Uncategorized

Digoda Ipe

ipk

Suatu hari menjelang semester 7, aku membuka akun nilai. Jeng-jeng. Tidak sesuai harapan. Harapannya sih dapet A, eh dapetnya bukan A. Ya sudahlah. Kecewa, iya. Tapi satu jam saja, selanjutnya saya malah tersenyum sendiri (bukan gila lho). Kalian pernah merasa demikian?

Simpel. Beri waktu untuk otak dan hatimu untuk kecewa. Tidak usah lama-lama, maksimal satu jam. Dalam satu jam itu, tanyakanlah baik-baik pada otak dan hatimu: apa yang sebenarnya kamu inginkan dari mata kuliah itu? Ilmukah? Atau cukup nilai? Sudahkah tercapai?

Wakafaabillaahi syahida. Cukuplah Allah yang menjadi saksi. Cukuplah Allah yang memberi nilai atas apa yang kita lakukan”.

Sebaris catatan dari suatu kajian yang sempat kuikuti itu mengiang di pikiranku, membuatku mengingat masa-masa herregistrasi semester lalu.

Aku memang sedikit songong dengan pedenya mengambil mata kuliah pilihan yang sebenarnya adalah kelemahanku. Aku yakin aku tidak akan bisa dapat nilai “A” kalau mengambil mata kuliah itu. Tapi motivasi saat itu adalah pengen bisa materi itu (sebut saja Animasi dan Multimedia Aplikasi). Di sisi lain, mata kuliah pilihan yang lainnya sepertinya lebih susah bagiku. Tidak bohong, ada sesuatu keinginan juga untuk mencoba hal baru, sedangkan mata kuliah lainnya mungkin bukan hal baru bagiku (walaupun ya nggak expert juga haha). Alhasil, dua mata kuliah yang kupilih itu berhasil membuatku tidak tidur dan lupa mandi. Haha. Yunomisowel, Himsa nggak bisa gambar. Waktu SMA, gambar garis lurus aja digambarin, hehe. Tapi ya gimana, dua mata kuliah itu tidak jauh dari cerita desain mendesain. Akhirnya, dengan segala ceritanya semester 6 pun berlalu. Nilai keluar, tidak sesuai harapan dan cukup membuat si ipe kepeleset.

Aku bertanya lagi: jadi niat awal ambil mata kuliah itu apa? Mau cari ilmunya kan? Kalau memang benar itu niatku, aku sudah mendapatkannya bukan? Kulirik folder semester 6 di laptop. Hey, ada karya animasi pertamaku di sana. Aku ingat betul saat menyelesaikannya aku seperti melahirkan bayi. Kontraksinya lamaaaa banget (maaf lebay). Tapi begitulah. Aku melirik folder lainnya. Hey, ada beberapa aplikasi multimedia baru yang kuinstall. Ada beberapa karya yang kuselesaikan. Wow! Aku mendadak tak peduli bagaimana orang menilai, aku ingat betul, menyelesaikan karya-karya itu saja bagiku kebahagiaan tersendiri. Aku sudah melakukan semuanya semaksimal mungkin (setidaknya versiku). Jadi, kalau niatku mencari ilmu, sudah dapat kan? Untuk apa aku kecewa?

Aku malu untuk kecewa lebih jauh. Aku tersenyum. Tidak sampai satu jam ternyata cukup untuk merenungi itu. Di luar itu semua, aku yakin Tuhan merindukan doa-doaku yang lebih khusyuk. Tuhan sedih melihat ambisi pribadiku yang pelan-pelan menggerus nilai kepasrahan pada-Nya. Dimanjakan ipe di beberapa semester awal sebenarnya ujian. Ujian dalam bentuk sangat halus. Masihkah kita bersyukur jika ia jatuh dan tak setinggi dulu? Atau barangkali, Tuhan mengingatkanku pada niat awalku kuliah. Untuk ilmu atau nilai? Bisa jadi, aku diuji atas kalimat-kalimatku tentang kepasrahan dan keridhoan akan ketentuan-Nya: apakah sekadar kata atau benar kumaknai sebagai bentuk imanku pada-Nya? Juga tentang keikhlasan. Ikhlaskah jika Tuhan memberi yang tidak kuinginkan (lagi)? Berkurangkah cintaku pada-Nya? Subhanallah. Sementara dalam berbagai urusan lain, Dia memberi lebih dari yang kuinginkan. Patutkah aku mengeluh (lagi)?

Maka biarlah Tuhan yang memberikan nilai. Tuhan lebih tahu untuk apa angka-angka dalam ipe itu nanti akan membawa manfaat. Jadi biarlah Dia yang mengatur. Kita hanya perlu terus berusaha, terus berupaya, belajar sebaik dan semaksimal mungkin. Alhamdulillaah. Semua tetap saja indah. Teramat indah malah. Fabiayyi aalaaairabbikuma tukadzzibaan?

Rumah
21.27
29 Juli 2013
*latepost

Jangan bersedih temen-temen yang mungkin ipenya kepeleset, tetap berjuang, daaaan ada temennya kok (saya), hehe. Selalu ada hikmahnya 🙂

gambar dari sini

10 thoughts on “Digoda Ipe”

  1. Wah, saya lagi deg-degan nunggu hasil kuliah keluar. Moga naik tingkat, Amiin.

    Nice Post mbak, saya rasa memang tidak ada hal yang sia-sia dalam menuntut ilmu. Karena pada akhirya ilmu itu yang akan menjaga kita, 🙂

  2. saya suka kata-kata itu, “tanyakanlah baik-baik pada otak dan hatimu: apa yang sebenarnya kamu inginkan dari mata kuliah itu? Ilmukah? Atau cukup nilai? Sudahkah tercapai?”
    ah, dilema sya klo memikirkan IP, 😀

  3. dulu, saya adalah ipe hunter..
    dalam rangka perbaikan harkat martabat ipe agar ndak nasakom, maka ambillah makul yang dosennya “royal” dalam memberi nilai. Alhasil, hanya ada satu nilai “D” dalam transkrip nilai.
    *ingetmasakuliah*
    🙂

bagaimana menurutmu? :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s