jelas nggak karuan bingungnya. Menurut Kakak gimana?”

“Kugy yang bego. Heheehe. Ya jadiin aja lah.”

“Tapi perasaan Kugy bukan buat Remi, Kak. Ada yang mengganjal di hatinya.”

Dia diam sebentar.

“Ada yang ditutup Kugy, Kak. Padahal sebenarnya sakiit banget, tapi Kugy memaksa menjalani semua dengan baik-baik saja. Memang baik-baik saja, tapi lihatlah, hatinya kocar-kacir ketika bertemu penyebab keganjalan di hatinya itu. Semuanya memang tetap tampak baik-baik saja. Tapi bukankah itu hanya kepandaian Kugy saja dalam menutupi semua perasaannya?”

Air mukanya sedikit berubah. Keceriaannya sejenak terangkat. Entah apa yang ada dalam pikirannya, nyatanya ia kembali tersenyum, “Keenan ya?”

Aku mengangguk, “kasihan Kugy, Kak.”

“Kamu pinginnya Kugy akhirnya sama siapa?”

“Sama Remi, Kak. Aku sebel banget sama Keenan. Dia nggak tegas banget. Datang pergi seenak aja. Dia tahu hatinya buat Kugy, tapi sama Luhde dijalani. Kan kasihan Luhde juga. Ya walaupun mereka saling diam soal perasaannya, kalau Keenan tegas dari awal pasti nggak akan banyak yang sakit hati kayak gitu. Sebel banget sama ketidaktegasan Keenan. Atau setidaknya Keenan ngomong apalah sama Kugy.”

“Ngomonglah sama Dewi Lestari. Minta supaya Kugy sama Remi saja. Selesai. Hehe.” dia berdiri sambil menepuk pundakku. Ada yang disembunyikan di sudut matanya.

Aku menarik ujung jilbab birunya yang menjuntai panjang, “ih belum selesai.”

“Kakak harus nyelesain tugas lagi, Al!” katanya sedikit galak. Bukankah baru sepuluh menit? Ia tak pernah begini. Aku tahu pertanyaanku sempurna membuka lukanya yang sudah bertahun ia pendam.

“maafin aku, Kak.”

Dia akhirnya memelukku sambil menangis. Kami duduk kembali. Saling diam. Aku sengaja menunggunya berbicara.

“Bang Razan bukan Keenan, Al. Jangan disamain ya.” katanya akhirnya.

“Iya, Kak. Tapi kakak sama Bang Razan sama-sama mendiamkan hubungan kalian selama bertahun-tahun. Kakak masih sakit hati karena Bang Razan tidak bisa menolak cinta kakak kelasnya kan? Kakak sakit hati karena Bang Razan tidak setegas yang Kakak harapkan. Kakak sakit hati karena Bang Razan tidak benar-benar menunggu kakak sesuai komitmen kalian saat kalian memutuskan untuk tidak mau berpacaran?”

“Nggak, Al.” dia menggeleng.

“Kakak bohong. Sampai kapan Kakak mau menutup luka itu?”

“Nggak ada yang terluka, Al. Razan berhak berhubungan sama siapapun. Aku bukan siapa-siapanya.”

“Tapi kakak sering nangis diam-diam. Kakak harus buka luka itu. Luka juga perlu oksigen, Kak.”

“Iya, tapi..”

“Atau bisa jadi yang terjadi selama ini bukan seperti apa yang ada dalam pikiran Kakak. Bisa jadi Bang Razan sama seperti Keenan, diam-diam masih menyimpan hatinya untuk Kakak.”

“Untuk apa?”

“Kak, selama ini kalian tampak baik-baik saja karena kalian tidak pernah memberi kalian waktu untuk saling bicara. Kalian hanya saling menebak.”

“Kau tahu berapa jumlah halaman novel Perahu Kertas?”

“444.”

“Kamu baru baca sampai halaman 257, kenapa terburu-buru sekali pingin lompat ke halaman 427?”

Kali ini aku yang diam.

“Al, dengerin Kakak. Perahu Kertas itu hanya salah satu sisi miniatur dari dunia. Nasib tokoh-tokoh yang ada di dalamnya ya tergantung sama maunya Dee. Makanya Kakak bilang, ngomonglah sama Dee kamu pingin ending yang seperti apa. Dee yang megang alur kendali cerita. Dee tahu bagaimana ceritanya akan menjadi cerita terbaik. Mungkin kalau Keenannya tegas dari awal ya Kugy nggak akan ketemu Pangeran Pilik. Beda cerita, Al. Mungkin beda novel. Begitupun kita, Al. Alur cerita kita dipegang sama Allah, maka ya minta sama Allah kamu pingin ending seperti apa. Mendekatlah sama Dia. Dia yang memegang kendali cerita kita.”

Aku diam mendengar semua penjelasannya. Takjub.

“Kakak keren. Belajar dari mana?”

“Dari sakit hati. Haha”.

“Haha. Ngaku juga. Aku jadi bersyukur kakak pernah sakit hati. Jadi bagus-bagus gambarnya.”

“Dulu jelek gitu?” kali ini dia mencubit perutku. Huh! Hobi sekali mencubit. Kami tertawa.

“Kakak masih sakit hati?”

“Kadang. Kakak manusia biasa, Al. Tapi aku percaya semua bisa dikendalikan. Buktinya bisa kan? Asal kita terus berjalan. Sesekali menengok ke belakang untuk memetik hikmah sebagai bekal dalam perjalanan selanjutnya.”

Aku mengangguk, iya. Dia memang pernah menangis diam-diam, tapi bukan untuk mengeluh. Lihatlah, dia terus belajar. Dia semakin ‘biru’.

“Al..”

“Hmm.”

“Kamu udah punya pacar?”

Glek. Mukaku memerah ditanyai seperti itu. Kepalaku cepat menggeleng.

“Belajarlah dari kakakmu. Pacaran, HTS, tunggu-tungguan, kakak-adekan, atau apalah itu namanya sebenarnya sama saja. Sama saja mendahului alur cerita. Terburu-buru. Kayak baca novel pingin dilompat. Padahal Allah selalu punya alur-Nya sendiri. Cukup kakak yang sakit hati. Kamu berhak bahagia tanpa ada perasaan yang mengganjal di hatimu. Suatu saat, ya suatu saat jika kamu sudah sampai di halaman itu, kamu akan sampai. Jika belum, teruslah membaca. Banyak hal yang harus kaupelajari dari bacaan kehidupan. Jangan pernah mencoba-coba. Kakak bersyukur masih diingatkan sama Allah walaupun dengan cara sakit seperti ini. Inilah proses.”

Kalimat itu tulus sekali terdengar dari bibirnya. Nasihat indah seorang Kakak untuk adik satu-satunya. Aku takzim mendengarkan. Kalimat itu sejatinya sungguh bermakna luas sekali.

“Oi? Udah lebih dari 13 menit.” katanya memecahkan kebengonganku.

“Iya, besok kertas gambarnya dobel deh. Dobel sama jodoh buat Kakak. Haha.”

“Kamu yaaa.”

“Eh, Kak. Kalau kakak dilamar Remi kayak Kugy nggak ya rasanya?”

“Mana Reminya?”

“Eh Kakak mau?”

” Bisa jadi cocok kan? Tapi mana duluu..”

“Tapi kalau malah Keenan datang lagi dengan semua kejelasan?”

“Ih kamu kepo bangeeet.”

“Kakak masih berharap sama Bang Razan? Atau sama yang kemarin ngasih novel di kawinan Mbak Zia itu? Ciyee mau move on.”

“Udah kepo, sok tahu lagi. Dasar Alea!  Kakak nggak mau berharap sama siapa-siapa. Maunya berharap sama Allah aja. Makanya bantu kakak supaya terus belajar berharap sama Allah, nggak yang lain.”

“Tapi yang ngasih novel kemarin keren lho. Lebih keren dari Remi. Reza Rahadian lewat. Apalagi Keenan. Tapi dia salah analisis, yang suka novel kan aku bukan kakak. Haha.”

“Kata siapa yang kemarin novel?”

“Tuh kan. Hayoo. Apa yang suka gambar juga itu Kak? Yang ngefollow twitterku juga? Haha.”

Kalau panggilan adzan Maghrib tidak menggema, mungkin aku masih terus meledeknya. Sudahlah, setidaknya aku lega. Dia memang baik-baik saja. Setidaknya, dia terus berusaha mendekat sama yang menciptakannya, karena itu aku yakin dia akan selalu baik-baik saja.

Ruang Move On

27 Agustus 2013

15.08

*ruang move on adalah nama kamar baru saya atas rekomendasi dari Mak Lely. Selamat Mak. Nama darimu terpilih. 😀 Kenapa Ruang Move On? Karena di sini saya berharap dapat terus bergerak untuk mimpi-mimpi yang menunggu tercapai.

Oh ya, cerpen selingan di tengah hectic berbagai deadline ‘impian’ ini sangat terinspirasi oleh novel “Perahu Kertas” Dewi Lestari dan sebuah kalimat sederhana but high impact dari Aa Gym:

Kalau kau ingin dicintai oleh seseorang, cintailah yang menciptakan seseorang tersebut dengan sepenuh hati. Karena Dia yang menggenggam hati seseorang tersebut.

picture from here

26 thoughts on “Perasaan Kugy”

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s